
Niko memeluknya dari belakang, mencegah Wulan mengenakan pakaiannya.
"Kamu cemburu, ya?" Niko senang, berhasil membuat Wulan sakit hati, "Aku janji tidak akan mengulangnya. Maaf kan aku."
Wulan berbalik. "Istri mana yang tidak marah suaminya lebih mementingkan makan malam dengan wanita lain dari pada istrinya sendiri?"
"Aku tahu. Sebagai tebusan, aku ingin memasak makan malam spesial untukmu."
Wulan membelakanginya. "Aku tidak lapar. Mie ayam tadi membuatku kenyang."
Niko tahu istrinya marah. Tak mau menimbulkan masalah di antara mereka, Niko melepaskan jubah mandi Wulan hingga tubuh mulusnya terlihat.
Wulan terkejut dan ingin marah. Namun, ketika rasa nikmat yang dingin menyentuh pucuk dadanya membuat Wulan menelan kembali amarah itu. Ia menutup mulut rapat-rapat agar desahannya tak keluar.
Sayangnya Niko menyadari itu. Ia membawa tubuh Wulan ke atas ranjang dan membaringkannya dengan kaki terbuka lebar.
"Oh, Sayang," desah Wulan ketika Niko menyerang bagian lembabnya yang mulus, "Niko ... Sayang ...."
Niko bahagia Wulan menikmati sapuan lidahnya yang nakal. Senang membuat istrinya semakin melayang, Niko mempercepat gerakan lidahnya membua Wulan mencapai puncak.
"Sayang, enak sekali," ucap Wulan dengan tubuh gemetar dan mata tertutup.
Niko bangkit kemudian menatap istrinya. "Kamu suka?"
"Suka sekali," Wulan melingkarkan kedua tangannya ke leher Niko, "Ini adalah adegan favoritku."
Niko mengecup dahi istrinya.
Wulan terharu. "Sekarang giliranku, masa kamu saja yang membuatku enak."
"Itu sudah tugasku sebagai suami," Niko menyerang leher Wulan.
Wulan mendesah. "Ahh ... Sudah tugasku juga membuat suamiku puas."
"Melihatmu begini sudah membuatku puas."
"0h, Sayang, itu tidak adil. Ayo, kamu belum mandi, kan? Bagaimana kalau aku memandikanmu."
"Kamu yakin, hah?" bisik Niko seraya menjilat leher Wulan.
Wulan menggeliat. "Aku yakin. Ayo."
Niko menghentikan serangan kemudian membopong tubuh Wulan ke kamar mandi. Ia mendudukan istrinya di atas keramik, tempat cermin dan wastafel.
"Aku mencintaimu, Wulan."
"Aku juga."
__ADS_1
Karena tubuh sang suami masih mengenakan pakaian kantor, Wulan melepaskan jas dan setiap kancing kemeja Niko. Sembari membuka pakaian sang suami, Wulan menyerang tubuh Niko dengan kecupan intens yang mampu membuat keperkasaan di balik celana Niko mengeras.
"Oh, Sayang," erang Niko pelan. Ia menggigit bibir bawahnya ketika mulut Wulan yang basah menyerang pucuk dadanya yang kecil.
Semakin bergairah akibat kenakalan sang istri, Niko menarik tubuhnya hingga menciptakan bunyi kecupan ketika ******* Wulan terlepas dari pucuk dadanya.
"Kamu nakal, Sayang."
Wulan tersenyum. "Aku mau lagi. Sini, mendekatlah."
Bukannya menurut, Niko malah mengangkat kedua kaki Wulan dan menyerang kembali bagian yang mulus berwarna pink itu.
Wulan mendesah-desah. "Sayang, hentikan, bisa-bisa aku keluar kalau ... oh, Sayang ...."
Niko berhenti kemudian menatap wajah istrinya. Mata Wulan sayu. Tatapannya begitu nakal, membuat Niko tak sabar ingin menyerangnya lagi.
Sayangnya Wulan segera melompat dan turun. Ia berlutut kemudian membuka celana Niko.
Niko terkejut, tapi tak keberatan. Ia menunduk, melihat istrinya melepaskan celana dan menyentuh pusaka keras, panjang dan besar miliknya.
"Ini hanya milikku, kan? Kamu tidak memberikannya kepada wanita lain, kan?"
Niko tersenyum, mengusap pipi hingga bibir Wulan yang merah. "Selamanya itu akan menjadi milikmu."
Wulan balas tersenyum kemudian menyentuh pucuk keperkasaan itu dengan lidahnya.
"Kenapa?" tanya Wulan sambil memijat.
Niko menggigit bibir ketika Wulan kembali menyerang bagian itu dengan lidahnya.
Tak tahan dengan tindakan sang istri dan kenikmatannya memperlakukan bagian itu seperti lolipop, Niko menarik Wulan kemudian menyandarkannya ke dinding.
Wulan protes ketika Niko menyatuhkan tubuh mereka. "Sayang, aku masih ... Ahh, Sayang ... enak sekali, Sayang ... enak sekali."
***
Di kamar yang besar Ulan sedang duduk di ranjang. Kebenaran yang diungkapkan Jendry saat makan malam masih terbayang-bayang.
"Papa egois. Lihat apa yang papa lakukan, demi kepentingan papa sendiri aku yang jadi korban. Papa jahat! Papa jahat!"
Jendry yang kebetulan ingin ke kamarnya mendengar suara Ulan. Tidak sengaja ia melihat pintu kamar wanita itu terbuka. Tanpa ijin ia kemudian masuk.
"Papamu tidak jahat."
Ulan terkejut, tapi tidak marah. "Papa jahat, Om. Dia tidak memikirkan dampak dari perbuatannya. Sekarang apa yang terjadi? Dia meninggal dan melantarkan anaknya sendiri, Om."
Jendry mendekat, naik ke ranjang kemudian memeluk Ulan. "Jangan berkata begitu, ada aku di sini. Aku akan menjagamu mulai sekarang. Jangan khawatir."
__ADS_1
Ulan menangis di dada Jendry. "Seandainya tidak ada Om ... Apa papa pernah memikirkan hal itu? Apa papa pernah berpikir, bahwa ketika dia meninggal anaknya tidak akan mendapatkan apa-apa?"
"Ssst, jangan berkata begitu lagi," Jendry mengusap kepala Ulan, "Ada aku di sini, aku akan menjaga dan memberikan apa pun yang kamu butuhkan."
Ulan terus menangis. "Papa jahat, Om. Papaku jahat."
Jendry bersandar di kepala kasur tanpa melepaskan tubuh Ulan dalam pelukannya.
Ulan yang terlalu sedih bahkan tak menyadari apa yang sedang terjadi.
"Sudah larut, tidurlah. Aku tidak akan keluar sebelum kamu tidur."
Ulan tak membantah. Ia mulai memejamkan mata di lengan besar milik Jendry sambil membalas pelukan lelaki itu.
Jendry yang sudah gelisah merasa tak nyaman ketika tangannya menyentuh bagian kenyal dan keras di bagian dada Ulan. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah wanita itu tidak mengenakan pelindung? Tidak, ia harus menepiskan pikiran itu.
Lelah menangis Ulan akhirnya tertidur. Begitu juga Jendry, tak mau memikirkan hal yang tidak-tidak ia mencoba tidur sampai akhirnya terlelap.
Ulan begitu damai dalam tidurnya, sedangkan Jendry terbangun saat kesemutan mulai menyerang lengannya. Jendry membuka mata dan mendapati Ulan masih memeluknya. Posisi mereka masih sama seperti tadi.
Perlahan ia membaringkan Ulan kemudian turun dari ranjang. Saat ia hendak menutupi tubuh wanita itu dengan selimut, rasa penasaran muncul dalam benaknya ketika beberapa kancing piyama Ulan terbuka. Jendry ingin memastikan apa Ulan menggunakan pelindung atau tidak. Ia pun kembali naik ke ranjang dan membuka semua kancing piyama Ulan.
Zet!
Mata Jendry terkejut melihat bagian subur Ulan yang mulus begitu berani di depannya. Sontak kejantanan Jendry pun langsung bangun melihat pucuk kecil di dada Ulan.
Tak mau pergi begitu saja, Jendry menunduk kemudian mencium sebelah kanan bagian itu.
"Brengsek, kenapa aku menginginkannya," kata Jendry dalam hati.
Sudah tiga tahun Jendry tak pernah menyentuh bagian itu lagi semenjak putus dari pacarnya. Gairah yang dipenjamnya selama bertahun-tahun kini melonjak akibat pemandangan di depannya.
Jendry menatap Wulan yang masih terlelap. Merasa wanita itu sedang menikmati mimpinya, Jendry membenamkan wajahnya ke belahan untuk menikmati aroma buah dari sabun Ulan.
Ulan terkejut, merasakan geli yang diciptakan dari rambut Jendry. Perlahan ia membuka mata, melihat Jendry menatap kedua susunya secara bergantian.
'Apa aku tidak salah ... dia menginginkanku? Lelaki seperti dia menginginkan bocah kecil sepertiku?'
Ulan tidak marah, ia justru senang Jendry menyentuhnya. Ia kembali menutup mata, membiarkan lelaki itu bermain-main dengan bagian subur miliknya.
Jendry terbawa suasana. Gairah dalam diri seolah-olah memerintahkannya untuk melakukan lebih. Ia membuka piyama Ulan kemudian menyerang bagian subur itu seperti permen secara bergantian.
"Ah ...," desah Ulan membuat Jendry terkejut.
Ia berhenti, menatap wanita itu.
Ulan yang sudah membuka mata tersenyum manis padanya. "Kenapa berhenti?"
__ADS_1
Bersambung____