Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Jefry Murka.


__ADS_3

Setelah Angelina berhenti menangis, Jefry kembali duduk dan menikmati sarapannya.


Angelina pun demikian. Ia meneruskan sarapan dengan perasaan dan pikiran bercampur aduk.


Drtt... Drtt...


Getaran ponsel membuatnya terkejut. Dengan cepat ia menoleh dan memeriksa nama si pemanggil. Penuh harap Angelina ingin Wulan yang menghubunginya.


Jefry yang juga mendengar itu langsung bertanya, "Siapa?"


"Entalah, nomor tidak dikenal."


'Pasti itu pihak bandara atau petugas,' kata Jefry dalam hati, 'Mereka pasti menghubungi Angelina untuk memberitahu yang terjadi.'


Benda itu terus bergetar, tapi Angelina enggan merespon.


Jefry yang penasaran terus mendesak. "Kenapa tidak diangkat?"


"Aku tidak mau."


"Mungkin saja itu panggilan penting."


Dengan malas Angelina akhirnya merespon panggilan itu. Namun, ketika ia hendak menekan radial panggilan itu terputus. Angelina tak peduli dan kembali melanjutkan sarapan.


Jefry kecewa. Namun, kekecewaan itu tak diperlihatkan. Jefry berharap orang itu akan kembali menghubungi Angelina dan memberitahu kematian Wulan.


"Lakukan sesuatu, Jefry. Lakukan sesuatu untuk mencaritahu keadaan Wulan."


Jefry menyudahi sarapannya. "Kamu tenang saja, Sayang. Aku akan menghubungi temanku, dia pejabat tinggi di bandara."


"Apa hubungannya dengan Wulan?" Angelina jengkel. Ia merasa tindakan Jefry sangat lambat.


"Setidaknya dia tahu pesawat yang ditumpangi Wulan."


"Tuan, Nyonya! Ada berita buruk."


Suara pelayan mengejutkan mereka.


Angelina terlonjak. "Kabar buruk apa, Bi?"


"Kabar apa?" tanya Jefry.


"Di acara televisi sekarang ada kejadian pembunuhan. Korbannya wanita dan ditemukan dalam pesawat dari jalur Jakarta ke Manado. Bukannya itu pesawat yang ditumpangi nona Wulan?"


Jantung Angelina berdetak begitu cepat. Ia segera berlari ke ruang tengah untuk melihat berita.


"... diketahui identitas korban adalah Mirnawati berusia dua puluh empat tahun kelahiran Jakarta. Saat ini polisi dan pihak maskapai sedang mencari pelaku yang diduga penumpang di sebelah korban."


Jefry terpaku. 'Mirnawati? Kenapa namanya Mirnawati?'


"Nyonya, ada panggilan masuk di ponsel Anda."


Keterkejutan Angelina seketika lenyap dan langsung meraih ponsel dari pelayan. Dilihatnya nomor tanpa nama yang sama seperti tadi di layar ponsel.


"Halo, siapa ini?"


"Ini aku Mama, Wulan."


Angelina kegirangan. "Wulan? Kamu di mana, Syaang? Bagaimana keadaanmu, kenapa kamu tidak menelepon Mama?"


"Ponselku jatuh dan rusak waktu turun dari pesawat. Kartuku juga hilang entah ke mana. Pihak bandara dan penumpang sudah membantu mencarinya, tapi tidak ditemukan. Untuk sementara aku memakai ponsel dan kartu baru sampi kartu lama diperbaikim membeli ponsel dan kartu baru untuk sementara sampai kartu lamaku diperbaiki."


"Kamu membuat mama khawatir, Sayang. Oh iya, kamu sudah melihat berita tentang penemuan mayat dalam pesawat? Mama takut sekali, Sayang. Soalnya kejadiannya di pesawat yang jalurnya dari Jakarta ke Manado. Ditambah kamu tidak memberi kabar sejak semalam, Mama pikir mayat yang mereka temukan itu adalah kamu."


Ekspresi Jefry menjadi gelap. 'Wulan masih hidup? Ini tidak mungkin,' katanya dalam hati.


"Aku juga sempat takut, Mama. Sebelumnya kan kata kelapa bank jadwal berangkatku pukul delapan malam, ternyata di tiket jam sembilan. Aku tak bisa bayangkan seandainya aku ada di pesawat yang sama dengan korban. Memang bukan aku yang ditargetkan si penjahat, tapi tetap saja aku takut."


Jefry hendak bergegas, tapi kakinya terhenti ketika Angelina melontarkan keterkejutannya.

__ADS_1


"Jam sembilan? Bukankah kamu bilang jadwalnya jam delapan?"


"Kepala bank sendiri yang memberitahuku kemarin. Tapi begitu melihat tiketnya tadi, ternyata waktu terbangnya jam sembilan."


"Syukurlah, Sayang. Setidaknya kamu selamat dan tidak mengalami insiden itu."


"Aku sudah di kantor ini. Kalau sudah tidak sibuk, aku akan menghubungi Mama lagi."


"Iya, Sayang. Jangan terlambat makan, ya?"


"Iya, Mama juga jaga kesehatan."


"Itu pasti, Nak."


Setelah panggilan terputus Angelina menatap Jefry yang pura-pura menonton berita di televisi.


"Sayang, kontak baru itu ternyata Wulan. Benar yang kau bilang, dia pasti akan memberi kabar. Ponselnya jatuh dan rusak. Jadi, dia menggunakan ponsel dan kartu baru."


Perasaan dan ekspresi Jefry bertolak belakang. Apa yang ia harapkan tidak sesuai keinginannya. Ia sudah menyuruh orang-orang hebat untuk melenyapkan Wulan, tapi nyatanya keadaan wanita itu baik-baik saja.


"Oh iya, kata Wulan dia berangkat jam sembilan malam. Kata atasannya jadwal penerbangannya jam delapan, kan? Ternyata di tiket jadwalnya jam sembilan malam."


Jefry tersenyum paksa dan membalas, "Sudah kubilang kan, dia akan baik-baik saja."


Angelina tersenyum bahagia. Sementara suhu tubuh Jefry meningkat dari batas normal, akibat emosi dalam dirinya. Tak ingin memperlihatkan kemurkaannya di depan Angelina, Jefry segera memeluk wanita itu dan berpamitan.


"Aku ke kantor dulu. Aku akan makan siang di luar bersama klien. Jadi, kamu tidak usah repot-repot menyiapkannya."


"Baiklah."


Dengan emosi meluap Jefry meninggalkan rumah, masuk mobil dan langsung menghubungi kepala bank. Tatapan mematikan Jefry mengarah ke jendela ketika sang supir mengemudikan mobil dengan kecepatan normal. Ingin rasanya ia menelan orang-orang di luar sana untuk melampiaskan emosinya.


"Halo. Selamat pagi, Pak Jef___"


"Pembohong!" sergah Jefry, membuat sang supir terkejut dan menatapnya dari spion, "Katakan, tiket siapa yang kau berikan padanya, hah?!"


"Ma-maksud, Anda?"


"Menukar? Aku tidak mengerti maksud Anda, Pak Jefry."


"Pembohong! Kalau benar bukan kau yang menukarnya, lalu siapa? Aku sudah menyusun rencanaku dengan baik dan kau menggagalkannya. Kau harus dihukum, Pak kepala. Kau membohongiku!"


"Sumpah, aku tidak mengerti apa yang Anda bicarakan, Pak."


Jefry memang tidak menceritakan detail rencananya kepada pak kepala. Meskipun lelaki itu rela membantunya, tetap saja Jefry harus hati-hati.


"Wulan tadi pagi menghubungi Angelina, dia bilang jadwal penerbangannya jam sembilan malam. Bukankah aku sudah bilang kalau jadwalnya jam delapan, kenapa di tiket jadwalnya jam sembilan?"


"Aku benar-benar tidak tahu, Pak. Tapi aku berani sumpah, aku memberikan tiket itu sesuai dengan permintaan Anda."


"Aku tidak percaya padamu. Sekarang kembalikan semua uangku atau kau akan tahu akibatnya."


"Tapi, Pak Jefry___"


"Aku tidak mau tahu. Malam ini semua uangku harus kembali, jika tidak ... kau lihat saja apa yang akan kulakukan padamu."


Tanpa menunggu jawaban di balik telepon Jefry segera memutuskan panggilan. Sambil mengepalkan tangan ia melontarkan sumpah serapah untuk pak kepala dan Wulan.


"Rencanaku tidak boleh gagal, aku harus menikahkan Ulan dengan Niko."


Jefry kembali menatap layar ponsel kemudian menghubungi kontak sesorang. Sambil menatap keluar jendela emosinya kembali stabil.


"Halo, Bos?" sapa sosok di balik telepon.


"Pagi ini ke kantorku, aku punya tugas untukmu. Masalah bayaran kau tak perlu khawatir."


"Siap, Bos."


"Sebentar lagi aku tiba di kantor."

__ADS_1


"Baik, Bos."


Setelah memutuskan panggilan Jefry mencari kontak Ulan. Ia menekan radial kemudian menatap jendela.


"Halo, Pa?"


"Kamu di mana, Nak?"


"Aku baru mau ke kantor bersama Viona."


"Tepat sekali. Apa Viona masih menginginkan dua puluh miliar itu?"


"Tentu saja mau, tapi bukankah Papa sudah punya rencana?"


"Rencana itu gagal. Coba kau tanyakan kepada Viona sekarang, apa dia bersedia mengganggu Niko demi dua puluh miliar?"


"Tunggu sebentar."


Jefry mendengar Ulan berbicara dengan Viona.


"Papa, dia setuju."


"Bagus. Sebagai kesepakatan papa akan memberikan setengah dari perjanjian, sisanya kalau dia berhasil membuatmu dan Niko menikah."


"Tunggu, memangnya rencana apa yang Papa lakukan, kenapa tadi pagi sikap mama aneh sekali?"


"Ceritanya panjang. Papa akan menceritakan padamu nanti. Sekarang tugas kalian adalah menggoda Niko. Buat mama Angelina dan Wulan membenci Niko, oke?"


"Oke."


"Bagus."


Jefry memutuskan panggilan. "Rencana awalku gagal tidak masalah, masih ada rencana lain yang lebih menyakitkan."


Jefry terbahak kemudian mencari kontak seseorang. Ekspresinya berubah dingin saat menunggu panggilannya terhubung.


"Halo, Jefry?"


"Aku punya tugas untukmu."


"Tugas apa?"


"Lenyapkan Handoko."


"Handoko ... kau yakin?"


"Aku yakin."


"Baik, tapi bagaimana dengan pembayarannya?"


"Dua kali lipat dari biasanya."


"Aku tidak mau. Handoko bukan orang biasa, Jefry."


Jefry kesal. "Berapa yang kau inginkan?"


"Lima kali lipat."


"Baiklah. Siang ini aku akan mengirimnya ke rekeningmu."


"Itu baru namanya Jefry Tanujaya."


"Jangan senang dulu, malam ini kau harus melenyapkannya. Besok pagi aku ingin ada kabar kematian Handoko."


"Tidak segampang itu, Jefry."


"Aku tidak mau tahu, bayaranmu sepadan dengan itu. Oke."


Tanpa menunggu balasan Jefry segera memutuskan panggilan. Sambil menyeringai ia berkata, "Akan kubuat kau berlutut di depanku, Niko. Lihat saja nanti."

__ADS_1


Bersambung___


__ADS_2