Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Sederhana Saja.


__ADS_3

Perasaan penuh kelegaan Angelina menatap mobil polisi itu hingga tak terlihat. Bibi yang tadinya berada cukup jauh sekarang mendekat, berdiri di belakang Angelina.


"Orang-orang yang menyakiti Nyonya sekarang sudah tidak ada lagi. Tuan Jefry sudah tiada, nona Ulan sekarang sudah ditangkap."


Angelina berbalik. "Untuk sekarang mungkin iya, di masa depan Ulan pasti akan kembali lagi ke sini, Bi. Wulan ... aku takut dia kembali dan menyakiti Wulan lagi."


"Itu tidak akan terjadi, Nyonya, kita akan menjaga nona Wulan bersama."


Mengingat anaknya sudah di kota yang sama, Angelina meraih ponsel kemudian menghubunginya.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan."


Angelina lemas. "Ponselnya masih tidak aktif, Bi."


"Mungkin non Wulan sedang bersama tuan Niko."


Mendengar itu ide muncul dalam benaknya. Angelina mengambil ponsel, kemudian menghubungi seseorang.


"Halo?"


"Handoko, kamu di mana, apa kamu tahu Wulan sudah tiba di sini?"


"Wulan?! Di mana dia sekarang, aku ingin bertemu dengannya, aku sangat merindukannya, Angelina."


"Niko bilang dia akan menjemput Wulan di rumah sakit. Tadi___"


"Rumah sakit, apa Wulan sakit?"


"Bukan Wulan. Terjadi sesuatu pada Viona. Jadi, Wulan dan Fanny membawanya ke rumah sakit."


"Viona, apa yang terjadi dengannya?"


Angelina masuk ke dalam. "Ceritanya panjang. Kalau tidak keberatan, aku mengundangmu minum teh dan kita bicarakan di sini. Sekaligus aku ingin membahas soal pernikahan Niko dan Wulan."


"Dengan senang hati. Kalau begitu aku akan segera ke sana."


***


Sesuai perbuatan Ulan dihukum berdasarkan undang-undang yang berlaku. Kini ia menangis di balik jeruji besi karena perbuatannya sendiri.


Imenk yang mendengar kabar itu segera ke kantor polisi untuk menemui Ulan. Ia memberikan semangat dan dukungan kepada Ulan, takut wanita itu akan bunuh diri akibat kesalahannya.


"Kamu tenang saja, aku akan membalas mereka, aku tidak akan membuat hidup mereka bahagia, seperti yang mereka lakukan padamu."


Ulan tak mengatakan apa-apa selain menangis.


"Kamu jangan takut, setiap hari aku akan ke sini untuk melihatmu. Ada aku sekarang, kamu tidak akan sendirian lagi."

__ADS_1


"Aku takut di sini, Imenk. Aku takut tidur di sini."


"Jangan khawatir, mereka tidak akan menyakitimu. Percayalah. Besok pagi aku akan ke sini untuk membawakanmu selimut dan peralatan mandi yang kamu butuhkan."


Ulan menangis.


"Waktu kita sudah habis. Kamu tidak perlu takut, aku akan membalas perbuatan mereka semua. Sekarang masuk dan tidurlah, besok pagi aku akan ke sini lagi."


***


Beberapa hari berlalu kedekatan antara keluarga Angelina dan Handoko semakin transparan. Angelina dan Handoko saling membantu satu sama lain.


Karena sebentar lagi akan menjadi besan, mereka selalu terlihat bersama dalam segala urusan. Sebagai anak Niko dan Wulan bahagia melihat kedua orang tua mereka begitu akrab.


Saat ini mereka berada di kediaman keluarga Lais. Handoko mengundang Angelina dan Wulan untuk makan malam bersama. Para orang tua sibuk menyiapkan makan malam di halaman belakang, sedangkan pasangan yang saling merindukan itu berdiri di balik dinding kaca jendela Niko sambil memantau mereka dari atas.


"Seandainya papamu menyukai mamaku, apa pernikahan kita tidak akan terjadi?"


Pertanyaan Wulan membuat Niko terkejut. Ia semakin mengeratkan pelukan di tubuh wanita itu.


"Pertanyaan yang konyol."


"Konyol, bagaimana? Coba lihat, mereka seperti pasangan yang kasmaran."


Niko menyerang leher Wulan dengan ciuman tak henti-hentinya.


"Siapa suruh pikiranmu kotor, mana mungkin papaku menyukai mamamu."


"Siapa tahu, mereka kan laki-laki dan perempuan."


Niko semakin menyerang dengan kedua tangan masuk ke balik baju Wulan. Begitu kedua tangannya menyentuh bagian subur yang kenyal, Niko memijatnya, membuat Wulan semakin mengerang.


"Hmmm, Sayang ... sebentar lagi makan malam selesai."


"Siapa suruh."


Niko terus menyerang leher Wulan kemudian membawanya ke ranjang. Tubuh Niko di atas. Dengan tatapan penuh cinta ia mengelus pipi Wulan.


"Kamu masih ingat apa yang kita lakukan terakhir kali sebelum kamu meninggalkanku?"


Wajah Wulan memerah. Ia hanya tersenyum sambil mengelus pipi Niko.


Niko memagut bibir Wulan sesaat. "Sejak kamu datang aku ingin melakukannya lagi. Tapi, aku takut setan dalam diriku akan memangsamu."


Wulan terbahak tepat pintu kamar Niko diketuk.


"Niko, Wulan, makan malamnya sudah siap."

__ADS_1


"Iya, Pa," wajah Niko cemberut.


Wulan tersenyum. "Tuhan mendengarkan doamu."


Niko ******* bibir Wulan sebelum akhirnya mereka bergabung di meja makan bersama Angelina dan Handoko.


Wulan dan Niko duduk bersebalahan. Angelina dan Handoko duduk di depan mereka, berdampingan. Melihat suasana itu membuat keluarga mereka terasa lengkap.


Bertahun-tahun hidup bersama Jefry dan Ulan justru Wulan tak merasa seperti sekarang. Meskipun diberikan fasilitas dan kasih sayang layaknya anak kandung oleh Jefry, Wulan merasa tak bahagia. Sikap dan perbuatan Jefry akhir-akhir ini pun membuatnya sadar, bahwa kasih sayang yang diberikan oleh Jefry dan Ulan tidak lah tulus.


Tak ingin merusak suasana makan malam yang bermakna itu, Wulan tersenyum dan melupakan kejadian yang sudah berlalu. Jefry sudah meninggal. Ulan sudah dihukum. Ia berharap hukuman itu akan membuat Ulan sadar dan mau memperbaiki dirinya.


"Wulan, kamu ingin pesta pernikahan seperti apa?" tanya Handoko sambil meletakkan ikan bakar kesukaan Wulan ke piringnya, "katakan, kamu ingin merayakan pernikahan di mana dan seperti apa, papa dan Niko akan mewujudkannya."


Wulan meraih piring berisi ikan bakar yang disodorkan Handoko. "Terima kasih, Papa."


Niko menyuapi udang bakar kepada Wulan yang sudah diberi sambal. "Dicoba, rasanya enak."


Angelina bahagia melihat Handoko dan Niko memperlakukan Wulan seperti ratu. Hal itu membuatnya teringat kepada Benny.


"Seandainya papanya Wulan masih hidup, dia pasti akan bahagia melihat ini."


Hati Niko dan Handoko sedikit tergerak. Mereka bersalah ketika Angelina melontarkan ucapan itu.


Handoko berdeham. "Sebelumnya aku minta maaf. Aku juga ingin tahu kenapa papanya Wulan meninggal. Tapi, aku tidak ingin merusak makan malam yang bahagia ini."


"Kamu benar," kata Angelina sambil terkekeh, "Aku janji akan menceritakannya padamu kapan-kapan."


Niko mengingatkan Wulan, "Kamu belum menjawab pertanyaan papa. Kamu ingin menikah di mana, resepsi yang bagaimana dan tema seperti apa?"


Angelina teharu.


Wulan tersenyum. "Karena kalian sudah di sini, aku ingin mengatakan sesuatu."


Semua orang menatap Wulan. Rasa penasaran pun mencuat ketika ekspresi Wulan berubah serius.


"Aku tidak ingin pesta besar-besaran. Definisi pernikahan kan bukan seberapa besar dan mewahnya sebuah resepsi. Percuma melaksanakan pesta besar-besaran, ujung-ujung hubungan tidak bahagia dan bercerai."


"Mama setuju."


Wulan melanjutkan dan menatap Niko, "Yang penting kita sah di mata agama dan negara itu sudah cukup buatku. Uang yang akan kita gunakan untuk resepsi lebih baik kita gunakan untuk usaha atau jalan-jalan keluar negeri."


"Soal itu kamu tenang saja, aku sudah menyiapkan uang untuk kita bulan madu ke luar negeri. Kamu juga tidak perlu bekerja, perusahanku cukup membiayai kehidupan kita selama puluhan tahun."


"Benar," tambah Angelina, "perusahan properti milik mama juga akan jadi milik kalian. Itu cukup memenuhi kebutuhan sampai kalian beranak-cucu."


"Sebanyak apa pun uang itu keputusanku sudah bulat, aku ingin melaksanakan pernikahan yang sederhana saja. Kamu tidak keberatan, kan?"

__ADS_1


Bersambung____


__ADS_2