Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Kau Harus Memilih.


__ADS_3

Semenjak hari itu Handoko pun tak pernah mempermasalahkan apa yang terjadi. Walaupun melihat Niko sering melamun, Handoko tak mau mempengaruhi pikiran pria itu, meskipun ia tahu putranya itu sangat terbebani dan masih mencintai Wulan.


Berbeda dengan Handoko, Angelina justru terus mendorong Wulan untuk mendekati Niko lagi. Sebagai orang tua Angelina sangat menginginkan kebahagian Wulan. Hanya Wulan satu-satunya yang ia miliki, dan baginya Wulan berhak bahagia.


Saat ini Angelina sedang berdiri di balik jendela kamarnya dengan ekspresi gelisah.


"Percuma, Mama. Niko pasti tahu soal itu, tapi dia lebih memilih menikahi Ulan daripada memperjuangkanku. Sikapnya sudah terbukti, bahwa dia memang tidak mencintaiku lagi."


"Tapi dia belum tahu kalau dia dijebak. Mama ingin sekali menunjukkan rekaman ini, tapi mama sampai sekarang belum bisa menemuinya."


"Percuma, Mama. Sekalipun dia tahu itu bukan atau dijebak, Niko tidak akan memilih Ulan kalau dia benar-benar mencintaiku. Lupakan saja, lagi pula mungkin dia sudah ganti nomor, nomornya yang terdaftar di kontakku sudah tidak aktif."


"Mama rasa masih ada kesempatan."


"Itu tidak mungkin, Ma. Berat memang, tapi aku akan mencoba untuk mengikhlaskannya. Dia bukan jodohku, Mama."


Angelina bisa merasakan kesedihan yang dialami Wulan. Meski tidak melihatnya secara langsung, ia tahu putrinya sedang menangis di seberang sana.


"Mama sarankan, di pesta pernikahan mereka kamu tidak usah hadir. Lebih baik kamu di sana dan tidak usah pulang."


"Aku akan hadir, Mama. Aku ingin buktikan kepada Ulan dan papa, bahwa aku bisa mengikhlaskan Niko. Aku juga ingin membuktikan kepada Niko, bahwa bukan hanya dia pria yang bisa kuharapkan."


"Kalau kamu belum bisa melepaskannya, lebih baik kamu tidak usah hadir. Mama juga khawatir terjadi sesuatu padamu. Mama belum tahu apa motif papa ingin menikahkan Ulan dengan Niko, tapi ada baiknya kamu jaga jarak dulu dari mereka."


"Aku rasa perjodohan itu tidak benar. Aku rasa papa pasti berbohong soal ibunya Ulan ingin menjodohkan Niko dengan Ulan."


"Itu dia yang mama selidiki. Hanya saja mama belum bisa bergerak lebih, papamu selalu mengawasi mama."


"Mama juga harus hati-hati."


"Iya, Sayang."


***


Beberapa hari pun berlalu. Niko dan Ulan semakin dekat satu sama lain sejak memutuskan untuk hidup bersama. Urusan pernikahan membuat mereka sering menghabiskan waktu bersama.


Walaupun Niko sering mengabaikannya, Ulan tak peduli dan terus menempel di tubuh Niko. Ia tidak mengijinkan lengan Niko lepas dari tangannya jika sedang bersama.


Saat ini mereka baru saja selesai membeli cincin pernikahan. Karena masih banyak yang harus dikerjakan, Niko menyuruh Darius untuk membawanya ke kantor.


"Aku tidak bisa mengantarmu, banyak pekerjaan di dalam sana. Darius akan mengantarkanmu."


Ulan memeluk Niko. "Tidak masalah. Nanti malam kita makan malam berdua, ya?"

__ADS_1


Niko hanya mengangguk tanpa berkata-kata. Semenjak memutuskan untuk menikahi Ulan, Niko tidak pernah menolak apa pun yang diucapkan wanita itu. Ia selalu menuruti permintaan Ulan, meski sebenarnya dalam hati kecil Niko ingin menolak.


Ulan melepaskan pelukan, menatap Niko dan berkata, "Kalau sudah menikah, aku tidak akan mengijinkanmu mendekati Viona atau kak Wulan. Kamu tidak boleh berinteraksi dengan mereka."


Alis Niko berkerut. "Wukan kan kakakmu."


"Tapi dia mantanmu, aku tidak suka."


Kata mantan membuat Niko berpikir. Ia masih tak percaya kalau predikat itu sudah digelarkan kepada dirinya dan Wulan.


"Kenapa diam?" tanya Ulan. Ekspresi kesal, "Kamu teringat kak Wulan, ya?"


Niko menggeleng. "Aku memikirkan kata-katamu tadi. Wulan kakakmu, jelas aku akan berinterkasi dengan dia jika kami bertemu satu sama lain."


"Papa sudah menyiapkan rumah untuk kita. Begitu pesta pernikahan selesai, kita tidak akan tinggal bersama mereka, kita akan hidup damai berdua, Niko."


Niko hanya mengangguk. "Pergilah, nanti malam aku akan menjemputmu makan malam."


"Kau tidak ingin menciumku?"


Niko tidak nyaman. Ini permintaan pertama Ulan yang menurutnya sangat tidak pantas. Selain karena tidak memiliki perasaan, Niko tidak ingin mencium Ulan.


"Di sini kantor."


"Aku tahu, tapi kan aku calon istrimu."


"Komentar spekulatif, bagaimana? Sebentar lagi kita akan menikah."


Ulan sedikit kesal, tapi tidak membantah lagi. Ia memilih setuju untuk menghindari perdebatan dengan Niko. Ulan pun masuk mobil tanpa berkata apa-apa.


'Lihat saja nanti, begitu status kita sah menjadi suami-istri, aku akan lebih keras lagi menuntut pertanggungjawabanmu. Aku tidak akan membiarkanmu jauh, Niko.'


Begitu Darius melaju meninggalkan kantor, Niko segera berbalik dan henda masuk.


"Niko!"


Pria itu menoleh, melihat Fanny berlari kecil untuk mendekatinya. Niko merasa terganggu, sehingga ekspresinya berubah menjadi marah. Kebenciannya terhadap Wulan membuat Niko enggan bertemu dengannya.


"Kenapa kau ke sini, apa Wulan menyuruhmu? Sebaiknya kau pergi saja, aku tidak mau mendengar penjelasanmu."


Fanny tercengang. "Apa kau Niko?"


"Kalau tujuanmu ke sini ada sangkutpautnya dengan Wulan, lebih baik kau kembali saja, aku sibuk, tidak ada waktu meladenimu."

__ADS_1


"Pelet apa yang diberikan Ulan padamu, hah? Kenapa kau sangat membenci Wulan?" Fanny marah.


"Kalau begitu cepat katakan," Niko menatap asal, "apa tujuanmu ke sini?"


"Kau serius ingin menikahi Ulan? Wanita itu menjebakmu, Niko. Dia jahat, dia dan Viona bekerja sama untuk merusak hubunganmu dengan Wulan."


Niko menatap sinis. "Itu saja yang ingin kau katakan?"


Fanny mengambil ponsel dan menunjukkan rekaman suara Viona dan Ulan.


Niko mengabaikan. "Itu urusanku. Keputusanku sudah bulat dan aku tidak akan mengingkari janjiku. Pergilah, aku sibuk."


Tanpa menunggu jawaban Fanny, Niko segera berbalik dan masuk ke dalam gedung.


Fanny tercengang. "Apa yang terjadi padanya, kenapa dia tiba-tiba berubah?"


Di sisi lain Niko begitu muram masuk ke dalam ruangannya. Ia menyesal telah melontarkan kata-kata itu kepada Fanny. Biar bagaimanapun wanita itu pasti akan menyampaikannya kepada Wulan.


'Maafkan aku, Wulan, aku terpaksa melakukan ini. Ini demi keselamatanmu dan papaku.'


Niko tersandar di kursinya tak berdaya. Kata-kata Jefry tempo hari membuatnya tak berdaya.


Drtt... Drtt...


Ponsel Niko bergetar. Lamunannya terganggu dan langsung meraih benda itu. Dengan malas ia menyapa sosok yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya.


"Halo?"


"Kenapa kau tidak mau mencium putriku? Dia bilang padaku kau menolak untuk menciumnya."


Niko terkejut dan marah. "Apa kau tidak mengajari putrimu sopan santun? Dia memintaku menciumnya di depan kantor."


"Aku tahu, tapi kau menolaknya karena kau tidak mencintainya, kan?"


"Aku sudah menuruti permintaanmu. Sebaiknya kau jangan banyak mengaturku."


Jefry terkekeh. "Niko, sebentar lagi kalian akan menikah. Bagaimana kau bisa memberiku cucu kalau kau tidak mencintai putrimu?"


"Kau hanya ingin aku menikahinya, kan. Aku akan menurutinya. Selebihnya bukan urusanku."


"Oh, kau menantangku? Kita lihat saj nanti, apakah cintamu masih sama jika Wulan sudah tiada? Apakah kamu akan tetap berharap jika Wulan sudah meninggal? Ingat, Niko, apa pun bisa kulakulan termasuk menyingkirkan Wulan."


"Jangan pernah kau sentuh dia, Jefry! Jika kau menyentuhnya, aku tidak akan segan-segan menyakiti putrimu!"

__ADS_1


"Kalau begitu bekerjasamalah denganku. Kau harus memilih, mencintai Ulan atau Wulan dan papamu meninggal?"


Bersambung____


__ADS_2