
Handoko syok. "Itu tidak mungkin, aku menemuinya sore hari. Aku meninggalkan rumah sakit keadaannya pun baik-baik saja."
"Sebaiknya Anda ikut kami dan menjelaskannya di kantor."
Niko berdiri dan protes, tapi Handoko menahannya. "Biarkan mereka membawa papa, papa bisa mengatasinya, ini pasti salah paham."
Handoko membiarkan polisi memborgol tangannya.
Niko marah. "Bilang kepada mereka, aku akan menuntut balik jika papaku tidak bersalah."
Polisi itu mengabaikan ucapan Niko kemudian membawa Handoko.
Handoko menatap Niko dengan sorot mata tenang. "Papa yakin papa tidak bersalah."
Magdalena, Brian, dan pelayan lainnya sedih melihat apa yang terjadi. Mereka hanya bisa pasrah ketika polisi membawa Handoko keluar rumah.
Niko tak tinggal diam, ia menghubungi Darius dengan dada naik-turun karena emosi.
"Halo, Tuan," sapa Darius.
"Papa ditangkap polisi. Hubungi pak Widu, suruh dia ke kantor, aku ingin bicara dengannya."
"Baik, Tuan."
Tanpa memperdulikan sarapan dan kopinya, Niko segera bergegas untuk bersiap-siap.
***
Siang hari Jefry sedang bersantai di taman belakang sambil menikmati jus tomat dan koran. Rencana hari ini Angelina dan Ulan akan melakukan body treatment and hair care di salon untuk persiapan acara pernikahan besok. Karena memakan waktu berjam-jam, kedua wanita itu meninggalkan Jefry sendirian.
Drttt... Drttt...
Panggilan masuk di ponselnya membuat Jefry menoleh. Ia melipat koran di tangannya ketika melihat nomor yang tak asing baginya.
"Hmmm?"
"Bos, semua berjalan lancar sesuai rencana. Robby Lamber menghembuskan napas terakhir kemarin malam."
Senyum di wajah Jefry melebar. "Kerja bagus. Aku akan memberikan apresiasi untuk kalian semua."
"Terima kasih, Bos."
Jefry mengakhiri panggilan kemudian terbahak-bahak.
"Tidak ada lagi yang bisa menghalangiku. Tidak akan pernah ada yang bisa mengalahkan seorang Jefry Tanujaya."
Jefry terbahak lagi.
Drtt... Drtt...
__ADS_1
Dering ponsel menghentikan tawa Jefry. Alisnya berkerut melihat nomor yang sama terpajang di layar ponsel.
"Ada apa?"
"Keluarga Robby melaporkan besan Anda ke polisi, mereka bilang besan Anda yang membunuh Robby Lamber. Menurut keterangan mereka, orang terakhir yang berinteraksi dengan Robby adalah besan Anda, Bos."
"Apa?" Jefry syok kemudian berdiri, "Di mana Handoko sekarang?"
"Beliau di kantor polisi. Mereka menangkap beliau di kediamannya pagi tadi."
"Brengsek! Untuk apa Handoko menemui si botak itu?" sesaat Jefry diam dan berpikir, "Apa mungkin Handoko tahu yang sebenarnya?" Jefry mengabaikan orang di balik telepon, "Aku tahu, dia pasti menemui Robby untuk menggagalkan pernikahan Niko," Jefry mengepalkan tangan, "Brengsek, kalau bukan besok acara pernikahan anak-anak aku tidak akan mau membebaskanmu. Aku akan membiarkanmu membusuk di sana Handoko," Jefry diam sesaat kemudian menyapa sosok di balik telepon, "Telepon pengacara keluarga, suruh dia menemuiku di rumah."
"Baik, Bos."
***
Di kediaman Lamber semua orang berpakaian serba hitam. Para tamu dari seseantero kota tak henti-hentinya berdatangan untuk melayat. Keluarga, kerabat dan para kolega memenuhi kursi yang disediakan.
Amanda duduk di samping peti sambil menangis. Di sampingnya ada Viona yang juga sedang menangis dan berusaha menghiburnya.
Walaupun hanya sebentar berbicara dan bertatap muka dengan Robby di rumah sakit, Viona yakin lelaki itu sangat tulus. Ia bersaksi dalam hati, bahwa Robby Lamber adalah orang baik.
Di depan mereka ada Devon yang terus diam tanpa suara. Wajahnya begitu sedih dan pucat. Ia ingin menangis, tapi airmatanya tak bisa keluar.
Devon lah orang pertama yang melihat kondisi Robby yang tak bernyawa dengan mulut berbusa. Sejak menyaksikan itu, sampai sekarang Devon tak pernah bicara seolah-olah mulutnya terkunci, ia tak menyangka papanya akan pergi secepat ini.
Deril muncul, mengambil posisi di samping Amanda kemudian menghiburnya. "Pelakunya sudah di penjara, Ma. Polisi mendatangi kediamannya tadi pagi dan menangkapnya."
"Selamat sore."
Suara seorang laki-laki mengejutkan Deril dan Viona. Pikiran Devon dan Amanda sedang tidak baik, jadi mereka tidak mendengar suara laki-laki itu.
Deril berdiri dan menyapa pria yang berpakaian hitam itu. Dilihat dari penampilan Deril percaya pria di depannya itu adalah pengusaha kaya. Tanpa berkenala Deril yakin pria itu mengenal ayahnya.
Di acara seperti ini tak memandang status sosial. Siapa yang datang melayat berarti tujuannya untuk menghibur keluarga yang sedang berduka.
"Aku turut berduka cita."
"Terima kasih," kata Deril ramah. Ia mengukurkan tangan untuk berjabatangan.
Di posisinya Viona seperti paku yang tertanam begitu dalam. Melihat pria di depannya membuat Viona terkejut.
'Niko ...,' katanya dalam hati, 'Niko mengenal papanya Deril? Kira-kira Niko tahu tidak ya, kalau om Robby bersekongkol dengan om Jefry untuk memutasikan Wulan?'
Berbeda dengan Viona, Niko justru menyapa wanita yang sedang duduk melamun di depannya. "Viona? Sedang apa kau di sini?"
Deril terkejut. "Anda mengenalnya?"
"Aku sangat mengenalnya."
__ADS_1
Deril menatap mereka secara bergantian.
Melihat keberadaan Viona justru menimbulkan kecurigaan bagi Niko. "Viona, bisa kita bicara sebentar?"
Viona tak bisa menghindar. "Tentu."
Niko pamit kemudian meninggalkan mereka.
Deril menatap Viona dengan bingung. "Siapa dia?"
"Temanku. Aku akan menjelaskannya nanti."
Deril tak bisa menahan Viona. Sambil menatap punggung seksinya, Deril membiarkan wanita itu pergi bersama Niko.
"Apa yang kau lakukan di sini, hah?!" kata Niko penuh penekanan, "Jangan bilang kalau Jefry membayarmu untuk melenyapkan Robby, Viona."
Saat ini mereka cukup jauh dari keramaian. Viona dan Niko duduk berdampingan di kursi yang lumayan jauh dari pelayat yang lain.
"Itu tidak benar, Niko. Aku di sini karena aku mengenal keluarga ini."
"Pembohong! Aku mengenalmu, Viona. Kau rela melakulan apa saja demi uang."
Viona membantah. "Aku berani sumpah, bukan aku yang melakukannya. Aku sendiri tidak tahu siapa pelakunya. Tadi Deril bilang pelakunya sudah di penjara."
Niko menatap Viona lama sekali. "Sekarang jujur padaku, apa hubunganmu dengan mereka?"
"Aku menjalin hubungan dengan Deril, putra pertama om Robby. Dia baru saja tiba dari Manado kemarin."
Niko terdiam sambil menunduk. Walau pun marah kepada Viona karena kerjasamanya dengan Ulan, Niko percaya Viona bukan wanita yang suka berbohong.
"Mereka menuduh papaku sebagai pelakunya. Polisi datang ke rumah tadi pagi dan menangkapnya."
Viona syok. Dengan cepat ia menengadahkan wajah menatap Niko.
"Menurut mereka papaku orang terakhir yang berinteraksi dengan beliau," Niko membuang napas panjang, "Aku percaya papaku, dia tidak mungkin melakukannya."
"Tunggu ... kapan papamu mengunjunginya?"
"Kemarin sore. Kata papaku sebelum polisi membawanya tadi pagi, dia meninggalkan beliau baik-baik saja. Kata papa mereka berdua banyak bercerita. Bahkan beliau setuju akan membuat laporan hari ini untuk mencobloskan Jefry ke dalam penjara."
"Tunggu ... pasti ada yang salah di sini."
Niko menatap Viona. "Apa maksudmu?"
"Tunggu di sini, aku akan memanggil Deril."
Niko tak menahan dan membiarkan Viona meninggalkannya. Ada sedikit harapan dalam dirinya agar Handoko bisa mendapatkan pembelaan.
Tak berapa lama Viona muncul bersama Deril. Dengan ekspresi bingung Deril menatap Niko.
__ADS_1
"Ada apa?"
Bersambung___