Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Papa Tirimu ingin Kau Tewas.


__ADS_3

"Aku percaya kalau itu. Mungkin ada sesuatu yang membuat Niko harus melakukan itu."


"Ya ... om Handoko juga bilang begitu padaku. Aku ingat apa yang pernah mama katakan padaku tempo hari."


"Soal apa?"


"Mamanya Ulan ingin dia menikah dengan Niko. Menurutku, pasti karena itu papa Jefry ingin memisahkan aku dan Niko."


"Tidak Wulan, aku yakin bukan karena itu, pasti ada sesuatu yang lebih dari itu. Kalau tidak, mana mungkin dia ingin mencelakaimu di pesawat tempo hari. Papa tirimu ingin kau tewas dalam pesawat itu."


Wulan terkejut.


"Aku sebenarnya tidak ingin mengatakan ini, tapi aku tidak tahu harus merahasiakan hal ini lagi sampai kapan."


Wulan tegang. "Ceritakan padaku Fanny, apa yang tidak kuketahui."


"Berapa hari sebelum kau berangkat, aku mendengar pembicaraan pak kepala di telepon dengan seseorang. Aku tidak tahu seseorang itu siapa, yang jelas dia mengarahkan pak kepala untuk menjadwalkan penerbanganmu di malam hari. Namun, setelah tahu masalah ini, aku rasa orang di balik telepo tempo hari adalah papa tirimu."


Wulan teringat sesuatu. "Kau ingat penemuan mayat di pesawat waktu itu?"


"Sangat ingat, dan jadwalnya persis dengan jadwal penerbanganmu."


"Jadwalku di undur, Fanny. Aku berangkat pukul sembilan malam, bukan jam delapan. Anehnya, pak kepala memberitahu jadwalku pukul delapan malam, nyatanya di tiket tercantum jam sembilan. Apa pak kepala sengaja membohongi papaku, agar tidak terjadi sesuatu padaku?"


"Tidak, Wulan. Bukan pak kepala yang melakukan itu, Niko yang melakulan itu."


"Ni-Niko?" Wulan terkejut.


"Kau ingat waktu kita mengadakan perpisahan di kantor?"


"Iya dan kau menghilang bersama pacarmu, kan?"


"Aku tidak menghilang dengan pacarku, Wulan."


"Kau berbohong?"


"Ya dan aku minta maaf. Hari itu aku mendengar pembiacaran pak kepala dengan orang tersebut. Tak mau kau panik, aku menghubungi Niko dan mengajaknya bertemu. Aku menceritakan rencana pak kepala kepadanya. Niko lah yang menukar tiketmu, bukan pak kepala. Niko yang mengubah jadwal penerbanganmu, bukan siapa-siapa."


"Tunggu, tunggu," Wulan mendapat ide, "Apa jangan-jangan keadaan pak kepala ada hubungannya dengan kejadian ini? Bukankah katamu tadi pak kepala tidak masuk kantor sehari setelah aku berangkat?"


"Aku rasa juga begitu, mungkin papamu kecewa keinginan untuk melenyapkanmu tidak terwujud."


Wulan syok. "Seandainya kau tidak memberitahu Niko soal itu, hari itu ...," Wulan menangis, "Kenapa papa tiriku begitu jahat? Kenapa dia ingin menyingkirkanku dengan cara itu? Kalau memang dia ingin Niko menikahi putrinya, toh dia tinggal mengatakannya secara langsung saja padaku."


"Mungkin ada sesuatu yang kalian tidak ketahui, Wulan. Setelah di pikir-pikir, aku rasa Niko sengaja menyutujui pernikahan itu untuk menyelamatkanmu. Selama kau masih menjalin hubungan dengannya nyawamu pasti tidak aman dan Niko ingin kau tetap aman."


Wulan teringat akan perkataan Handoko. "Kau benar, om Handoko mengatakan hal yang sama padaku. Kata beliau, mereka akan memberikan keadilan padaku dan mama. Jujur, sampai sekarang aku masih penasaran dengan kata-kata itu. Keadilan, keadilan apa maksud om Handoko?"


"Coba kau hubungi Niko dan bertanya padanya. Siapa tahu kau bisa membujuknya dan membuatnya mengaku."


Wulan berdiri, mondar-mandir dengan gelisah di depan ranjang. "Percuma, Fanny, aku rasa dia telah memblokir kontakku, aku tidak bisa menghubunginya."

__ADS_1


"Bersabarlah, Wulan. Aku berharap sesuatu yang dirahasiakan papa tirimu akan terbongkar sebelum hari pernikahan mereka. Aku tidak setuju Niko memperistri perempuan seperti Ulan. Walaupun belum mengenal Niko secara dekat, aku tidak setuju mereka menikah. Sumpah, sikap adikmu malam itu membuatmu gemas. Seandainya bukan adik tirimu, aku sudah mengacak-acak rambut dan wajahnya."


"Sudahlah," Wulan tersenyum, "Terima kasih untuk itu, tapi sebaiknya kau jangan mengotori tanganmu sendiri. Biarkan saja mereka memerankan karakter mereka. Toh, kalau mereka punya niat jahat, suatu saat pasti akan terbongkar."


"Kau benar. Sekarang sudah gelap, aku harus siap-siap dulu, aku ada janji dengan asistenku untuk menjenguk pak kepala di rumah sakit."


"Beritahu aku perkembangannya."


"Tentu saja."


***


Dengan wajah frustasi Niko memasuki rumahnya. Darius membuka pintu dan mengekor di belakang Niko.


"Kau sudah pulang," sapa Handoko begitu melihat putranya yang masih mengenakan setelan gelap. Saat ini mereka berada di ruang tamu, "Tumben kau pulang terlambat."


Sekarang sudah pukul sepuluh malam. Niko terlihat lemas dan terbebani. Sambil melepaskan jas ia duduk di depan Handoko.


"Kau yakin bisa melewati hari-harimu setelah menikah dengan Ulan? Papa tidak yakin kau bisa melewati semua ini, Niko."


Niko menyandarkan kepala di sandaran sofa kemudian memijat dahinya secara perlahan. Sambil menutup mata ia membalas perkataan ayahnya, "Demi keselamatan Papa dan Wulan aku harus bisa melewatinya."


Handoko terkejut. "Apa Jefry mengancammu lagi?"


"Ya."


"Apa yang dia katakan?"


"Mengadukan apa? Memangnya kau melakukan apa sampai dia mengadukanmu?"


"Perkata ciuman. Ulan marah aku tidak menciumnya di depan kantor."


"Sakit jiwa ... anak dan orang tua sama-sama sakit jiwa."


Niko menatap Brian. "Tolong buatkan aku secangkir kopi."


"Kau belum makan malam, sebaiknya kau makan dulu sebelum minum kopi."


"Aku tidak lapar, Pa."


Selepas mengatakan itu Niko melambaikan tangan kepada Brian untuk melakukan tugasnya.


Handoko menatap Niko. Tatapannya begitu dalam dan tak biasa. "Papa harap kau tidak akan marah setelah mendengar ini."


Niko tak menjawab, ia menatap Handoko sambil menyandarkan punggung ke sofa.


"Tadi papa menghubungi Wulan," Handoko diam sesaat untuk melihat reaksi Niko. Tak mendapat perlawanan dari sang anak, Handoko melanjutkan, "Kita harus membantunya, dia memiliki rekaman suara Ulan dan Viona. Dalam rekaman itu berisi rencana Jefry yang membayar Viona dua puluh miliar untuk menjebakmu."


Niko terkejut. "Menjebakku?"


Handoko mengambil ponsel kemudian memutar rekaman suara yang dikirim Wulan padanya.

__ADS_1


'Bagaimana dengan kakakmu? Kita belum menjalankan rencana kita, Ulan. Bukankah kau ingin kakakmu memutuskan Niko?


Aku akui kau benar-benar beruntung, Viona. Kau tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan dua puluh miliar itu.


Niko sepertinya ketakutan dan Niko sudah setuju untuk menikahiku. Besok papaku akan bicara dengannya dan om Handoko.


Secepat itu, bukannya kita belum melakukan apa-apa? Apa karena foto yang kau kirim waktu itu?


Bukan itu, Viona. Masalah foto aku sudah bilang pada kak Wulan. Kau tahu, kakakku itu benar-benar bodoh, dia percaya apa yang kukatakan.


Memangnya apa yang kau katakan?


Aku bilang soal dirimu padanya. Aku bilang kau dan Niko masih mencintai satu sama lain. Tak mau Niko mengkhianatinya, aku memeluk Niko dan bermohon untuk tidak meninggalkannya.


Lalu dia percaya?


Sepertinya iya, karena waktu aku bilang Niko menolak dan bilang masih mencintaimu, suaranya tak terdengar lagi. Mungkin dia sedang menangis di sana.


Viona dan Ulan terbahak.


Apa mungkin karena dia memutuskan Niko, sampai pria itu berubah pikiran dan mau menikahimu?


Papaku memberi dua pilihan kepada Niko, menikahiku atau papanya meninggal.


Papaku telah menyuruh orang untuk menculik om Handoko. Niko marah dan mendatangi papaku, dia membuat perhitungan dengan papa dan akhirnya mau menikahiku. Sepertinya dia lebih sayang papanya daripada kakakku.


Padahal aku ingin menggoda Niko sekali saja.


Memangnya dia mau?


Aku tidak yakin, tapi dengan minuman aku bisa mengajaknya ke ranjang. Aku rasa kau harus menginjikan aku melakukan hal itu. Dengan begitu, kesan di mata kakakmu Niko adalah pria brengsek. Jadi, meskipun kau menikah dengannya, kakakmu tidak akan merasa menyesal atau merasa bersalah. Bahkan dia merasa beruntung tidak jadi dinikahi Niko.


Habis ini kita mau ke mana? Aku belum ingin pulang, aku ingin bersenang-senang sampai pagi.


Mentang-mentang banyak uang. Eh, ngomong-ngomong, uang dua puluh miliar yang diberikan papaku kau apakan?


Aku depositokan lima belas miliar, sisanya aku pakai untuk bersenang-senang. Rencana aku ingin keluar negeri bulan depan. Kau mau ikut?


Ingin, tapi sebentar lagi aku akan menikah. Papaku pasti tidak akan mengijinkanku ke mana-mana.


Kalau sudah menikah, apa kau akan bekerja lagi? Aku heran, orangtuamu sudah kaya, tapi kenapa kau masih bekerja?


Aku ingin menyibukkan diri. Tapi setelah menikah aku tidak ingin bekerja lagi, penghasilan papa dan Niko cukup untuk membiayai kehidupanku.'


Niko sangat marah. Wajahnya seketika menjadi merah. Ia pun berdiri tanpa berpamitan.


"Darius, ayo."


Handoko terkejut. "Kau mau ke mana?"


"Aku akan menemui Viona, aku akan membunuhnya."

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2