Jodoh Tak Pernah Salah

Jodoh Tak Pernah Salah
Memukul Niko.


__ADS_3

Selesai makan malam Niko pulang ke rumah Handoko. Dengan eskrpesi lemas ia memasuki rumah ketika Brian membuka pintu.


"Di mana papa?"


"Di ruang kerja, Tuan."


Niko mengunjunginya. Tanpa mengetuk pintu ia segera masuk, membuat Handoko terkejut.


"Niko?" lelaki tua itu menatap jam dinding, "Kenapa ...," Handoko diam, melihat ekspresi Niko yang muram, "Jangan bilang karena rencana konyolmu itu lagi."


Niko duduk di depannya. "Aku khawatir, Pa," Niko menceritakan kejadian hari ini, "Aku takut dia tidak memaafkanku."


"Suami sinting! Apa kamu tidak punya pekerjaan lain, hah? Masa mengerjai istrimu sampai sekejam itu."


Niko hanya diam.


"Sekarang di mana Wulan?"


"Di rumah. Dia terlihat kecewa sekali."


"Harusnya di pikir dulu sebelum bertindak. Bersyukur Wulan tidak membunuh Gloriana. Kalau sampai itu terjadi, apa kau mau Wulan hidup di penjara?"


Niko tersenyum sayang. "Dia wanita istimewa, Pa. Dia benar-benar wanita limited edition."


"Sebesar apa pun kesabaran Wulan kalau suamimya sepertimu, lama-lama sabarnya akan hilang. Dari luar saja dia tidak marah. Tapi, kau tidak tahu isi hatinya seperti apa."


Niko sedih mengingat ekspresi Wulan. "Dia sangat kecewa padaku, Pa. Dia bilang dia menyesal telah menikahiku."


"Kalau kau tidak mengakhiri skenario gilamu ini, papa sendiri yang akan memnujuk Wulan untuk menceraikanmu."


Niko terkejut. "Kenapa begitu, Pa? Papa tidak boleh melakukan itu. Lagi pula ini kan sudah berakhir, besok pagi aku akan pulang dan minta maaf padanya. Aku juga akan mengatakan yang sebenarnya."


"Terserah apa katamu, yang jelas papa tidak suka kamu menyakiti Wulan seperti itu."


"Besok ulang tahunnya. Sebelum matahari terbit aku akan pulang menemuinya."


Handoko sedikit tenang. "Kau sudah membelikan hadiah untuknya?"


Niko mengeluarkan kotak biru beludru dari saku jasnya. "Ini hanya hadiah ungkapan. Hadiah yang sebenarnya ... aku akan mengajaknya berlibur ke luar kota, dia pernah bilang ingin menjelajahi beberapa pulau bersamaku."


"Banyak berdoa, semoga saja dia memaafkanmu besok."


Niko khawatir. "Bagaimana kalau besok Papa temani aku?"


"Tidak, kau harus menyelesaikan masalahmu sendiri. Kau yang memulai, kau yang mengakhiri."


"Kumohon, Pa. Kalau ada Papa Wulan pasti akan percaya. Aku ingin Papa membantu meyakinkannya."


"Papa tidak mau kena imbas, Niko. Wulan pasti akan marah. Dia pasti akan kecewa, karena papa mendukung ide gilamu itu."


"Justru itu," bujuk Niko, "Kalau Papa mengakui, bahwa Papa mengetahuinya juga, Wulan pasti akan memaafkanku."


Handoko berpikir.


"Kumohon, Pa. Aku janji akan memberikan apa saja kalau Wulan memaafkanku."


Handoko tersenyum licik. "Apa saja?"


"Iya, apa pun itu."


"Papa ingin cucu."


Niko terkejut. "Pa, kalau itu kuasa Tuhan. Aku dan Wulan sudah berusaha. Tapi, mungkin belum waktunya kami dipercayakan sebagai orang tua."


"Papa tidak mau tahu. Pokoknya kamu harus segera menghamili Wulan."


Di sisi lain.


Inem sudah selesai mengatur barang Wulan di dalam koper. Takut ada yang ketinggalan, ia memeriksa berkali-kali untuk memastikan.


"Sudah semuanya, Nyonya."


Inem menatap Wulan yang baru saja selesai berdandan. Ia tersenyum sayang. "Bahkan dengan mata bengkak saja Nyonya terlihat sangat cantik."


"Jangan menggodaku, Inem."

__ADS_1


"Aku tidak menggoda, Nyonya. Entah setan apa yang merasuki tuan Niko. Jelas-jelas Nyonya jauh lebih cantik daripada wanita itu."


Wulan membuang napas panjang. "Tidak usah dibahas lagi. Ayo, aku tidak mau ketinggalan pesawat."


Inem membantu Wulan membawa barang-barangnya.


"Sebenarnya Nyonya mau ke mana?"


"Ke luar kota, Inem."


"Ke luar kota di mana, Nyonya? Kalau tuan datang dan menanyakan Nyonya, bagaimana?"


Wulan berdecak. Ekspresinya muram. "Dia tidak akan peduli. Sudahlah, tidak usah memikirkan dia, dia saja tidak memikirkan kita."


Secara normal Inem cukup kaget ketika Gloriana muncul dan mengakui kehamilannya. Sebagai pelayan Inem setiap hari sering melihat kemesraan di antara kedua majikannya. Niko yang menurutnya suami idaman semua wanita benar-benar membuat Inem terkejut. Ia tak menyangka jika di balik ketulusan Niko terhadap Wulan ada Gloriana yang juga ikut hadir dalam hidupnya.


"Nyonya, kalau besok tuan datang dan menanyakan Nyonya, aku harus jawab apa?"


Saat ini mereka sudah berada di depan pintu. Wulan berdiri dengan setelan gelap yang ketat.


"Jawab saja yang sejujurnya."


Inem menangis. Spontan ia langsung memeluk Wulan. "Nyonya jangan pergi, aku tidak mau Nyonya pergi."


Wulan ikut menangis. "Ini yang terbaik, Inem."


"Tidak, ini bukan jalan terbaik, Nyonya. Harusnya Nyonya di sini saja dan menghadapi mereka. Tunjukan kepada mereka, bahwa Nyonya Wulan lebih kuat dari yang mereka bayangkan."


Wulan menghapus airmatanya. Ia tidak boleh menangis lagi. Meski rasanya sulit, Wulan mencoba untuk bisa mengontrol.


"Aku butuh waktu untuk menangkan diri, Inem. Kamu jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."


Inem terus menangis.


Wulan tersenyum. "Jangan menangis lagi. Aku titip rumah padamu, ya? Aku juga ingin kamu berikan ini kepada Niko. Besok kalau dia menanyakanku, kamu berikan ini padanya."


Wulan memberikan kotak bungkusan kotak berwarna hijau.


"Apa ini Nyonya?"


"Nyonya tidak akan kembali?"


"Kata siapa aku tidak kembali?" Wulan terkekeh. Ekspresi dan sikap Inem yang lucu membuat sedih dalam dirinya seketika hilang, "Aku akan kembali, Inem. Tapi, mungkin agak lama. Kalau lukaku sudah sembuh, aku akan kembali."


"Jangan bilang begitu, Nyonya. Kalau luka Nyonya tidak sembuh-sembuh, bagaimana?"


"Pasti sembuh, kok. Tenang saja."


Inem tenang.


"Satu lagi," kata Wulan, "jangan beritahu papa dan mama, ya? Aku tidak ingin mereka tahu soal Gloriana."


"Tapi kalau mereka ke sini mencari Nyonya, bagaimana?"


"Bilang saja kamu tidak tahu. Biarkan Niko sendiri yang akan menjelaskan kepada mereka. Dia yang berbuat, dia yang harus bertangung jawab."


Taksi online pesanan Wulan muncul.


Inem bersedih. "Nyonya, jangan pergi."


Wulan memeluknya. "Doakan aku, ya," tanpa menunggu lagi Wulan segera berlalu bersama taksinya.


Penjaga keamanan muncul dengan ekspresi penasaran. Ia terkejut melihat Inem yang sedang menangis.


"Inem, kamu kenapa?" ia menatap mobil yang sudah keluar, "Tadi itu bukannya nyonya Wulan?"


"Iya."


Pria itu bingung. "Memangnya nyonya mau ke mana, kenapa kamu menangis?"


"Kamu tidak tahu dan lebih baik tidak tahu. Sudah, kembali saja ke tempatmu."


Dengan ekspresi bingung pria itu menatap Inem yang sudah meninggalkannya. "Apa yang terjadi? Memangnya nyonya mau ke mana, kenapa nyonya naik taksi?"


Di sisi lain Wulan duduk di bangku belakang taksi. Sambil menatap keramaian kota malam hari ia mengingat kejadian yang terjadi. Wajah Gloriana dan Niko terus terbayang. Memikirkan apa yang mereka lakukan membuatnya sakit.

__ADS_1


"Sayang," kata Wulan dalam hati. Ia menunduk, menatap perut dan mengelusnya, "kamu harus kuat, ya? Kamu harus bertahan," air mata Wulan menetes, "Mulai sekarang kamu yang menjaga mama. Kamu yang menemani mama dan melindungi mama. Kita berdua harus kuat, ya? Kita harus buktikan ke papa, bahwa tanpa dia kita bisa bertahan."


Wulan mendapat ide. Iya mengambil ponsel kemudian mencari dokumentasi hasil kehamilannya.


Dengan caption yang menyayat hati Wulan memposting hasil kehamilannya di sosial media. Setelah memposting kebahagian itu Wulan mematikan ponselnya. Ia tahu Niko pasti akan menghubunginya. Tidak mau liburannya diganggu oleh siapa pun termasuk Niko, Wulan mencabut kartu dan menyimpan benda pipih itu ke dalam tasnya.


***


Keesokan hari Niko segera bergegas. Dengan pakaian dan tubuh segar sehabis mandi ia menuruni tangga. Di balik aroma khas seorang Niko terlihat wajah yang kurang tidur. Saking tak sabarnya menunggu hari tidur Niko tak begitu nyenyak.


"Brian, papa sudah bangun?"


"Sudah, Tuan."


Handoko muncul. "Kamu sudah siap?"


"Sudah, Pa. Ayo, kita pergi sekarang."


"Tidak sarapan dulu?"


"Kita sarapan bersama Wulan saja."


Handoko menggeleng kepala melihat kecemasan anaknya. Berani berbuat, tapi takut risiko.


Di sisi lain.


Pagi ini Inem sangat tidak bersemangat. Ketidakberadaan sang nyonya rumah membuatnya malas beraktivitas.


Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Inem yang biasa sudah beres-beres kini tampak lesu di dapur kesayangannya.


"Inem?"


Suara berat Niko mengejutkannya. Dengan emsoi yang masih tersisa Inem beranjak dan menyapa sang tuan rumah.


"Iya, Tuan?" ia terkejut melihat Handoko. Dalam hati ia berkata, "Kenapa tuan besar datang ke sini? Mereka terlihat baik-baik saja. Apa tuan besar tahu soal Gloriana?"


Handoko berdeham. "Inem, bisa buatkan aku kopi, aku belum minum kopi sejak tadi."


Inem tersadar. "Oh, tentu saja, Tuan."


Niko menatap sang ayah. "Aku ke kamar dulu. Papa tunggu di sini saja. Kalau Papa mendengar tangisan Wulan, Papa langsung saja naik ke atas."


"Hmmm."


Niko meninggalkan Handoko.


Handoko duduk sambil mengotak-atik ponselnya. Kebiasaan pagi hari ia akan membuka sosial media untuk melihat pemberitaan selebriti. Dan saat matanya menatap tespack yang diposting oleh akun Wulan1506 Handoko terpaku.


Liburan berdua. Sehat terus ya, Sayang. Kamu segalanya buat mama. I love you, Baby.


"Ini kan tadi malam," Handoko membaca lokasi yang Wulan bagikan, "Bandara ... Tadi malam Wulan ke bandara?"


Handoko marah.


Inem muncul membawa nampan berisi secangkir kopi.


Handoko menatapnya. "Dimana Wulan?"


Inem bisa mencium emosi dalam diri Handoko. Dengan ragu-ragu ia menjawab, "Nyonya sudah pergi, Tuan. Semalam nyonya memutuskan keluar kota."


Niko muncul. "Inem, di mana Wulan? Kenapa dia tidak ada di kamar?"


Handoko mendekat.


Buk!


Ia meninju Niko.


Niko terkejut. "Kenapa Papa memukulku?"


"Kenapa?" bentak Handoko. Ia memperlihatkan sosial media dan postingan Wulan kepada Niko.


Niko terkejut. "Tespack ... Bayi ... Wulan sedang hamil? Istriku hamil?"


Handoko murka. "Kalau sampai terjadi sesuatu pada menantu dan cucu papa, papa tidak akan segan-segan membunuhmu, Niko."

__ADS_1


Bersambung____


__ADS_2