
Kejadian semalam membuat Viona enggan keluar rumah meski perutnya sudah lapar. Rasa malu sekaligus sakit hati membuat Viona menutup diri.
Beberapa bulan lalu setelah meninggalkan Niko, Viona berangkat keluar kota hingga bertemu Deril. Merasa Deril adalah pria yang baik dan pantas dijadikan calon suami, Viona memutuskan menjadi wanita baik-baik untuk merebut hati Deril.
Hanya beberapa bulan tinggal di luar kota Viona merasa ada perubahan dalam dirinya. Ia tidak lagi mengkonsumsi alkohol, pergi ke kelab dan melayani para pria hidung belang yang ingin dipuaskan olehnya. Semua itu ditinggalkan demi Deril.
Viona ingat saat pertama kali bertemu Deril. Malam itu kebetulan tidak ada tamu yang akan ia layani. Ia melihat Deril di kursi VIP sedang duduk sendirian.
Secara visual ia menyukai Deril. Selain pakaiannya yang berkelas, Deril pria tampan dan terkesan lembut. Viona memberanikan diri dan menggodanya.
Flashback:
"Selamat malam, bisakah aku duduk di sini?"
Viona tersenyum malu dengan gelas kristal di tangannya. Gaun mereka panjang yang terbelah samping membuatnya sangat percaya diri. Bagian atas yang terbuka membuat Viona yakin kalau pria di depannya akan tertarik.
Benar, Deril menatap Viona begitu lama. Tatapannya tertuju di bagian belahan antara bentuk bulat yang tegas.
"Tentu saja. Silahkan."
Viona berbangga hati dan duduk di samping Deril. Ia bahkan tak malu menyentuh punggung pria itu dan mengelusnya.
"Sepertinya kau sedang sedih. Kalau kau butuh hiburan, aku bersedia menghiburmu."
Deril tersenyum. Ia menuangkan minuman ke dalam gelasnya kemudian menuangkannya lagi ke dalam gelas Viona.
"Kenapa ya, orang tua lebih mementingkan diri mereka dibanding anaknya?"
Viona terkejut. "Kau bertengkar dengan orangtuamu? Aku pikir kau bersedih karena pacarmu."
Mereka berdua terkekeh.
Deril menenggak isi gelasnya kemudian berkata sambil menatap Viona, "Aku tidak punya pacar. Mungkin sebentar lagi."
Walaupun cahaya begitu minim Viona bisa melihat eskpresi sedih di wajah Deril. Ia pun menelan isi gelasnya sambil habis kemudian meletakkan gelas itu ke meja.
"Kau dijodohkan?"
Deril menggeleng. "Papaku ingin aku mendekati seseorang. Dia anak orang kaya dan belum punya pacar. Papanya sangat dekat dengan papaku. Jadi, papaku ingin aku mendekatinya dan mencuri hatinya."
"Itu pemaksaan," Viona terkekeh, "Setidaknya dicoba dulu, siapa tahu lama-kelamaan kau bisa menerimanya."
__ADS_1
"Masalahnya aku belum pernah melihatnya."
Viona terkejut.
"Lusa dia akan ke sini. Dia akan bekerja di kantorku dan menjadi bawahanku. Aneh, kan? Aku sebagai atasan harus mendekatkan diri dengan bawahan demi urusan perasaan."
"Memangnya kau kerja di mana? Mungkin saja wanita itu anak dari bos perusahanmu."
Deril terkekeh. "Ngomong-ngomong kita belum berkenalan. Namaku Deril, aku menjabat sebagai kepala di salah satu bank swasta."
Mata Viona seperti singa lapar melihat mangsa di depannya. "Aku Viona, pekerjaanku seperti ini."
Deril menatap tubuh Viona dari atas sampai bawah. "Kamu cantik, kenapa kamu tidak mencari pekerjaan lain?"
"Mungkin takdirku sudah di sini."
"Tidak boleh berkata begitu, Tuhan tidak pernah memberikan sesuatu yang buruk untuk ciptaannya. Hidup itu kita yang memilih. Jadi, jangan salahkan Tuhan jika keadaan kita seperti ini."
Viona tersenyum. Entah kenapa kata-kata Deril membuat hatinya begitu damai.
"Kalau kamu berminat, aku akan membantumu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Pekerjaan ini tidak akan membuatmu bahagia selamanya."
Viona terkekeh. "Kau benar. Aku berharap suatu saat ada pria baik-baik yang mau menerimaku. Jika demikian, aku akan meninggalkan pekerjaan ini demi dirinya."
"Serius. Aku tak peduli meskipun pekerjaannya biasa saja. Selama dia menerimaku dengan segala kekuranganku, aku akan menerima dia sebaliknya."
Deril menatap sayu. "Pria seperti apa yang kau inginkan?"
Viona belum menjawab. Ia tersenyum dengan tangan menempel di paha Deril. Ia mengusap paha pria itu lalu mendekat dan berbisik, "Pria sepertimu, pria yang mengingatkanku kepada penciptaku."
Deril tidak keberatan. Ia justru sangat menikmati moment itu. Aroma alkohol dari mulut Viona membuatnya bergairah.
"Jujur," kata Viona, "kata-katamu tadi membuatku tersentuh. Seandainya kau mau, aku rela meninggalkan semua ini demi dirimu."
Tak tahan dengan godaan di depannya, Deril mendekatkan bibirnya ke bibir Viona. Ia menempelkan bibirnya sesaat sebelum akhirnya melepasnya.
Viona kecewa, tapi senang. "Apa maksudnya?"
"Mulai sekarang kau akan menjadi wanitaku. Kau akan menemaniku dan hanya aku. Seperti yang kamu katakan tadi, kamu akan meninggalkan semua ini demi aku."
Viona memeluk Deril. Kepalanya bersandar di bahu dengan tangan mengelus paha Deril.
__ADS_1
"Kau yakin menginginkanku? Aku belum lama duduk di sini dan kau sudah menawarkan diri padaku. Kau tidak menyesal? Aku wanita kotor, Deril."
"Kita tidak akan menjalin hubungan. Aku menyukaimu, Viona. Aku ingin kau menjadi wanita yang lebih baik."
Flashback off.
Sejak malam itu Viona meninggalkan dunia gelapnya. Setiap malam ia menghabiskan waktu bersama Deril di kamar hotel. Deril memberikan semua uang ia inginkan, begitu juga sebaliknya.
Perasaannya terhadap Deril semakin lama semakin dalam. Rasa cinta dan tulus muncul dengan sendirinya. Namun, Viona tak akan pernah lupa kata-kata Deril malam itu, Deril tidak ingin memilikinya, Deril hanya ingin dirinya menjadi lebih baik.
Tak mau perasaannya semakin dalam, Viona meminta ijin untuk ke Jakarta menemui sahabatnya, Ulan. Deril mengijinkan, dengan catatan Viona tidak boleh kembali ke masa lalu.
Sayangnya janjinya hanya sebatas kata-kata. Perubahan baik yang terjadi dalam dirinya hanya sesaat. Hal-hal merugikan yang ia pikir tidak akan pernah datang akhirnya kembali setelah bertemu keluarga Ulan dan Jefry.
"Ini salah mereka, gara-gara mereka aku ...."
Viona mengambil ponsel dan memeriksa siapa saja yang melihat siaran langsung itu.
Seandainya Niko tidak mengamcamnya, ia sudah menghapus siaran langsung itu agar tidak terlihat orang banyak.
"Kalau tahu begini, aku sudah unfollow dia dari instagramku sejak lama. Aku benci kamu, Niko! Aku benci kamu."
Viona terus memeriksa deretan nama-nama itu. Ia hanya ingin tahu, apakah Deril juga melihanya atau tidak. Berbagai komentar tidak sopan muncul di sana, tapi Viona tak peduli karena bukan itu tujuannya.
Jempol Viona terhenti ketika melihat nama yang ia cari. Tubuhnya lemas, matanya nanar.
"Dia ... Deril melihatnya. Dia pasti tidak akan percaya lagi padaku. Ya, Tuhan, hancur sudah kehidupanku. Tidak ada lagi laki-laki yang menerimaku seperti Deril menerimaku. Ini semua gara-gara Ulan, Ulan yang membuatku begini. Kalau bukan karena dia, Niko tidak akan mendatangiku dan melakukan ini. Aku benci kau, Ulan, aku benci kau!"
Tak peduli apa yang akan terjadi, Viona menghapus siaran langsungnya. Deril memang melihat adegan itu, tapi ia bisa menjelaskan dan meminta maaf.
Viona mencari kontak Deril dan menghubunginya.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."
Balasan orang di balik telepon membuat Viona sakit hati. Tak mau menyerah Viona kembali menghubungi, tapi mendapatkan jawaban yang sama.
'Apa mungkin dia mengganti nomor?' pikir Viona. Ia teringat akun instagram Deril, 'Aku akan mencoba mengirim DM, siapa tahu dia membuka dan membacanya.'
Dengan antuasiasme Viona mencari akun milik Deril. Ia membuka nama, melihat postingan dan terdiam ketika matanya menangkap foto Deril bersama wanita lain.
"Ini kan ... ini kan Wulan, kakaknya Ulan. Kenapa dia terlihat mesra dengan Deril, ya?"
__ADS_1
Bersambung____
Guys, jangan lupa komen dan vote-nya, ya. Salam berdebar.