Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Bertemu Ulan.


__ADS_3

Angelina merasa bersalah. Ia sudah berjanji akan selalu jujur kepada Jefry semenjak mereka menikah. Namun, ia juga sudah berjanji kepada Wulan untuk tidak mengatakan kepada siapa pun soal pria yang sering datang menjemputnya.


Hal terbaik menghadapi seorang Jefry Tanujaya adalah menurut. Angelina sangat paham karakter suaminya dan ia pun langsung melontarkan kata-kata yang membuat lelaki itu terdiam.


"Kamu tenang saja, nanti malam kalau dia ke sini aku akan menyuruh Wulan untuk mengundangnya masuk."


"Itu lebih baik."


Ulan muncul dengan wajah kesal. Ia menarik kursinya, duduk dan mulai menyuapi sarapannya.


Angelina tersenyum. "Begitu, dong. Kamu terlihat sangat cantik seperti itu, Sayang."


"Aku hanya ingin mengubah penampilanku saja, Mama. Sebentar lagi kan aku akan menikah dengan pria tampan dan paling kaya di kota ini. Aku tidak mau orang-orang menggosipkan kalau istrinya Niko Lais ternyata jelek."


"Kamu tidak jelek, Sayang."


"Iya. Kata siapa kau jelek?" tambah Jefry, "Kau tidak perlu mengubah penampilanmu hanya karena pikiran spekulatif orang-orang yang tak penting. Buktinya Niko menyukaimu tanpa harus memakai pewarna bibir seperti tadi, bukan?"


Angelina menahan tawa, membayangkan penampulan Ulan sebelumnya.


"Soal Niko," kata Ulan, "aku tidak punya kontak teleponnya. Bisa Papa berikan kontakku padanya? Aku ingin mulai besok dia yang mengantar dan menjemputku ke kantor."


"Papa akan memberikan kontakmu padanya. Kau tenang saja."


Angelina teringat sesuatu. "Kalau memang Niko menyukai Ulan, kenapa dia tidak punya kontaknya Ulan? Harusnya sebelum bertemu dia sudah saling kontak dengan Ulan, kan?"


"Mama tidak tahu, ya?" sergah Ulan, "Itu kan hanya alasan papa, biar aku mau dijodohkan. Papaku ini sangat licik, Ma. Papa sengaja berkata begitu, biar aku penasaran dan mau bertemu dengan Niko. Buktinya aku tidak pernah menolong Niko dan membawanya ke rumah sakit."


Angelina menatap Jefry. "Benar begitu?"


Jefry terjebak. Di satu sisi ia memang sudah lama ingin menjodohkan Ulan dengan Niko. Di satu sisi ia seharusnya tahu, kalau wanita yang disukai Niko bukan Ulan, tapi Wulan.


Tak mau membahas soal itu lebih lama, Jefry sedikit protes tentang sikapnya Ulan yang mengatakan dirinya licik.


"Papa lakukan ini demi kamu. Papa tidak ingin kau menikah dengan laki-laki yang salah. Niko adalah pria yang pantas dijadikan suami."


Ulan merengek. "Aku semakin sayang sama Papa. Aku sangat berterima kasih, karena sudah menjodohkanku dengan Niko. Aku sangat menyukainya."


Angelina dan Jefry terkekeh.


"Kau lupa, bukannya waktu itu bilang ingin menikah dengan pria pilihanmu sendiri? Kenapa sekarang kau berubah pikiran dan ingin menikah dengan Niko?" ledek Jefry.


"Benar," tambah Angelina, "Mama masih ingat, malam itu kau bahkan hampir menangis saking tidak maunya dijodohkan."


"Setelah bertemu Niko semua berubah. Aku ingin segera menikah dengannya, Pa."


"Kau tenang saja, papa akan segera mengurus semuanya."

__ADS_1


***


Seperti biasa, jam makan siang Niko menjemput Wulan di kantornya.


"Pekerjaan hari ini, bagaimana?" tanya Niko sambil menyetir. Tangan sebelah kirinya menggenggam tangan Wulan dan meletakkan di dadanya.


"Sangat melelahkan. Kamu ingat saat aku ambil cuti mendadak?"


"Iya. Kenapa?"


"Aku diminta kepala cabang untuk memegang kendali unit tersebut. Aku tidak bisa dan aku tidak siap."


Niko tersenyum, mengecup punggung tangan Wulan kemudian berkata, "Tidak semua orang bisa diberi tanggung jawab seperti itu. Mungkin kamu memenuhi syarat seperti yang diinginkan kepala cabang."


"Justru karena itu aku belum siap. Aku masih baru di perusahan itu. Banyak staf-staf lama yang mungkin mau mendapatkan posisi itu."


"Itu segampang itu, Sayangku."


"Aku tetap tidak mau. Aku juga sudah bilang kepada kepala cabang, bahwa aku tidak bisa, tapi beliau terus mendesakku dan memberiku kesempatan berpikir. Sampai kapan pun aku berpikir aku tidak akan mau, Niko. Aku lebih memilih menjadi staf biasa, daripada harus memikul tanggung jawab sebenar itu."


Niko tersenyum. "Kalau kita sudah menikah, kamu tidak kuijinkan lagi bekerja. Kamu di rumah saja, mengurusku dan anak-anakku."


Wulan menggigit bibir. "Kapan kamu akan melamarku?"


"Secepatnya."


"Kita duduk di luar saja, Sayang," kata Wulan, "Angin di sini sejuk sekali."


"Ide bagus."


Saat ini mereka berada di sebuah restoran terkenal di kota Jakarta.


Sejak memutuskan menjalin hubungan dengan Wulan Niko menjadi terbiasa dengan berbagai olahan ayam. Ia bahkan tidak pernah bosan walaupun setiap hari ke tempat itu.


Restoran itu begitu terkenal, sehingga berbagai tamu dari penjuru kota sering mampir ke tempat itu. Posisi yang lesehan dan nuansa alam begitu terasa di restoran itu. Jadi, tak heran jika restoran itu dipenuhi tamu-tamu berpakaian kantoran saat jam makan siang.


Wulan dan Niko duduk berdampingan. Setelah memesan menu kesukaan mereka, Wulan pamit untuk pergi ke toilet.


"Tunggu sebentar, ya."


"Jangan lama-lama."


Setelah Wulan menghilang di balik pembatas, Niko duduk sendiri sambil memainkan ponselnya.


"Niko!"


Suara wanita mengejutkannya. Pria itu menoleh dan menatapnya. "Kamu?"

__ADS_1


Sosok yang ternyata adalah Ulan langsung kegirangan. "Aku tak menyangka bisa bertemu kamu di sini. Apa kamu sendirian?"


"Aku datang bersama kakakmu."


Ulan terkejut. "Kak Wulan bersamamu?"


"Iya. Kenapa, kamu tidak keberatan kan aku bersama kakakmu?"


Niko sengaja tidak menjaga perasaan Ulan. Meskipun tahu tujuan Jefry ingin menjodohkan dirinya dengan wanita yang berdiri di depannya sekarang, baginya perjodohan itu tidak akan pernah terjadi, karena ia hanya ingin menikahi Wulan.


"Oh, tentu saja tidak. Baiklah, aku ke sana dulu. Kami berdua sudah memesan tempat sebelum ke sini."


Niko setuju, tapi tidak berkata apa-apa. Ia juga bersikap santai, seolah-olah kemunculan Ulan hanya tamu biasa.


Tak berapa lama Wulan muncul. Ia duduk di samping Niko tanpa memperhatikan sekeliling.


Niko tersenyum manis kepadanya. "Kamu tahu siapa yang baru saja bertemu denganku?"


"Siapa?"


"Ulan, adikmu."


Mata Wulan melebar. "Ulan ada di sini?! Di mana?!" saat itulah mata Wulan mencari-cari, "Dia tidak boleh melihat kita, Sayang. Aku tidak mau dia melihat kita."


"Sudah terlambat."


"Apa?!" Wulan menatap kesal.


"Dia tadi bertanya padaku kalau sendirian. Aku bilang, aku datang ke sini bersamamu. Dia juga tidak keberatan kamu makan siang bersamaku."


Wulan gelisah. "Kamu gila. Ayo, kita pergi. Aku tidak mau dia berpikir yang macam-macam."


Wulan hendak berdiri, tapi Niko menahannya.


"Dia mau berpikir macam-macam itu urusannya. Sekarang duduk saja di sini dan nikmati moment ini."


"Sayang, Ulan belum tahu yang sebenarnya. Aku tidak mau dia salah paham."


"Kan kamu tinggal bilang yang sebenarnya."


"Tidak segampang itu, Sayang," Wulan frustasi. Matanya terus merambat, tapi tidak menemukan siapa-siapa, "Gawat, kalau Wulan melihat kita, dia pasti mengira aku menggodamu."


"Kamu tidak menggodaku, Wulan. Kamu sudah menjadi pacarku sebelum aku bertemu dia."


Tepat di saat itu pelayan datang membawa menu pesanan mereka.


"Ayo, daripada kamu pusing memikirkan dia, sebaiknya kita makan saja. Kamu mau aku suapi?"

__ADS_1


Bersambung____


__ADS_2