
"Bagaimana dengan kakakmu? Kita belum menjalankan rencana kita, Ulan. Bukankah kau ingin kakakmu memutuskan Niko?"
Fanny tercengang mendengar perkataan wanita itu. Dengan ekspresi biasa ia terus memperhatian percakapan Ulan dan temannya.
Ulan terbahak. "Aku akui kau benar-benar beruntung, Viona. Kau tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan dua puluh miliar itu."
'Oh, jadi itu yang namanya Viona,' batin Fanny, 'Cantik, sih. Tapi ....'
"... Niko sudah setuju untuk menikahiku. Besok papaku akan bicara dengannya dan om Handoko."
"Secepat itu, bukannya kita belum melakukan apa-apa? Apa karena foto yang kau kirim waktu itu?"
'Foto?' batin Fanny, 'Apa mungkin foto yang diceritakan Wulan padaku?'
"Bukan itu, Viona. Masalah foto aku sudah bilang pada kak Wulan, tapi kau tahu," Ulan terbahak, "kakakku itu benar-benar bodoh, dia percaya apa yang kukatakan."
"Memangnya apa yang kau katakan?"
"Aku bilang soal dirimu padanya. Aku bilang kau dan Niko masih mencintai satu sama lain. Tak mau Niko mengkhianatinya, aku memeluk Niko dan bermohon untuk tidak meninggalkannya."
"Lalu dia percaya?"
"Sepertinya iya, karena waktu aku bilang Niko menolak dan bilang masih mencintaimu, suaranya tak terdengar lagi. Mungkin dia sedang menangis di sana."
Viona dan Ulan terbahak.
Fanny mengepalkan tangan. 'Dadar perempuan gila. Berani-beraninya mereka mengerjai Wulan."
"Apa mungkin karena dia memutuskan Niko, sampai pria itu berubah pikiran dan mau menikahimu?"
Ulan menggeleng kepala. "Papaku memberi dua pilihan kepada Niko, menikahiku atau papanya meninggal."
Fanny tercengang di tempat duduk.
__ADS_1
"Papaku telah menyuruh orang untuk menculik om Handoko. Niko marah dan mendatangi papaku, dia membuat perhitungan dengan papa dan akhirnya mau menikahiku. Sepertinya dia lebih sayang papanya daripada kakakku."
Viona terbahak. "Padahal aku ingin menggoda Niko sekali saja."
"Memangnya dia mau?"
"Aku tidak yakin, tapi dengan minuman aku bisa mengajaknya ke ranjang. Aku rasa kau harus menginjikan aku melakukan hal itu. Dengan begitu, kesan di mata kakakmu Niko adalah pria brengsek. Jadi, meskipun kau menikah dengannya, kakakmu tidak akan merasa menyesal atau merasa bersalah. Bahkan dia merasa beruntung tidak jadi dinikahi Niko."
Fanny benar-benar geram. Rasanya ingin melabrak Viona dan Ulan. Untung saja pelayan datang dan menghentikan niatnya. Fanny pun terus menyimak dan menikmati makan malam dengan berita yang menurutnya sangat menarik.
"Habis ini kita mau ke mana?" tanya Viona, "Aku belum ingin pulang, aku ingin bersenang-senang sampai pagi."
"Mentang-mentang banyak uang. Eh, ngomong-ngomong, uang dua puluh miliar yang diberikan papaku kau apakan?"
"Aku depositokan lima belas miliar, sisanya aku pakai untuk bersenang-senang. Rencana aku ingin keluar negeri bulan depan. Kau mau ikut?"
"Ingin, tapi sebentar lagi aku akan menikah. Papaku pasti tidak akan mengijinkanku ke mana-mana."
"Kalau sudah menikah, apa kau akan bekerja lagi? Aku heran, orangtuamu sudah kaya, tapi kenapa kau masih bekerja?"
Fanny menatap sinis. 'Menikah ... percaya diri sekali kau akan dinikahi Niko. Merebut pacar orang dengan cara begitu mana mungkin direstui Tuhan. Lihat saja, aku akan membuat rencana kalian gagal.'
Tak mau berlama-lama di sana Fanny segera menyudahi makanannya. Ia bergegas sambil menghubungi Wulan.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah___"
***
Dengan ekspresi bahagia Jefry sedang duduk bersama Angelina di taman belakang. Setelah menikmati makan malam berdua ia mengajak sang istri untuk memberitahukan hal yang menurutnya sangat penting.
"Sayang, seandainya Niko melamar Ulan, apa kamu akan merestui mereka?"
Angelina menatap Jefry begitu lama. Senyum, mata dan bibir Jefry diperhatikan begitu teliti oleh Angelina.
__ADS_1
"Niko ingin melamar Ulan?"
"Benar," kata Jefry penuh percaya diri, "Seperti yang kukatakan padamu, jodoh tidak pernah salah."
Angelina terlalu penasaran, sehingga ia tidak bahagia dengan kata-kata suaminya. Berapa hari ini ia sering bicara dengan Wulan lewat telepon dan video call, tapi ia tidak pernah menanyakan soal hubungan putrinya dengan pria itu.
Sebagai orang tua Angelina punya batasan. Meskipun hal itu memprihatinkan, Angelina tidak ingin ikut campur dengan urusan pribadi Wulan. Selama putrinya tidak membahas soal hubungan pribadinya, Angelina pun enggan untuk bertanya.
"... rasa kepindahan Wulan ke luar kota ada sangkutpuatnya. Coba kamu pikir, setelah Wulan pindah kenapa Niko tiba-tiba ingin menikahi Ulan?"
"Aku tidak tahu perkembangan Niko dan Wulan. Kalau ucapanmu demikian, berarti kemungkinan besar hubungan Wulan dan Niko sudah berakhir."
Melihat ekspresi di wajah istrinya membuat Jefry berakting. "Maafkan aku, seharusnya aku tidak berkata begini. Aku tidak bermaksud bersenang-senang di atas penderitaan orang lain, aku hanya mengutarakan asumsiku terhadap jodoh. Ke mana pun kita bersembunyi, kalau sudah jodoh pasti tak ke mana."
Angelina mengangguk.
Jefry meraih sebelah tangan Angelina kemudian menggenggamnya. "Sekali lagi maaf. Aku tidak ingin memberitahukan hal ini, tapi pada siapa lagi aku berbagi cerita ini jika bukan kau, Istriku."
"Kau tidak perlu menyalahkan diri. Kamu benar, kalau jodoh tidak akan ke mana-mana."
"Awalnya aku pikir Niko ingin menawarkan kerja sama saat dia datang ke kantor tadi pagi. Nyatanya, dia datang padaku dan membahas soal Ulan. Dia ingin melamar Ulan menjadi istrinya."
Seandainya ada alasan tepat untuk meninggalkan Jefry sendirian di sana, Angelina akan mengambil ponselnya dan menghubungi Wulan. Ia ingin tahu masalah apa yang dialami putrinya sampai-sampai Niko berubah pikiran.
"Baru berapa hari berpisah, Niko sudah datang padaku dan ingin melamar Ulan. Tidakkah kamu berpikir, bahwa Tuhan telah merencanakan semuanya?"
"Aku percaya soal itu. Hanya saja, aku masih tidak percaya jika hati Niko begitu cepat untuk berpaling. Dia tidak mencintai Ulan dan katamu dia ingin melamar putrimu. Mungkin putriku berbuat salah, sampai akhirnya dia melepaskannya dan mencari wanita lain yang tidak dia cintai. Kamu harus waspada untuk itu, Jefry. Sikap Niko seperti itu bisa jadi akan membuat efek tidak bagus di masa depan."
"Kau benar, dia melampiaskan kesakithatiannya kepada putriku," Jefry menatap sedih, "Seandainya ibunya tidak ingin mereka menikah, aku tidak mau menikahkan putriku dengan pria seperti itu."
"Kau harus memikirkannya baik-baik. Benar ibu Ulan ingin mereka menikah, tapi dia akan lebih kecewa kalau melihat pernikahan putrinya tidak bahagia."
"Kamu benar, tapi bisa jadi setelah menikah Niko akan berubah dan mencintai Ulan seperti dia mencinta Ulan. Aku juga tidak bisa melarang mereka. Terlebih Ulan, dia masih sangat mencintai Niko. Dia yang menjalani, jadi biarkan dia yang merasakannya."
__ADS_1
Angelina tak mendengarkan perkataan Jefry. Ia terlarut dalam pikiran. Angelina masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. 'Niko melamar Ulan, ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba dia melamar Ulan?'
Bersambung__