Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Robby Sudah Sadar.


__ADS_3

Wulan tak sabar dan langsung menuntaskan rasa penasarannya. "Kejadian ini sama seperti yang dikatakan Deril padaku."


"Deril, Deril siapa?"


"Dia kacap di kantor. Kau lihat postingan pria yang menandaiku di akun instagram, dia memposting foto waktu kami sedang makan malam bersama dengan rekan yang lain?"


"Oh, dia ... iya, aku ingat."


"Dia punya hubungan dengan Viona."


"Hah, yang benar?"


Wulan menceritakan diolog antara dirinya dan Deril dalam perjalanan. Ia juga menjelaskan keterikatan Deril dengan Viona kepada Fanny.


"Dia ingin memperlihatkan video itu padaku, tapi Viona sudah menghapus sebelum aku melihatnya."


"Apa nama akunnya, mungkin saja dia Viona yang kita maksud."


"Viona06."


Fanny diam sesaat.


Wulan terheran-heran. "Kalau benar itu dia, aku tidak menyangka dia bisa terlibat dengan dua pria yang sama yang aku kenal. Aku rasa Deril pasti tahu hubungan Niko dan Viona, kalau tidak mana mungkin dia menyuruh Viona meninggalkan dunianya."


"Benar," seru Fanny dari balik ponsel, "wanita ini adalah Viona yang kulihat bersama Ulan."


Fanny menjadi sedih. "Aku ikut perihatin, demi uang dia rela kehilangan orang baik seperti Deril."


"Aku dengar dari Darius malam itu dia memohon pada Niko untuk tidak menyiarkan adegan itu. Dia sempat menawarkan alternatif lain dan menangis, tapi Niko keberatan. Aku rasa dia tidak ingin si Deril tahu soal itu."


Wulan tersenyum. "Deril sangat menyukainya. Kalau benar seperti yang dia katakan, malam ini dia akan menghubungi Viona dan meminta penjelasan. Kemungkinan juga dia akan ke Jakarta mengunjungi papanya sekaligus menemui Viona."


"Kita juga tidak tahu isi hati orang, bisa jadi yang Viona jaga adalah perasaan pria lain bukan Deril."


"Entalah, setidaknya di masa depan dia tidak akan pernah mengganggu Niko lagi," Wulan menarik napas panjang, "Aku tidak ingin dia merusak hubungan Niko dan Ulan."


"Aku tidak yakin mereka akan jadi menikah. Buktinya dia rela menyakiti Viona demi kamu. Menurut Niko apa yang dia lakukan pada Viona setimpal dengan apa yang mereka perbuat padaku."


Wulan terkekeh. "Lucu, sih ... Ulan yang berbuat, Viona yang kena. Benar-benar malang."


"Aku ingin bertanya satu hal padamu."


"Apa?"


"Kalau mereka batal menikah, apa kamu akan menerima Niko lagi sebagai pasanganmu?"

__ADS_1


Wulan membuang napas panjang. "Aku masih sangat mencintainya, Fanny."


"Benarkah? Ya Tuhan, gagalkan lah pernikahan Niko dan Ulan. Persatukan lah sahabatku Wulan dan Niko ya, Tuhan. Aamiin."


Mereka terbahak.


"Aku dengar pak Robby sudah sadar," kata Fanny, "Sore ini aku akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguknya."


Wulan sedih. "Seandainya dekat, aku ingin menemuinya. Banyak pertanyaan yang ingin kuajukan padanya."


"Sudah seharusnya. Tapi kamu jangan khawatir, aku sudah memikirkan itu. Aku juga masih punya bukti untuk membuat beliau buka mulut."


"Apa yang ingin kau lakukan?"


"Aku dan Darius berencana ingin membuat pak Robby mengakui perbuatan papa tirimu. Dengan begitu kami bisa memiliki bukti untuk mencegah pernikahan Niko dengan Ulan."


"Itu tidak mungkin, Fanny. Papaku sudah mengancam Niko. Kita serahkan saja semuanya kepada Tuhan. Kalau kita yang membongkar kejahatan itu, akan lebih banyak orang yang akan disakiti papaku. Bisa jadi kamu dan Darius sasaran berikutnya atau mamaku."


"Kau benar, tapi aku dan Darius tetap akan melakukannya, kami harus memberikan keadilan terhadapmu dan Niko."


Wulan terharu. "Terima kasih banyak. Meski kadang meresahkan, aku bersyukur Tuhan memberiku sahabat sepertimu."


"Tentu saja. Kau jangan khawatir, aku akan selalu melakukan yang terbaik untukmu dan Niko."


"Tunggu ... kau melakukan ini tidak ada maksud lain, kan?"


Wulan terbahak.


"Aku serius, Wulan. Aku ingin menikah dengan Darius."


***


Sambil menikmati sarapan bersama sang ayah, Niko masih terlihat tak bersemangat. Menjelang hari pernikahan membuat Niko semakin terkekang.


Sebagai orang tua jelas hal itu menjadi perhatian Handoko. Rasa sakit di hatinya begitu terasa ketika menatap putranya seperti itu. Orang tua mana yang tidak ingin anaknya bahagia.


"Tak peduli semua sudah siap, tak peduli tinggal beberapa hari lagi pernikahan akan berlangsung, papa akan membatalkan semuanya asalkan kau kembali bahagia."


Sejak tadi Niko hanya memainkan sendok di cangkir kopinya. Seandainya bisa berkata, roti lapis buatan Magdalena itu sudah berteriak minta disantap.


"Papa rela mati demi kebahagianmu, Nak. Papa tidak tahan melihatmu seperti ini, Niko."


Saat itulah Niko berhenti memainkan sendok kemudian menatap Handoko. "Tidak, aku tidak ingin papa atau pun Wulan mati. Walaupun aku tidak bahagia, setidaknya aku bisa melihat kalian berdua di dunia ini."


Sebuah ide muncul di benak Handoko. "Mungkin ini salah, tapi setelah menikah lebih baik kau mempermainkan Ulan. Kau selingkuh dengan Wulan dan buat Ulan jenuh sampai akhirnya dia mau menceraikanmu."

__ADS_1


"Itu tidak mungkin, Papa," Niko berdecak, "aku tidak ingin merusak nama baik Wulan, Papa."


"Kita tidak punya cara lain, Nak. Jefry pasti tidak tega melihat kau menyakiti putrinya setiap hari. Dia juga tidak bisa menyalahkanmu, toh dia yang ingin menikahkan kalian."


Baru hendak menjawab panggilan masuk di ponsel Handoko membuat Niko terdiam. Ia tidak jadi mengucap sepatah kata dan kembali menatap sendok yang masih terendam di dalam cangkir kopi.


"Halo, selamat pagi."


"Pagi, apa benar ini om Handoko?"


"Benar. Maaf, ini siapa?"


"Aku Devon, putranya Robby Lamber, Om."


Senyum Handoko melebar. "Oh, Devon. Bagaimana kabarmu, Nak?"


"Kabarku baik, Om. Maaf mengganggu, aku ingin memberikan kabar baik untuk Om Handoko."


"Kabar baik apa itu, Devon?"


Tak pernah mendengar nama itu sebelumnya, perhatian Niko teralihkan kemudian menatap Handoko. Alisnya berkerut dan terus menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Handoko."


"Papa sudah sadar. Papa juga bisa bicara sepatah dua kata. Kondisi papa baik, tapi sekarang papa masih butuh istirahat yang lebih banyak."


"Benarkah? Ya Tuhan, terima kasih," mata Handoko berkaca-kaca saking senangnya, "Lalu, apa kata papamu?"


"Papa belum bisa berbicara banyak selain makan dan minum. Kami juga tidak akan memaksa, kami akan menunggu sampai kondisi papa sudah siap untuk merespon pertanyaan dari kami."


"Om turut bahagia mendengarnya, Devon. Kalau ada perubahan lebih jelas, kabari om secepatnya."


"Tentu saja, Om. Terima kasih."


Devon memutuskan panggilan.


Handoko menatap Niko yang sedang menatapnya. Senyum begitu lebarnya mewakilkan apa yang ia rasakan saat ini.


"Robby sudah sadar. Dia sudah bicara, tapi belum banyak."


Senyum di wajah Niko muncul. Meski tidak selebar senyum Handoko, Niko sedikit bahagia mendengar orang yang bisa membantunya telah kembali dari koma. Ada sedikit harapan untuk bisa menggagalkan pernikahan dirinya dengan Ulan.


"Papa yakin dia mau bersaksi di depan mereka?"


"Papa yakin, apalagi dirinya hampir mati karena Jefry."


"Dari mana Papa yakin?" ekspresi Niko penuh harap.

__ADS_1


"Papa yakin saja. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah berdoa, meminta kepada Tuhan untuk melancarkan semuanya sebelum pernikahan paksa itu berlansung. Papa ingin Robby bersaksi sebelum kau mengucap janji setia di depan penghulu, Niko."


Bersambung____


__ADS_2