Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Makan Malam.


__ADS_3

Karena makan malam hari ini bersifat pribadi, Jefry tidak memberitahukan istri dan anak-anaknya, kalau tamu undangan mereka adalah Handoko Lais dan putranya, Niko Lais.


Saat ini Jefry sedang berdiri di teras depan saat mobil sedan hitam milik Handoko terpakir di depan rumah.


Handoko keluar dari bangku belakang diikuti putranya. Kedua laki-laki tampan itu mengenakan setelan gelap dan mahal. Handoko menyapanya.


"Selamat datang, Kawan. Aku pikir kalian tidak akan datang," balas Jefry seraya membalas uluran tangan Handoko. Ia menatap pria tampan dan tinggi yang di belakang Handoko, "Apa ini Niko?"


Niko brsalaman dengan senyum lebar yang menambah ketampanan dan kemaskulinnya.


"Putramu sangat tampan, Handoko."


"Iya, dong. Ayahnya kan tampan."


Ketika laki-laki itu tertawa.


"Ayo, silahkan masuk," kata Jefry sambil berjalan, "Angelina!"


Angelina sedikit berlari, mendekati suaminya. "Iya ... Oh, tamunya sudah datang," ia menyapa Handoko dan Niko.


Jefry berpindah posisi di samping Angelina kemudian berkata, "Handoko, ini istri keduaku."


Handoko terkejut. 'Istri kedua? Kapan dia menikah?' katanya dalam hati. Dengan cepat ia mengulurkan tangan dan berjabat dengan Angelina.


"Handoko."


"Angelina."


"Angelina, ini Handoko. Orang yang tempo hari kuceritakan padamu."


Angelina hanya tersenyum.


"Nah, dan yang ini Niko, putranya Handoko."


Angelina tercengang kemudian mengulurkan tangannya. "Jadi ini yang namanya Niko. Wah, tampan sekali ya dia."


Niko balas menguluarkan tangan dengan senyum terbaik. Ia tidak berkata apa-apa. Namun, melihat ekspresi Angelina membuat Niko senang. Ia yakin mereka pasti akan merestui hubungannya dengan Wulan.


"Ayo, masuk."


Semua orang berjalan. Angelina beranjak terlebih dahulu. Sementara Handoko dan Jefry berjalan bersama diikut Niko dari belakang.


"Ayo, silahkan duduk," titah Jefry. Ia mengambil posisi di kepala meja.

__ADS_1


Handoko mengambil posisi di kepala meja yang lain, agar berhadapan dengan Jefry. Kilat matanya terlihat muram. Ia masih penasaran soal pernikahan Jefry dengan Angelina. Setahu dirinya, Jefry sudah menduda sejak lama dan tidak pernah menikah.


Angelina sibuk membuka tutup hidangan. Sedangkan Niko mengambil posisi di dekat Handoko.


Masih ada empat kursi kosong yang tersedia di kanan dan kiri meja.


Angelina duduk di samping kanan Jefry setelah pekerjaannya selesai. Ia duduk tepat di samping Niko.


Di saat yang sama dua wanita cantik muncul bersamaan.


"Selamat malam," sapa Wulan ramah. Tatapannya berubah saat melihat Niko duduk di sebelah Angelina, "Kau?" katanya dengan suara tak terdengar. Semua orang tidak melihat interaksi itu, kecuali Niko dan Handoko.


Bukannya marah, bahagia justru melanda Wulan saat matanya menangkap sosok Handoko yang sedang tersenyum kepadanya. Ia ingat ucapan Niko beberapa hari lalu, bahwa pria itu akan datang bersama ayahnya untuk melamar dirinya. Ia pun yakin kedatangan ayah dan anak itu sengaja dirahasikan untuk memberinya kejutan.


Berbeda dengan Wulan, Ulan justru tak berkata apa-apa saat ia menarik kursi di samping kiri Jefry. Wajahnya datar dan hal itu membuat Jefry tidak suka.


"Oh, iya, Anak-Anak," kata Jefry saat Wulan duduk di kursi depan Niko, "Kenalkan, ini om Handoko dan putranya, Niko."


Mendengar nama itu spontan Ulan melirik ke arah Niko. Ia mencuri-curi pandang dengan pikirannya sendiri.


"Handoko, Niko, ini kedua putriku. Yang kakak bernama Wulan dan adik bernama Ulan."


Niko mengulurkan tangan berjabatangan dengan Wulan. "Niko."


Handoko memperhatikan. Sejak kemunculan Wulan di ruangan itu, ia langsung menangkap ekspresi bahagia di wajah Wulan saat wanita itu melihat Niko. Begitu juga sebaliknya, ia sesekali melirik ke arah Niko saat pria itu menatap ke arah Wulan.


Tak mau mempermalukan Handoko, Niko mengulurkan tangan kepada Ulan. Biar bagaimana pun Ulan adalah adiknya Wulan. Jadi, ia pun harus menghormati calon adik iparnya.


Ulan membalasnya. Raut wajah yang tadi terlihat biasa, kini menjadi provokatif saat memandang Niko.


Angelina dan Jefry menyaksikan. Mereka senang melihat perubahan besar sebelum dan sesudah putri mereka mengetahui identitas pria itu.


"Mereka berdua sebenarnya memiliki nama yang sama," jelas Angelina, "Biar tidak bingung, kami memanggil adiknya dengan sebutan Ulan."


Handoko terkejut. 'Adiknya?' walaupun dua puluh tahun tidak bertemu Jefry dan putrinya, Handoko masih ingat wajah putri semata wayang Jefry, 'Ulan anak kandungnya Jefry, berarti Wulan anaknya Angelina. Jangan-jangan wanita yang bertemu Niko adalah Wulan, bukan Ulan?'


Rasa penasaran Handoko semakin tinggi. Ingin rasanya ia mengakhiri makan malam itu untuk melontarkan banyak pertanyaan kepada Jefry.


Makan malam pun dimulai. Suasana hangat menyelimuti perasaan masing-masing.


Jefry dan Angelina senang melihat sikap Ulan yang tiba-tiba berubah semenjak wanita itu tahu, kalau pria tampan di depannya adalah orang yang akan dijodohkan dengannya.


Wulan juga demikian. Rasanya ia ingin menyudahi makan malam itu dan menyerang Niko dengan banyak pertanyaan. Ia tak terima pacarnya itu merahasiakan kedatangannya malam ini.

__ADS_1


Walaupun penampilannya dua kali lipat lebih cantik dari Ulan, Wulan ingin tampil sempurna saat menyambut kehadiran pacar dan calon mertuanya.


Berbeda dengan keluarga Tanujaya, Handoko justru tenggelam dalam pikirannya. Ia merasa ada kesalahan yang terjadi.


"Kalian tahu, om Handoko ini pengusaha terhebat di kota ini," Jefry memecahkan keheningan, "Kalian tahu Kitten Corporation, perusahan properti terbesar di kota ini?"


Semua wanita mengangguk.


"Perusahan itu milik om Handoko."


Handoko terkekeh. "Aku tidak sehebat ayah kalian. Aku tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan Jefry Tanujaya."


"Kau terlalu merendah, Handoko. Buktinya BK Group semakin berjaya, meskipun kau berada di luar negeri."


Niko terpaku di tempat duduk. 'BK Group? Apa aku tidak salah dengar?' Niko melanjutkan makannya seakan tak perduli.


Handoko dengan wajah sedikit merah menatap Jefry yang tampak tak bersalah. Ia tak menyangka temannya itu akan membuka rahasia yang selama ini disembunyikannya dari Niko.


"Kau membuat kesalahan, Jefry."


Jefry hanya tertawa. Kata-kata Handoko yang terkesan bercanda itu tampak biasa saja, meski ia tahu temannya itu sudah marah. Ia justru puas dengan ucapan yang menurutnya bisa memprovokasi Ulan. Ia sengaja mengatakan itu, agar putrinya semakin tertarik pada Niko dan menyetujui perjodohan itu.


Makan malam pun selesai. Handoko ingin segera pulang untuk mengklarifikasi beberapa hal kepada putranya. Namun, Jefry mengajaknya ke taman belakang untuk berbicara berdua.


Handoko pun tak menolak. Justru ini kesempatan untuk menuntaskan rasa penasaran dan juga kekesalannya.


"Kau gila, ya! Kenapa kau membahas Bk Group di depan Niko?!"


Saat ini Handoko dan Jefry duduk berdua di pojok taman. Di sana tersedia meja dan kursi besi berwarna putih bagi siapa saja yang ingin bersantai.


"Itu lah alasanku mengajakmu ke sini. Aku minta maaf. Aku sengaja melakukan itu, agar putriku tertarik pada Niko. Lagi pula cepat atau lambat rahasia itu akan ketahuan, kan?"


"Aku tahu, tapi waktunya belum sekarang, Jefry."


"Ayolah, Handoko. Aku tidak punya cara lain untuk mendekatkan Ulan dengan Niko. Kau tahu? Ulan tidak mau dijodohkan, dia ingin menikah dengan pria yang dia cintai."


Handoko senang mendengar pengakuan Jefry. Itu artinya ia masih bisa meralat kesalahpahaman ini.


"Itu dia yang ingin kujelaskan padamu. Sepertinya aku salah target."


Alis Jefry berkerut. "Maksudmu?"


"Awalnya aku pikir kau belum menikah. Jadi, aku menganggap wanita yang bertemu dengan putraku adalah putrimu. Namun, setelah mendengar nama putri tirimu yang juga memiliki nama sama dengan putri kandungmu, aku rasa yang diincar Niko adalah Wulan bukan Ulan. Kau belum mengatakan hal itu kepada Ulan, kan?"

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2