
Pembacaku tersayang, terima kasih ya masih setia dengan cerita ini. Sebagai dukungan, jangan lupa vote dan hadiahnya, ya.
Niko dan Darius terkejut Gloriana masuk tanpa mengetuk pintu. Karena ia yang menyuruh wanita itu datang, Niko tak mempermasalahkan meski ia tak suka ketidaksopanan wanita itu. Niko harus bersabar, karena sebentar lagi dirinya tak ada urusan lagi dengan wanita itu.
"Maaf sudah menyita waktumu, Gloriana," mulai Niko. Ekspresinya serius tanpa senyum sedikitpun.
Gloriana penasaran. Ia pun memasang wajah serius, menunggu ucapan yang akan dilontarkan Niko selanjutnya.
"Aku memanggilmu karena ingin menjelaskan sesuatu," Niko menatapnya serius, "kerja sama kita sampai di sini saja," jelas Niko, "Aku akan menyuruh Darius memberikan sisa bayarannya sekarang juga."
Gloriana terkejut. "Kenapa, apa Pak Niko tidak akan rugi membayarku?"
"Aku tidak akan pernah rugi. Aku ingin menghentikan saja apa yang telah kuperbuat. Terima kasih ya kamu sudah membantuku selama ini."
Gloriana penasaran apa yang menyebabkan Niko tiba-tiba memutuskan kerja sama mereka.
"Apa istri Anda mengetahuinya?"
Niko menggeleng. "Aku sendiri yang sakit melihatnya terus menangis. Dia cemburu aku lebih mementingkanmu daripada dia."
"Istri Anda orang yang beruntung mendapatkan Anda," Gloriana berdiri, "Kalau begitu aku pamit dulu. Jika membutuhkanku lagi, jangan sungkan untuk menghubungiku."
Niko berdiri. "Gloriana, sekali lagi terima kasih."
"Sama-sama."
"Darius, antar Gloriana ke depan."
Gloriana tak menolak. Ia keluar bersama Darius tanpa menatap Imenk. Dalam hati Gloriana kecewa Niko memutuskan kerja sama secepat ini. Selain ingin memanfaatkan keadaan karena Niko pria tampan dan kaya raya, mantan kupu-kupu malam itu berniat ingin mendapatkan Niko. Rencana ingin membuat Niko mabuk bersamanya belum tercapai. Niko adalah gudang uang bagi Gloriana. Dan sekarang sambil berjalan menuju parkiran Gloriana memikirkan cara untuk bisa mendekati Niko.
***
Darius kembali ke ruangan. Sebelum memasuki ruangan Niko, ia menatap Imenk yang juga sedang menatapnya.
"Laporannya sudah selesai?"
"Sudah, Pak."
"Bagus. Coba kuperiksa."
Imenk menyodorkan beberapa lembar kertas kepada Darius.
Darius memeriksanya. "Kerja bagus, Imenk."
Imenk senang. Namun, setan dalam diri mendorongnya untuk melampiaskan rasa penasaran yang sejak tadi sudah melonjak.
"Eh, Pak ...."
Darius menatapnya. "Ada apa?"
"Apa benar wanita tadi adalah pacarnya pak Niko."
Darius marah. "Jaga mulutmu, Imenk. Kamu sendiri tahu kan bos kita sudah menikah."
"Tapi ... dia sendiri yang bilang padaku. Bahkan, dia mengancamku tadi."
"Gloriana mengancammu?"
Imenk mengangguk. "Waktu dia mau masuk aku melarangnya. Aku tanya apa dia sudah punya janji dengan pak Niko. Bukannya menjawab, dia malah memarahiku. Dia bilang aku tidak boleh menggoda pak Niko. Dia juga bilang dia akan memecatku kalau ketahuan mendekati pak Niko."
Darius tak berkata apa-apa dan langsung meninggalkan Imenk. Ia masuk ke ruangan Niko kemudian melaporkan sesuai apa yang dikatakan asistennya.
Niko terkekeh. "Itu tidak penting. Lagi pula mereka berdua tidak dekat dengan Wulan. Jadi, sesuatu yang tidak diinginkan jelas tidak akan terjadi. Kamu peringatkan saja Imenk, aku akan memecatnya kalau ketahuan dia mendiskreditkan namaku."
"Baik, Pak."
Setelah Darius keluar ponsel Niko bergetar. Ia melihat nama istrinya terpampang di layar lebar. Dengan senyum manis Niko menyapa lembut istri tercintanya.
"Halo, Sayangku."
"Sayang, besok malam kamu punya agenda, tidak?"
"Tidak, kenapa?"
"Yakin, tidak? Kalau ada rapat mendadak, bagaimana?"
Niko tersenyum, mengingat kebohongan yang sering ia katakan kepada Wulan.
"Tidak, Sayang. Kalau pun ada, aku akan menundanya demi kamu. Katakan, kamu ingin ke mana besok malam? Kenapa harus besok malam, kenapa tidak malam ini saja?"
"Besok malam pernikahan Deril dan Viona. Kalau tidak ada rapat, aku ingin kita pergi bersama."
__ADS_1
"Mereka akan menikah ... Secepat itu?"
"Aku juga kaget. Padahal berapa hari lalu Deril bilang baru rencana. Ibunya Deril tidak ingin menundanya."
"Iya, kita akan pergi bersama."
"Fanny juga diundang ... Dia ingin pergi bersama Darius."
"Tidak masalah. Aku akan memberitahunya."
"Terima kasih, Sayang."
"Kamu sedang apa, aku merindukanmu?"
"Gombalmu kelewatan, Sayang. Sudah, ah, aku kerja dulu."
Niko tersenyum ketika Wulan memustuskan panggilan. Ingin membuat istrinya kesal, Niko menghubungi Wulan berkali-kali sampai wanita itu marah.
"Sekali lagi kamu mengganggu, aku tidak akan memberimu jatah nanti malam."
Tentu saja Niko takut. Niko kecanduan dengan tubuh Wulan. Di luar perasaannya yang tulus menikahi wanita itu, Niko benar-benar mengagumi keseksian dan setiap lekuk di tubuh Wulan.
Spontan fantasi Niko menyebar. "Bagaimana kalau nanti kita lakukan di ruang tamu sambil nonton?"
"Boleh juga. Tapi, kamu tidak lupa kan, sore ini kita ada janji dengan dokter?"
"Aku tidak akan lupa soal itu. Kamu tenang saja, Sayang."
"Kalau begitu aku kerja dulu, ya. Jangan terlalu capek, biar nanti malam kita bisa lembur sampai pagi."
"Kamu mau kita lembur?"
"Ya. Kamu tidak keberatan, kan?"
"Tentu saja tidak."
"Aku ingin menikmati punyamu dengan posisi tangan terikat."
"Tanganku diikat?"
"Iya. Kamu berbaring dan aku akan mengikat kedua tanganmu. Boleh, kan?"
"Ya, sudah ... Sampai nanti."
"Aku cinta kamu."
"Aku juga."
Wulan memutuskan panggilan. Niko yang membayangkan ucapan Wulan sontak menjadi gelisah. Ia tak sabar lagi ingin cepat pulang dan melahap istrinya dari atas sampai bawah.
***
Di kediaman Jendry yang terlihat sepi sosok Ulan baru saja selesai mandi. Dengan handuk di kepala serta tubuh segar beraroma buah ia keluar dari kamar mandi.
"Hmmm, kamu wangi sekali, Sayang," bisik Jendry sambil memeluk Ulan. Ia menyerang Ulan dengan ciuman panas.
Ulan mendesah, membiarkan lelaki itu melepaskan handuknya. "Kalau begini terus kamu bisa terlambat, Sayang. Oh ...."
Jendry tak peduli. Ia terus menyerang tubuh Ulan dengan kecupan-kecupan membangkitkan gairah.
Ulan pasrah. Jika Jendry memasukinya, itu berarti sudah ronde ke dua untuk hari ini.
Jendry membaringkan Ulan, membuka kakinya lebar-lebar kemudian menyerang bagian yang paling ia sukai.
"Oh, Sayang ...," Ulan menggeliat, mendesah nikmat ketika rasa dingin bergerak-gerak liar di bagian sensitifnya.
"Bagus, keluarkan suara indahmu, Sayang."
Ulan terus mendesah-desah sampai akhirnya getaran ponsel terasa di bagian punggungnya. Dilihatnya nama Imenk terpajang di layar ponsel. Sambil menikmati sapuan lidahnya Jendry ia menyapa sahabatnya.
"Halo, Besti ...," sapa Ulan sambil menahan geli. Ia menggigit bibit saat Jendry menyedot bagian itu seperti permen.
"Ada kabar baik. Ini tentang Niko."
"Kenapa dia ... Ahh."
Imenk tertawa. "Kamu sedang apa?"
"Tidak apa-apa. Lanjutkan saja ... Kenapa Niko?"
Jendry mempercepat lidahnya.
__ADS_1
Ulan memejamkan mata.
"Dia selingkuh dengan wanita lain, Ulan. Parahnya lagi, wanita itu berani datang dan terang-terangan mengubar hubungannya dengan Niko."
"Ahh, benarkah?"
"Iya. Hmm, jangan bilang kalau kamu sedang ...."
Ulan tersenyum, menggigit bibir, menatap Jendry yang begitu lahap menyerang bagian mulus miliknya.
"Aku beruntung mendapatkannya, dia lelaki hebat menurutku."
Mendengar ucapan Ulan membuat Jendry menengadah. Ia mendekati wajah Ulan, mencium bibir kemudian mengambil ponsel itu.
"Kau bisa menghubunginya nanti, Imenk. Sampai jumpa."
Bukannya marah Ulan tersenyum kemudian menyambut memeluk Jendry.
Jendry yang sudah tak tahan, menyatuhkan tubuh mereka, membuat Ulan berteriak-teriak.
***
"Akhirnya," kata Niko kemudian menatap jam tangan. Ia begitu semangat menyelesaikan pekerjaan agar cepat-cepat bertemu Wulan.
Drtt... Drtt...
Panggilan telpon membuatnya menoleh. Dilihatnya nama Gloriana sebagai pemanggil.
"Halo, Gloriana?"
"Pak, maaf mengganggumu."
"Bukan masalah. Ada apa?"
"Karena Anda sudah baik padaku, aku ingin mengundang Anda makan malam di apartemenku. Mungkin kedengarannya tidak pantas, tapi ini hanya makan malam bentuk terima kasih."
Niko berpikir.
"Kalau Anda tidak bisa tidak apa-apa, Pak ... Aku bisa mengerti."
"Bagaimana kalau aku ke sana sekarang? Aku tidak bisa lama-lama, aku ada janji dengan istriku."
"Tidak apa-apa, Pak. Baiklah, aku akan mengirim alamatku sekarang kepada Anda."
"Hmmm."
Begitu Gloriana memutuskan panggilan Niko menghubungi Wulan. Sambil menghadap jendela ia menempelkan ponsel di telinga.
"Halo, Sayang?" sapa Wulan.
Dengan berat hati Niko menyampaikan keluhannya. "Sayang, maafkan aku ... Bisakah kamu ajak Fanny menemaniku ke dokter? Darius akan mengantar kalian."
"Kamu kenapa?"
Niko menarik napas. "Gloriana mengundangku makan malam sebagai bentuk terima kasih. Mengingat kita berdua punya janji nanti malam, aku memutuskan untuk datang sekarang. Kamu tidak apa-apa kan pergi bersama Fanny dan Darius?"
"Mau bagaimana, lagi?"
Niko merasa bersalah mendengar suara pasrah sang istri. "Janji, ini terakhir kali aku mengiyakan keinginannya."
"Baiklah. Cepat pulang, ya? Aku tunggu di rumah."
Niko tersenyum sayang. "Aku benar-benar beruntung mendapatkan istri pengertian sepertimu."
"Aku juga sial mendapatkan suami setampan dan sekaya dirimu."
Niko terkejut. "Kok sial?"
"Tentu saja sial. Buktinya aku harus merelakanmu bersama wanita lain."
"Jangan bicara begitu, Sayang. Aku janji tidak akan lama. Kan kita akan lembur malam ini."
Wulan terkikik. "Ya sudah. Sampai nanti."
"Aku mencintaimu."
"Aku juga. Jangan lama-lama, ya?"
"Iya, Sayang."
Bersambung_____
__ADS_1