
Sejak tahu dirinya hamil Wulan menjadi semangat bangun pagi. Pekerjaan menyiram tanaman yang tidak biasa ia lakukan sekarang sudah dijadwalkan untuk menjadi rutinitasnya setiap pagi.
"Nyonya, ini susu Anda."
Inem muncul dengan nampan berisi segelas susu cokelat. Tak hanya susu, Inem juga membuatkan roti lapis berisi mentega gula sesuai permintaan sang nyonya rumah.
"Terima kasih, Inem. Oh, iya, tuan sudah bangun?"
"Belum, Nyonya."
"Jam berapa sekarang, Nem?"
"Jam tujuh kurang, Nyonya."
Pulang dari pernikahan Deril dan Viona Niko kembali menyerang Wulan. Tak banyak ronde seperti sebelumnya, hal itu membuat Niko kelelahan dan ketiduran sampai sekarang.
"Biarkan saja dulu, nanti aku yang akan membangunkannya."
Wulan menghentikan aktivitas kemudian duduk di bangku taman. Dengan paparan sinar mentari pagi yang cerah ia mulai menyesap susu hamil buatan Inem.
Inem pamit ke dalam untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ketika ia hendak memasuki pintu, Niko muncul dengan tubuh segar dan wangi.
"Inem, buatkan aku kopi."
"Siap, Tuan."
Niko mendekati Wulan. Karena wanita itu tidak melihat kedatangannya, ia mengagetkan istri tercintanya dengan memeluk Wulan dari belakang.
Untung saja Wulan sudah meletakkan gelas itu ke meja ketika tangan besar Niko melingkar di perut dan menyerang lehernya.
"Selamat pagi, Cinta," sapa Niko lembut. Ia membenamkan wajahnya ke leher Wulan, membuat Wulan tertawa akibat rasa geli menyerangnya, "Bangun kok tidak ajak-ajak."
Niko duduk dibangku di belajang Wulan. Sambil duduk ia tidak melepaskan tubuh sang istri dari pelukannya.
"Kamu terlelap, aku tidak tega membangunkanmu."
"Sepertinya aku kelelahan, berapa hari ini aku lembur terus," Niko menatap wajah Wulan, "Kamu tidak kelelahan, hah? Jam berapa kamu bangun? Kenapa kamu di sini? Aku mencarimu di mana-mana, ternyata kamu di sini."
Wulan menyandarkan belakang kepala di bahu sang suami. "Jam enam kurang. Begitu bangun aku langsung mandi lalu ke sini."
Niko melihat gelas susu di atas meja. Spontan ia segera mengambil dan menenggaknya.
Wulan tak bisa mencegah. Ia membiarkan Niko menelan susu itu sambil menahan tawa.
"Susu apa ini, Sayang? Kenapa rasanya tidak enak begini?"
Wulan tertawa melihat ekspresi Niko. Ia memutar posisi, menghadap sang suami tercinta yang wajahnya begitu kecut.
"Ini susu diet, Sayang."
"Pantasan rasanya tidak enak."
Wulan tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Ia sudah punya rencana untuk memberitahukan kabar baik itu besok.
"Boleh aku bertanya?" kata Wulan ketika Inem muncul.
"Tentu saja, Sayang," Niko segera meraih cangkir kopi itu untuk menghilangkan rasa tidak enak di lehernya, "Inem, bisa kau buatkan aku rujak cocol? Entah kenapa pagi ini aku ingin sekali makan rujak."
Wulan terkejut.
Inem tersenyum lebar. "Tentu saja, Tuan. Ada permintaan buah yang Anda inginkan?"
"Ada buah apa saja di dalam kulkas?"
Untung saja mereka selalu menyetok buah setiap hari. Wulan senang dengan buah, itu sebabnya ia menyuruh Inem untuk mengganti buah-buahan di kulkas setiap dua hari sekali.
"Apel merah dan hijau, nanas, bengkoang, buah naga dan pir, Tuan."
__ADS_1
"Selain buah naga, semua itu kau potong-potong besar, ya?"
"Baik, Tuan. Sambal kacangnya mau pedas atau tidak?"
"Pedas saja."
"Siap. Inem buatkan rujaknya dulu."
Wulan menatap heran. "Kamu serius ingin makan rujak? Ini masih pagi, Sayang."
Niko menarik tubuh Wulan, mendekap, kemudian mencium dahinya. "Aku juga heran. Yang jelas pagi ini aku ingin sekali makan rujak."
Wulan berpikir. Apa mungkin karena pengaruh dirinya hamil? Kata orang-orang kan kalau istri sedang hamil biasanya reaksi itu akan berdampak kepada suami. Wulan tersenyum lebar.
"Apa yang ingin kamu tanyakan, hah?"
Wulan membalas pelukan Niko. "Kalau aku berhenti kerja, apa kamu tidak akan marah?"
"Tentu saja tidak," Niko melepaskan pelukan, menatap wajah Wulan dengan penuh kasih sayang, "Aku justru senang kamu melakukan itu, aku ingin kamu di rumah dan fokus mengurusku. Tidak hanya itu, aku ingin kamu banyak istirahat agar proses pembuatan bayi kita bisa lebih cepat."
Wulan tertawa. "Maafkan aku."
"Maaf kenapa?" Niko mengecup bibirnya.
"Sudah tiga bulan menikah aku belum bisa memberikan kabar baik itu padamu. Kamu benar, mungkin dengan berhenti bekerja aku bisa cepat hamil."
"Kalau belum tidak apa-apa, mungkin belum rezeki."
Niko senang Wulan membahas soal itu. Dengan begitu ia bisa melakukan sesuatu untuk melancarkan rencananya bersama Gloriana.
Wulan meledek. "Kalau aku belum ingin hamil, bagaimana?"
"Kamu tidak mau punya anak?"
"Bukan tidak mau, aku belum siap tubuh seksiku ini berubah. Aku sangat suka dengan tubuhku sekarang."
Wulan terkejut. Ia ingin membujuk, tapi pria itu berlalu meninggalkannya.
"Aku akan hanya bercanda," keluh Wulan. Ia kemudian berdiri mengejar Niko.
Inem muncul. "Nyonya, ini rujaknya tuan."
"Terima kasih ya, Inem."
"Sama-sama, Nyonya."
Wulan naik ke lantai atas sambil membawa piring berisikan potongan buah dan saus kacang pedas.
"Sayang, ini rujakmu. Hmmm, sepertinya enak sekali. Aku boleh coba, tidak?"
Niko mengeluarkan setelan kerjanya dari lemari. Dengan ekspresi dibuat-buat marah ia sedikit mengeraskan suaranya.
"Makan saja, aku tak berminat lagi."
Wulan ingin tertawa, tidak biasanya Niko akan merajuk seperti ini kalau dirinya salah bicara.
"Kamu yakin tidak mau? Aku akan menghabiskannya, rujak ini enak sekali."
Untung saja Niko membelakangi Wulan. Jadi, ia tak bisa melihat kalau sebenarnya pria itu sudah menelan ludah saking inginnya.
"Sayang, hmmm, enak sekali. Sini aku suapi."
Ia bergerak, mendekati Niko. Namun, bukannya direspon, Niko malah berbalik dan meninggalkannya.
Wulan merasa bersalah. Ia melepaskan piring itu kemudian memeluk Niko dari belakang.
"Maafkan aku, tadi itu aku hanya bercanda. Aku tidak bermaksud berkata begitu."
__ADS_1
Niko merapikan diri di depan cermin. Tak mau tawanya meledak, ia segera berlalu, meninggalkan Wulan sendirian.
Wulan ingin menangis. Ia tak menyangka guyonan di taman itu akan membuat akar masalah antara dirinya dan suaminya.
"Oh, iya," kata Niko begitu tiba di dekat pintu. Ia berbalik menatap Wulan, "Aku tidak akan makan malam di rumah. Kalau kamu lapar, kamu makan saja lebih dulu. Jangan tunggu aku."
"Sayang, aku ...."
Niko tak menghiraukan dan langsung berlalu. Dengan rasa khawatir bercampur senang ia menuruni tangga kemudian meninggalkan rumah. Ia tak tega melihat wajah Wulan ketika meninggalkannya sendirian di kamar.
"Maafkan aku, Sayangku," katanya setelah masuk ke dalam mobil, "Aku hanya ingin tahu, apa kamu benar-benar tulus padaku atau tidak. Aku hanya ingin tahu reaksimu, jika aku memiliki anak dengan wanita lain," Niko terbahak lagi, "Wulan, Wulan, aku sangat mencintaimu."
Dengan kecepatan tinggi Niko melajukan mobil menuju kantornya.
"Darius, carikan aku rujak. Aku ingin sekali makan rujak cocol."
Darius terkejut. "Anda yakin?"
"Tentu saja. Sekarang, ya."
"Baik, Tuan."
Darius menurut kemudian berlalu.
Niko mengambil ponsel kemudian menghubungi Gloriana.
"Halo, Niko?"
"Jam lima sore kau ke rumahku. Lakukan seperti yang kita bicarakan."
"Kamu tenang saja."
Niko memutuskan panggilan. Sambil menunggu rujak yang sejak tadi sudah diinginkannya, ia menyelesaikan beberapa pekerjaan untuk mengalihkan rasa tidak nyaman dalam tubuhnya.
Di sisi lain.
Wulan menangis di kamarnya. "Dia bahkan tidak menciumku seperti biasanya. Aku takut, Fan. Aku takut dia akan mencari anak di luar seperti yang dia katakan tadi."
"Aku rasa dia sedang mengerjaimu. Tenang saja, besok kan kamu akan memberitahukan kabar baik itu. Dia pasti tidak akan macam-macam, percayalah."
"Tidak biasanya dia seperti ini. Bahkan rujak yang dia minta tidak disentuhnya sama sekali."
"Rujak?"
Tangis Wulan meredah. "Katanya dia ingin sekali makan rujak. Inem sudah membuatkan, tapi dia sama sekali tidak menyentuhnya."
"Sepertinya dia terkena syndrome couvade. Itu hal normal jika istrinya sedang hamil. Apa dia mual, muntah atau sakit punggung?"
"Kalau itu aku belum tahu. Pagi ini tiba-tiba dia ingin makan rujak."
"Kamu jangan terlalu merasa bersalah, mungkin perubahan sikapnya karena kamu sedang hamil."
Wulan sedikit tenang. "Hari ini aku tidak masuk kantor. Akhir-akhir ini aku suka lelah. Tolong sampaikan ijinku ke atasan, ya?"
"Tenang saja. Ya sudah, aku siap-siap dulu. Kamu juga harus banyak istirahat, ya."
"Iya. Terima kasih, ya."
"Sama-sama."
***
Setelah menghias diri secantik mungkin Gloriana akhirnya pergi ke rumah Wulan.
"Kita lihat saja nanti, aku akan membuat istrimu marah dan meninggalkanmu, Niko."
Bersambung____
__ADS_1