
Tepat di saat itu bunyi bel rumah Viona berbunyi. Dengan cepat ia berdiri dan memeriksa siapa yang mengunjunginya.
Clek!
Viona membuka pintu. "Kamu?!" dengan ekspresi marah ia menatap Ulan, "Sedang apa kau di sini?!"
Ulan terkejut. "Hei, ada apa denganmu, kenapa masih siang begini kau sudah marah-marah?"
Mengingat Niko memperlakukannya karena ulah Ulan Viona ingin sekali mengusir wanita itu dari sana. Namun, mengingat foto Deril bersama Wulan di akun pribadi Deril membuat Viona enggan mengusirnya.
Viona pun menarik napas panjang kemudian mempersilahkan Ulan masuk.
"Kamu lagi datang bulan, ya?" ledek Ulan.
"Jangan banyak bicara, gara-gara kau aku diputu dengan pacarku."
"Gara-gara aku, apa yang aku perbuat sampai kau menyalahkanku?"
Saat ini Viona dan Ulan duduk di ruang tamu. Mereka saling berhadapan dengan ekspresi masing-masing.
Ulan bingung tapi tersenyum melihat Viona. Sementara Viona cemburut sambil menatap Ulan.
"Kau tidak ingin menawarkanku minuman?"
"Tidak! Aku tidak akan memberikanmu minuman dan membiarkan kau kehausan."
Ulan terbahak. "Apa yang terjadi padamu, hah? Kenapa kau tiba-tiba jadi begini, jangan-jangan semalam kau tidak dapat jatah dari pacarmu, ya?" Ulan tertawa lagi, "Tunggu, memangnya pacarmu di mana, kenapa aku tidak pernah tahu kalau kau punya pacar? Selama ini kau tidak pernah bilang padaku."
Viona mengendus pasrah. "Semalam Niko mendatangiku, dia marah dan mempermalukanku."
"Mempermalukanmu? Lalu, apa hubungannya dengan aku dan pacarmu?"
Viona menceritakan kejadian semalam. "Tentu saja ada, kalau kau tidak mengirim foto itu kepada Wulan, Niko tidak mungkin melakukan itu padaku. Aku tidak akan melakukan siaran langsung dan pacarku tidak akan mungkin melihatnya."
"Perasaan aku melakulan itu beberapa hari lalu. Kenapa Niko baru mendatangimu semalam?"
"Aku tidak tahu, yang jelas dia marah karena kita berdua menyakiti Wulan. Dia juga tidak akan melepaskanmu, dia akan mencarimu dan melakukan hal yang sama sepertiku."
Ulan terkekeh. "Benarkah? Kenapa dia tidak mendatangiku pagi ini? Kalau benar dia ingin melakukan itu, pasti semalam dia langsung ke tempatku setelah menemuimu."
Viona jengkel. "Harusnya dia melakukan itu padamu, bukan padaku!"
"Itu tidak mungkin, Viona, sebentar lagi dia akan menjadi suamiku. Mana mungkin dia tega melakukan itu kepada calon istrinya."
__ADS_1
Mereka terdiam.
"Ngomong-ngomong, hal apa yang dia lakukan sampai membuatmu merasa malu?"
Viona menceritakan semuanya. "Kepalaku sampai sekarang masih sakit. Ini ke dua kalinya aku melihat dia marah dan ini yang paling parah."
"Seandainya bukan calon suamiku, aku akan menyuruhmu menuntut dia. Kau tidak menuntutnya, kan?"
Viona menggeleng.
"Bagus. Dan kalau pun demikian, aku akan menyuruhmu untuk mencabut tuntutanmu."
"Sekalipun dia salah, aku tidak mungkin melakukannya," Viona menyandarkan kepala di sandaran sofa kemudian menutup mata.
Alis Ulan berkerut. "Kenapa? Jangan bilang kau masih menyukainya, Viona."
"Kalau iya kenapa?"
Ulan marah. "Dia calon suamiku, Viona. Kau harus tahu itu."
"Gara-gara kau dan calon suamimu itu aku ditinggal pacarku. Apa menurutmu aku harus diam saja setelah kalian melakukan itu padaku, hah? Kau yang menyakiti Wulan, aku yang kena amarahnya. Apa menurutmu itu adil, hah?"
Ulan terdiam dengan perasaan bersalah. "Aku minta maaf. Tapi percayalah, aku sendiri bingung, kenapa Niko memarahimu sedangkan dia tahu aku yang mengirim foto itu. Mungkin seperti yang kukatakan tadi, sebentar lagi aku akan menjadi istrinya. Jadi, dia merasa tidak enak kalau melampiaskan emosinya kepadaku. Karena dia tahu kau bekerjasama denganku, dia memilihmu dan melampiaskannya padamu."
"Ini kakakmu, kan?"
Ulan melihat foto Wulan sedang tertawa bersama seorang pria tampan dengan pakaian penyelam yang belum dilepaskan.
"Mereka terlihat mesra," ucap Ulan dengan senyum lebar, "Aku rasa dia sudah mendapatkan pengganti Niko."
Viona marah. "Orang yang kumaksud pacarku itu adalah pria ini, pria yang bersama kakakmu ini."
"Pacarmu? Lalu, kenapa dia terlihat mesra dengan kakakku? Coba lihat, dia bahkan merangkul kakakku, Viona."
Viona nyaris menangis. "Kami tidak punya hubungan, tapi kami sering bersama. Aku memberikannya kenikmatan dan dia memberiku segalanya."
Ulan menatap sinis. "Dulu Niko, sekarang pria itu. Sudah berapa banyak pria yang kau ...."
Ulan sengaja tidak meneruskan ucapannya. Dengan tatapan menyelidik Ulan berkata dalam hati, 'Aku harus menjaga jarak dengan wanita ini di masa depan, kalau tidak ... dia akan menggoda Niko dan merebutnya. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.'
Viona menarik napas dan menceritakan masalalunya bersama Deril. "Dia ingin aku menjadi wanita baik-baik. Meskipun hubungan kami tidak jelas, setidaknya Deril melihat keseriusanku tentang nasehatnya. Aku yakin suatu saat dia akan menaruh rasa padaku. Nyatanya, belum sempat terjadi harapanku itu sudah hilang. Dia sudah mendapatkan wanita lain dan mengabaikanku."
"Apa dia melihat siaran langsung itu?"
__ADS_1
"Ya."
"Apa katanya?"
"Tidak ada. Aku suda coba menghubunginya untuk menjelaskan, tapi kontaknya tidak aktif. Aku juga sudah mengirim pesan lewat akun instagramnya, tapi tidak ada balasan," Viona memeriksa pesan itu, "Sampai sekarang dia belum melihatnya. Aku rasa dia sudah kecewa padaku karena siaran langsung itu dan semua itu gara-gara kamu."
Ulan tertawa. "Harusnya kau berterima kasih padaku. Dengan adanya itu kau bisa tahu betapa brengseknya si Deril itu."
"Dia tidak brengsek, Ulan."
"Buktinya dia tidak mengatakan apa-apa soal siaran itu. Kalau memang dia punya perasaan terhadapmu, dia pasti akan menghubungi dan menanyakannya padamu."
Viona terdiam dan berpikir.
"Sadarlah, Viona ... itu artinya kau tidak berarti baginya. Untuk apa kau berharap kepada pria seperti itu," Ulan mencondongkan badan lalu berkata, "Lihat, dia sudah punya wanita lain dan wanita itu kakakku."
Jengkel dengan ledekan Ulan, Viona berdiri dan mengusirnya.
"Sebaiknya kau pergi dari sini, aku tidak ingin melihatmu lagi. Gara-gara kau dan Niko aku yang kena imbasnya."
Ulan akui perkataan Viona benar. "Aku minta maaf mewakilkan Niko," ia berdiri, "Sebaiknya kau istirahat dulu, kau terlihat lelah."
"Itu lebih baik."
"Aku akan membantumu mencaritahu soal hubungan Wulan dengan Deril. Meski aku menginginkan mereka punya hubungan spesial agar tidak mengganggu kebahagiaanku dengan Niko di masa depan, aku berharap mereka tidak punya hubungan serius, biar kau bisa kembali bersama Deril."
Viona mentapnya.
"Kenapa?"
Viona diam.
Ulan tersenyum. "Aku serius akan membantumu, kau sudah membantuku. Kau juga sudah berkorban demi aku. Saatnya aku berkontribusi untuk membalas kebaikkanmu."
Viona tak peduli, ia sangat tahu sikap Ulan seperti apa. Buktinya Ulan rela menyakiti Wulan demi perasaannya.
Viona berpaling. "Pergilah sebelum emosiku naik."
Ulan terbahak kemudian pergi. "Hubungi aku kalau butuh sesuatu. Besok aku akan ke sini lagi."
Viona menatap marah. "Lihat saja, sampai Deril mengabaikanku, aku akan menggagalkan pernikahanmu dengan Niko."
Bersambung____
__ADS_1