
Handoko terdiam cukup lama. Setelah sadar ia menatap Brian dan Darius. "Cucu? Niko akan memberiku cucu?"
Kedua orang itu tersenyum.
"Niko?!" panggil Handoko.
Pria itu berhenti, berbalik menatap ayahnya.
"Buatkan papa cucu yang banyak dan gemoy-gemoy. Kalau bisa lima cucu. Apa kau sanggup?!" Handoko terbahak.
Niko tak menjawab dan langsung berbalik menuju kamarnya. Ia tertawa dengan sikap Handoko seperti itu.
"Gemoy-gemoy dan banyak? Itu donat atau anak?"
***
Seperti yang sudah dibicarakan semalam, hari ini Wulan akan menghabiskan waktunya bersama Niko.
Pakaian dan peralatan yang dibutuhkan sudah diatur sedemikian rupa ke dalam koper. Takut ada yang ketinggalan, Wulan memeriksa lagi untuk memastikan tidak ada yang lupa.
Sekarang ini sudah pukul delapan pagi. Wulan sudah mandi, wangi, bahkan penampilannya sangat rapi.
Niko menyarankan untuk langsung ke bandara setelah mereka bersama. Jadi, tidak ingin ke rumah lagi, Wulan sudah menyiapkan semua bawaannya dan tinggal menunggu dijemput oleh sang pujaan.
Wulan juga sudah berpamitan kepada Angelina, bahwa Niko lah yang akan mengantarnya ke bandara.
Tok! Tok!
Bunyi ketukan pintu membuatnya terkejut. Dengan suara lembut ia mengijinkan sosok di balik itu masuk sambil mengunci kopernya.
"Kakak, kamu sudah mau berangkat?"
Suara Ulan mengejutkan Wulan. Ia kemudian berbalik dan menatap Ulan.
"Iya. Apa papa dan mama tidak memberitahumu?"
Akibat perlakuan Jefry padanya yang sangat berbeda waktu Niko datang ke rumah pertama kali, sejak itu Wulan enggan memberitahu tenang masalah pribadinya kepada mereka.
Apa pun yang meyangkut Niko, Wulan tidak ingin ayah dan anak itu mengetahuinya. Yang penting Angelina sudah mengetahuinya, itu sudah cukup bagi Wulan. Termasuk keberangkatannya sekarang ini. Seandainya malam itu Jefry tidak bersama Angelina, Wulan tidak akan terpaksa mengumumkan soal kepindahannya.
"Justru karena mama yang memberitahunya aku ke sini. Bukankah jadwal penerbangannya jam delapan malam, kenapa Kakak sudah bersiap dari sekarang?" Ulan mengamati bawaan Wulan, "Bawaan Kakak tidak banyak, kenapa harus buru-buru, Kak?"
"Aku mau menghabiskan waktu bersama Niko. Sebelum meninggalkannya dengan waktu yang lama, aku akan berduaan dengannya sampai jadwal keberangkatanku tiba."
Wulan sudah berubah. Ia tak perlu lagi menjaga perasaan Ulan ketika membahas soal Niko. Sikap Jefry padanya tempo hari membuatnya kesal.
Baginya sebagai papa sambung tidak seharusnya Jefry begitu. Jadi sebagai korban, Wulan sama sekali tak peduli meskipun Ulan cemburu atau sakit hati mendengar ucapannya barusan. Ia berharap adik tirinya itu akan sadar dan tidak ikut campur soal hubungannya dengan Niko.
Sayangnya apa yang Wulan harapkan tidak sesuai ekspektasi. Ekspresi Ulan begitu bahagia mendengar alasan kakaknya.
"Itu bagus, Kak. Kakak akan meninggalkannya dalam waktu lama. Ibarat kata, Kakak harus membuat Niko kenyang sampai batas waktu Kakak kembali. Kakak harus memberikan service yang enak, biar Niko tidak lapar atau tidak mencari wanita lain."
__ADS_1
Wulan terkejut. "Apa maksudmu?"
"Bukan maksud apa-apa," Ulan sedih, "Kakak kan akan tinggal di luar kota dalam waktu yang lama. Memangnya Kakak yakin Niko tidak akan macam-macam, bukankah Kakak sendiri yang bilang, Niko itu play boy?"
Secara normal apa yang dikatakan Ulan benar. Niko seorang play boy, tapi pria itu sudah berubah semenjak membangun hubungan serius dengannya.
"Aku mempercayai Niko, dia tidak akan macam-macam meskipun kami berjauhan."
"Syukurlah kalau begitu. Tapi kalau dia macam-macam, aku tidak akan segan-segan memarahinya. Aku tidak ingin dia menyakiti Kakak."
Wulan tersenyum. "Percayalah, Niko tidak seperti itu."
Drtt... Drtt...
Baru ingin menjawab ponsel Wulan bergetar. Ulan yang tadinya ingin mengatakan sesuatu, akhirnya tidak jadi karena gangguan tersebut.
Melihat nama Niko membuat Wulan tersenyum. "Orang yang kita bicarakan menelepon. Mungkin dia sudah datang."
Ulan tak menjawab. Ia menatap Wulan yang kini sedang berbicara di balik telepon. Ia mengamati setiap ucapan yang keluar dari bibir kakaknya.
'Lihat saja nanti, aku akan membuatmu menangis karena Niko. Laki-laki yang kau inginkan itu adalah laki-laki yang tidak baik. Lihat saja, aku akan membuat Niko meninggalkanmu dan menikahiku.'
"Aku ke bawah dulu, Niko sudah tiba."
Suara Wulan menyadarkan Ulan dari pikirannya. Spontan ia segera berdiri dan membantu Wulan.
"Ayo, aku akan membantu Kakak membawa barang-barang ke dalam mobil."
Wulan tidak protes. Ia membiarkan Ulan membawa bawaannya menuju mobil.
"Dia sudah di depan, Ma."
Angelina yang baru saja muncul dari ruangan lain langsung meraih bawaan Wulan yang lain dari tangannya.
"Biar mama bantu."
Ketika wanita itu sama-sama keluar rumah.
Niko tersenyum melihat mereka. Pria tampan itu langsung menyapa Angelina dan mencium tangannya.
"Halo, Tente."
Angelina tersenyum dan mengusap punggung Niko.
"Halo, Nak. Bagaimana kabarmu?"
"Kabarku kurang baik, Tante. Aku rasa Tante juga demikian."
Guyonan Niko membuat Angelina tertawa.
Melihat itu hati Wulan bahagia. Sang pujaan hati pintar sekali merebut hati mamanya.
__ADS_1
Berbeda dengan Wulan, hati Ulan begitu sakit menyaksikan moment di depannya. Hatinya teriris-iris melihat Niko menggandeng tangan Wulan yang bersandar di bahunya. Seandainya ada papanya bersama mereka saat ini, mungkin mereka tidak akan menyakitinya seperti ini.
"Sayang, kamu jaga diri baik-baik ya di sana? Jangan terlambat makan, kesehatanmu sangat penting," kata Angelina. Matanya berkaca-kaca.
Wulan memeluknya. "Mama jangan khawatir. Pecinta kuliner seperti aku tidak akan kelaparan."
"Mama benar, Kakak," timpa Ulan tiba-tiba. Ia sengaja melontarkan kepedulian dan ekspresi bahagia agar Niko dan Wulan menganggap dirinya tidak cemburu, "sekalipun Kakak pecinta kuliner, kalau sudah sibuk kerja Kakak pasti terlambat makan. Itu sudah terbukti, kan?"
Wulan mendekat dan memeluknya. "Terima kasih. Aku titip mama, ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku."
"Kak Wulan tenang saja, aku dan papa akan menjaga mama."
Niko tak bereaksi apa-apa. Ia hanya diam dan berdiri dengan ekspresi datar.
"Satu lagi, Kak," ucap Ulan tiba-tiba. Semua orang menatapnya kecuali Niko, "Jangan macam-macam di sana, Kakak kan sudah punya kak Niko."
Saat itulah Niko menatap Ulan dengan alis berkerut. Walaupun tak berkata apa-apa, ia bisa menebak makna dari ucapan dan intonasi Ulan.
"Baiklah. Aku pergi dulu, ya. Mama juga jaga kesehatan, ya. Aku janji, setiap hari akan video call Mama."
"Itu harus, Sayang," Angelina menangis.
Wulan ikut menangis. "Mama jangan sedih, aku tidak akan lama. Aku janji."
Tak ingin terbawa suasana, Niko segera menaruh barang-barang Wulan ke dalam koper.
"Ayo, papa sudah menunggu. Papa sudah menyiapkan makanan kesukaanmu."
Wulan sedikit terkejut, tapi tidak berkata apa-apa.
"Oh, jadi itu alasan Wulan tidak mau sarapan," ledek Angelina, "Ternyata karena papamu, ya."
Wulan tersenyum malu.
Angelina tersenyum. "Niko, kamu yang akan mengantar Wulan ke bandara, kan?"
"Itu pasti, Mama. Mama tenang saja."
Ulan terpaku. 'Mama, Niko memanggil mama dengan sebutan mama?' katanya dalam hati. Hatinya sungguh sakit mendengar itu.
"Baiklah, kami pergi dulu. Sampai jumpa."
"Hati-hati, ya. Kabari mama kalau sudah tiba."
"Itu pasti, Ma."
Begitu Niko dan Wulan masuk ke mobil, Ulan segera berpaling menatap Angelina.
"Kak Wulan dan Niko benar-benar pasangan yang serasi."
Angelina mengusap pipinya. "Sebagai manusia kita hanya berencana, Tuhan yang menentukan."
__ADS_1
"Mama benar, tapi pria tampan seperti Niko pasti banyak yang incar. Apalagi aku dengar Niko seorang playboy."
Bersambung___