
“Karena itulah saat Anna kembali ke Amerika, aku menganggapnya itu sebuah tuntutan Tuhan untukku, agar aku menjadi ayah yang baik baginya.”
“Itu sebabnya aku tak mau menemui Anna dan kau tak perlu membawaku kemari.”
“Saat ini, tak ada gunanya meratapi hal yang sudah terjadi. Maka itu, kau harus menepati janjimu, John. Kumohon padamu.”
“Baiklah. Sekarang sudah saatnya, untuk membuat putriku yang malang semakin sedih.”
Deny menenangkan dirinya sebelum ia turun dari mobil dan masuk ke dan masuk ke dalam gedung.
Marco dan beberapa anak buahnya pun datang keluar dari kantor untuk menyambut Deny dan membukakan pintu untuknya.
“Ada apa kau datang kemari, Pejabat Deny?” tanya Marco saat Deny keluar dari dalam mobil.
“Antar aku ke ruang medis. Aku akan menemui gadis itu.”
“Baik, Pak. Aku akan mengantarmu.”
Marco dan beberapa anak buahnya pun mengantarkan Deny ke ruang medis untuk bertemu dengan Anna.
John segera turun dari mobil, lalu menyusul Deny yang sudah berjalan ke ruangan medis.
Dokter klinik juga menyambut Deny saat ia telah berada di ruang medis.
“Kalian boleh pergi dari sini, aku akan berbicara dengannya.”
“Baik, Pak.”
__ADS_1
Dokter, Marco dan beberapa pengawal lainnya pun pergi meninggalkan ruangan medis.
Hanya John yang sedang berdiri dan menunggu Deny dari luar ruangan.
Saat Deny memasuki ruangan, ia melihat Anna yang sedang berbaring membelakanginya.
Deny memegang pundak Anna dan berkata,
“Anna, ayah datang. Bangunlah, tak ada orang lain saat ini. Kau bisa bicara dengan ayah sekarang.”
Deny terus membujuuk Anna yang memejamkan matanya walau raut wajahnya akan menangis.
Setelah Deny mengusap air mata di pipi Anna,
“Ayah!!!!”
“Astaga, Putriku yang malang.”
Deny menepuk-nepuk pundak Anna yang menangis dan terus memeluknya dengan erat.
“Maafkan aku, Anna. Aku telah gagal menjadi ayah yang baik untukmu,” gumam Deny dalam hati.
“Aku sangat merindukanmu, Ayah.”
“Ya. Ayah juga sangat merindukanmu, Anna.”
Deny pun juga mulai menangis karena tak kuat menahan kesedihan yang telah dirasakan Anna selama ini.
__ADS_1
“Baiklah, Anna.”
Deny melepaskan pelukan Anna dan menatap mata Anna.
“Astaga. Putriku sudah sangat dewasa sekarang. Kau sudah pantas untuk menikah, Nak.”
Deny pun tersenyum dan mulai menghibur Anna dengan ucapannya.
“Bersabarlah, Anna, dan tunggulah sebentar lagi. Saat aku sudah menjadi Presiden. aku akan memilih pria yang baik untukmu.”
“Kau juga boleh berkencan dengannya dan juga bermain bersama teman-temanmu yang lain. Hidupmu akan lebih menyenangkan jika itu terjadi.”
“Saat waktunya telah tiba, aku akan menikahkanmu dengan pria yang jauh lebih baik dariku, agar dia dapat membahagiakanmu.”
“Jadi, kau tak perlu khawatir sekarang.”
“Ayah, kau harus dengarkan aku! Ibu tak mati bunuh diri! Aku ingat semua yang terjadi di malam itu.”
Anna pun mulai membahas tentang kematian ibu kandungnya.
“Saat aku pergi ke kamar ibu, dia sudah berada dalam keadaan tak sadarkan diri.”
“Aku juga melihat seseorang yang berada di kamarnya saat itu. Dia menyorotkan senter ke mataku, agar aku tak bisa mengenali wajahnya, lalu kabur saat aku kesakitan.”
Anna terus bercerita tentang apa yang telah ia lihat sebenarnya, saat ia masih sangat kecil.
“Anna. Itu semua sudah berlalu. Kau harus melupakan itu mulai sekarang.”
__ADS_1