
Ia membuat bom yang bisa dikontrol dengan remot, agar ia bisa meledakkannya dari jarak jauh.
Saat bom itu telah berhasil dirakit dan di telah diuji coba oleh John, ia ingin segera meluncurkan serangannya pada Tom disaat yang tepat.
Pada suatu pagi, terlihat Tom yang berada di sebuah gedung hotal yang mewah.
Gedung itu dijaga oleh semua pengawal Tom. Mereka berjaga di pintu masuk di lobi dan bahkan di setiap sudut hotel.
Tom pergi menuju ke tukang cukur profesional yang berada di dalam hotel untuk merapikan rambut dan memotong kumis dan jenggotnya yang sudah lebat.
John memakai setelan kemeja putih dengan jas hitam dan celana hitam.
John menyamar agar ia terlihat seperti pengawal Tom yang menggunakan baju yang sama.
John berdiri di luar gedung, mengamati keadaan gedung dari luar.
Setelah ia telah mengetahui keberadaan semua pengawal Tom, ia pun mulai memasuki gedung dan menempelkan sebuah chip berukuran kecil di pintu masuk hotel gedung itu.
Saat dia sudah berada di dalam, ia bergegas menuju tempat cukur, dimana Tom berada.
__ADS_1
John berpura-pura sebagai pelanggan yang juga ingin mencukur rambutnya di sana.
Ia melihat Tom yang sedang duduk di depan kaca dan bersiap untuk dicukur.
John duduk di kursi yang tak terlalu dekat dengan Tom, agar ia tak ketahuan dan masih bisa mendengarkan semua perkataan Tom.
John melepas jas dan meletakkannya di lemari yang tersedia untuk para customer yang datang di sana.
John mengambil koran dan membacanya sembari menunggu tukang cukur yang akan merapikan rambutnya.
Sebelum Tom selesai mencukur rambutnya, John meminta si pencukur untuk cepat menyelesaikan potongan yang tersisa, tanpa memberi shampo dan mencukur kumis dan jenggot yang tersisa.
“Apa? Bagaimana dengan cukur wajah dan shamponya?”
“Tak apa. Aku bisa melakukannya sendiri. Aku sangat terburu-buru saat ini.”
“Astaga. Baiklah kalau begitu, Tuan.”
Tukang cukur itu pun mulai melepas kain yang di kalungkan di leher John dan mendampingi John untuk mengambil jasnya yang berada di lemari.
__ADS_1
Saat John akan mengambil Jasnya, ia mengeluarkan sebuah alat penyadap berukuran kecil dari saku jasnya, lalu memasukkannya ke dalam saku jas milik Tom.
John pun bergegas pergi dari tempat itu dan kembali ke lobi, duduk di sofa yang berada dekat pintu masuk hotel.
Saat Tom telah selesai dengan cukurnya dan akan keluar melalui pintu gedung hotel, Joh bersiap untuk menekan remot agar bom, tepat meledak saat Tom berjalan melewati pintu gedung.
John pun berdiri dan sangat yakin jika Tom akan terkena dengan jebakannya.
Akan tetapi, rencana yang telah disiapkan John telah gagal, saat ada anak kecil yang berlari keluar mengejar ayahnya.
Anak kecil itu berlarian mendahului Tom dan para pengawalnya melewati pintu yang telah dipasang bom oleh John.
“Tunggu, Nak! Berhenti!”
Salah satu pengawal Tom yang berada di dekat John pun menegur anak kecil yang berlarian dan mendahului Tom.
Untungnya, John tak sempat untuk menekan tombol remot, saat anak kecil itu akan melewati pintu gerbang, yang akan dilewati Tom dan para pengawalnya.
John sangat takut saat anak kecil itu akan melewati pintu yang telah dipasangkan bom olehnya, karena bisa saja bom itu meledak walau John tak menekan tombol remot.
__ADS_1