
"Tentu saja tidak," balas Niko cepat, "apa pun keputusanmu, aku akan mendukungnya."
"Putraku memang tidak salah memilih wanita, wanita lain pasti sudah memanfaatkan kekayaannya untuk mengadakan pernikahan besar-besaran."
Saat ini mereka sedang berbincang sembari menikmati makan malam.
"Aku setuju dengan Wulan," tambah Angelina, "Memang kekayaan keluarga kita tidak akan pernah habis tujuh turunan. Tapi, siapa yang tahu ke depannya? Mungkin sekarang kita bergelimang harta. Beberapa tahun ke depan kita tidak tahu kondisi keuangan kita seperti apa."
Handoko menenggak air putih. "Banyak yang ingin papa sampaikan kepada kalian. Setelah makan malam papa akan menyampaikan apa yang ingin papa sampaikan, papa ingin Wulan menikmati ikan bakar buatan papa malam ini."
"Aku selalu merindukan ikan bakar ini, Pa. Di Manado aku sudah mencoba beberapa menu yang sama. Tampilannya juga sama. Tapi, rasanya beda."
"Itu lah misteri dapur, Sayang. Beda tangan, beda rasa."
Setelah makan malam selesai Handoko menepati janjinya untuk menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.
Angelina membantu pelayan membersihkan bekas piring kotor. Walaupun pemilik rumah sudah melarang, Angelina tetap melakukan keinginannya.
"Aku sudah terbiasa melakukan ini semua. Di rumah pun aku seperti ini. Apa gunanya predikat ibu rumah tangga, kalau tidak bisa membereskan rumah."
Handoko tak membantah lagi. Argumen Angelina jelas menyadarkannya untuk tidak membantah. Saat ini Handoko duduk di hadapan Niko dan Wulan.
"Papa ingin tanya kepada kalian. Pertanyaan ini penting untuk kalian yang sebentar lagi akan membangun rumah tangga. Pertanyaan ini berlaku untuk kalian berdua. Apa kalian tahu penyebab terjadinya perselingkuhan?"
Niko menatap Wulan. "Ladies first."
"Setiap orang punya perspektif masing-masing. Mereka juga bebas berpendapat. Pendapatku tentang itu adalah bentuk tanggung jawab dan tanggung jawab yang tidak sinkron."
"Contoh?" balas Handoko.
"Wanita yang tidak punya penghasilan akan menuntut finansial sebagai tanggung jawab. Secara universal itu bukan tanggung jawab, itu sudah tugas suami menafkahi istrinya, bukan? Tidak mungkin Niko menikahiku, tapi yang memberiku nafkah Papa atau mama. Kalau umumnya menafkahi adalah bentuk tanggung jawab para suami kepada istri, disebut apakah jika suami orang menafkahi istri orang lain?"
Handoko tercengang. Ia tak menyangka pemikiran Wulan sampai ke sana. Mayoritas wanita menuntut tanggung jawab kepada suami secara finansial, padahal mereka tahu itu bukan bentuk tanggung jawab sesungguhnya.
"Berbeda dengan wanita berpenghasilan, mereka tidak akan menuntut uang dari suaminya. Jika uang prioritas bagi mereka, tidak ada istilah uang bukan segalanya. Banyak dari mereka tidak menyadari, bahwa uang bukan pondasi utama dalam rumah tangga. Istri yang tidak bersyukur akan selalu menganggap penghasilan suaminya sedikit, sehingga uang akan menjadi alasan untuk membuat perdebatan di antara mereka. Dan tidak sedikit rumah tangga yang rusak hanya perkara uang."
__ADS_1
Handoko tersenyum. "Pemikiran di atas rata-rata. Semua wanita tahu soal itu. Tapi, tidak semua wanita menyadarinya. Benar apa yang kamu bilang, Nak. Bentuk pertanggungjawaban setiap orang beda-beda. Hal itu bukan hanya berlaku bagi suami-istri, berlaku juga bagi orang tua dan anak, serta atasan dan bawahan. Mayoritas orang tua menganggap fasilitas dan uang adalah bentuk tanggung jawab kepada anak. Padahal tidak sedikit kita temui di luar sana anak-anak yang lebih membutuhkan peran orang tua secara langsung dibandingkan uang dan fasilitas mereka."
Niko berdeham.
Handoko tersenyum, sedangkan Wulan menatapnya.
"Dulu papa menganggp fasilitas dan uang adalah bentuk tanggung jawab orang tua terhadap anak. Nyatanya salah, Niko lebih membutuhkan papa dibanding itu semua. Hidupnya lebih berarti ketika papa kembali dan menemaninya di sini."
"Itulah pentingnya komunikasi," Niko menambahkan, "Sebagai calon suamimu, aku ingin melontarkan satu pertanyaan untuk calon istriku."
"Katakan," goda Wulan.
Niko menggenggam tangan Wulan. "Apa kamu sudah siap menikah?"
"Tentu saja."
"Apa kamu tahu pondasi rumah tangga itu apa?"
"Kamu ingin menguji otakku?"
"Bukan soal otak, untuk menjadi ibu dari anak-anakku nanti, aku harus mencari wanita yang bisa mendidik mereka menjadi orang yang bijaksana."
"Jangan tersenyum terus, jawab pertanyaanku."
Handoko bahagia melihat mereka. Hubungan yang sempat ia bayangkan tidak akan bersatu kini kembali di hadapannya.
"Rumah tangga itu seperti usaha. Uang bukan modal satu-satunya untuk menjaga agar usaha atau hubungan bisa bertahan."
"Uang bukan segalanya. Tapi, segalanya butuh uang, kan?" balas Niko.
Handoko tertawa.
"Aku tahu," kata Wulan, "Tapi, bagaimana jadinya apabila hubungan hanya berdasarkan uang tanpa komunikasi, inisiatif dan respek?"
Handoko mengangguk.
__ADS_1
"Banyak yang tidak menyadari, bahwa komunikasi, respek dan inisiatif sudah seharusnya dalam hubungan. Dan itu berlaku bukan hanya untuk rumah tangga, keluarga dan lingkungan kerja pun membutuhkan komunikasi, inisiatif dan respek."
Niko terdiam. Ia terus menatap Wulan seolah-olah terkesima dengan jawaban wanita itu.
"Bayangkan, hubungan anak dan orang tua tanpa komunikasi bagaimana? Sebagai anak kita harus inisiatif untuk membahagiakan orang tua. Tak perlu melakukan hal besar, memberikan kejutan ketika orang tua berulang tahun itu sudah cukup membuatnya tersenyum."
Handoko terharu.
"Begitu pun di lingkungan kerja. Apa yang terjadi jika pemimpin regu tidak bisa membangun komunikasi yang baik dengan bawahan? Apa yang terjadi jika karyawan tidak membentuk komunikasi yang baik kepada pelanggan? Apa menurutmu pantas disebut suami-istri kalau tidak ada komunikasi yang baik di antara mereka?
"Begitu juga inisiatif. Sales dituntut inisitif yang tinggi untuk menjual prodak mereka ke pelanggan. Tidak hanya sales, karyawan yang duduk di kantor pun harus inisiatif demi perkembangan perusahan. Memang perusahan itu bukan milik mereka. Dan kalau pun mereka bekerja hanya mengandalkan gaji tanpa kontribusi lebih, ketika bos bangkut, siapa lagi yang akan menggaji mereka ? Uang dari mana untuk membeli makanan?"
Niko ingin memeluk Wulan. Tapi, ia menolaknya.
"Aku belum selesai."
Handoko terkekeh.
Wulan melanjutkan, "Terakhir, respek ... sebagai atasan, jika kamu ingin dihormati, kamu harus menghormati terlebih dulu. Bukan begitu, Papa?"
"Benar."
"Begitu juga dalam rumah tangga," lanjut wulan, "jangan hanya mau dilayani, tapi tidak mau melayani."
Niko memeluk Wulan dan berbisik, "Aku akan melayanimu sepenuh hati. Aku akan membuat basah di kamar mandi, kamar tidur, mobil, ruang tamu, dan di ruang kerja."
Wajah Wulan merah padam.
Handoko terkekeh. "Papa rasa kalian sudah mengerti apa artinya pernikahan. Apabila ada yang kalian inginkan satu sama lain, baik dalam hubungan kalian atau pekerjaan, ungkap dan bicarakanlah baik-baik. Jika tidak bisa teratasi, cari solusi bersama dengan emosi yang dingin."
"Sebagai istri kamu juga tidak boleh egois, Sayang," tambah Angelina yang tiba-tiba muncul, "Jangan karena Niko memanjakanmu, kamu tidak mengurus dia dengan baik. Kamu harus mencatat menu apa saja yang ingin dia makan setiap hari. Kamu harus melayaninya dengan baik, seperti dia melayanimu. Dan ingat, walaupun Niko melarangmu bekerja, sudah seharusnya kamu mencari uang sendiri."
"Itu tidak perlu, Mama," kata Niko, "Wulan tidak perlu bekerja. Dia cukup di rumah saja, mengurusku dan anak-anak. Mama dan Papa sudah tua, aku ingin kita hidup bersama dalam satu rumah."
Wulan keberatan. "Mama benar, Sayang. Namanya manusia, kita tidak tahu rencana Tuhan ke depannya. Bukan menyumpahimu. Tapi, seandainya kamu sakit, uang kita habis, sedangkan aku tidak punya penghasilan, siapa yang akan membeli beras dan memberi kita makan?"
__ADS_1
Niko memeluk Wulan erat-erat. "Aku memang tidak salah memilih istri. Terima kasih, Tuhan ... terima kasih sudah mengirimkan Wulan untukku."
Bersambung____