Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Salah Tiket.


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu bersama, Wulan dan Niko enggan berpisah. Waktu sudah menunjukkan hampir mendekati pukul tujuh malam dan sekarang mereka sudah berada di badara di bandara.


Niko tak ingin ditinggalkan oleh wanita yang ia cintai. Seandainya ia tahu kepindahan Wulan ke luar kota bukan karena Jefry, mungkin hati Niko tidak akan seberat ini melepaskan kepergiannya.


Begitu juga Wulan, perlakuan Niko kepadanya seharian ini benar-benar membuatnya melayang. Ia tak rela meninggalkan Niko, takut pria itu akan melakukan hal yang sama kepada wanita lain. Namun, meski diliputi rasa cemburu yang besar, Wulan tetap percaya kepada Niko.


"Pergilah, satu jam lagi pesawatmu akan berangkat," kata Niko seraya melepaskan pelukannya, "Janji, ya? Begitu tiba langsung hubungi aku. Setiap jam harus memberi kabar padaku. Apa pun yang kamu lakukan harus melapor dan sertakan foto."


Wulan terkekeh, merasa lucu sekaligus bahagia karena sikap Niko yang begitu mengkhawatirkannya.


"Iya, aku janji."


Wulan tak ingin melakukan hal yang sama. Baginya itu terlalu berlebihan dalam sebuah hubungan. Ia mempercayai Niko. Apa pun yang pria itu lakuakan ia selalu percaya tanpa harus melapor. Apalagi Niko seorang pimpinan, sudah pasti waktunya akan disibukkan dengan tanggungjawabnya.


"Masuklah, aku akan melihatmu dari sini."


Wulan ingin menangis mendengar perkataan Niko. Namun, sekuat tenaga ia menahan tangis itu hingga wajahnya sangat merah.


Niko memperhatikan. Tak mau wanitanya semakin sedih, ia menarik tubuh Wulan ke dalam tubuhnya, mencium dan memberikan pelukan yang membuat kesedihan wanita itu berkurang.


"Aku masuk dulu. Sampaikan salamku ke papa."


"Pasti."


Akhirnya mereka benar-benar berpisah. Dengan berat hati Wulan masuk ke dalam bandara tanpa menoleh ke belakang. Namun, hati kecilnya merasa tak tega jika tak melihat Niko untuk terakhir lagi.


Merasa tak nyaman, Wulan dengan pelan menoleh dan mendapati Niko masih berdiri di sana dengan senyum yang begitu manis.


Hatinya begitu sakit meninggalkan pria itu di sana sendirian. Rasanya ia ingin kembali dan memeluk pria itu.


Air mata Wulan mengalir deras saat merasa hal itu tak bisa ia lakukan. Ia tidak ingin meninggalkan Niko, tapi sayangnya itu harus ia lakukan.


Wulan berjanji pada dirinya untuk mempercepat tugasnya, agar ia bisa kembali dan bersama Niko lagi.


Karena waktu penerbangan masih lama, Wulan mencari tempat duduk yang nyaman untuk menenangkan diri.


Wulan meraih tiket yang sudah berada di dalam tasnya. Ia memeriksa maskapai dan nomor kursinya. Setelah memastikan kursi dan maskapai yang akan ia tumpangi, mata Wulan spontan tertuju pada waktu keberangkatan yang tercatat di tiket tersebut. Ia terkejut.


"Jam sembilan, bukannya kata pak kepala jadwalku jam delapan malam? Apa mungkin pak kepala salah memberikan tiket?"


Wulan ingat, Fanny telah memberitahunya kalau hari ini ada dua orang yang akan diberangkatkan keluar kota.


Memastikan pak kepala tidak salah memberikan tiket, Wulan memeriksa nama penumpang yang ternyata namanya sendiri.


"Ini benar namaku, tapi kenapa pak kepala bilang jadwalku jam delapan? Hmmm, mungkin pak kepala lupa. Sudahlah, toh tiket ini atas namaku."

__ADS_1


Karena waktunya masih cukup lama, Wulan mencari tempat kopi untuk menunggu. Ia ingin menghubungi Niko, menyuruh pria itu untuk menemaninya melalui telepon.


Namun, belum sempat menghubungi, nama pria itu sudah muncul di layar telepon. Wulan bahagia dan langsung menyambungkan panggilan.


"Sayang," sapa Niko dari balik telepon, "Aku terus memikirkanmu, sepertinya malam ini aku tak bisa tidur karenamu."


Wulan terkekeh. Tepat di saat itu ia menemukan tempat kopi yang penghuninya lumayan banyak.


"Aku baru saja ingin menghubungimu, ternyata kamu sudah menghubungiku."


"Kita berdua kan sehati."


Wulan tersenyum kemudian memesan kopi kepada penjaga toko. Setelah memesan ia mencari tempat yang agak jauh dari penghuni lain kemudian duduk.


"Kamu di mana, Sayang, kenapa kamu memesan kopi?" tanya Niko.


"Aku di kedai. Sayang, ternyata jadwal keberangkatanku bukan jam delapan."


"Jam berapa?"


"Kamu ingat kan waktu aku bicara dengan pak kepala, beliau sendiri yang bilang padaku, jadwal penerbanganku jam depapan. Di tiket ternyata bukan jam delapan, tapi jam sembilan."


"Harap maklum saja, bosmu itu sudah tua. Usia sepertinya rentan dengan kepikunan."


Wulan terkekeh.


"Aku bukannya tidak mau, kalau kamu di sini yang ada aku tidak akan jadi berangkat. Kamu mau mataku bengkak karena menangis? Temani saja aku lewat telepon."


"Iya, aku akan menemanimu sampai kamu bosan."


Wulan tersenyum bahagia. "Kamu di mana sekarang, apa kamu masih di jalan?"


"Iya. Aku menyetir pelan-pelan."


Wulan percaya. Namun, ia tak menyadari bahwa sosok yang sedang berbicara di balik telepon itu sedang memerhatikannya dari jarak jauh.


Meskipun sudah menukar tiket dengan yang ia beli, Niko tak menjamin keselamatan Wulan seratus persen. Ia harus menjaga Wulan sampai wanita itu benar-benar selamat masuk di pesawat.


Bukan hanya Niko, pria itu menyuruh beberapa orang untuk memantau Wulan dari banyak arah. Bahkan saking khawatirnya, Niko membeli satu tiket untuk orang lain yang ditugaskan untuk menemani Wulan dari kursi yang lain dan memastikan wanita itu selamat sampai tujuan.


***


Jefry sedang duduk di ruang kerjanya. Melirik waktu sudah pukul delapan malam, ia berdiri dan keluar dari ruangan itu.


"Di mana istriku?" tanya Jefry begitu melihat salah satu pelayan yang sedang nonton televisi.

__ADS_1


"Di kamar, Tuan."


Jefry senang, itu artinya Angelina tidak akan mendengar pembicaraannya dengan seseorang.


"Kalau nyonya turun dan menanyakanku, bilang saja aku ada di taman."


"Baik, Tuan. Apa Anda ingin dibuatkan kopi?"


"Ide yang bagus. Buatkan yang light roasting ya, aku mau tidur nyenyak malam ini."


"Baik, Tuan."


Si pelayan segera bangkit lalu ke dapur.


Jefry dengan senyum lebarnya ia berjalan menuju taman belakang.


"Maafkan aku istriku, aku terpaksa melakukannya. Siapa pun yang menghalangi keinginanku, dia harus disingkirkan, termasuk putrimu sendiri."


Jefry sama sekali tak ada belas kasihan sedikit pun. Walaupun Wulan anak kandung dari wanita yang dicintainya, Jefry tidak ingin mengubah rencananya. Ia harus menyingkirkan Wulan, agar Ulan bisa menikah dengan Niko. Ia sama sekali tidak merasa kasihan kepada Wulan,


Mengingat Wulan adalah putri kandung dari lelaki yang pernah merebut cinta pertamanya, Jefry rasanya tidak sabar lagi ingin menyebarkan kabar duka itu ke semua orang.


Baru ingin menghubungi seseorang, ponsel Jefry bergetar. Ia menarik kursi, duduk, lalu menyambungkan panggilan yang ternyata dari putrinya.


"Halo, Sayang."


"Papa, aku punya kabar gembira."


"Kabar gembira apa, Putriku?"


"Temanku ternyata mantan kekasihnya Niko. Aku baru saja bertemu dengannya dan kami membahas banyak soal Niko. Aku juga sudah punya rencana untuk mematahkan hati kak Wulan."


"Mematahkan hati Wulan, untuk apa?" Jefry terkekeh.


"Aku ingin temanku ini menggoda Niko. Dengan begitu, aku bisa mengambil gambar mereka dan mengirimnya kepada kak Wulan. Aku juga berencana akan memperlihatkan gambar itu kepada mama, biar mama percaya kalau menantu kesayangannya adalah brengsek."


Jefry terbahak.


"Papa kenapa tertawa? Aku serius, Papa. Bukankah Papa ingin menikahkan aku dengan Niko? Hanya itu satu-satunya cara untuk merusak hubungan mereka."


Jefry tidak memberitahukan rencana jahatnya kepada Ulan. Tempo hari saat ia ingin mengutarakan hal itu, Angelina muncul dan membuat percakapan mereka terhenti. Jefry pun berniat tidak akan mengatakan rencanya itu sampai waktunya tiba.


"Terserah kamu saja, Nak. Lakukan saja apa yang kamu inginkan."


"Benarkah? Terima kasih, Papa. Kalau begitu besok siapkan uang dua puluh miliar buatku, aku akan memberikan uang itu kepada Viona."

__ADS_1


"Apa?! Dua puluh miliar?!"


Bersambung___


__ADS_2