JOHN SI TENTARA BAYARAN

JOHN SI TENTARA BAYARAN
BAB 002 - 20 SAMPAI 30 MENIT.


__ADS_3

Setelah Joh menyelesaikan pekerjaannya, ia duduk di sofa bekas untuk beristirahat.


John membuka botol minuman dan meminumnya untuk menghilangkan rasa hausnya.


John bersandar di sofa dan memejamkan matanya sejenak. John sangat menikmati hidupnya yang sudah tenang dan meninggalkan masa lalunya yang kelam.


John pun tertidur di sofa dan terbangun saat sore, karena mendengar ponselnya yang berbunyi.


*KRIING!!


John pun mengangkat ponselnya, menerima panggilan itu.


Sepertinya, panggilan itu berasal dari bos di tempat kerja John, yang menyuruhnya untuk memperbaiki spanduk milik kandidat calon wali kota di New York.


Mulai dari sana lah, hidup John yang semula tenang, kini harus dihadapkan masalah yang tak mudah.


John pun bergegas menaiki mobil pick up nya, lalu menuju ke gedung milik wali kota, untuk membenarkan spanduknya.


Mobil pick up John melewati depan gedung yang sangat tinggi dan megah.


Disana juga terpampang banyak spanduk untuk memilih kandidat calon wali kota.


Sesampainya John gedung itu, ia mengambil semua peralatan untuk membenarkan spanduk dan masuk ke dalam gedung.


Saat di gedung, terlihat salah satu karyawan gedung yang melarangnya masuk.


“Ada perlu apa, Pak?”


“Seorang memintaku datang kemari untuk memperbaiki spanduk di gedung ini,” jawab John.

__ADS_1


“Maaf, Pak. Kami sudah tutup. Apa kau mempunyai tanda pengenal?”


“Tidak.”


Sudah lama John tak tinggal di kota itu, hingga ia sudah tak memiliki KTP, atau tanda pengenal lainnya.


“Kau tak boleh masuk. Kembalilah esok hari.”


“Sial.”


Saat John akan pergi dan keluar dari gedung itu, ada seorang wanita paruh baya yang memanggilnya.


“Tunggu anak muda. Tunggu sebentar.”


Wanita itu sepertinya salah satu OB yang bekerja di gedung itu.


Wanita itu menegur salah satu petugas yang melarang John untuk memperbaiki spanduk.


“Aku masih tak bisa mengizinkannya, karena dia tak mempunyai tanda pengenal.”


Petugas itu tetap tak memperbolehkan John untuk masuk.


“Ckckckck. Kau dalam masalah besar sekarang. Manajer pun juga akan dimarahi oleh Nyonya besar.”


“Apa? Nyonya akan memarahinya?”


Petugas itu kaget dan takut, ketika mendengar jika Nyonya, istri dari wali kota akan marah besar.


“Ya. Nyonya akan marah, jika spanduknya tak segera dibenarkan.”

__ADS_1


Akhirnya, petugas itu pun memberikan izin John untuk masuk dan membenarkan spanduk. yang berada di atap gedung.


John bersama petugas dan wanita paruh baya itu pun menaiki lift bersama.


“Butuh berapa lama untuk memperbaikinya?” tanya petugas pada John.


“Kurasa, sekitar 20 sampai 30 menit,” jawab John.


“Astaga.”


Petugas itu sepertinya mengeluh karena baginya, waktu itu adalah cukup lama.


“Terimakasih, Bibi.”


John pun berterima kasih pada wanita paruh baya yang membantunya untuk masuk.


“Itu bukan apa-apa, anak muda. Orang seperti kita yang dibayar per hari tak boleh buang-buang waktu.”


“Putraku juga sedang bekerja mati-matian saat itu, karena ekonomi yang buruk.”


“Omong-omong, hari ini cukup berangin. Apa kau akan baik-baik saja?”


Wanita itu mengkhawatirkan John yang hanya memakai kaos dalam tipis dan kemeja lusuh yang tak dikancing.


“Aku akan baik-baik saja.”


John pun tersenyum pada wanita paruh baya yang telah memperhatikannya itu.


Sejak umur 20 tahun John tak pernah mendapatkan kasih sayang atau perhatian dari siapapun.

__ADS_1


__ADS_2