Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Memprovokasi.


__ADS_3

Perlahan Niko langsung membuka tangannya. Terlihat kotak biru kecil berbahan lembut sangat kontras di tangannya yang putih.


Wulan terkejut, tapi tidak bersuara. Ia bisa menebak apa isi dalam kotak itu. Matanya sedikit berkaca-kaca melihat kotak dan Niko secara bergantian.


Niko membuka kotak itu. Cincin permata yang berdiameter satu koma enam delapan itu begitu indah dan sangat manis saat Niko memasangnya di jari tengah Wulan.


"Cincin ini sangat cantik, pas lagi di jemariku."


Niko tersenyum sayang. "Cincin ini pilihan mamamu."


"Mama?" Wulan terkejut, "Kenapa bisa?"


Niko menceritakan pertemuannya dengan Angelina, kecuali obrolan mereka.


"Jadi, sekalian saja aku belikan satu lagi untuk mamamu."


"Mungkin itu yang ingin mama sampaikan padaku tadi. Hanya saja pas mama menemuiku kamu sudah datang menjemputku."


Niko berpikir, berarti tante Angelina belum menyampaikan perjodohan itu kepada Wulan. Dengan ekspresi penasaran Niko menatap Wulan.


"Tadi katanya kamu ingin bilang sesuatu, apa itu?"


Ekspresi Wulan sedih. Dengan berat hati ia terpaksa menyampaikan hal yang ingin disampaikan.


"Lusa aku akan ke Manado."


"Ke Manado ... untuk apa?"


"Besok hari terakhirku di kantor. Aku di mutasikan ke Manado.


Mimik wajah Niko berubah drastis. Secepat kilat pikirannya di penuh wajah Jefry Tanujaya.


'Om Jefry,' katanya dalam hati, 'pasti om Jefry yang melakukannya.'


Sudah menjadi rahasia umum seorang Jefry Tanujaya sangat berkuasa di kota itu. Siapa saja yang berani menyinggung Jefry, dia harus siap-siap menerima konsekuensi.


Tak peduli Niko anak temannya sendiri, Niko harus merasakan akibatnya karena sudah menyinggung orang seperti Jefry.


Sikap diam Niko membuat Wulan takut. Ia segera memeluk Niko dan berkata, "Kamu jangan marah, aku tidak lama di sana. Aku hanya melatih karyawan di sana sampai dia bisa kemudian kembali lagi ke sini."


"Kenapa harus kamu?"


Wulan melepaskan pelukan, menatap Niko dan berkata, "Mungkin tidak ada yang sehebat aku," ledeknya kemudian tersenyum, "Ini permintaan kepala cabang. Kalau aku tidak dituruti, aku harus mengambil keputusan untuk resign."

__ADS_1


"Kalau begitu kamu resign saja. Toh setelah menikah aku tidak akan menyuruhmu bekerja, aku sanggup membiayai kehidupan seumur hidupmu, Wulan."


Wulan terkejut. Ia berniat mengajak Niko bercanda melalui pujian diri sendiri, tapi ternyata gagal.


"Tidak semudah itu, Sayang. Aku mendapatkan pekerjaan itu tidak gampang. Lagi pula kan aku tidak lama. Kalau aku berhasil mendidik dengan baik, aku akan segera kembali."


Tepat di saat itu Handoko muncul dan duduk di kursi depan Niko dan Wulan. Ia melihat ekspresi Niko begitu dingin. Ia juga melihat Wulan yang tampak sedih. Spontan Handoko langsung berdiri dan pamit.


"Sepertinya ada sesuatu. Maaf, sebaiknya papa ke dalam saja. Kalian selesaikan saja masalah kalian."


Baru saja hendak berdiri Handoko langsung duduk kembali ketika Niko menyuarakan alasannya.


"Wulan di mutasikan ke Manado. Lusa dia akan berangkat."


Handoko menatap Niko lama sekali. Tatapan yang hanya mereka sendiri yang tahu.


"Aku tidak akan lama, Papa," kata Wulan, melihat mimik wajah Handoko yang tidak senang, "Aku hanya melatih orang beberapa waktu. Begitu tugasku selesai, aku akan kembali ke sini."


Handoko dan Niko mengabaikan perkataannya. Pikiran dan hati mereka disinkronasikan kepada Jefry yang menurut mereka adalah penyebab di mutasinya Wulan.


"Papa, Niko, " panggil Wulan, "Kenapa kalian diam saja? Apa kalian tidak senang aku dipercayakan kepala bank untuk melatih seseorang?"


Niko ingin sekali meluapkan ketidaksetujuannya. Namun, ia sadar sikapnya itu akan berdampak buruk. Tidak hanya mengundang kecurigaan Wulan, sesuatu yang belum waktunya diketahui jelas akan terbongkar. Dengan pasrah ia pun setuju.


"Janji apa?"


Wulan senang. Ia yakin ketidaksetujuan Niko karena pria itu tidak mau menjauh darinya. Begitu juga Handoko. Sejujurnya Wulan juga tidak ingin jauh dari mereka. Bersama Handoko ia merasa seperti bersama papa kandungnya. Jadi, ia bisa merasakan apa yang mereka rasakan saat ini.


Handoko menyimak.


"Dalam waktu dua minggu kamu sudah kembali ke sini lagi. Bagaimana?"


Mata Wulan terbelalak.


"Kenapa?" sergah Niko, "Melatih orang kan paling lama dua minggu."


Meski setuju, tapi Handoko merasa kasihan kepada Wulan.


"Tidak semudah itu, Niko," katanya pelan, "Kemampuan berpikir setiap orang berbeda-beda. Kita tidak bisa memvoniskan seperti itu."


Wulan setuju. "Dua minggu itu terlalu cepat. Beri aku kesempatan tiga bulan, bagaimana?"


"Tiga bulan?! Kamu ingin melatih orang atau sengaja menghindariku, Wulan?"

__ADS_1


Wanita itu terkekeh. "Aku hanya bercanda. Lagi pula kamu terlalu serius. Aku ke sana hanya untuk melatih orang, tapi pikiranmu seakan-akan aku ini akan pergi jauh dan tidak kembali."


"Aku beri waktu sebulan," ucap Niko tegas, "Aku tidak peduli tugasmu selesai atau tidak, satu bulan kemudian kamu sudah harus kembali ke kota ini. Dan begitu kembali, aku minta kamu resign dari pekerjaanku, karena kamu harus menjalani kehidupan bersamaku."


Selesai mengatakan itu Niko berdiri, meninggalkan Handoko dan Wulan.


Wulan terlihat serba salah.


Handoko menenangkan. "Jangan dipikirkan, dia memang seperti itu. Dia hanya tidak suka kamu meninggalkannya."


"Sebenarnya aku juga tidak ingin ke sana, Pa. Aku tidak mau meninggalkan Niko di sini, aku takut dia diambil Ulan, Pa."


"Ulan tidak akan bisa merebutnya darimu, Nak. Niko hanya mencintaimu, bukan dia."


Wulan dengan ragu-ragu menceritakan soal sikap Jefry malam itu. "Papa ingat waktu pertama kali Papa dan Niko ke rumah?"


"Ya."


"Setelah Papa dan Niko pulang, papa Jefry mengungkapkan ketidaksetujuannya kepadaku. Jelas-jelas papa Jefry mengungkapkan Niko lebih pantas untuk Ulan, bukan untukku."


"Jangan pedulikan itu. Jefry bersikap begitu karena dia belum tahu yang sebenarnya," Handoko merasa bersalah, "Papa yang salah, saking bahagianya Niko mau menikah, papa tidak bertanya lebih detail dan langsung menemui Jefry. Seandainya papa lebih sabar, mungkin tidak akan terjadi kesalahpahaman ini."


"Semua sudah terjadi, Pa. Jangan disesali. Lagi pula ini bukan salah Papa."


"Beberapa hari lalu papa ingin menemui Jefry di kantornya, tapi dia terlalu sibuk. Papa juga ke rumahmu, tapi kata orang rumah ayah dan ibumu ke luar kota."


Wulan terkejut. "Keluar kota? Mama dan papa di rumah, mereka tidak ke mana-mana, Pa."


Handoko sengaja meprovokasi Wulan. "Tapi kata mereka papa dan mamamu pergi keluar kota, Nak."


"Tidak, Pa, sumpah. Mama dan papaku ada di rumah."


"Apa mungkin mereka tidak mau bertemu dengan papa?"


Wulan curiga, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia menatap Handoko dan berkata, "Aku akan menanyakan masalah itu pada pelayan. Papa tenang saja, aku akan mengatur jadwal pertemuan untuk Papa dan keluargaku."


"Papa juga heran, kenapa sekarang papa sulit sekali bertemu papamu. Padahal sebelumnya papa dengan bebas bisa menemui papamu kapan saja. Sekarang menghubunginya saja papa tidak bisa."


Handoko terus memprovokasi Wulan, agar wanita itu bisa sepemikiran dengan mereka. Ia sengaja melontarkan pernyataan-pernyataan untuk menguras pikiran Wulan.


'Aneh,' kata Wulan dalam hati, 'Kenapa papa Jefry begitu, ya? Apa papa Jefry sengaja menghindar?' Wulan diam sesaat, 'Aku tahu sekarang, pasti papa sengaja menghindar agar pernikahanku dan Niko tidak terlaksana.'


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2