
Begitu Deril tiba di depan ruangan VIP, pria itu menatap Viona sambil tersenyum.
"Siap?"
Viona hanya mengangguk.
Deril mengetuk pintu dua kali kemudian membuka pintu. Ia menyapa mereka dengan senyum terbaik sambil menggandeng tangan Viona.
"Halo semua."
Devon dan Amanda hendak membalas, tapi terhenti melihat sosok cantik di belakang Deril.
Viona semakin takut. Namun, ekspresi di wajah mereka membuatnya tak peduli. Ia memberi salam sambil tersenyum ramah.
Amanda dan Devon pun membalas sapaannya.
Bingung melihat reaksi istri dan si bungsu, Robby yang tadinya terhalang tubuh Devon, mengintip apa yang menyebabkan keterkejutan mereka.
"Deril," kata Robby pelan. Suaranya terdengar lemah, tapi kerutan di wajahnya cukup mewakilkan rasa bahagia, "Akhirnya kamu datang, Nak."
Amanda sadar dari keterkejutannya. Ia tersenyum kemudian menyuruh Viona masuk.
Deril mendekati Robby. "Bagaimana kabar Papa?"
"Kabar papa baik," Robby menjadi sedih, "Papa senang kamu datang, ada yang ingin papa sampaikan padamu, Deril."
Devon mempersilahkan kakaknya duduk di ranjang.
Deril setuju dan menggenggam tangan keriput Robby. "Sebaiknya Papa istirahat saja dulu. Jangan terlalu banyak bicara."
Kondisi Robby semakin hari semakin membaik. Walaupun belum bisa berjalan, ia sudah bisa bicara dengan jelas dan lama.
"Papa tidak bisa menundanya, papa harus mengatakannya padamu."
Pernyataan Robby membuat semua terkejut. Amanda, Devon dan Deril saling bertatap.
Viona merasa tak enak. "Sebaiknya aku tunggu di luar saja."
Robby menoleh. Sejenak ia menatap Viona dari ujung kelapa sampai kaki. "Apa kamu pacarnya Deril?"
Devon dan Amanda menatapnya dengan ekspresi penuh harap. Ini pertama kali Deril menunjukkan teman wanitanya kepada mereka setelah bertahun-tahun lalu. Yang mereka tahu Deril tidak segampang itu membuka hati setelah disakit oleh mantan pacarnya. Melihat Viona jelas membuat mereka kaget sekaligus senang.
Tatapan mereka membuat tenggorokan Viona tercekat. Matanya mengarah kepada Deril.
__ADS_1
Seolah bisa membaca pikiran wanita itu, Deril mewakilkan Viona dan menjawab pertanyaan papanya, "Dia calon istriku, Pa. Namanya Viona."
Semua orang terkejut menatap Deril. Viona sendiri tak menyangka pria itu akan memberikan jawaban itu, yang ia pikir Deril akan mengaku sebagai temannya.
"Viona, senang bertemu denganmu," Robby tersenyum.
Viona lagi-lagi terkejut, ia tak menyangka Robby akan bersikap ramah padanya. Bukankah Robby lebih menginginkan Deril mendekati Wulan? Viona semakin bingung, tapi tidak berkata apa-apa.
Amanda senang. Seolah-olah tahu isi pikiran Viona, ia memegang tangan wanita itu dengan senyum begitu hangat.
"Selamat datang di keluarga kami, Viona."
Viona tak berkata apa-apa. Ia meneteskan air mata kemudian memeluk tangan Amanda.
Deril dan Devon tersenyum. Sebagai orang tua Robby tak ingin menghancurkan suasana haru di ruangan itu. Namun, ia tak mau menunda lagi apa yang ingin disampaikan.
"Sebelumnya aku minta maaf," kata Robby sambil menatap Devon, Amanda dan Viona secara bergantian, "aku ingin bicara berdua dengan Deril."
Amanda mengajak Viona berdiri kemudian keluar. Devon mengekor di belakang. Sedangkan Robby menatap Deril setelah pintu ruangannya tertutup.
"Papa ingin mengatakan hal penting padamu, Deril."
Deril penasaran, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia terus menatap Robby dengan ekspresi menunggu.
"Kamu ingat wanita yang papa sebutkan tempo hari, wanita yang papa ingin kamu dekati, wanita pindahan dari kantor papa?"
Robby mengangguk. "Sebelumnya papa minta maaf sudah memaksamu. Papa tahu papa egois, tapi percayalah Deril ... itu bukan keinginan papa."
"Maksud, Papa?" Deril bingung, ia masih ingat soal keyakinan Robby tempo hari ketika lelaki itu ingin ia mendekati Wulan, "Dia anak temannya Papa, kan?"
"Papa berbohong, Deril."
Deril semakin terkejut dan bingung.
"Alasan papa menyuruhmu ke sini karena itu, papa ingin kau tahu siapa papanya Wulan."
"Untuk apa?"
"Untuk waspasa. Papa terbaring di sini karena dia, dia menyuruh orang mencelakai papa. Bersyukur papa tidak langsung mati, kalau tidak ...."
Robby sengaja menghentikan ucapannya dan kembali mengingat kejadian yang menimpa dirinya tempo hari.
Deril terkejut dan marah. "Kenapa dia melakukan itu kepada Papa, Kenapa Papa tidak menuntut balik padanya?!"
__ADS_1
"Semua ini salah papa, demi uang papa rela melakukan apa yang dia perintahkan."
Deril menyimak dengan emosi membara. Sebagai anak jelas ia tak terima orangtuanya ditindas oleh orang lain. Apalagi hanya perkara pribadi yang tidak ada sangkutpautnya dengan operasional.
"Jefry ingin Wulan meninggalkan kota Jakarta," Robby memulai, "Dia menyuruh papa untuk memindahkan Wulan ke luar kota. Papa menuruti kemauannya dan berbohong kepada Wulan, bahwa kepala di kantor pusat ingin dia di mutasi. Awalnya Wulan tidak mau, tapi papa memikirkan alasan sampai akhirnya Wulan setuju dan mau dimutasikan ke luar kota."
Deril berdecak. "Orang tua macam apa itu?"
"Jefry bukan papa kandungnya, Jefry papa sambungnya. Sebenarnya papa tidak mau mengatakan ini, tapi papa takut ... apa yang terjadi pada papa sekarang pasti balasan Tuhan."
Keheningan terjadi. Deril terus menatap Robby, sedangkan lelaki itu menunduk memikirkan kesalahannya.
"Jefry menyuruh papa untuk mengatur penerbangan Wulan. Papa melakukannya sesuai perintah. Papa yakin hari itu papa memberikan tiket yang benar. Anehnya ...," Robby menatap Deril, "jadwal Wulan berbubah jam terbang, di tiket yang papa berikan harusnya Wulan berangkat jam delapan malam, nyatanya Wulan berangkat pukul jam sembilan. Ketika ditanya delay atau tidak, katanya jadwal di tiket memang tertulis jam sembilan malam."
Deril berasumsi. "Mungkin ada yang menukarnya."
"Anggap saja demikian, dan itu terjadi bukan secara kebetulan. Anggap saja ada yang mendengar pembicaraan papa dan Jefry, sehingga mereka menukar tiket itu. Tapi itu terjadi bukan secara kebetulan, Deril. Semua itu terjadi karena kuasa Tuhan, Tuhan ingin melindungi Wulan dari kejahatan."
"Bagaimana soal papa sambungnya?"
"Dia marah besar waktu itu, dia pikir Wulan sudah berhasil disingkirkan, nyatanya orang yang tewas hari itu bukan Wulan. Pagi itu dia menghubungi papa dan marah-marah. Sorenya papa didatangi orang banyak dan inilah yang terjadi kepada papa."
"Aku penasaran, memangnya apa yang dilakukan Wulan sampai dia ingin menyingkirkannya?"
"Kalau itu papa tidak tahu. Dia memberikan tugas, papa hanya menjalankannya."
Deril berdiri. "Mulai sekarang berhentilah berurusan dengan orang seperti itu. Saranku, papa harus minta maaf kepada Wulan. Kalau perlu papa jujur soal kesalahan yang papa buat padanya."
"Kamu benar, Wulan wanita yang baik dan pintar. Dia sangat bertanggungjawab dengan pekerjaannya. Dia pasti sangat marah pada papa, papa bilang tugasnya di sana hanya melatih seseorang yang sama jabatan dengannya. Nyatanya tidak ada orang yang akan dilatih dan tidak ada dilatih."
"Papa telah melakukan kesalah besar. Sebelum terlambat sebaiknya papa ceritakan semua ini pada Wulan."
Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu membuat Deril dan Robby terdiam. Mereka sama-sama menoleh dan melihat kepala Amanda muncul di balik pintu.
"Apa topik kalian sudah selesai? Di luar ada tamu, dia ingin membesukmu."
"Siapa?" tanya Robby.
"Namanya Handoko."
"Handoko, Handoko siapa, aku tidak mengenalnya."
__ADS_1
"Entalah, yang jelas dia ke sini ingin melihat keadaanmu."
Bersambung___