
Saat mereka berbincang, John datang kembali dan melihat Agnes yang sudah berada di ruang medis tempat Anna dirawat.
“Hei kalian! Ikuti aku!”
Setelah Agnes memasuki ruangan Anna, Marco memanggil Jane, Bibi pembantu rumah untuk menghadapnya di ruangan Marco.
Di luar ruangan itu hanya ada 2 pengawal Agnes yang menunggu di depan pintu.
Salah satu dari pengawal itu memegang pundak, menghalangi John, saat ia akan melihat apa yang akan dibicarakan oleh Agnes dari kaca pintu.
“Apa? Sekali lagi kau menyentuhku, aku akan mematahkan tulang hidungmu.”
Pengawal itu langsung menciut nyalinya saat John mengancam akan menghancurkan tengkoraknya. ia hanya mundur beberapa langkah dan tetap menjaga di luar ruangan bersama satu orang pengawal lainnya.
John terus mendekatkan telinganya pada pintu dan berusaha mendengar apa yang sedang diperbincangkan oleh Agnes.
Di dalam ruangan medis, terlihat Agnes tersenyum sinis dan berjalan, lalu duduk di samping Anna yang sedang duduk di kasurnya.
Anna sangat membenci dan tak menerima kehadiran Agnes, karena ia tahu, Agnes hanya ingin membuatnya semakin marah.
“Astaga. Malang sekali nasibmu. Bahkan disaat seperti ini, ayahmu tak datang untuk melihat keadaanmu.”
__ADS_1
“Aku yakin dia tak akan pernah mendatangimu kemari, sama seperti saat ibu kandungmu mati, ayahmu juga tak datang ke pemakamannya, bukan?”
Agnes terus memprovokasi dan memancing kemarahan Anna.
Begitupun Anna yang hanya diam dan melotot menatap Agnes degan wajah yang tak mengenakkan.
“Jangan pernah berharap ayahmu akan datang kemari. Para ayah memanglah seperti itu. Aku tahu karena aku juga pernah menjadi anak perempuan.”
“Kebanyakan anak perempuan punya perasaan yang istimewa pada ayah kandungnya. Akan tetapi, semua ayah sama saja seperti itu. Mereka tak akan tahu perasaan kita.”
“Kau pasti berpikir, bahwa ayahmu adalah satu-satunya yang kau punya, nyatanya, kau tak terlalu berarti baginya. Kau hanyalah bagian kecil dari masa lalunya.”
“Kalau begitu, maka biarkanlah aku bertemu ayahku. Aku sendiri yang akan menanyakan secara langsung padanya,” ucap Anna.
“Bagaimana caranya? Kau ingin aku menyeretnya kemari, saat dia sendiri yang tak mau menemuimu?”
“Bahkan pasangan pun harus punya etika satu sama lain. Jika ayahmu tak mau menemuimu, apalagi yang harus kulakukan?”
“Dasar wanita picik! Bahkan ayahku tak pernah mencintaimu sama sekali. Kau hanya menggunakannya sebagai boneka.”
Anna masih terus membantah dan berusaha balik memancing emosi Agnes.
__ADS_1
“Hahahaha. Itukah yang dikatakan oleh ibu kandungmu sebelum ia meninggal?”
Agnes malah tertawa karena ia telah berhasil membuat Anna semakin marah padanya.
“Tentu. Aku sudah paham perasaan ibumu. Dia pasti sangat membenciku.”
“Akan tetapi, ada hal yang belum kau ketahui tentang ibumu sepenuhnya, karena kau masih terlalu muda untuk mengetahuinya dulu.”
“Sulit bagi orang-orang seperti kita untuk mengerti. Apa kau tahu apa tujuan hidup semua pejabat, Anna?”
“Hhhh. Kau hanya dimanfaatkan oleh ibumu untuk memeras ayahmu. Itulah yang sebenarnya terjadi.”
“Dia mungkin ibu yang baik untukmu. Akan tetapi, pasti berat bagimu mempunyai ibu yang kecanduan dengan alkohol.”
*BRAKK!!!
“Hentikan! Itu sudah cukup!”
John yang telah mendengar semua percakapan mendobrak pintu, lalu memasuki ruangan dan menghentikan percakapan antara Agnes dan Anna.
Dua pengawal lain yang sedang berjaga pun tak bisa mencegah John, karena mereka juga takut, jika John akan menghajarnya di tempat itu.
__ADS_1