
Suara lelaki dari arah pintu membuat semua orang terjekut. Angelina, Handoko dan Niko yang pertama kali menoleh.
"Deril," lirih Niko. Ekspresi datar di wajahnya berganti harapan yang begitu besar. Senyum yang tak terlihat langsung nampak di wajah tampannya.
Ulan jengkel. Ia menatap Deril dan Niko secara bergantian. "Siapa itu, kau mengenalnya?"
Niko tak menggubris.
Reaksi Handoko sama seperti Niko. Senyumnya tak nampak, tapi harinya begitu girang. Meskipun belum tahu maksud kedatangan Deril, Handoko yakin pria itu utusan Tuhan untuk menyelamatkan mereka.
Berbeda dengan Niko dan Handoko, Angelina penasaran melihat sosok di depan sana.
Begitu juga Jefry, ia bergerak mendekati pria itu dengan marah. "Siapa kau?!"
Deril melangkah mendekati Jefry. Dengan sombong ia berkata, "Aku ke sini untuk mencobloskan Anda ke penjara, Tuan Jefry Tanujaya."
Zet!
Mata dan mulut semua orang terbuka lebar kecuali Niko dan Handoko. Rasa penasaran mereka semakin mencuat ketika dua orang berseragam masuk dan langsung memborgol Jefry.
"Apa-apa ini?!" bentak Jefry, menolak untuk disentuh. Rasa takut bercampur marah menjadi satu. Ia menatap Deril, "Siapa kau?! Atas dasar apa kau melakukan ini, hah? Aku tidak mengenalmu!"
"Aku Deril, anaknya Robby Lamber."
Mendengar nama itu sontak Ulan, Angelina dan Jefry tercengang. Saat itulah Angelina merasa hatinya diliputi rasa bahagia.
Waktu ke rumah duka Angelina ingin bertemu Deril, tapi ia lupa saking asiknya berbicara dengan Amanda.
Begitu juga Jefry. Ia mengutuk dirinya sendiri karena mengabaikan hal sekecil ini. Jefry tak pernah gagal menggapai tujuannya. Namun, kali ini ia telah mengabaikan Deril, yang ia tahu tidak akan pernah datang untuk menuntutnya.
Jefry keberatan. Walaupun rasa gugup menyelimutinya, ia memancarkan ekspresi marah seolah-olah tidak paham apa yang dimaksud Deril.
"Apa hubungannya aku dengan papamu, hah?"
Pertanyaan Jefry jelas membuat Deril berdecak lidah. "Jangan pura-pura tidak tahu, Tuan Jefry Tanujaya. Di sini banyak orang, apa Anda ingin mempermalukan diri Anda sendiri?"
Jefry terdiam.
"Ayo, Pak," kata Deril kepada polisi yang bertugas, "bawa dia, aku tidak ingin pembunuh ini berkeliaran."
Jefry merontak ketika polisi hendak menyentuh tangannya. Ia memukul Deril dengan satu pukulan kemudian melarikan diri.
"Kejar dia!"
Semua orang berteriak. Niko, Darius dan kedua polisi itu bergegas mengejar Jefry.
__ADS_1
Ulan marah. "Niko, kau mau ke mana?!"
Niko tak peduli. Ia berlari sekuat tenaga, mengejar Jefry yang tampak kesulitan berlari karena sepatunya.
"Tangkap dia!"
Jefry berlari ke arah parkiran. Ia menemukan supirnya dan langsung memerintahkan pria itu untuk membuka pintu.
"Ayo, kita pergi dari sini!"
Tang! Tang!
Belum sempat bergerak dua suara tembakan mengenai kaki sang supir. Jefry tercengang. Ia menoleh untuk melihat siapa yang menembak.
Tang! Tang!
Jefry terkejut ketika rasa sakit menghantam dadanya dua kali. Mulutnya terbuka dan langsung jatuh ke tanah.
Niko, Darius dan kedua polisi yang tadi mengejar Jefry seketika terkejut. Mereka melihat sosok berpakaian hitam berdiri tak jauh dari Jefry dengan tangan memegang pistol.
Angelina, Handoko, Ulan dan para tamu undangan muncul.
Ulan histeris. "Tidak!" ia berlari mendekati Jefry, "Papa! Papa!"
"Papa bangun, Papa! Papa bangun! Papa jangan tinggalkan aku, Papa!" Ulan histeris. Ia menatap pria itu, "Kau! Kau membunuh papaku! Kau pembunuh!"
"Itu balasan yang setimpal. Siapa suruh papamu membunuh papaku."
Ulan tercengang. Ia teringat soal pesan misterius waktu itu. "Kau ... Apa kau anaknya Robby Lamber? Apa kau yang mengirim pesan itu padaku?"
Deril muncul, mendekati pria itu. "Devon, kenapa kau ke sini? Aku tidak menyuruhmu datang, bukan?"
"Aku tidak akan senang sebelum melihat pembunuh ini mati, Kakak. Aku ingin dia merasakan apa yang papa rasakan."
Komentar-komentar spekulatif pun muncul dari mulut para undangan. Handoko, Angelina, Darius dan Niko paham apa yang sedang terjadi.
Polisi segera mendekati Jefry untuk memeriksanya.
Ulan keberatan. "Jangan sentuh papaku! Jangan sentuh papaku!"
Salah satu petugas memeriksa denyut nadi Jefry. "Maaf Nona, papa Anda sudah meninggal."
Ulan histeris. "Tidak! Papa tidak mungkin meninggal! Papa bangun! Papa bangun! Jangan tinggalkan aku, Papa! Jangan tinggalkan aku!"
Angelina mendekatinya. Bukannya marah, Angelina tersenyum dan berkata, "Ini setimpal dengan apa yang kalian perbuat."
__ADS_1
Ulan menatap Angelina dengan wajah penuh air mata.
Angelina menekankan. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau dan papamu lakukan kepada Wulan?"
Ulan terkejut.
"Selama ini aku diam bukan berarti tidak tahu. Aku tahu segalanya tentang kalian, Ulan. Rencana papamu memutasikan Wulan dan mengatur jadwal penerbanganpun aku tahu."
Ulan protes. "Kalau itu aku tidak tahu, Mama. Sumpah, aku tidak tahu soal itu. Aku sendiri terkejut waktu papa bilang____"
"Jangan membela diri," sergah Angelina, "kau pikir aku tidak tahu rencana busukmu dengan Viona, hah? Kalian sengaja membuat Wulan sakit hati, agar dia memutuskan Niko. Begitu, kan?"
Ketika Ulan ingin membalas, Handoko segera mendekati Angelina.
"Ayo, biarkan polisi yang menangani mereka."
Ulan marah. "Kalian ... Kalian semua jahat! Kalian membuat papaku meninggal! Kalian membunuh papaku! Kalian semua pembunuh!"
Beberapa polisi yang baru saja muncul langsung mengamankan mereka. Satu dari kedua polisi tadi mengamankan Ulan. Satunya lagi mengarahkan yang lain untuk menangani supir Jefry dan Devon.
Deril mendekati Handoko. "Aku minta maaf sudah menuduh Anda."
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Handoko bingung.
Angelina dan Niko ikut menyimak.
"Kemarin polisi menghubungiku, mereka memintaku datang pagi tadi dan mengajukan beberapa pertanyaan. Mereka menanyakan soal keterlibatan papa dengan Jefry. Dari keterangan yang kuberikan mereka yakin Jefry yang melakukannya."
Deril menjelaskan soal perbincangannya dengan Robby sebelum lelaki itu meninggal.
"Papa memang memintaku untuk membalas perbuatan Jefry. Namun, awalnya aku pikir semua itu percuma, papaku tidak akan mungkin hidup lagi. Keterangan polisi soal kebebasan Anda yang dilakukan oleh Jefry Tanujaya membuatku marah. Aku akhirnya memutuskan untuk menceritakan keterikatan papa dan Jefry kepada polisi."
Handoko mengangguk sesaat seolah-olah tidak keberatan dengan perbuatan Deril.
"Tapi, Nak," kata Handoko, "berdasarkan keterangan saja polisi pasti tidak akan percaya."
"Devon menuntut pihak rumah sakit untuk memperlihatkan rekaman CCTV yang mereka sembunyikan. Kata Devon sebelum insiden itu terjadi, di luar dan di dalam ruangan memang ada CCTV. Ternyata benar, Jefry telah membayar orang dalam untuk menyingkirkan benda itu untuk menghilangkan jejak. Salah satu wanita berpakaian perawat masuk setelah Anda keluar. Dia telah menyuntikan sesuatu ke tubuh papa sebelumnya."
Entah harus bahagia atau sedih, Angelina benar-benar bersyukur apa yang terjadi hari ini. Ia menatap Deril.
"Aku Angelina, ibunya Wulan. Semalam aku mendatangi rumahmu. Aku ingin bertemu denganmu, tapi ibumu sangat membutuhkanku tadi malam."
Deril tersenyum. "Aku sempat melihat Anda. Aku juga minta maaf tidak menghampiri Anda. Semalam wanita yang menyuntikkan racun ke tubuh papa mendatangiku dan meminta maaf. Dia mengakui kesalahannya dan ingin aku mengadilinya."
Bersambung____
__ADS_1