
Ulan menggeleng kepala. "Kamu tidak perlu melakukan itu. Kalau aku keluar dari sana, lalu aku tinggal dengan siapa?"
Imenk hanya diam. Berdebat dengan Ulan tak ada gunanya. Dalam hati ia akan menjalankan niatnya untuk menghancurkan mereka semua.
Ting!
Bunyi notifikasi membuat mereka terjekut. Imenk selaku pemilik ponsel segera menatap layar.
Ulan penasaran. "Siapa?"
"Pemberitauan email," katanya sambil membaca notifikasi tersebut. Senyum Imenk seketika melebar, "Ulan, aku pergi dulu."
"Kamu mau ke mana?"
Imenk menatap Ulan. "Bebby Group mengundangku wawancara siang ini. Doaku dikabulkan, Ulan."
Ulan hanya diam sambil menatap wanita yang sedang bergegas membereskan bawaannya.
"Aku akan kembali lagi ke sini," Imenk memeluk Ulan, "Ini waktunya untuk membalas mereka. Kamu tenang saja."
***
Hari yang ditunggu-tunggu setiap wanita akhirnya tiba. Pagi ini Wulan merasa paling bahagia sedunia. Pernikahan yang dulunya terbayangkan tidak akan terjadi kini terlaksana.
Begitu juga dengan Niko. Keyakinan untuk memiliki Wulan sejak dulu akhirnya terwujud. Ia merasa pria yang paling beruntung sedunia telah menikahi wanita seperti Wulan.
Tak hanya Wulan dan Niko, Handoko dan Angelina pun demikian. Mempersatukan anak-anak yang sempat mereka harap tidak akan terjadi, kini terlihat di depan mata. Pernikahan sederhana, yang dihadiri orang-orang tertentu itu membuat mereka menangis.
"Akhirnya mereka bersama, Handoko. Aku bahagia, aku bahagia sekali."
"Benar, aku juga bahagia melihat mereka."
Fanny menghampiri Wulan dan Niko. Ia memberi selamat sekaligus pelukan yang seorang sahabat.
Wulan menangis. "Terima kasih, Bestie."
"Kamu dan Darius ...," ledek Niko yang tak ingin wanita yang sudah menjadi istrinya itu menangis, "kapan kalian akan menikah?"
Wulan dan Fanny melepaskan pelukan sambil terkekeh. Ucapan Niko jelas membuat Fanny malu.
"Doakan saja, semoga Tuhan menjodohkan kami berdua."
"Amin."
Tak hanya Fanny, Petrix juga mendekat dan memberi selamat kapada Wulan dan Niko.
"Kamu kapan?" tanya Niko.
"Kapan-kapan."
__ADS_1
Mereka terbahak.
Pertrix menatap Wulan. "Kenapa kamu tidak menguras hartanya untuk mengadakan resepsi besar-besaran, hah?"
"Itu tidak perlu. Semakin besar resepsinya akan semakin banyak tamu yang datang. Waktu kebersamaan aku dan Niko akan terbuang begitu saja."
Guyonan Wulan membuat mereka tertawa.
"Wulan hanya mendapat cuti tiga hari, terhitung dari sekarang. Jadi, kami tidak mau membuang-buang waktu."
"Seandainya ada stok wanita lagi yang sama sepertimu, yang mau pernikahan sederhana seperti ini, kenalkan padaku, ya?"
Mereka tertawa lagi.
Petrix berkata, "Aku jadi bingung ingin memberikan hadiah kepada kalian. Rencana aku ingin memberikan tiket ke Jerman lengkap dengan akomodasinya. Hmmm, bagaimana kalau ini?"
Petrix menyodorkan kunci kamar hotel termahal dan termewah nomor satu di kota Jakarta kepada Niko.
"Aku mendapat bocoran dari papa Handoko soal pernikahan dan masa libur Wulan yang begitu singkat. Mungkin saja kalian ingin menghabiskan malam di sana selama tiga hari."
Niko tak keberatan. Dengan segera ia meraih kunci itu dan mengajak Wulan. "Ayo, jangan buang-buang waktu."
Wajah Wulan langsung merah.
Petrix terkejut. "Kalian mau pergi sekarang?"
"Tentu saja, kami tidak akan membuang-buang waktu lagi, tiga hari adalah waktu yang singkat buatku."
"Kalau papa dan mama mencariku, bilang aku sudah membawa Wulan."
Petrix setuju sambil tertawa. Ia ikut bahagia melihat pria yang sudah seperti saudaranya itu mendaratkan hatinya kepada wanita seperti Wulan.
"Pasti banyak mantan-mantan yang kecewa jika tahu pria idaman mereka sudah menikah."
"Jangan bahas mantan di depan istriku," kata Niko sedikit penekanan, "Aku tidak mau menyakiti Wulan."
Wulan kembali bersama Handoko.
"Kalian mau pergi sekarang?"
"Petrix sudah menyiapkan kamar untuk kami," balas Niko.
Handoko tak melarang. Karena pernikahan itu dilaksanakan di rumahnya, ia sendiri yang mengambil tanggung jawab sampai selesai.
Saat ini Niko mengendarai mobilnya ke lokasi yang sudah mereka targetkan bersama wanita yang sudah menjadi istrinya. Sambil mengemudi, Niko merangkul Wulan agar terus melekat padanya.
"Kalau kamu sudah ada waktu, aku akan membawamu keluar negeri."
"Itu tidak perlu, di sini bersamamu saja aku sudah senang."
__ADS_1
Niko mencium dahi Wulan. "Sekarang kamu milikku. Kamu tidak boleh pergi dan meninggalkanku lagi."
Mereka pun tiba di sebuah hotel mewah yang terletak di tengah kota. Hotel yang harga kamar per malam lima juta empat ratus lebih itu menyediakan fasilitas lengkap, serta pelayanan yang memuaskan.
Sebelumnya Petrix sudah menginformasikan tentang tamu penghuni kamar. Para petugas hotel pun dengan antusias menyiapkan semuanya dengan nuansa pernikahan.
Tidak hanya bunga mawar yang memenuhi ranjang, serta aroma lilin penenanang, petugas hotel membawakan sebotol anggur tua yang disajikan bersama es batu dan dua gelas kristal berukuran pendek.
"Sepertinya ini akan menjadi malam yang panjang," ledek Niko kepada Wulan.
Wajah Wulan merah padam. Entah kenapa ia masih saja malu setiap kali Niko menggodanya. Tak mau dirinya semakin panas oleh rayuan suami, Wulan pamit ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Tidak ingin kutemani?"
Wulan menggeleng, kemudian lari ke kamar mandi.
Niko tersenyum. Ia gemas melihat sikap Wulan seperti itu. Tak mau terburu-terburu Niko menungkan anggur ke dalam gelas kristalnya.
Sebelum menikmati anggur tersebut, Niko melepaskan atribut mempelai pria yang masih melekat dalam tubuhnya. Jas, dasi, kemeja, serta celana pun dilemparkan ke lantai. Sambil menatap ke arah kamar mandi Niko menelan habis isi gelasnya yang terisi penuh.
Dengan celana pendek ketat Niko mendekati kamar mandi yang tampaknya sengaja tidak dikunci. Ia tersenyum samar kemudian mengintip di balik pintu yang terbuka.
Zet!
Mata Niko terbelalak melihat keindahan tubuh istrinya. Hal itu memang seharusnya ia lakukan. Tapi, apa salah jika dia nakal terhadap istrinya sendiri?
Tak mampu menahan gejolak dalam dirinya, Niko mendorong pintu tersebut kemudian bergabung bersama Wulan.
Wulan yang asik menggosok rambutnya dengan shampoo tak sadar kalau di belakangnya sudah berdiri sosok pria yang juga tanpa busana.
"Kamu sengaja tidak mengunci pintunya?"
Wulan terkejut ketika tangan besar Niko meraup kedua dadanya. "Sayang, kenapa kamu di sini?"
Tangan Niko bergerak seolah-olah sedang memijat. "Apa salah jika aku ingin memandikan istriku?"
Wulan mengerang dengan wajah memerah. Walaupun sebelumnya ia sudah pernah melakukan itu dengan Niko, rasa malu masih saja muncul setiap kali Niko menggodanya.
Niko menyalakan shower hingga air mengurangi busa di kepala Wulan. Ia kemudian menekan sabun cair ke telapak tangan lalu menggosokkannya ke tubuh Wulan.
Wulan tak mau egois. Ia melakukan hal yang sama, menuangkan sabun ke telapak tangan, kemudian membuat tubuh Niko berbusa.
Ketika tangan Wulan yang mulus menyentuh bagian keperkasaan Niko, erangan berat pria itu pun terdengar.
Wulan merasa menang dan terus melakukan gerakan, hingga akhirnya Niko mengangkatnya kemudian menyandarkan Wulan ke dinding kamar mandi.
"Kamu nakal ya, sekarang. Ini akibatnya karena kamu nakal."
Wulan tersenyum ketika Niko bertulut di bawahnya. Melihat sang suami mulai menyerang pahanya yang mulus, Wulan memejamkan dan menikmati setiap sentuhan bibir Niko yang mengenai kulitnya.
__ADS_1
"Oh, Niko."
Bersambung____