
"Semoga Tuhan cepat mengambil nyamamu, Jefry!"
Tanpa ragu Niko memutuskan panggilan. Wajahnya merah karena marah.
"Tuhan, bantu aku ... bantu aku melewati ini. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku mencintai Wulan dan papaku, aku sangat mencintai mereka."
***
Dengan ekspresi lesu Wulan memasuki kontrakannya. Sulit menghubungi Niko membuatnya tak bersemangat lagi. Hari-hari yang ia lewati terasa begitu hampa.
Wulan melepaskan tas dan sepatu hak tingginya. Ia mengambil ponsel dan melihat foto-fotonya bersama Niko. Semua kenangan bersama pria itu membuat airmatanya menetes.
"Kesalahan apa yang kuperbuat sampai kau begitu cepat melupakanku, hah? Aku sangat mencintaimu, aku sangat mencintaimu, Niko."
Wulan berbaring dan menangis. Segala sesuatu yang pernah ia lakukan bersama Niko muncul dalam pikiran. Kejadian terakhir yang mereka lakukan membuatnya sakit.
"Kenapa kamu____"
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel menghentikan kata-kata Wulan. Ia mununduk, melihat nama di layar ponsel.
"Mama," katanya lalu menghapus air mata. Wulan berdeham untuk menstabilkan suara kemudian menyapa, "Halo, Mama?"
"Sayang, kamu di mana?"
"Aku baru saja pulang kerja. Ada apa, Ma?"
Pertanyaan Angelina membuat Wulan curiga. Intonasi yang dilontarkan bahkan terdengar cemas.
"Pernikahan Ulan dan Niko tak lama lagi, kamu yakin tidak akan memperjuangkan hubungan kalian?"
Wulan nyaris menangis. "Tidak, Mama. Mungkin aku dan Niko tidak berjodoh."
"Semua ini bukan kebetulan, Sayang. Mereka menjebak Niko. Kalau dia tahu yang sebenarnya, mungkin pernikahan ini tidak akan terjadi."
"Kalau pun semua ini tanpa intervensi, dia pasti akan memperjuangkanku apa pun yang terjadi. Nyatanya tidak sama sekali."
"Mama yakin, suatu saat semuanya akan terbongkar. Mama yakin."
"Aku tidak mau memikirkan itu lagi, Ma. Aku capek, aku ingin istirahat."
"Baiklah. Jaga kesehatanmu, Sayang."
"Pasti. Mama juga."
Setelah memutuskan panggilan Wulan menatap layar ponselnya, layar yang dipenuhi fotonya bersama Niko.
"Sampai kapan pun aku akan mencintaimu. Aku akan menunggumu, Niko."
Layar ponsel tiba-tiba berganti. Deretan nomor tak di kenal terpajang di sana. Dengan alis berkerut Wulan menyambungkan panggilan.
"Halo?"
"Selamat sore, Putriku. Apa papa mengganggumu?"
Wulan sangat mengenali suara di balik ponsel. Dengan senyum lebar dan ekspresi menyedihkan ia menyapa, "Papa ... Papa Handoko apa kabar?"
"Kabarku buruk, Sayang. Tanpa kamu di sini rasanya seperti neraka. Aku sangat merindukanmu, Nak."
__ADS_1
Mata Wulan berkaca-kaca. "Aku juga, aku sangat merindukan Papa."
"Papa tahu, Nak. Papa berharap kita bisa bersama dan melakukan keseruan seperti dulu lagi."
Ekspresi Wulan sedih. "Itu tidak mungkin terjadi Papa, sebentar lagi Papa akan mempunyai menantu."
"Itu tidak benar, Sayang. Papa hanya ingin menantu sepertimu, seperti gadis cantik bernama Wulan Irawan, bukan Wulan Tanujaya."
Wulan terkejut. "Papa tahu nama belakangku?"
"Tentu saja papa tahu. Papa sangat mengenal papa kandungmu, Nak. Papa bisa menjadi saksi, bahwa papamu orang yang sangat baik dan bijaksana."
Wulan menangis.
"Sayang, jangan menangis. Papa minta maaf sudah mengingatkanmu kepada beliau."
Wulan menarik cairan hidungnya. "Aku menangis bukan karena itu Papa, seandainya beliau masih hidup, beliau pasti akan bahagia memiliki besan seperti Papa. Beliau pasti setuju aku mendapatkan mertua seperti Papa."
"Papa akan selalu menjadi papamu, Nak. Sampai kapan pun Handoko Lais akan selalu menganggapmu putri papa."
Wulan terharu mendengar kata-kata Handoko. Namun, mengingat sikap Niko yang tak ingin memperjuangkan hubungan mereka membuatnya sedih.
"Terima kasih, Papa. Sebentar lagi Papa akan memiliki menantu, berarti Papa akan memiliki dua putri sekaligus."
"Wulan, apa kamu percaya padaku?"
"Tentu saja, aku tidak punya alasan untuk tidak mempercayai Papa."
"Sungguh?"
"Iya, Papa."
Mata Wulan berkaca-kaca.
"Percaya atau tidak, dia hanya mencintai Wulan Irawan, bukan Wulan Tanujaya."
"Aku percaya soal itu, Papa. Hanya saja aku sedikit kecewa padanya, dia sama sekali tidak memperjuangkan hubungan kami."
"Itu tidak benar, Sayang ... Niko bukan tidak memperjuangkan hubungan kalian, ada sesuatu yang membuat Niko harus mengambil keputusan itu. Di posisi sekarang, keputusan itu sudah tepat."
Wulan tampak berpikir.
"Percayalah, Tuhan selalu bersama orang-orang benar dan sabar. Tuhan memberi ujian ini kepada kalian bukan kebetulan. Tuhan membawa kalian sampai ke tahap ini karena ada sesuatu yang ingin Tuhan sampaikan."
Wajah papa tirinya tiba-tiba terlintas di benak Wulan. "Apa Papa tahu kalau semua ini ada sangkutpautnya dengan papa Jefry?"
"Apa yang membuatmu berpikir begitu?"
"Sejak awal Niko datang ke rumah, papa Jefry sudah menunjukkan ketidaksetujuannya di hadapanku. Dia tidak ingin aku menjalin hubungan dengan Niko. Kemarin Fanny mereka pembicaraan Ulan dan Viona di sebuah caffe. Topik mereka tentang jebakan untuk Niko dan uang dua puluh miliar yang diberikan papa Jefry kepada Viona."
"Benarkah? Apa rekaman itu ada padamu?"
"Ada, aku akan mengirimnya kepada Papa setelah ini."
"Syukurlah kamu sudah mengetahui yang sebenarnya, Sayang. Jujur papa sangat berhati-hati dengan masalah ini. Papa menyinggungmu dan mamamu, biar bagaimanapun Jefry adalah bagian dari kalian."
"Mungkin itu dulu, sekarang tidak lagi. Aku rasa mama juga pasti akan setuju."
"Apa mamamu tahu soal rekaman itu?"
__ADS_1
"Fanny memberikannya kepada mama, tapi mama tidak bisa berbuat banyak. Mama ingin mencaritahu dulu alasan suaminya tega melakukan ini. Mungkin kalau mama tahu yang sebenarnya, mama akan menceraikannya."
"Papa akan membantu mamamu, Nak. Percayalah, papa akan memberikan keadilan untukmu dan mamamu."
Alis Wulan berkerut. "Keadilan?"
"Kamu akan mengetahuinya nanti. Sekarang istirahatlah, papa akan mencari cara untuk menemuimu."
Wulan tersenyum haru. "Terima kasih, Papa."
"Sama-sama, Sayang. Dan ingat ... Niko sangat mencintaimu, dia mencintaimu sekarang dan selamanya."
Wulan meneteskan air mata ketika panggilannya terputus. Sesak di hatinya seakan berkurang setelah mendengar suara Handoko.
Ponselnya kembali bergetar. Dilihatnya nama Fanny terpajang di sana.
"Halo?" sapa Wulan sambil menarik cairan hidung dan menghapus airmatanya.
"Kau di mana, kau baik-baik saja?"
Wulan berbaring, menghadap langit-langit kamar. "Aku baik-baik saja. Aku hanya capek, pekerjaanku sangat banyak. Kurang asupan vitamin membuatku terkena flu,"bohongnya.
"Ngomong-ngomong pekerjaan, aku punya kabar buruk padamu."
"Apa itu?"
"Pak kepala sudah berapa hari tidak masuk kantor. Menurut mereka beliau sedang dirawat di rumah sakit, keadaannya sekarang sedang koma."
Wulan terkejut. Ia terduduk. "Koma, kenapa bisa?"
"Aku juga baru sadar setelah salah satu karyawan membahas soal keadaan pak kepala. Katanya pak kepala masuk rumah sakit sehari setelah kamu berangkat. Menurut informasi yang kudengar beliau kecelakaan mobil setelah pulang kantor. Aku sih tidak percaya soal itu."
"Sehari setelah aku berangkat?"
"Iya, dan aku baru menyadari keberadaan pak kepala kemarin. Saking sibuknya aku tidak memperdulikan kehadirannya. Lagi pula beliau hampir tidak pernah berkomunikasi denganku. Jadi mana kutahu kalau beliau tidak masuk kantor sejak hari itu."
"Kenapa kamu tidak mempercayainya?" alis Wulan berkerut.
"Tidak masuk akal saja, sih menurutku. Aku rasa ada seseorang yang mencelakainya."
"Apa maksudmu? Kecelakaan tidak ada yang tahu, Fanny. Mungkin saja hari itu Tuhan sudah mentakdirkan pak kepala untuk kecelakaan. Buktinya aku, siapa sangka Niko akan berpaling padaku demi adikku sendiri."
Fanny mengendus. "Tadi aku menemuinya. Aku rasa dia sudah dipelet oleh adikmu, dia mengusirku, Wulan. Niko bahkan tidak mau bicara padaku. Kau tahu dia bilang apa, dia bilang, 'Kalau tujuanmu ke sini ada sangkutpautnya dengan Wulan, lebih baik kau kembali saja, aku sibuk, tidak ada waktu meladenimu,' Bukankah dia sudah gila?"
"Untuk apa juga kamu menemuinya. Aku tidak menyuruhmu, kan?"
"Aku hanya ingin memperlihatkan rekaman itu padanya. Bukannya mendengarkanku, dia malah mengusirku."
Wulan menarik napas panjang. "Baru saja papanya menghubungiku, dia akan membantuku menangani masalah ini. Aku harus mengirim rekaman itu padanya. Oh, Fanny, aku benar-benar tidak percaya semua ini akan terjadi. Aku masih tidak percaya kalau papa sambungku adalah sutradara di balik ini."
"Aku rasa ada sesuatu yang kita tidak ketahui. Kamu harus mencaritahunya, Wulan."
"Tentu saja. Kalau begitu aku putuskan panggilanmu, aku akan mengirim rekaman itu kepada papanya Niko," Wulan mengendus, "Aku berharap ada keajaiban untukku, Fanny."
"Kau masih mengharapkan Niko, ya?"
Wulan berdecak. "Percaya atau tidak, kata papanya dia sangat mencintaiku. Dia mencintaiku sekarang dan selamanya."
Bersambung____
__ADS_1