
"Hasilnya dua garis, Inem. Aku positif hamil."
Inem bersorak. "Ya Tuhan, sebentar lagi Nyonya akan menjadi ibu. Tuan Niko akan menjadi ayah."
"Dan kamu apanya?"
"Jelas aku pelayannya, Nyonya. Kan aku di sini bukan siapa-siapa Nyonya dan tuan."
Wulan memeluknya. "Kamu jangan bilang begitu, ya. Kalau tidak ada kamu mana bisa aku membersihkan rumah ini? Meskipun statusmu pelayan, tapi kamu sudah seperti keluarga bagi kami. Kamu banyak membantu kami di sini."
Inem terharu. Ia meneteskan air mata lalu memeluk Wulan. "Terima kasih, Nyonya, terima kasih."
Wulan melepaskan pelukan. "Hari ini aku ingin segera pulih. Buatkan aku sup sayur untuk sarapan, ya?"
"Siap, apa pun demi Nyonya akan aku lakukan."
"Jangan bilang hal kepada Niko, ya? Aku ingin merahasiakan kabar gembira ini darinya."
"Kenapa? Bukannya tadi Nyonya bilang ...."
"Ulang tahunku tinggal berapa hari lagi. Dia pasti akan memberiku hadiah. Aku akan memberi testpack ini sebagai hadiah untuknya."
"Hadiah?" Inem bingung, "Tuan dan Nyonya ulang tahunnya sama, ya?"
Wulan tertawa. "Tidak, Inem. Karena ulang tahun adalah hari bahagiaku, aku juga ingin membuat Niko bahagia dengan kabar ini. Aku akan memperlihatkan bukti ini tepat di hari ulang tahunku."
"Oh, aku paham sekarang."
Wulan tersenyum. "Aku mandi dulu. Hari ini aku akan sangat sibuk. Kalau tuan tanya, bilang saja aku ke butik bersama Fanny."
"Nyonya kan lagi sakit."
"Sudah sembuh, hasil ini membuat tubuhku sehat kembali."
Inem bahagia. "Aku ke dapur dulu membuat sup permintaan Nyonya."
"Terima kasih ya, Inem."
"Sama-sama Nyonya."
Di sisi lain.
Niko masih duduk melamun di kursinya. Mendengar kabar Viona hamil sontak membuatnya iri. Ia juga ingin Wulan seperti Viona.
Darius masuk. "Anda ingin makan siang di mana, Pak?"
"Di sini saja."
"Baik, Pak."
Baru hendak berlalu suara Niko membuat Darius berhenti dan berbalik.
"Aku ingin tanya satu hal padamu, Darius."
Darius menyimak.
"Tiba-tiba aku ingin mengerjai istriku lagi, Darius."
Darius menggeleng kepala. Ia tak menyangka Niko akan punya pikiran segila itu.
__ADS_1
"Kata Wulan dia tidak marah kalau aku selingkuh."
"Nyonya bilang begitu?"
"Bukan tidak marah, sih. Katanya dia akan keluar kota untuk menenangkan diri sejenak. Aku punya ide," Niko tersenyum geli, "Aku akan menyuruh Gloriana menemui Wulan dan mengakui kehamilan palsunya. Aku ingin lihat, apa benar dia akan keluar kota atau tidak."
"Kalau seandainya demikian, bagaimana?"
Ekspresi Niko berubah. "Aku tidak akan mengijinkan. Kamu sendiri tahu kan aku tidak bisa hidup tanpa Wulan."
Darius menahan tawa.
"Aku akan menyuruh Gloriana menemui Wulan beberapa jam sebelum ulang tahunnya. Aku juga akan pura-pura lupa ulang tahunnya dan pagi itu aku dan Gloriana akan muncul untuk memberinya selamat. Aku akan jujur kepada Wulan, bahwa selama ini aku dan Gloriana telah mengerjainya."
Darius terheran-heran. Menyebut rencana kehamilan membuat Darius teringat sesuatu.
"Apa kata dokter soal nyonya?"
Niko terkejut. "Untung kamu ingatkan. Semalam saking gelisahnya aku lupa menanyakan itu. Gloriana memang kurang ajar, dia pikir mungkin aku tidak akan tahu obat jenis apa yang dia masukan ke minumanku."
"Ini sekedar saran, sebaiknya Anda berhati-hati dengan Gloriana."
"Aku tahu. Tapi, kejadian semalam justru bisa menjadi alasan buatku. Aku akan menugaskan dia tanpa bayaran. Jika dia menolak, aku akan menuntut dia karena sudah berani meracuni minumanku."
Darius hanya diam.
Niko tersenyum lebar. "Aku lapar, Darius. Aku ingin makan siang."
"Baik, Pak."
***
Tanpa memberitahu Wulan menunggu jam makan siang kemudian menjemput Fanny dengan mobilnya.
Wulan terkekeh. "Mau makan siang bersama, tidak?"
Tanpa berpikir Fanny segera masuk. "Kamu sudah sehat?"
"Sehat?" Wulan bingung, "Kalau sakit, mana mungkin aku menjemputmu. Aku ketiduran, pas bangun sudah jam sepuluh."
"Niko menghubungiku tadi pagi, katanya kamu tidak masuk hari ini karena sakit."
Wulan terkekeh. "Yang membuatku sakit dia, dia menempurku sampai pagi."
Fanny terbahak. "Sudah kuduga. Ngomong-ngomong, kamu sudah melakukan yang diperintahkan dokter?"
"Tentu saja," ekspresinya muram, "Hasilnya ada di dalam tasku."
Fanny segera membongkar isi tas Wulan. Diambilnya benda panjang berbahan plastik itu kemudian menatapnya.
"Dua garis ... Kamu hamil?"
Wulan mengangguk lalu tertawa.
"Dasar, aku pikir hasilnya negatif."
Wulan terbahak lagi.
"Apa Niko tahu?"
__ADS_1
"Aku akan merahasiakannya."
"Kenapa?"
"Aku akan memberitahu setelah dia memberiku hadiah."
"Hadiah?"
"Kamu lupa, ya?" Wulan sedih, "Berapa hari lagi kan ulang tahunku."
"Tentu saja aku tidak lupa soal itu. Tapi, apa hubungannya testpack ini dengan hadiah dari Niko? Tunggu ... kamu mau barter dengan suamimu sendiri?"
Wulan tertawa. "Ini pertama kalinya aku ulang tahun bersamanya. Dia pasti tidak tahu ingin memberiku hadiah. Jika dia bertanya aku menginginkan apa, aku akan mengurasnya habis-habisan. Sebagai balasan aku akan menunjukkan hasil testpack ini."
"Dia pasti akan senang. Sudah kubayangkan, dia pasti akan semakin posesif padamu."
Wulan tersenyum. "Kita ke butik dulu atau makan siang dulu? Aku ingin melihat gaun untuk pestanya Viona."
"Untung kamu ingatkan. Itu dia yang aku pikirkan sejak tadi. Rencana hari ini aku ingin mengajakmu mencari gaun. Karena hari ini kamu sakit, rencana pulang kantor aku akan mencarinya."
"Berarti kita ke butik saja dulu, ya?"
"Iya."
Wulan menatap sekeliling. "Setahuku seputaran sini ada butik."
Fanny melihat sebuah bangunan mewah bertuliskan GN Boutique.
"Tuh, dia. Kita ke sana saja, di sana kualitasnya tak diragukan."
Secara normal Wulan dan Fanny jarang sekali menghadiri pesta. Karena malam ini adalah pernikahan atasan mereka, ke dua wanita itu harus tampil sempurna walaupun hanya pesta sederhana.
"Di samping butik itu ada restoran. Biar tidak buang waktu istirahatmu, setelah memilih kita makan siang di situ saja, ya?" Wulan menawarkan.
"Aku fleksible. Kamu sekarang lagi hamil, apa pun yang kamu inginkan aku setuju. Terlambat setengah jam kan tidak masalah."
Mereka berdua terkekeh kemudian bergegas turun dari mobil. Namun saat hendak membuka pintu, mata Fanny menangkap sosok yang paling dikenalinya.
"Wulan, sepertinya kita jangan turun sekarang."
"Kenapa?" Wulan menatapnya.
"Bukankah itu suamimu?"
Wulan mengikuti arah pandang Fanny. Ia terkejut melihat suaminya berdiri di depan butik itu bersama wanita.
"Siapa wanita itu, ya?" tanya Wulan pelan.
Mereka memperhatikan. Posisi Niko menghadap mobil Wulan. Sementara wanita yang tak dikenali itu membelakangi mereka.
Zet!
Mata Fanny melotot. "Itu kan kliennya," Fanny menatap Wulan, "Bukankah Niko sudah berjanji tidak akan menemuinya?"
Wulan sakit hati melihat itu. "Entalah."
Dilihatnya Niko dan Gloriana berjalan menuju mobil. Gloriana masuk ke pintu penumpang tanpa bantuan Niko. Niko pun masuk kemudian meninggalkan tempat itu.
Fanny menatap sahabatnya. "Kalau ingin menangis, menangislah, menahannya akan menjadi beban tersakit dalam hatimu."
__ADS_1
Wulan terkekeh. "Aku tidak serendah itu," mata Wulan berkaca-kaca, "Aku akan menanyakannya nanti. Ayo, masuk. Pilih gaun sesuka dan sebanyak yang kamu mau, kita akan menghabiskan semua uang Niko hari ini."
Bersambung___