Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Ke Villa.


__ADS_3

Ucapan Ulan jelas mengundang rasa penasaran Angelina.


"Playboy?"


"Iya, Mama. Aku sebenarnya ingin memberitahukan kak Wulan, tapi sudahlah. Kak Wulan pasti tidak akan percaya padaku."


Alis Angelina menyiratkan minat. "Dari mana kamu tahu Niko seperti itu?"


"Temanku, Mama. Ayo, kita masuk, kita bicara di dalam saja."


Angelina menurut. Mereka ke ruang tamu dan duduk berdampingan.


"Teman sekantorku ternyata diam-diam menjalin hubungan dengan Niko. Awalnya aku pikir mungkin Niko yang lain. Begitu dia bilang pacarnya sudah datang untuk menjemputnya pulang, aku keluar dan mengintip, aku ingin memastikan bahwa Niko yang dia maksud itu bukan Niko pacar kak Wulan."


"Lalu yang kau lihat siapa?" desak Angelina.


"Niko pacarnya kak Wulan."


Angelina tak percaya. Kalau benar Niko menjalin hubungan dengan teman sekantornya Ulan, seharusnya di depan tadi Ulan sudah membongkar rahasia itu di depan Wulan. Nyatanya Ulan hanya diam saja, bahkan memuji mereka.


Tak ingin memperbanyak dosa dengan mendengar cerita jelek yang dikarang Ulan, Angelina pamit dan meninggalkannya.


"Kamu tenang saja, mama akan menyelidikinya. Mama ke dapur dulu, papamu akan makan siang di rumah. Mama mau memasak makanan kesukaan papamu."


Merasa berhasil menghasut Angelina, Ulan tersenyum kegirangan. "Mama, aku mau jalan-jalan dengan temanku. Kalau papa tanya, bilang saja aku ke bioskop bersama temanku."


"Iya."


***


Dalam perjalanan Wulan dan Niko tak saling melepaskan genggaman mereka. Seakan takut berpisah, keduanya tak mau melepaskan tangan pasangan masing-masing walaupun sedetik saja.


"Memangnya benar kita akan bertemu papa?" tanya Wulan penasaran, "Bukankah kamu bilang kita akan menghabiskan waktu berdua?"


Niko tersenyum lebar. "Itu hanya alasan, aku tidak mau melihatmu menangis seperti tadi. Aku saja tidak membuatmu menangis, masa mamamu membuatmu menangis."


Wulan terkikik. "Sudah kuduga, tapi dugaanku ternyata meleset. Aku pikir kamu sengaja melakulan itu agar waktu kita tidak terbuang begitu saja."


"Kamu benar, itu alasan yang ke dua. Aku tidak mau melihatmu menangis dan aku tidak ingin waktu kita terbuang."


Wajah Wulan merah padam. Mengingat perlakuan Niko di mobil kemarin, ia bisa membayangkan apa yang akan pria itu lakukan jika mereka sedang berdua.


"Kamu akan membawamu ke mana?"


"Rahasia."


Wulan menggigit bibir bawahnya, membayangkan Niko akan membawanya ke kamar hotel dan mereka ....

__ADS_1


Niko menatap sang pujaan hati. Alisnya berkerut melihat Wulan sedang melamun.


"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?"


Wulan terkejut. "Tidak, aku tidak memikirkan apa-apa."


Seketika tubuh Wulan gemetar ketika tangan Niko yang tadi dalam genggamannya, kini berpindah ke pahanya yang mulus. Balutan dres pendek membuat Niko dengan leluasa merambatkan tangannya ke paha Wulan.


"Kita akan ambil tiketmu di kantor, kan?"


"Oh iya, untung kamu mengingatkan."


Niko tersenyum nakal. "Kamu terlalu asik memikirkan itu ya?"


"Mikirkan apa? Aku tidak memikirkan apa-apa."


"Jangan bohong, Sayang. Buktinya kamu lupa dengan tiketmu."


Wulan tak bisa menjawab. Ia hanya tersenyum dan mengelus lengan Niko.


Tak berapa lama Niko menghentikan mobil di depan gedung bank tempat Wulan bekerja.


"Kamu mau pergi sendiri atau mau aku temani?"


"Sendiri saja, aku tidak akan lama."


"Jangan lama-lama."


Dengan wajah merah karena malu Wulan tersenyum lalu keluar dari mobil.


Niko terus menatap wanita itu dari balik kaca mobilnya. Setelah Wulan masuk ke dalam, Niko meraih amplop dengan logo maskapai dari saku kursi yang di duduki Wulan.


"Tuhan, kupercayakan perjalanan wanita yang kucintai di tanganMu."


Bayangan mata Niko melihat sosok yang baru saja keluar dari gedung itu. Ia mengalihkan pandangan dari amplop itu kemudian menatap Wulan dan Fanny sedang berpelukan.


Pandangan di depannya sungguh menyakitkan. Dengan cepat Niko mengalihkan pandangannya ke depan. Tidak hanya Fanny, dirinya pun akan merasakan hal yang sama seperti mereka. Perpisahan dengan orang tercinta sangat tidak mudah.


Walaupun tak pernah merasakan hal itu sebelumnya, membayangkan kepergian Wulan membuat dada Niko terasa sesak.


Mendengar bunyi pintu mobil terbuka dari luar, Niko mengalihkan pandangan, menemukan Wulan masuk dengan mata merah akibat menangis.


Niko segera memeluknya kemudian meraih yang di pegang Wulan. Ia meletakkan amplop itu di tempat yang sama dengan amplop yang dibelinya.


"Jangan menangis lagi, aku tidak mau melihatmu menangis," bujuk Niko.


Air mata Wulan tak bisa dibendung. Pelukan Niko justru membuatnya semakin menangis. Jika meninggalkan Fanny saja membuatnya sesesak ini apalagi Niko.

__ADS_1


Niko sedih sekaligus senang adanya moment seperti ini. Dengan mudah ia bisa menjalankan rencananya. Meskipun penasaran apa yang akan mereka lakukan kepada Wulan seandainya tiket itu tidak ditukar, Niko tidak ingin keselamatan Wulan menjadi penyebabnya.


Niko yakin hal itu ada hubungannya dengan tawaran Jefry kepadanya. Lelaki itu pasti tidak akan berani menyentuh papanya, tapi bukan berarti dia tidak tega menyentuh anak sambungnya. Jelas Jefry akan begitu berani menyingkirkan Wulan dibanding Handoko.


"Kita pergi sekarang, ya. Lama-lama di sini airmatamu akan habis."


Guyonan Niko sedikit meredahkan kesedihan Wulan. Ia tersenyum dan tidak melepaskan lengan pria itu dari wajahnya.


"Aku janji tidak akan menangis lagi."


"Penerbangannya maskapai apa?" tanya Niko sambil menggerakan mobil meninggalkan gedung itu. Ia sengaja mengangkat topik itu untuk mengalihkan pikiran Wulan, padahal saat ia mengambil amplop itu dari tangan Wulan tadi, ia sempat melirik logo maskapai yang tertera di sana.


Wulan terkejut. Spontan tubuh Wulan menjauhi Niko dan mencari amplop itu.


"Di mana tiketnya? Perasaan tadi aku memegang tiketnya. Aku lupa maskapai apa, tapi tadi aku membawa tiket itu ke sini."


Niko kembali menarik tubuh Wulan ke dalam dekapannya. "Ada padaku, tenang saja. Saking sedihnya berpisah dengan Fanny kamu sampai tidak sadar aku mengambil amplop itu."


Niko lega Wulan tidak memperhatikan logo maskapai pesawatnya. Itu artinya Wulan tidak akan curiga jika dia salah memberikan amplop itu kepadanya nanti.


Tidak hanya Niko, Wulan juga lega mendengar penjelasan Niko. Namun, kesedihan dalam dirinya kembali lagi saat membayangkan perpisahan itu akan terjadi. Ia mendongak menatap Niko dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan memandangku begitu, Sayang. Bukankah kamu baru saja berjanji tidak akan menangis lagi?"


Wulan hanya terkekeh dan mengalihkan pandangan. Saat ia menatap lurus ke depan, Niko membelokkan mobilnya ke sebuah vila mewah yang tak jauh dari jalan raya.


"Mau apa kita ke sini, Sayang?"


Niko tak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum, mencari parkiran untuk memarkirkan mobilnya.


"Kamu akan tahu nanti."


Setelah mematikan mesin mobilnya, Niko seakan tak memberikan Wulan kesempatan untuk bicara, ia segera menarik tubuh Wulan hingga wajah mereka sangat dekat.


Wulan yang tak siap tentu saja malu menyerangnya. Wajahnya merah padam.


"A-apa yang akan kamu lakukan?"


Niko tak menjawab, ia segera menautkan bibirnya ke bibir Wulan. Sapuan bibirnya begitu lembut, membuat Wulan terbuai dan mengikuti permainannya. Spontan tangan Wulan melingkar di leher Niko, sedangkan tangan Niko masuk ke dalam dress Wulan.


Tak mau melepaskan pakaiannya di dalam mobil, Niko melepaskan lumatannya dan menatap Wulan. Mata wanita itu begitu sayu, membuat Niko tersenyum dan ingin menyerangnya lagi.


Mengingat waktu semakin hari semakin habis, Niko mengajak Wulan keluar.


"Ayo, kita masuk, kita tuntaskan ini di dalam."


Bersambung___

__ADS_1


__ADS_2