
Angelina menatap Jefry cukup lama. Ia pun baru sadar, kalau yang diucapkannya tadi cukup menyakitkan bagi Jefry.
Memastikan Wulan sudah tak ada, Jefry menatap Angelina dengan senyum menggoda.
"Lain kali jangan begitu, Sayang. Aku membiarkan putrimu menjalin hubungan dengan Niko, bukan berarti kamu tidak menjaga perasaanku. Ulan putriku, Angelina."
Kata-kata itu seakan menusuk ke hati Angelina. Namun, ia sadar kalau perkataannya tadi sangat kelewatan. Wajar jika Jefry membalasnya.
***
Keesokan hari Niko bangun lebih awal dari Handoko. Pria itu memang selalu bangun pagi untuk melakukan olahraga. Dengan tubuh masih penuh keringat ia mendekati Handoko yang sedang membaca koran.
"Bagaimana tidur Papa, nyenyak?"
"Papa tidak bisa tidur, papa memikirkan Wulan."
Sebagai orang tua Niko, perasaan Handoko sejak semalam tak tenang ketika Wulan menyampaikan kabar itu. Kepindahan Wulan ke luar kota membuatnya banyak pikiran.
Ia tak menyangka Jefry akan setega itu padanya. Meskipun belum tahu pasti bahwa Jefry yang melakukannya, sebagai orang yang paling dekat dengan Jefry, Handoko tahu apa yang akan Jefry lakukan kepada orang yang menantangnya.
Tak hanya Handoko, Niko juga banyak pikiran soal kepindahan Wulan keluar kota. Namun, ia sudah punya rencana untuk menghadapi Jefry.
"Menurutmu, apa ini taktik Jefry untuk memisahkan kalian?" tanya Handoko.
Pulang kantor kemarin Niko belum bicara dengan Handoko soal pertemuannya dengan Angelina. Begitu mengatakan ia akan mengajak makan malam kepada Wulan, Handoko sibuk mempersiapkan semuanya untuk menanti calon menantunya. Niko pun tak punya waktu untuk membicarakan soal itu.
"Kemarin sore, pulang kantor, aku bertemu tante Angelina," Niko berkata lalu mengambil selembar roti dan mengolesinya dengan selai kacang, "Aku sudah mengatakan yang sebenarnya dan tante Angelina tidak keberatan."
Handoko terkejut, tapi rasa kaget itu terkalahkan dengan pikiran yang baru saja muncul.
"Menurutmu, apa karena itu Jefry menyuruh kepala bank untuk memutasi Wulan? Apa mungkin karena Angelina menyetujui hubungan kalian sampai dia mengirim Wulan keluar kota?"
Niko menelan kunyahannya. "Aku rasa tidak, tapi aku tahu penyebabnya."
"Apa?"
"Tante Angelina sudah jujur padaku, bahwa beliau sudah tahu kalau aku menjalin hubungan dengan putrinya. Wulan sudah mengatakannya sejak lama, dan beliau sangat setuju."
"Benarkah?" Handoko senang, "Lalu apa katanya, kalian bertemu di mana, berapa lama kalian bicara?"
Wajah Niko tetap datar. Karena masih mengunyah, Niko diam tak bicara.
Handoko mendesaknya. "Apa yang Angelina katakan, Niko? Kau tidak bilang, kalau papa ke rumah untuk mencarinya? Sudah kuduga, pasti Jefry sengaja mengelabui kita agar tidak menemui Angelina. Dia tahu otak papa seperti apa. Sebelum hal itu terjadi, dia sudah mencegahnya."
Niko menatap Handoko. "Tante Angelina tidak marah, beliau malah senang aku memiliki hubungan dengan Wulan."
__ADS_1
Handoko tersenyum lebar.
"Tante Angelina juga merestui hubunganku dan Wulan. Hanya saja ...."
Wajah Handoko berubah. "Hanya apa, Niko?"
Niko menyesap kopinya kemudian kembali menatap Handoko. "Tante Angelina bilang aku dan Wulan tak bisa menikah."
"Kenapa?" alisnya berkerut-kerut.
"Mantan istrinya om Jefry ingin Ulan menikah denganku. Sebelum meninggal katanya beliau perpesan, bahwa Ulan harus dijodohkan denganku."
"Itu tidak benar!" Handoko mengamuk. Ia berdiri, mondar-mandir di depan Niko, "Jefry sudah kelewatan. Ini tidak bisa dibiarkan."
Niko tetap tenang di tempat duduknya.
"Papa harus menemuinya, papa harus bicara dengannya," kata Handoko, "Sejak kapan mamanya Ulan ingin kalian menikah, sedangkan semasa hidupnya dia tidak pernah melihatmu."
Alis Niko berkerut. "Apa itu benar, Pa?"
"Tentu saja. IstriJefry meninggal sebulan setelah melahirkan Ulan," Handoko duduk, "Setelah melihat dia menikahi Angelina, papa berpikir kalau dia sengaja menyingkirkan istrinya agar bisa mendekati Angelina. Buktinya dia melenyapkan suami Angelina kemudian menikahinya."
Niko berpikir.
"Angelina itu mantan kekasihnya. Karena Angelina meninggalkannya dan memilih Benny, Jefry marah waktu itu dan ingin balas dendam. Papa pikir dia hanya bercanda. Setelah melihat kebersamaan mereka papa pun sadar, kalau apa yang dia ucapkan tempo hari menjadi kenyataan."
"Kamu akan bicara apa dengannya?"
"Aku hanya ingin bilang, bahwa aku tidak akan menikah dengan Ulan apa pun yang terjadi."
Handoko frustasi. "Lebih baik tidak usah, Nak. Jefry orangnya lain. Kamu sendiri tahu kan, betapa berkuasanya seorang Jefry Tanujaya di kota ini. Jadi, lebih baik kau jangan bermain api dengannya."
"Aku tidak akan bermain api, Pa. Tidak mungkin om Jefry sendiri yang membongkar rahasia itu pada Wulan dan mamanya. Selama aku dan Wulan tidak menikah, dia pasti akan diam saja soal itu."
"Bagaimana kalau dia mendesakmu untuk menikahi Ulan?"
"Papa pikir aku mau? Tidak akan mau dan tidak akan pernah."
"Jadi apa rencanamu?"
"Aku akan menemui om Jefry dan mengatakan tujuanku. Diterima atau tidak, yang penting aku sudah mengutarakan keinginanku."
Handoko setuju. "Dan begitu Wulan kembali, kau harus segera menikahinya. Jefry merestui atau tidak, pokoknya kau harus menikahinya."
"Itu sudah pasti, Pa."
__ADS_1
***
Dengan wajah datar Jefry sedang berkutat di depan laptop. Beberapa hari menghindari kantor karena enggan bertemu Handoko membuat pekerjaannya tertunda.
Setelah upaya menjauhkan Wulan dan Niko sudah berhasil, serta meyakinkan Angelina soal perjodohan itu, ia pun dengan penuh percaya diri kembali menginjakan kaki di gedung itu tanpa rasa gelisah. Ia sudah siap menghadapi Handoko, jika lelaki itu datang menuntut.
Namun, Jefry takkan menyerah sampai kapan pun. Ia akan berusaha mendekatkan Ulan dengan Niko bagaimana pun caranya. Ia harus mengambil hati Handoko agar lelaki itu mau merestui hubungan anak-anak mereka.
Jefry menghentikan aktivitasnya, meraih ponsel, kemudian mencari nama Handoko. Ia harus menghubungi lelaki itu seperti biasa, seakan tidak terjadi apa-apa.
Sayangnya saat Jefry menekan radial untuk menyambungkan panggilan, kontak Handoko tidak aktif. Ia tak menyerah, mencoba sekali lagi, tapi jawabannya sama.
Jefry akhirnya meletakkan ponsel kemudian kembali menatap laptop.
Tok! Tok!
"Masuk!" serunya tanpa menoleh, "Ia terus menatap latop tanpa menatap sosok yang muncul di balik pintu.
"Pak, ada seseorang di luar ingin bertemu dengan Anda."
Saat itulah Jefry menoleh ke wajah sekertarisnya. "Siapa?"
"Katanya tuan Lais."
Jefry tersenyum. "Pasti Handoko. Suruh dia masuk."
"Baik, Pak."
Setelah sekertaris itu menutup pintu Jefry kembali menatap laptop dan kembali bekerja.
"Akhirnya aku tak repot-repot meneleponnya."
Bunyi pintu terbuka sama sekali tak membuat Jefry sadar. Ia terus menghadap laptop dengan senyum sangat lebar.
"Duduklah, Handoko," katanya saat menyadari temannya sudah masuk, "Aku baru saja menghubungimu, tapi kontakmu tidak aktif."
"Aku bukan Handoko."
Kata dan suara yang berbeda membuat Jefry terkejut. Ia menoleh dan menatap sosok Niko sedang berdiri dengan ekspresi datar.
"Niko. Maaf Nak, om pikir papamu."
Niko tak menjawab.
"Duduklah, Nak. Tumben kamu ke sini. Pasti ada hal penting ya yang ingin kamu bicarakan?"
__ADS_1
Bersambung____