
Liburan Wulan dan teman-temannya telah selesai. Sehari di taman laut Bunaken rasanya cukup mengobati lelah di pikiran mereka. Walaupun belum puas, besok mereka harus kembali bergulat dengan jam operasional dan tumpukan dokumen-dokumen penting di kantor.
"Minggu depan kita ke mana lagi?" tanya salah satu wanita kepada mereka.
Saat ini Deril dan bawahannya berada di atas kapal menuju pusat kota. Jumlah mereka lebih dari delapan orang. Jadi, Wulan dan teman-temannya menggunakan kapal sewa sebagai alat transportasi.
"Kita belum mengunjungi Pulau Siladen dan Pulau Manado Tua," balas salah satu pria yang duduk di sebelah Deril. Semua orang menatapnya, "Bagaimana kalau minggu depan kita ke antara dua pulau itu?"
"Dua hari sebenarnya tidak cukup untuk berlibur ke Bunaken. Kita harus punya waktu panjang, biar bisa menjelajah pulau-pulau lain yang ada di Bunaken."
"Sebenarnya tidak masalah, kita bisa pergi di hari Jumat, minggu sore kita kembali. Dengan begitu jam operasional kita tidak terganggu."
"Pak Deril benar," kata seorang wanita, "dengan begitu kita semua bisa pergi bersama. Kalau menunggu waktu panjang kapan kita bisa? Cuti pun kita tidak bisa serempak. Libur tanggal merah pun paling lama tiga hari. Itu pun menunggu perayaan besar."
Wulan hanya bisa menyimak setiap kata yang mereka ucapkan. Meski kadang tidak paham dengan bahasa yang beberapa orang gunakan, ia merasa senang bisa berkumpul bersama mereka.
Di Jakarta ia hanya dekat dengan Fanny. Waktu libur hanya Fanny-lah yang sering jalan bersamanya. Sedangkan di sini, walaupun tidak semua, cukup banyak bawahan Deril yang mau mengajak dirinya untuk seru-seruan di hari libur.
Wulan senang mereka mengajaknya ke tempat wisata yang paling populer hingga ke kancah internasional. Tempat wisata yang merupakan warisan UNESCO itu mengenalkan banyak keindahan laut dan biodiversitas tertinggi dunia padanya. Dengan begitu ia bisa mengeksplorasi suasana pulau, diving dan menikmati kuliner khas laut.
"Jadi minggu depan kita ke Siladen?" tanya seorang wanita yang duduk di depan Wulan. Ia menatap wanita di depannya dan bertanya, "Wulan?"
Wulan menatapnya.
"Bagaimana menurutmu?"
"Aku tidak masalah. Selama itu mengasikkan, aku setuju-setuju saja."
Semua orang tersenyum.
"Kamu tidak takut kalau kulitmu menjadi gelap?"
Wulan terkekeh. "Tidak masalah."
"Berarti fix, minggu depan kita ke Siladen."
__ADS_1
Seandainya bisa cuti panjang, Wulan ingin mengunjungi pulau yang terletaknya di sebelah timur pulau Bunaken itu. Ia juga berniat mengunjungi pulau Manado tua yang katanya letak pulau itu di kawasan Taman Nasional Bunaken. Wulan penasaran dengan pantai-pantai yang populer di sana.
Namun, keterbatasan jam libur mengharuskan Wulan menunda niatnya. Ia menyesal telah mengambil cuti tempo hari.
Seandainya hari itu ia tidak mengambil cuti, Wulan ingin mengasingkan diri ke sana. Bepergian sendirian ke pulau rasanya jauh lebih menyenangkan dibanding menghadiri pernikahan Niko dan Ulan.
Rombongan mereka akhirnya tiba di pusat kota. Para lelaki membantu para wanita menurunkan bawaan mereka. Beberapa dari mereka membawa mobil pribadi termasuk Deril.
Karena mobil mereka dititipkan di salah satu tempat yang aman, mereka perlu berjalan kaki beberapa menit untuk bisa sampai ke sana.
Deril mengajak Wulan naik ke mobilnya. Sementara beberapa wanita masuk ke mobil lain bersama rekan yang lain.
"Hei, rupa aneh kang ni pa Deril deng Wulan? Co ngoni lia kwa, amper salalu pa Deril pangge pa Wulan nae oto sama-sama." (Hei, sepertinya ada yang aneh ya antara pak Deril dan Wulan? Coba kalian lihat, hampir selalu pak Deril mengajak Wulan naik mobil bersamanya.)
"Biar jo kwa, dong pe urusan itu. Sama-sama bujang kwa nya masalah." (Biarkan saja, itu urusan mereka. Sama-sama single tidak masalah.)
Seorang pria menatap wanita yang sepertinya cemburu melihat interaksi Wulan dan Deril.
"Hei, kiapa ... ngana cemburu lia pa dorang?" (Hei, kenapa ... kamu cemburu ya lihat mereka?)
"Nyanda doe, kiapa kong tamo cemburu dang?" (Tidak, untuk apa aku cemburu?)
Tak mau berdebat pria itu langsung masuk ke bangku kemudi kemudian meninggalkan area di susul mobil Deril dan lainnya.
"Kamu pasti capek sekali," kata Deril sambil mengemudi. Ia tersenyum melihat Wulan bersandar di bangku mobil, "Kalau capek, besok tidak usah masuk kerja dulu."
"Tidak apa-apa, aku hanya mengantuk."
Deril mengemudikan mobil dengan santai. "Terima kasih kamu mau naik mobil bersamaku. Aku pikir setelah kejadian kemarin, kamu tidak mau lagi naik mobil bersamaku."
Setelah diving Deril menyatakan cinta kepada Wulan. Tak serius ingin menjalin hubungan, Deril melakukan itu di saat teman-teman yang lain masih asik menyelam.
Karena ia melakukan scuba diving bersama Wulan, Deril memanfaatkan kesempatan itu ketika mereka naik ke permukaan laut secara bersamaan.
Wulan tersenyum menatapnya. "Aku minta maaf. Jujur kamu pria tampan dan baik. Kamu juga perhatian dan bijaksana. Wanita lain pasti mendambakan pria sepertimu. Bukannya aku tidak ingin ... ini soal rasa, Deril. Jika aku menerimamu, itu artinya aku berbohong padamu dan diriku sendiri."
__ADS_1
Deril melirik sambil tersenyum.
"Banyak yang bilang aku wanita pemilih. Bukankah hidup itu pilihan? Asupan yang masuk ke perut untuk mengganjal beberapa jam ke depan sebelum lapar lagi harus dipilih, apalagi suami yang akan hidup bersama kita seumur hidup. Bukan begitu, Deril?"
Pria itu tertawa. "Kamu benar. Tapi jangan samakan makanan dan suami, Wulan. Makanan dan orang itu berbeda."
"Memang berbeda. Tapi rasanya sama, kan? Sekalipun aku memberimu ayam bakar tapi kamu lebih suka ikan bakar, bagaimana?"
Deril terbahak. "Terlalu lama memilih juga bisa membuat kita salah pilih, Wulan."
"Tergantung dari segi apa kamu memilih. Kalau kamu menilai dari visual, jelas tidak akan habisnya kamu memilih. Semakin banyak wanita cantik yang kamu temui, semakin banyak juga pilihanmu dan itu tidak akan selesai."
Deril tertawa. Tepat di lampu merah ia menatap Wulan.
"Aku ingin cerita satu hal padamu, ini soal wanita yang bersamaku selama ini."
Alis Wulan berkerut. "Kamu sudah punya pacar?"
"Dia bukan pacarku," Deril menginjak gas ketika lampu berganti hijau, "dia teman tidurku sebelum aku mengenalmu."
Wulan merasa beruntung tidak menerima pernyataan cinta Deril. Karena tidak memiliki rasa, Wulan tidak keberatan Deril membahas wanita lain dalam topik mereka.
"Dia wanita nakal yang pernah kukenal. Dia muncul di saat aku sedang frustasi. Aku memang menyukainya, secara visual dia cantik dan menarik. Aku tidak ingin menjalin hubungan serius bukan karena aku mempermainkannya, aku tidak mencintainya, tapi aku ingin membuatnya menjadi wanita yang lebih baik."
"Dia sendiri, bagaimana? Apa dia memiliki perasaan terhadapmu? Aku tidak berpengalaman, tapi setahuku orang yang sudah seranjang lama-kelamaan akan timbul perasaan. Mereka akan saling membutuhkan."
"Entalah, yang jelas aku tidak senang melihat dia bersama pria lain. Dia sudah berjanji akan meninggalkan profesi buruknya. Kemarin, aku melihat dia menyiarkan langsung dirinya bersama pria lain. Seandainya hanya interaksi pertemanan aku pasti tidak akan kecewa, tapi yang aku lihat adalah adegan mesra di mana dia duduk di pangkuan pria itu."
"Kau cemburu, ya?"
Deril terkekeh kemudian meraih ponsel dari depan indikator.
"Coba kau buka instgramku. Cari akun bernama Viona06 dan lihat postingan siaran langsung lusa kemarin. Dia duduk di pangkuan pria yang tubuh bagian atasnya tanpa busana."
Bersambung___
__ADS_1
Guys, jangan lupa like, hadiah dan komentarnya, yaaa. Kalau ada masukan tulis aja di kolom komentar.