JOHN SI TENTARA BAYARAN

JOHN SI TENTARA BAYARAN
BAB 022 - IBU YANG BIJAK.


__ADS_3

“Astaga. Sudah kubilang, aku tak mau! Rasanya sangat aneh, seolah-olah kita bukan saudara kandung. Tidak. Tidak. Aku tak bisa melakukan itu!”


“Tapi kita memang tak sedekat itu, bukan?”


Roy pun hanya tersenyum sinis saat mendengar perkataan kakak kandungnya sendiri.


“Pejabat Deny! Waktunya untuk berita! Semua kamera sudah berada di halaman rumah sakit.”


Salah satu pengawal Deny memanggil Deny untuk menemui para reporter dan wartawan yang sudah menunggu di luar rumah sakit.


“Benarkah? Baiklah, kalau begitu.”


Deny mengambil memakai jasnya kembali dan bersiap untuk menemui para wartawan dan reporter yang telah menunggu.


“Nikmati waktumu bersama, Presdir Roy. Aku tahu kau sudah lama tak bertemu kakakmu. Aku akan pergi sekarang. Permisi.”


“Semoga berhasil, Kak. Semangat!”


Roy pun ikut memberi ucapan semangat pada kakak iparnya.


“Semangat!” balas Deny yang tersenyum pada Roy.


“Kemarilah sebentar!”


Agnes memanggil Deny sebelum ia pergi menemui wartawan.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Deny.


“Mendekatlah. Lebih dekat lagi.”


Deny pun mendekat di tempat tidur Agnes.


Agnes membuka kancing kemeja Deny yang paling atas, lalu mengacak-acak rambutnya, agar terlihat sedikit berantakan.


“Kau harus terlihat berantakan, untuk memainkan peran sebagai seorang suami yang menunggu istrinya, yang sakit semalaman.”


Deny pun hanya tersenyum, saat Agnes melakukan itu untuknya, agar terlihat memang Deny lah yang merawat Agnes, saat ia berada di rumah sakit semalaman.


“Kau benar-benar istri yang hebat dan ibu yang bijak.”


“Oh tidak. Kutarik kembali kata ‘Ibu Yang Bijak’, karena kau belum mempunyai anak.”


Deny dikawal oleh Jack, sebagai ketua PASGA dan beberapa anak buahnya lagi, untuk menemui para reporter yang berada di halaman rumah sakit.


Setibanya Deny di halaman rumah sakit, para reporter dan wartawan mulai menyerbu dan mendekati Deny yang berjalan keluar dari rumah sakit.


“Bagaimana keadaan Nyonya saat ini, Pejabat Deny? Menurut anda ini ulah siapa?”


“Apa anda sudah berbicara dengan Pejabat Tom?”


“Tolong katakan sesuatu, Pak!”

__ADS_1


“Bagaimana perasaanmu?”


Para reporter dan wartawan itu mulai menyerbu Deny dengan berbagai macam pertanyaan untuknya.


Deny menarik nafas sedalam dalamnya dan,


“Bagaimana perasaanku?”


Deny memegang kepalanya dan berpura-pura terlihat pusing dan sangat sedih dengan keadaan istrinya.


“Apa yang mungkin aku rasakan, saat istri yang kujaga semalaman hampir mati karena aku?”


“Yang dia tahu hanyalah mengurus orang lain. Namun, dia sekarang terluka dan harus meminum obat penghilang rasa sakit, serta obat tidur untuk meringankan penderitaannya.”


“Selama itu, aku hanya bisa menonton. Aku adalah suami yang buruk. Komentar macam apa yang kalian inginkan dariku?”


Para reporter dan wartawan pun hanya diam, karena telah hanyut dengan sandiwara yang dibuat oleh Deny.


“Istriku menyerahkan segalanya untukku. Dia menyerahkan posisinya sebagai pewaris konglomerat dan semua hak istimewa yang menyertainya.”


“Tapi dia malah menjalani hidup yang berat sebagai istri seorang politisi yang miskin sepertiku.”


“Aku adalah pria yang jahat di masa mudaku. Aku terlibat dalam banyak protes politik dan tidur di lantai penjara yang dingin di kantor polisi.”


Deny pun mulai mencoba agar lebih terlihat dramatis lagi dengan berpura-pura menangis di depan para reporter dan wartawan.

__ADS_1


“Aku membuatnya menderita sejak saat itu. Aku yang menyimpang karena kemarahanku terhadap situasi, tak bisa meraih tangan yang diulurkannya kepadaku.”


__ADS_2