Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Ke Rumah Niko.


__ADS_3

Wulan menarik napas kemudian menceritakan kejadian saat ia dan Jefry terlibat pembicaraan tentang Niko.


"Apa dia sudah gila?!" ketus Fanny dari balik telepon, "Itu namanya memaksa."


"Papa berkata begitu karena dia belum mendengar keputusan Niko dan ayahnya. Mungkin kalau mereka sudah bicara, papa tidak akan memaksa Niko menikahi Ulan."


"Semoga saja begitu. Aku juga tidak setuju kalau Niko menikahi Ulan."


Hati Wulan sedikit terhibur. "Kenapa?"


"Mereka tidak cocok, Niko lebih cocok menjadi suamimu, bukan Ulan."


Wulan tersenyum. "Nanti malam aku akan bicara dengan Niko. Kalau pun dia mengijinkanku pindah tugas, aku akan memintanya untuk menjauhi Ulan. Aku sudah terlanjur cinta pada Niko, Fan. Aku mencintainya."


"Aku rasa Niko juga demikian. Kamu tidak perlu khawatir soal itu, kalau memang dia benar-benar tulus padamu, dia tidak akan mengkhianatimu. Apalagi ibumu sudah tahu hubungan kalian. Tidak mungkin dia akan mengkhianatimu dan mendekati adikmu."


"Kamu tenang saja, selama kamu di luar kota aku yang akan mengawasi Niko. Kamu tidak perlu khawatir, kalau terjadi yang aneh-aneh aku akan langsung menghubungimu."


Wulan terkekeh. "Tidak juga begitu, Fanny. Aku percaya pada Niko."


"Niko mungkin tidak akan berkhianat, tapi Ulan ... Ingat, dia hanya adik tirimu, Lan. Dia pasti akan menganggapmu sebagai saingannya."


"Jangan bicara seperti itu, dia tidak seperti yang kamu pikirkan."


"Kalau sampai terbukti, bagaimana?"


"Kamu ada-ada saja. Sudah, daripada kamu memprovokasiku dengan adikku sendiri, lebih baik aku siap-siap dulu. Aku mau mandi dan ketemu Niko."


"Aku bukan memprovokasi, tapi kamu ingat kan reaksi Ulan sejak awal? Dia tidak suka dan tiba-tiba jadi suka. Apalagi papanya mendukung hubungan mereka. Kamu tidak takut kalau papanya ikut terlibat?"


Wulan menjadi cemas. "Lalu aku harus bagaimana?"


"Libatkan aku dalam urusamu. Aku akan memantau Niko dan Ulan selama kamu keluar kota."


"Baiklah. Tapi jangan berlebihan, aku tidak mau Niko mengetahuinya dan mengira aku tidak percaya padanya."


"Sip, kamu tidak usah khawatir. Sekarang mandi lah dan bersiap. Sampaikan salamku pada mamamu, ya."


"Iya."


***


Setelah cukup lama berada di kamar, Wulan akhirnya keluar dengan terusan hitam ketat yang membuat lekuk tubuh berisinya terpampang. Rambut yang dibuat wave dan sedikit berantakan membuatnya terlihat lebih feminin. Riasan wajahnya tetap natural dan tidak mengurasi kecantikannya yang alami.


Saat ini sudah pukul tujuh malam. Wulan menuruni tangga dan bertemu dengan Angelina. Ia tersenyum dan menyapa.


"Mama."


Angelina tersenyum sambil memperhatikan penampilan putrnya. "Kamu sangat cantik, Sayang. Kamu mau ke mana?"


Angelina sebenarnya sudah tahu dari Niko secara langsung, tapi ia sengaja ingin mendengar perkataan jujur dari putri kandungnya sendiri.


"Aku akan makan malam bersama Niko."


Sebenarnya Angelina menemui Wulan untuk menyampaikan perjodohan Niko dengan Ulan. Tak ingin merusak suasana hati sang putri, Angelina menunda kabar itu dan mengantar putrinya sampai ke depan rumah.

__ADS_1


"Ayo, mama akan mengantarmu."


"Papa dan Ulan di mana?"


"Mereka di ruang makan. Papa mengira kamu akan makan malam di rumah. Jadi, papa meminta mama untuk menemuimu."


"Lalu apa alasan Mama nanti?"


"Mama akan jujur."


Mata Wulan melebar, menatap ibunya."


"Tidak ada gunanya disembunyikan. Cepat atau lambat pasti akan ketahuan."


"Mungkin sebaiknya begitu."


Wulan harap setelah mengetahui itu Jefry tidak akan mendesak Niko untuk menikahi Ulan.


Begitu tiba di depan rumah mobil sedan hitam sudah terparkir. Niko keluar dari mobil dan mencium tangan Angelina. Ia juga berpamitan dan berjanji akan mengembalikan Wulan dengan keadaan selamat.


"Kami pergi dulu ya, Ma," kata Niko.


Wulan terkejut dalam diam.


Angelina tersenyum dan melambaikan tangan kepada mereka. "Hati-hati, ya."


Niko pun membuka pintu untuk Wulan kemudian berlari ke balik kemudi.


Angelina tersenyum sedih melihat mobil mereka melaju, meninggalkan halaman. Ia hendak berkata, tapi suara Jefry langsung membuatnya menelan kembali perkataan itu.


Angelina berbalik menatapnya. "Biarkan mereka, Jefry. Anggap saja ini terakhir mereka berdua bersama, sebelum kau mengumumkan perjodohan Ulan dan Niko."


Jefry tak berkomentar. Lelaki itu hanya diam dengan pikiran yang hanya ia sendiri yang tahu.


"Aku tidak tahu kalau dia akan makan malam dengan Niko. Aku berniat ingin memberitahukan soal perjodohan itu, tapi saat kutemui dia sudah bersiap-siap. Aku akan mengatakan itu setelah dia kembali."


Jefry memeluk Angelina. "Maafkan aku, Angelina. Aku tidak bermaksud menyakiti putrimu."


"Ini bukan salahmu. Ayo, sebaiknya kita makan, kasihan Ulan sendirian di ruang makan."


Jefry dan Angelina pun bergegas ke ruang makan. Namun, mereka tidak mendapati Ulan di ruangan itu.


Angelina menatap piring bekas Ulan kemudian duduk di kursinya. "Cepat sekali dia makan."


Jefry mengarang cerita. "Tadi dia bilang ada tugas kantor yang harus diselesaikan malam ini. Mungkin itu alasannya, tidak biasa kan Ulan makan secepat ini."


"Apa dia sudah tahu soal perjodohan itu?"


"Aku belum mengatakannya, setelah ini aku akan bicara dengannya."


"Dia pasti merasa bersalah."


Jefry hanya diam.


"Kalau dia tidak mau menikah dengan Niko, bagaimana?"

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti."


***


Dalam perjalanan Niko dan Wulan saling bergenggaman tangan. Niko sama sekali tak mengijinkan Wulan melepaskan tangannya dari genggaman Niko.


"Kita mau makan di mana?" tanya Wulan lembut.


Niko mencium punggung tangannya. "Papa mengundang kita makan malam di rumah."


"Benarkah?" Wulan senang.


Niko tersenyum dan mengangguk. Setelah beberapa menit terdiam ia berkata, "Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu."


"Apa itu?"


"Nanti kamu akan tahu."


"Apa ini kejutan?" goda Wulan.


"Kamu pasti akan suka."


Mobil Niko akhirnya tiba di rumahnya. Bukannya langsung keluar saat mesin mobilnya mati, Niko menatap Wulan dengan tatapan penuh cinta. Ia membelai pipi Wulan dengan jempolnya.


"Kamu sangat cantik. Setiap hari melihatmu rasanya kecantikanmu semakin bertambah."


Wulan tersenyum.


Senyum manis di wajah Wulan membuat Niko ingin menciumnya. Biasanya Niko akan langsung mencium jika dirinya berhadap dengan wanita-wanita simpanannya.


Namun, sejak menjalin hubungan yang serius dengan Wulan, Niko harus meminta ijin dulu kepada si pemilik bibir. Niko tak mau ketidaksopanannya membuat Wulan marah.


"Boleh aku minta sesuatu?"


"Tentu saja," suara Wulan hampir tak terdengar.


Tak bisa dipungkiri, Wulan juga merasakan hal yang sama. Aroma parfum Niko membuatnya bergetar.


"Aku menginginkan bibirmu."


Wulan terkekeh. "Kamu ini lucu. Perkataanmu itu seolah-olah aku ini bukan pacarmu."


Niko mengelus bibir itu begitu lembut. "Aku tidak ingin melakukannya tanpa ijin. Aku tidak mau karena keinginanku kamu menamparku."


Wulan tertawa. Dan saat tawanya terhenti, saat itulah mereka saling bertatap dan berciuman. Ciuman mereka lembut dan begitu dalam.


Merasakan panas dalam dirinya akibat ciuman itu, Niko langsung melepaskan bibirnya dan menatap Wulan.


"Ayo, kita masuk."


Ekspresi Wulan kecewa. "Kenapa berhenti?"


"Aku tidak ingin menelanjangimu di sini. Ayo, papa pasti sudah menunggu."


Bersambung____

__ADS_1


__ADS_2