Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Belum Menikah.


__ADS_3

"Istri mana yang tidak akan marah, Pak. Semua istri jelas akan marah, jika tahu suaminya memiliki wanita lain."


Niko teringat sesuatu. "Di mana asistenmu, berapa hari ini aku tidak melihatnya."


"Dia sedang tidak sehat, Pak."


"Tempo hari aku lupa memberitahumu. Aku juga lupa menanyakan padanya. Kapan dia masuk?"


"Kemungkinan besok, Pak."


"Suruh dia menghadapku kalau sudah datang."


"Baik, Pak."


Niko tampak berpikir. "Satu bulan lagi ulang tahunnya Wulan. Aku ingin mengerjai dia dari sekarang, biar dia tidak curiga."


Darius menyimak.


"Aku ingin kau mencarikanku wanita yang super cantik dan berkelas. Sebisa mungkin kau mencari wanita yang gaya juga profesinya di atas istriku."


"Baik, Pak."


"Aku akan makan siang bersama istriku. Begitu kembali, aku harap kau sudah menemukan wanita itu."


"Baik, Pak."


"Jangan lupa memperlihatkan kontrak kerja padanya, agar dia tidak salah paham."


"Aku mengerti, Pak."


Di sisi lain.


Seperti yang sudah diputuskan, Ulan akhirnya mengemasi barang-barang kemudian keluar dari rumahnya.


"Sekarang aku akan mengalah. Tapi, tunggu saja nanti ... Aku akan membalas dan membuat kalian menderita."


Tanpa berpamitan Ulan keluar dari rumah.


Si bibi yang melihat hal itu segera menghubungi Angelina. Sambil mengintip di jendela si bibi menyapa sang majikan, "Nona Ulan baru saja pergi, Nyonya."


"Baguslah kalau dia sadar diri. Apa saja yang dia bawa?"


"Hanya koper saja, Nyonya."


"Periksa kamarnya. Apabila masih ada barang tersisa, ambil lalu buang ke tong sampah."


"Baik, Nyonya."


"Sampaikan kepada penjaga keamanan, jangan biarkan Ulan datang ke rumahku lagi. Mungkin saja besok-besok dia akan kembali."

__ADS_1


"Sepertinya tidak mungkin, Nyonya. Nona Ulan dijemput seseorang. Usia orang itu terlihat seperti tuan Jefry."


"Mungkin kerabat papanya. Biarkan saja. Pokoknya kalian harus mencegah dia, jangan biarkan dia menginjakkan kaki di rumahku lagi."


"Baik, Nyonya."


Di sisi lain.


Dalam perjalanan Jendry mengemudikan mobil sport hitamnya begitu cepat. Sambil memegang setir mobil ia melirik Ulan yang sedang duduk melamun di sampingnya.


"Ada apa, apa yang kamu pikirkan, hah?"


Ulan menoleh. "Seandainya tidak ada Om, entah apa yang terjadi padaku saat ini."


Jendry meraih sebelah tangan Ulan kemudian menggenggamnya dengan penuh perasaan.


"Sudah takdir kita untuk bertemu. Seandainya aku tidak pulang ke sini dan tidak mendengar kabar tentang ayahmu, kamu tidak akan duduk di sebelahku seperti sekarang."


Entah kenapa Ulan merasa bergetar ketika tangan besar Jendry menyelimuti tangannya yang mulus. Jantungnya bedetak tak karuan ketika senyum lembut di wajah Jendry muncul dengan sendirinya.


 'Ya Tuhan, om Jendry terlihat sangat tampan hari ini.'


Ulan memperhatian seluruh tubuh Jendry. Ketika matanya tertuju ke bagian tengah tubuh Jendry yang menonjol di balik celana, rasa berdenyut-denyut seketika menyerang bagian bawah tubuh yang sensitif milik Ulan.


'****Beruntung sekali istrinya. Pasti setiap malam istrinya kewalahan melayani om Jendry. Seandainya aku**** ...."


Ulan menepiskan pikiran kotornya tentang Jendry. 'Apa yang kau pikirkan, Ulan.'


Jendry memiliki rambut yang lurus. Kulitnya sedikit kecokelatan dan jambang hitam menenuhi rahangnya. Bentuk tubuh dan wajah Jendry sangat mempesona. Tidak heran kalau Ulan terpikat kepada lelaki matang yang sangat menggairahkan bagi wanita-wanita seusinya.


Jendry membelokan mobilnya ke pekarangan yang luas.


Ulan tercengang melihat halaman depan yang bersih dan indah oleh tanaman-tanaman hias berbeda bentuk dan warna.


"Indah sekali. Pasti istrinya Om sangat rajin merawatnya."


Jendry hanya tersenyum kemudian melepaskan tangan Ulan. Ia turun tanpa berkata apa-apa.


Ulan turun dari mobil.


Jendry turun kemudian mengeluarkan koper Ulan dari bagasi mobil. "Ayo, masuk. Anggap rumah sendiri."


Sejak kecil Ulan sudah hidup dilingkungan berada. Mobil mewah, rumah dengan ruangan besar dan perabot mahal jelas tak membuat Ulan terkejut lagi.


Kali ini estetika dalam diri Ulan seolah-olah tergugah melihat rumah sederhana yang indah dan rapi. Taman yang dihiasi segala jenis tumbuhan hijau, serta ruangan yang dipenuhi jendela besar dan terbuka, membuat Ulan begitu nyaman ketika sejuk udara alami mengenai hidung dan tubuhnya.


"Rumah ini segar sekali. Apa karena lokasinya jauh dari perkotaan, ya?"


Jendry tersenyum. "Aku menyukai suasana alam. Ayo, kamarmu di atas."

__ADS_1


Cat dinding gelap dan perabot-perabot yang terbuat dari kayu membuat suasana begitu klasik. Ulan sangat nyaman. Ia bahkan begitu yakin akan lebih lama dan betah tinggal di rumah itu.


"Ini kamarmu," kata Jendry ketika memutar kunci kamar di lantai dua, "Kamarku di sampingnya. Jika butuh sesuatu malam hari, panggil saja aku."


"Hmm, istri Om di mana? Kenapa tidak ada siapa-siapa di rumah ini?"


Jendry mendorong pintu kamar. "Aku belum menikah. Aku tinggal sendiri di sini. Setiap pagi akan ada pelayan datang untuk membersihkan rumah dan memasak. Jadi, kamu bisa menyuruh dia untuk mencucikan pakaianmu."


Ulan terkejut. "Laki-laki tampan seperti Om belum menikah. Aku tidak percaya."


"Apa untungnya aku berbohong," Jendry menyalakan lampu kamar yang redup, "Kamar mandi di sana. Lemari dan segala kebutuhanmu juga sudah aku siapkan. Istirahatlah, nanti aku akan membangunkanmu makan malam."


Ulan terharu. "Terima kasih banyak ya, Om."


Jendry mengangguk. "Aku masih ada urusan. Kalau lapar, belilah makanan yang kamu suka. Ini," Jendry memberika kartu hitam kepada Ulan, "pakai saja untuk membeli apa yang kamu inginkan. Pinnya tanggal lahirmu."


Ulan tercengang. "Om Jendry tahu tanggal lahirku?"


Lelaki iru tersenyum. "Aku pergi dulu. Begitu urusanku selesai aku akan segera kembali. Ini kunci mobil untuk kamu gunakan. Kalau aku belum datang, pakailah mobil ini."


Ulan sangat bahagia. Ia merasa seperti mendapatkan surga yang sebenarnya.


'Tinggal serumah dengan lelaki kaya dan tampan rasanya menyenangkan.'


"Ya, sudah," kata Jendry, "aku pergi dulu. Hubungi aku jika butuh sesuatu."


"Terima kasih banyak ya, Om."


"Sama-sama, Ulan."


***


Setelah makan siang selesai Niko kembali ke kantor. Niko duduk di ruangannya sambil melihat resort yang direferensikan Darius.


Meskipun ulang tahun Wulan masih lama, Niko tidak ingin mengecewakannya. Sebagai suami Niko ingin memberikan kejutan istimewa untuk istrinya.


Darius muncul. "Pak, aku sudah menemukan wanita yang Anda inginkan."


"Bagus. Bawa dia masuk."


Niko kembali melihat layar ketika Darius keluar, kemudian masuk bersama wanita cantik bertubuh tinggi.


"Silahkan duduk," kata Niko. Ia melihat tubuh wanita itu dari ujung rambut hingga kaki, "Perkenalkan dirimu."


Sebelumnya wanita itu sudah melihat kontrak kerja yang dibuat Niko. Meskipun muncul perasaan ketika melihat ketampanan dan keseksian Niko Lais secara langsung, mau tidak mau wanita itu harus bersikap profesial setelah menyetujui kontraknya.


"Namaku Gloriana. Anda bisa memanggilku Anna atau Gloria. Aku juga cukup berpengalaman. Jadi, Anda tidak perlu ragu lagi soal itu."


"Gloriana ... nama yang cantik, sama seperti orangnya."

__ADS_1


Bersambung____


__ADS_2