
Walaupun sederhana resepsi pernikahan Viona dan Deril sangat ramai. Para banker dan kerabat-kerabat keluarga Lamber lumayan banyak yang ikut meramaikan.
Niko dan Wulan baru sampai. Mereka menjadi pusat perhatian karena terlihat begitu serasi dan berkelas.
Beberapa banker mengenal Niko. Wulan tak heran, pengusaha kaya seperti suaminya pasti dikenal banyak orang. Khususnya di dunia perbankan.
Tak hanya Niko, para banker itu juga mengenal Wulan. Beberapa dari mereka bahkan terkejut melihat Niko ternyata suaminya Wulan.
"Kamu beruntung mendapatkan suami seperti pak Niko. Kaya raya, tampan lagi."
"Benar," kata Niko, "aku juga sangat beruntung mendapatkan istri seperti Wulan."
Wulan tersenyum dan menerima pujian mereka. Sambil berjalan, mencari kursi ia berkata kepada Niko, "Mereka mengira menikah dengan suami kaya dan tampan sebahagia yang mereka pikirkan, harus banyak menguras perasaan untuk bisa bertahan hidup dengan suami kaya dan setampan suamiku ini."
Niko tersinggung. Ia berhenti sesaat, menatap istrinya sambil menahan tawa.
Wulan tak peduli. Ia terus berjalan, mendekati kursi di Fanny sudah menunggu bersama Darius.
"Aku pikir kamu tidak akan datang karena masalah tadi," bisik Fanny.
Saat ini suasana pesta sedang menikmati hidangan. Ada beberapa menikmati minuman sambil berdiri dan berbincang-bincang. Ada juga yang duduk di tempat duduk sambil menikmati makanan.
"Kalau bukan Viona dan Deril aku tidak ingin datang."
Fanny tersenyum. "Sudah berdamai?"
Wulan sengaja tidak langsung pulang untuk menghilangkan bengkak di matanya akibat menangis. Selama itu pula ia memikirkan keputusan apa yang akan ia ambil begitu melihat Niko.
Setelah hampir tiga jam ia akhirnya memutuskan untuk mengabaikan kejadian tadi siang. Wulan tak mau mempermasalahkan apa yang dilihatnya demi menjaga hubungannya dengan suami.
"Dia sudah minta maaf."
Fanny mendengus. "Aku tidak bisa sepertimu. Di posisimu, aku pasti marah, merajuk dan jelas tidak ingin melihatnya."
Darius berdiri, menarik kursi untuk Niko kemudian mempersilahkannya duduk.
Niko menolak. "Terima kasih, Darius. Ayo, kita keluar saja," Niko menatap Wulan, "Aku dan Darius ke depan dulu."
Wulan mengangguk. Setelah kedua pria itu pergi Wulan menjelaskan apa yang terjadi setelah ia pulang. Ia juga menceritakan soal perasaannya terhadap Niko.
"Aku bingung, Fan."
"Bingung kenapa?"
"Kalau benar dia selingkuh, pasti dia tidak akan membuatku kewalahan. Atau dia akan menolak meskipun aku memintanya."
Fanny menyimak.
"Dari kemarin sampai tadi dia membuatku kewalahan. Bayangkan, kemarin dari malam sampai pagi. Tadi saja kalau tidak akan menghadiri pesta ini, pasti dia masih menyerangku. Tenaganya seperti tidak pernah habis, Fan."
Fanny terkekeh. "Bisa jadi sih dia mereka memang hanya sebatas rekan bisnis. Dan mungkin juga karena kamu cemburu padanya, Niko sengaja berbohong biar kamu tidak sakit lagi."
"Dia mengakuinya soal itu, dia takut aku cemburu."
__ADS_1
Tepat di saat itu Niko muncul. Ia mendekati Wulan, menunduk lalu berbisik, "Gloriana menghubungiku. Aku pergi sebentar, ya?"
Ekspresi Wulan berubah. "Harus sekarang?"
"Iya," Niko mencium dahi Wulan, "Aku tidak akan lama."
Tanpa menunggu jawaban Niko berlalu, meninggalkan mereka.
Wulan pasrah. Dengan hati sakit ia menatap suaminya menghilang di keramaian orang.
Fanny bertanya, "Kenapa?"
"Menemui Gloriana."
"Sekarang?!" kejutnya, "Apa suamimu sudah gila?! Sudah datang terlambat dan sekarang pergi lagi?"
Wulan pasrah. "Dia janji tidak akan lama."
"Apa Darius ikut bersamanya?" tanya Fanny.
Tepat di saat itu Darius muncul. Hal itu membuat Fanny dan Wulan saling bertatap.
Fanny bertanya, "Sayang, kamu tidak ikut dengan bosmu?"
"Tidak, tuan Niko ingin pergi sendiri."
Hati Wulan teriris-iris. Sesabar apa pun dirinya menghadapi sikap Niko seperti ini, lama kelamaan sabarnya akan hilang.
Fanny menatap Wulan. Melihat ekspresi sahabatnya murung, ia segera menawarkan makan dan minum.
Akhir-akhir ini Wulan sering mengkonsumsi puding cokelat. Itu sebabnya Fanny bersyukur di meja mereka telah disediakan puding susu yang dipasangkan dengan saus vanila.
Wulan terpaksa menurut. Ia mengambil wadah kecil berisi puding cokelat yang disodorkan Fanny di depan Darius. Ia tidak ingin menangis sekarang. Jadi dengan hati sakit dan mata berkaca-kaca ia mulai melahap puding itu.
Darius yang tahu akan reaksi tetap diam dan tak beranjak. Itu caranya untuk mencegah istri bosnya agar tidak menangis. Tidak mungkin kan Wulan menangis di depannya.
Di sisi lain Handoko melihat Niko keluar dari pintu utama. Dengan cepat ia mengikuti pria itu dan mencegahnya.
"Mau ke mana kamu?"
"Keluar sebentar, Pa."
"Di mana Wulan?"
"Di dalam bersama Fanny."
Niko sengaja tidak memberitahu tempat tujuannya. Jelas Handoko akan memberikan tinju gratis padanya seperti waktu itu.
"Apa Wulan tahu?"
"Iya. Aku tidak akan lama. Aku titip istriku ya, Pa."
Tanpa menunggu persetujuan Niko masuk ke dalam mobil. Sementara Handoko segera ke dalam untuk menemui Wulan. Sejak tadi ia ingin sekali bertemu menantu kesayangannya.
__ADS_1
"Wulan Sayang," sapanya begitu melihat wanita itu, "Papa merindukanmu, Nak."
Darius segera berdiri. Tapi, Handoko melarangnya.
"Duduklah, Darius. Kamu jangan ke mana-mana, kasihan Fanny sendiri," Handoko menatap wanita itu, "Kamu tidak ingin duduk di samping pacarmu?"
Wajah Fanny memerah. Ia pun berdiri dan mengijinkan Handoko menggantikan posisinya di samping kiri Wulan.
Wulan tersenyum dan memeluk Handoko. "Papa, aku juga merindukanmu. Maaf, berapa hari ini aku tidak menemui Papa."
"Tidak masalah, Sayang. Papa mengerti, kamu dan Niko sama-sama sibuk."
Angelina muncul. "Ramai sekali di sini," ia duduk di samping kanan Wulan, "Apa kabar, Sayang?"
"Kabarku baik, Ma," Wulan menatap seluruh, "Mama tambah cantik saja."
"Kamu ini bisa saja. Mama pikir kalian tidak akan datang. Dari tadi mama, papa Handoko dan Fanny menunggu kalian."
Wulan hanya tersenyum.
Angelina mencari-cari. "Di mana anak mantu kesayangan mama?"
"Dia keluar sebentar," jawab Wulan.
Handoko penasaran. "Ke mana dia?"
"Papa ingat investor yang aku cerita tempo hari?"
Handoko ingat. "Gloriana?"
"Iya. Dia menghubungi Niko dan mereka ingin bertemu sebentar."
Darius terpaku di tempatnya. Ia menunduk, tak berani menatap Handoko yang mungkin saja akan melontarkan pertanyaan yang bisa membuat rencana Niko gagal.
Angelina mengulang, "Gloriana? Apa Niko tidak bisa menunda pertemuannya besok? Kenapa juga wanita itu mengajak suami orang bertemu malam-malam begini?"
Fanny tak berkomentar.
Darius terus menunduk, takut diwawancarai.
Handoko marah. Dalam hati ia mengutuk Niko karena membohongi menantu kesayangannya. Ia berjanji tidak akan membantu putranya sendiri jika terjadi sesuatu kepada Wulan.
Wulan membela. "Darurat, Mama. Lagi pula Niko tidak akan lama, kok."
Angelina tidak curiga apa-apa. Tapi, sebagai wanita jelas ia tidak suka Niko meninggalkan Wulan dan menemui wanita lain.
Sekarang ini mereka sedang menghadiri pesta pernikahan. Tidak seharusnya Niko menggabungkan waktu bisnis dan waktu bersantai.
Memangnya berapa banyak yang si Gloriana itu menginvestasikan uangnya di Bebbi Group, sampai-sampai Niko mengabaikan mereka semua dan menemui wanita itu?
Pertanyaan itu nyaris terlontar dari mulut Angelina. Namun, keberadaan Handoko, Darius dan Fanny membuatnya diam. Seandainya hanya berdua dengan Wulan, ia sudah melontarkan pertanyaan dan pernyataan yang mungkin akan memprovokasi putrinya.
Angelina memperhatiakan Wulan. "Sayang, pipi kamu lebih besar. Badanmu juga sedikit naik. Kamu hamil?"
__ADS_1
Bersambung____