
Ulan terdiam lama sekali. Setelah kesadarannya muncul kembali, dengan wajah pucat ia bertanya, "Papa ingin kak Wulan meninggal, ya?"
"Kalau memang kamu ingin mendapatkan Niko, itu satu-satunya cara ampuh untuk menyingkirkannya."
"Papa sudah gila. Sekalipun aku menginginkan Niko menjadi suami, aku tidak mau kehilangan kak Wulan."
Jefry terkejut. "Kamu ini sebenarnya benar-benar menginginkan Niko atau tidak?"
"Tentu saja ingin," Ulan melanjutkan aktivitasnya, "Papa tidak boleh menyingkirkan kak Wulan, aku punya cara sendiri untuk itu. Aku akan membuatnya membenci Niko. Lihat saja, harus memakai cara cantik untuk mendapatkan pria seperti Niko, Papa."
Jefry tak menyangka sikap liciknya akan turun kepada Ulan. "Memangnya apa yang ingin kamu lakukan? Papa tidak yakin kamu bisa melakukannya."
"Papa meremehkanku? Lihat saja nanti, Niko pasti akan galau dan memintaku untuk menjadi istrinya."
"Papa sudah memberi dia tawaran."
"Tawaran apa?" aktivitas Ulan selesai.
"Pilih kamu atau papanya."
Alis Ulan berkerut. "Tentu saja dia pilih papanya."
"Itu tidak mungkin," kata Jefry penuh percaya diri, "Kamu ingin tahu apa yang papa tawarkan padanya?"
Ulan mengangguk.
Jefry menjelaskan, "Papa tidak bilang banyak, papa bilang dia harus pilih mana, menikahimu atau papanya meninggal."
Lagi-lagi Ulan tersentak. Namun, baru saja ingin melontarkan pertanyaan, Angelina muncul dengan wajah sedikit kecewa.
"Ulan, sepertinya kita akan barbeque bertiga, Wulan masih bersama temannya. Mereka mengadakan makan malam bersama."
Angelina sengaja berbohong demi menjaga perasaan Ulan dan Jefry. Kalau ia menyebutkan Wulan bersama Niko, sudah jelas akan membuat hati Ulan sakit. Sebagai orang tua Jefry pasti tidak senang melihat itu.
"Mama tidak bilang kalau aku sudah menyiapkan ini semua?"
"Sudah, tapi kamu tahu sendiri kan, hari ini terakhir dia bertugas."
Jefry menatap Angelina dengan pandangan menyelidik. Ia yakin kalau istrinya itu berbohong.
"Teman-temannya atau Niko?"
Angelina terkejut mendengar pertanyaan suaminya.
"Kamu tidak perlu menyembunyikannya, Angelina. Lagi pula status Niko dan Wulan kan berpacaran."
Secara normal tidak seharusnya Angelina menyembunyikan itu dari mereka. Sebagai orang yang memiliki hubungan dengan mereka, ia hanya ingin menjaga perasaan Ulan dan Jefry.
__ADS_1
Seakan tahu isi kepala Jefry dan Angelina, Ulan tersenyum dan berkata, "Benar, Mama tidak perlu menyembunyikan kebersamaan Niko dengan kak Wulan. Mama tidak perlu menjaga perasaanku. Aku tidak apa-apa, Mama."
Angelina merasa bersalah, tapi tidak mengatakan apa-apa.
Ulan kembali berkata, "Aku memang menyukai Niko, tapi itu dulu. Setelah tahu Niko menyukai kak Wulan bukan aku, perasaan itu hilang seketika. Mama tidak perlu khawatir padaku."
Angelina mendekati Ulan dan memeluknya. Namun, karena membelakangi sang suami, ia tak bisa melihat senyum lebar di wajah Ulan dan Jefry. Ekspresi mereka seakan bersekongkol membuat Angelina merasa bersalah.
***
Sinar mentari pagi menyelimuti Niko yang baru saja keluar dari kolam renang. Tubuh bagian atas yang telanjang sangat menonjolkan bentuk perut Niko yang membuncit. Sejak menjalin hubungan dengan Wulan, Niko tidak pernah mengontrol asupannya. Ia bahkan tidak peduli dengan kadar kalori yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Tuan muda," suara Brian menyapanya, "Pak Darius sudah datang."
Niko membalut tubuhnya dengan handuk, kemudian duduk menghadap meja, di mana sarapan pagi sudah disiapkan Magdalena beberapa detik yang lalu.
"Di mana dia?"
"Bersama tuan besar, Tuan."
Belum lama disebutkan, orang yang mereka bicarakan muncul bersamaan.
"Niko, kamu mau ke mana, kenapa kamu menyuruh Darius membeli tiket?"
Handoko penasaran dan duduk di depan Niko. Ia menuangkang kopi ke dalam cangkir sambil menunggu jawaban putrnya.
Niko meminta Darius menunjukkan tiket itu kepada Handoko.
Handoko mengamati tiket kemudian mengembalikannya kepada Darius.
"Kenapa kamu membelikannya tiket? Bukannya pihak perusahan harus memfasilitasinya?"
"Papa ingat yang dikatakan Fanny kemarin?"
Setelah pertemuan dengan Fanny kemarin, Handoko langsung pulang bersama Brian. Niko juga belum memberitahu Handoko, kalau jadwal keberangkatannya hari ini pukul delapan. Semalam ia menghabiskan waktu bersama Wulan, sehingga tak punya kesempatan untuk memberitahu Handoko.
"Iya, papa ingat. Terus apa hubungannya dengan tiket?"
Pertemuan kemarin Fanny memberitahu soal pembicaraan yang dia dengar langsung dari kepala bank. Atasan Wulan itu menyebutkan, bahwa dia sudah membeli tiket untuk Wulan di jam delapan pagi, tapi sosok di balik telepon menyuruh atasan untuk mengganti jadwalnya.
Orang di balik telepon itu bahkan menentukan kursi mana yang harus di tempati Wulan. Dan tanpa sepengetahuan atasan, Fanny mendengar pembiaraan itu dari balik tembok secara rinci.
"Tadi malam kepala bank menghubungi Wulan, katanya jadwal penerbangan Wulan hari ini pukul delapan malam."
"Malam?" Handoko terkejut, "Kenapa jam delapan malam, memangnya jadwal penerbangan siang tidak ada?"
"Papa sendiri dengar kan apa yang dikatakan Fanny kemarin? Orang yang bicara dengan kepala bank itu tidak mau kalau jadwal penerbangan Wulan dilakukan siang. Dia bahkan menentukan di kursi mana Wulan harus duduk. Bukankah ada sesuatu yang mereka rencakan untuk Wulan? Kalau bukan Jefry, siapa lagi orang yang ingin mencelakai Wulan?"
__ADS_1
Handoko berpikir keras.
"Aku sengaja menyuruh Darius membeli tiket yang sama, kursi yang sama, pesawat yang sama, tapi jadwal penerbangannya berbeda. Aku ingin menggagalkan rencana mereka."
"Kamu benar. Kalau sekalipun kursinya berbeda, mereka akan berada di pesawat yang sama."
"Syukurlah kepala bank tidak menyebutkan nomor kursi dan maskapainya kepada Wulan. Bukankah mereka bodoh?"
Handoko terkekeh. "Aku rasa Jefry salah mengajak orang untuk bekerja sama."
"Aku juga tidak tahu pasti rencana apa yang ingin dilakukan om Jefry, yang jelas aku akan menggagalkan rencananya."
Handoko menatap sedih. "Lalu bagaimana selanjutnya, kamu akan setuju menikahi Ulan?"
"Tidak akan pernah, Papa. Aku juga tidak akan membiarkan dia menyentuh Papa. Mulai sekarang Brian akan selalu bersama Papa."
"Kamu tenang saja, papa bisa menjaga diri."
"Terserah, yang pasti satu kali dua puluh empat jam Brian harus menjaga Papa."
"Biar tidak menyusahkanmu dan Brian, bagaimana kalau papa kembali keluar negeri saja?"
Niko menggeleng. "Aku tidak akan bisa mengawasi Papa di sana. Di sini saja, aku, Brian dan Darius akan terus mengawasi Papa."
Setelah mengatakan itu Niko menatap Brian dan Darius.
"Hari ini aku akan pergi bersama Wulan. Aku harap kalian menjaga papaku dengan baik."
Ke dua orang itu mengangguk mantap.
"Papa tidak akan ke mana-mana, papa di rumah saja."
Niko merasa tenang kalau Handoko berada di rumah. Selain Brian, Darius, Magdalena dan pelayan yang lain, ada petugas keamanan yang bisa mengontrol siapa saja yang bisa masuk ke rumahnya.
"Aku bersiap dulu, sebentar lagi aku harus menjemput Wulan."
"Papa ingin sekali bertemu dengannya. Papa ingin menghabiskan waktu dengannya sebelum dia berangkat."
"Pa," Niko berdiri, "Semalam Papa sudah menghabiskan waktu dengannya, kan? Aku sudah menuruti kemauan Papa untuk mengajaknya semalam. Jadi sekarang giliranku."
"Kamu mau ajak dia ke mana?"
Sebenarnya Handoko tidak ingin ikut campur, tapi ia ingin meledek Niko.
"Aku akan membawanya ke suatu tempat."
"Ke suatu tempat di mana, kamu tidak akan macam-macam, kan?"
__ADS_1
Niko tersenyum licik. "Ke suatu tempat di mana aku dan Wulan bisa membuatkan cucu untuk Papa."
Bersambung___