Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Mendoakan.


__ADS_3

"Mungkin sekarang sudah waktunya kamu tahu," balas Deril.


Viona sadar diri kenapa sejak dulu Deril tidak pernah memberitahukan identitas keluarga atau pun hal pribadinya.


"Aku tinggal di Manado baru tiga tahun. Aku mendapatkan jabatanku berkat papaku. Profesiku sama seperti papa. Yang berbeda papaku lebih berpengalaman."


Viona merasa senang mendengar pembahasan Deril. Ia tersenyum dan menyimak setiap kata yang diucapkan oleh pria yang hampir saja meninggalkannya.


"Ibuku dulu juga pernah bekerja di bank sebelum menikah dengan papa. Profesi ibuku adalah Assistand Personal Banker. Setelah menikah, papa menyuruh mamaku berhenti dari pekerjaannya dan fokus mengurus keluarga."


"Mamamu setuju?"


"Tentu saja, papaku Branch Manager di kantor yang sama. Jadi, sebagai istri mamaku harus patuh."


Viona terkekeh.


"Nama ibuku Amanda Lovia. Papaku bernama Robby Lamber. Aku punya adik laki-laki. Selisih kami hanya setahun. Dia bekerja di bank juga sebagai IT Trainee. Namanya Devon Lamber."


Viona teringat kembali soal ucapan Deril waktu itu. Iseng, ia menggoda pria itu untuk mencaritahu perasaannya.


"Kenapa kamu tidak senang dengan ide papamu, mendekati Wulan, siapa tahu dia juga menyukaimu? Aku rasa dia lebih pantas buatmu. Selain se profesi, dia wanita terpandang dan baik. Dia berbeda denganku, Deril."


"Aku tidak menilai dari segi itu, Viona. Kalau pun aku menginginkan wanita seperti dia tapi Tuhan mentakdirkan aku dengan wanita sepertimu, bagaimana?"


Viona tersenyum malu.


"Pada dasarnya semua tergantung perasaan, hubungan tidak akan bertahan tanpa rasa."


"Jadi?" goda Viona.


"Tunggu aku di sana, aku akan mengajakmu bertemu keluargaku."


Wajah Viona merah merona. "Kamu serius, Deril?"


"Aku serius. Kenapa, kamu tidak senang?"


"Bukan itu maksudku. Aku wanita berlatar belakang yang buruk, aku takut kedatanganku akan membuat kekacauan di keluargamu. Apalagi aku bukan wanita yang diharapkan papamu."


"Kita lihat saja nanti. Apa pun yang akan terjadi, kamu siap kan menghadapinya bersamaku?"


"Aku siap. Aku sangat siap, Deril."


"Aku akan melanjutkan pekerjaan, kalau hari ini aku bisa menyeslesaikannya, besok aku akan berangkat."

__ADS_1


"Kabari aku, aku akan menjemputmu di bandara."


Setelah memberi ciuman perpisahan, Viona memutuskan panggilan. Keputusasaan yang sempat meradang kini terganti bahagia yang luar biasa.


"Deril akan mengajakku menemui keluarganya?"


Hati Viona berbunga-bunga membayangkan itu. Dengan tulus dan bersungguh-sungguh Viona meminta ampun kepada Tuhan.


Viona meneteskan air mata saat ia mengucapkan janji di dalam hati tidak akan pernah berbuat jahat lagi. Ia tidak akan mendatangi kelab malam dan memulai hari baru detik ini juga.


Wajah Wulan tiba-tiba muncul di benaknya. Ekspresi sedih dan penuh penyesalan membuat Viona meminta maaf.


"Tuhan, aku begitu jahat padanya, padahal dia tidak jahat padaku. Jika Niko dan dia adalah jodoh, persatukanlah mereka, Tuhan."


"Apa aku tidak salah dengar?"


Suara perempuan yang tidak asing membuat Viona terkejut. Tanpa menoleh ia mengendus sambil memutar bola matanya.


Ulan duduk depannya. "Kau mendoakanku? Kau mendoakanku agar dipersatukan oleh Niko?" Ulan tersenyum lebar, "Kau sahabatku yang paling baik, Viona."


"Dari mana kau tahu aku di sini?" tanya Viona tanpa basa-basi. Ekspresinya datar.


"Hei, kau masih mau pura-pura marah? Jelas aku mendengar kau mendoakanku, Viona."


"Doa itu bukan untukmu. Jangan gede rasa."


Viona malas berdebat. Ia menelan habis kopinya lalu mengodekan tangan ke salah satu pelayan.


"Kau mau pergi?" tanya Ulan sedih, "Aku baru tiba, Viona."


Viona menatap malas. "Aku ingin jujur, aku tidak ingin melihatmu lagi, Ulan."


"Karena kejadian itu, ya? Aku kan sudah minta maaf."


Pelayan muncul kemudian menyapa Viona. "Ada yang bisa di bantu?"


"Aku minta bill."


"Baik," Viona menatap Ulan, "Seandainya terjadi padamu, apa kau akan memaafkanku begitu saja?"


Ulan terdiam sesaat. "Kalau begitu katakan, apa yang harus kuperbuat untuk menebusnya?"


"Jauhi aku."

__ADS_1


Ulan berdesis. Ia sangat tidak setuju dengan kata-kata Viona. Pertemanan mereka sudah lama dan Ulan sudah menganggap wanita itu seperti saudaranya.


"Apa tidak ada cara lain? Kau tidak ingin uang, rumah atau mobil? Aku akan memberikan semua itu jika kau mau."


Seandainya Ulan teman yang baik, Viona akan langsung menyetujui pertimbangan itu. Sayangnya Viona tak mau lagi berurusan dengan Ulan. Selain terkejut wanita itu tidak ada rasa takut merebut pacar saudaranya, Viona takut di masa depan Ulan akan melakukan hal yang sama untuk merebut Deril.


"Aku tidak butuh itu, yang aku butuh kau pergi dari sini dan jangan pernah muncul lagi."


Ulan jengkel. Seumur hidup ia tidak pernah mengemis seperti itu kepada siapa pun. Bahkan jika butuh sesuatu, Ulan tak perlu membujuk Jefry untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Melihat Viona seperti ini jelas membuat emosi Ulan naik.


'Wanita tidak tahu terima kasih, sudah diberikan dua puluh miliar tanpa melakukan apa-apa, tapi tidak merasa bersalah. Anggap saja dua puluh miliar yang diberikan papaku adalah bayaran atas perbuatan yang dilakukan Niko,' kata Ulan sambil menatap Viona memberikan uang kepada pelayan.


Viona menatapnya. "Kalau tidak ada hal penting aku akan pergi."


"Sebenarnya hal yang ingin kusampaikan ini tidak begitu penting. Aku hanya ingin berbagi kesedihan denganmu, siapa lagi yang bisa kutemui selain dirimu."


"Anggap saja aku tidak ada di sini. Beres, kan?"


"Tapi kan kau ada di sini. Alasan aku menemuimu karena itu, aku ingin menceritakan sesuatu padamu."


Viona mempertimbangkan. "Baiklah, tapi kau harus janji?"


"Janji apa?"


"Setelah pertemuan ini kau jangan lagi menghubungi atau menemuiku."


Ulan marah, tapi tidak menampakkannya. Dengan ekspresi terpaksa ia berkata, "Baiklah, jika itu kemauanmu."


Viona tak menjawab. Ia menatap Ulan seolah-olah mengodekan agar wanita itu segera menuntaskan tujuannya.


Seolah bisa membaca pikiran dan ekspresi Viona, Ulan langsung memulai, "Orang yang ditakutkan papaku telah sadar dari komanya. Aku takut dia akan muncul dan membongkar kesalahan papaku."


Viona tertarik. Kedua alisnya berkerut menyiratkan minat. "Kesalahan apa?"


"Jengkel mengubah jadwal keberangkatan Wulan, papaku menyuruh orang untuk memberinya pelajaran kepada orang itu. Kami sengaja mempercepat pernikahan, karena berharap orang itu akan koma dalam waktu yang lama. Tadi papaku mendapat kabar kalau orang itu ternyata sudah sadar, bahkan sudah bisa berbicara."


Jika dulu mendengar nama Wulan membuat hati Viona biasa saja, sekarang hati Viona menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi.


"Mengubah jadwal keberangkatan apa maksudmu?"


Ulan senang Viona tertarik dengan kabar yang ia bahas. Itu artinya kebencian wanita di depannya akan hilang dan dia pasti akan menarik perjanjian yang dibuatnya tadi.


"Sebenarnya Wulan di mutasi bukan keinginan atasannya, papaku membayar kepala cabang di kantor Wulan untuk memutasikannya. Papaku menyuruh si tua itu untuk mengatur jadwal Wulan, sayangnya apa yang diperintahkan ternyata dilanggar olehnya.

__ADS_1


Alhasil anak buah papaku salah menyingkirkan orang, dia memundurkan satu jam penerbangan Wulan dari jam yang ditentukan. Seandainya kepala cabang itu tidak melakuka kesalahan sekarang tubuh Wulan pasti sudah habis dimakan ulat di dalam tanah."


Bersambung___


__ADS_2