Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Bingung.


__ADS_3

Tanpa peduli keberadaan Fanny dan belajaan yang tetinggal, Wulan naik taksi dengan emosi tak terkendalikan.


Sang supir yang terkejut melihatnya pun tak berkata apa-apa. Ini bukan pertama kalinya ia mendapat penumpang seperti Wulan.


Wulan terus menangis sambil menatap keluar jendela. Ingatan tentang kebersamaan Niko dan wanita itu terus terbayang dalam benaknya. Semakin mengingat tangan wanita itu menggandeng suaminya, air mata Wulan semakin deras.


Sang supir tak tega. "Anda baik-baik saja, Nyonya?" ia menyondorkan tisu kepada Wulan.


Wulan mengambilnya. "Terima kasih."


Setelah melihat kondisi Wulan mulai stabil, sang supir menanyakan arah tujuan Wulan.


Wulan menyebutkan alamat rumahnya. "Tapi, Pak ...," Wulan menarik cairan hidung, "aku tidak ingin pulang sekarang. Kita putar-putar kota dulu, Pak."


"Baik, Nyonya."


Entah apa yang di pikirkan sang supir Wulan tak peduli. Untuk sekarang ia ingin meredahkan emosinya sebelum bertemu Niko dan menanyakan semuanya.


***


Di depan rumah Niko tampak gelisah menunggu sang istri belum juga kembali. Hari sudah sore, tapi Wulan tak kunjung pulang.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah___"


Tut! Tut!


Niko frustasi. "Ke mana kamu, Sayang? Kenapa kamu belum pulang, ini sudah sore?"


Niko khawatir terjadi sesuatu pada wanita kesayangannya.


"Kalau terjadi sesuatu padanya, aku tidak akan memaafkan diriku."


Melihat sebuah mobil berhenti di depan gerbang membuat jantung Niko berdetak tak karuan.


"Itu pasti Wulan. Akhirnya dia pulang."


Dengan ekspresi dibuat-buat Niko berdiri sambil berkacak pinggang. Ia memasang wajah marah ketika Wulan masuk tanpa menatapnya.


"Ke mana saja, kenapa baru pulang?"


Wulan yang tadinya ingin marah sedikit terkejut melihat penampilan suaminya. Celana yang masih sama seperti yang ia tinggalkan masih terpasang di tubuh suaminya.


"Kamu ...."


"Kamu apa?" kata Niko sedikit tinggi, "Kenapa ponselmu tidak aktif? Sudah jam berapa sekarang? Kamu meninggalkan rumah sejak pagi di saat suamimu belum sarapan. Dan sekarang kamu pulang malah menatapku seperti tanpa dosa. Kamu tahu betapa laparnya diriku hari ini, Wulan?"


Wulan marah. "Lapar, bukannya tadi kamu bersenang-senang dengan klienmu di mall?"

__ADS_1


"Di mall?" pekik Niko, "Aku sudah lapar di sini menunggumu sejak tadi dan sekarang kamu bilang aku bersenang-senang bersama klien?"


"Aku melihatmu bersamanya. Dia menggandeng lenganmu, tidak mungkin aku salah lihat."


Niko mengusap wajah frustasi. "Jangan karena terlambat pulang kamu beralasan yang tidak-tidak. Cepat masuk dan buatkan makanan, aku lapar."


Dengan perasaan bingung Wulan mengekor di belakang Niko. 'Kalau benar suamiku tidak ke mana-mana, lalu yang bersama wanita itu siapa, kenapa dia begitu mirip suamiku?'


Tanpa mengganti pakaian Wulan melepaskan tas dan beberapa belanjaannya. Ia kemudian pergi ke dapur, membuat makanan untuk suaminya. Karena sudah sore, Wulan memutuskan untuk langsung memasak makan malam.


Sebagai istri pengusaha kaya raya Wulan tak mau memanfaatkan uang suaminya. Niko sudah menyewa pelayan untuk bertugas di rumah mereka. Beberapa pelayan sudah diberi tanggung jawab termasuk memasak untuk mereka.


Wulan menyetujui keputusan suminya. Tapi, bukan berarti sembarang orang bisa membuat makanan untuk suaminya. Selama dirinya tidak sibuk dengan pekerjaan, ia sendiri yang akan mengolah makanan suaminya.


Sambil menyiapkan bahan makanan pikiran Wulan masih tertuju terhadap kejadian tadi. Ia masih tak percaya kalau pria yang dilihat itu sangat mirip dengan suaminya.


Seandainya tempo hari wanita itu tidak terlihat bersama Niko di warung mie ayam, Wulan mungkin tidak akan peduli wanita itu berjalan dengan siapa. Yang menjadi beban pikiran Wulan sekarang, siapa pria yang begitu mirip dengan suaminya itu?


Pikiran Wulan terganggu ketika rasa dingin dan geli mengenai lehernya. Dilihatnya tangan besar Niko melingkar di perutnya yang datar. Ia tersenyum, tapi tidak berkata apa-apa.


"Maaf sudah membentakmu tadi," bisik Niko sambil menyerang leher Wulan, "kamu lama sekali, aku merindukanmu."


Wulan berbalik menatap suaminya. "Boleh aku bertanya?"


Niko mengangguk tanpa memberi jarak. Tangannya masih melingkar di pinggang istrinya.


"Tidak. Kenapa?"


"Sumpah, tadi aku melihatmu bersama klien wanita yang kamu ajak di warung mie ayam. Rambut, penampilan dan suara kalian sama."


"Mana mungkin ada orang semirip itu. Aku tidak ke mana-mana, sejak tadi aku menunggumu. Aku menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif."


Wulan memang mematikan ponselnya begitu naik taksi. Ia sangat jengkel melihat kemesraan wanita itu dengan pria yang dikiranya Niko.


"Aku menghubungi Fanny. Tapi, katanya kamu meninggalkannya sendirian."


Wulan mendunduk malu. Ia merasa seperti wanita bodoh. Ia menyesal tidak mendekati mereka untuk memastikan siapa pria itu.


Niko mengusap pipi Wulan. Rasa bersalah menyerangnya ketika mendapati mata Wulan masih sedikit bengkak.


"Kamu menangis?"


Wulan mendongak. Tatapannya sayu dan mata berkaca-kaca. Rasa sakit mengingat wanita itu menggandeng lengan pria yang mirip Niko kembali dalam benaknya. Airmatanya menetes.


"Aku tidak mau ada wanita lain selain diriku. Kamu hanya milikku, Niko. Kamu milikku ... orang lain tidak boleh memilikimu. Mungkin pria yang tadi kulihat bukan dirimu ... membayangkan itu dirimu membuatku sakit hati," Wulan menggeleng-geleng sambil menangis, "Pokoknya aku tidak mau berbagi suami. Kamu hanya milikku, Niko. Aku tidak mau kamu bersama wanita lain. Aku tidak mau."


Melihat wanita kesayangannya menangis jelas membuat dada Niko sesak. Ia sakit hati melihat istrinya menangis akibat perbuatannya sendiri.

__ADS_1


Tanpa berkata apa-apa Niko segera memeluk Wulan. Pelukannya begitu erat seolah mewakilkan permintaan maaf yang begitu dalam.


"Aku hanya milikmu, selamanya."


Wulan percaya. Walaupun sedikit keraguan muncul dalam dirinya, ia tetap percaya kepada Niko.


***


Keesokan hari Wulan tampak melamun di ruangannya. Kejadian kemarin sangat membuatnya terbebani.


"Hei," sapa Fanny yang batu tiba.


Wulan terkejut. "Kamu ... Memangnya jam berapa sekarang?"


"Jam delapan."


Wulan menyadari kalau hari ini ia kepagian. Biasanya dia akan datang jam sembilan kurang atau delapan lebih sedikit.


Fanny memberikan beberapa papee bag bermerek. "Kemarin ketinggalan di tempat makan. Ada apa, kenapa kamu meninggalkanku sendiri? Aku menghubungi kontakmu, tapi tidak aktif. Rencana ingin kuantar ke rumahmu, tapi tidak jadi."


Wulan menyesal dan minta maaf. "Kemarin aku melihat pria yang mirip Niko, dia bersama wanita yang sama yang tempo hari makan di warung mie ayam."


"Bukannya katamu Niko tidak enak badan?"


"Pas aku pulang Niko di rumah. Penampilannya pun sama seperti saat aku tinggalkan. Hanya saja aku bingung, kenapa pria sama persis dengan Niko. Bukan hanya wajah, suara dan cara berjalan mereka sama. Potongan rambut dan bentuk tubuhnya pun sama seperti suamiku."


"Memangnya di mana kamu melihat mereka?"


"Pas keluar toilet aku mendengar suara Niko dari arah toilet pria. Penasaran ingin memastikan, aku bersembunyi sampai dia keluar."


"Terus?"


"Benar, yang aku lihat itu Niko. Dan membuatku sakit wanita itu menggandeng lengan Niko. Sebagai istri jelas aku sakit hati, Fan."


"Apa kamu menghampiri mereka?"


Wulan menggeleng.


"Tapi, jika kamu bilang Niko ada di rumah dan penampilannya masih sama, berarti itu bukan Niko."


"Entalah, Fan. Aku sangat penasaran sama pria itu, dia begitu mirip suamiku. Seandainya wanita itu bukan kliennya Niko, aku tidak akan terlalu peduli. Apalagi mereka sudah pernah makan bersama dan kamu sendiri lihat kan interaksi mereka seperti apa."


"Aku rasa kamu harus menyelikinya. Kamu harus mencaritahu siapa pria itu sebenarnya, agar kamu tidak menyalahkan Niko."


Wulan berpikir. "Kamu benar, mungkin aku harus menyelidikinya."


Bersambung____

__ADS_1


__ADS_2