
“Hahahaha. Bagaimana? Kau setuju?”
Agnes terus membujuk John agar ia mau bergabung dengannya.
“Tampaknya kita sudah bertemu di saat yang tepat, dalam situasi yang sempurna. Bukan begitu, temanku?”
Agnes terus merayu John dengan memanggil John sebagai temannya dan tersenyum menatap John.
John hanya diam dan belum bisa memberikan jawaban yang pasti, karena ia juga sedang memikirkan, apa pilihan yang tepat untuknya.
***
Keesokan harinya, John telah memutuskan untuk bergabung dan menjadi salah satu pengawal di keluarga Deny dan Agnes.
Sam memberi John tempat tinggal khusus untuknya, yang telah disiapkan oleh Agnes, jika John jadi bergabung bersamanya.
Tempat tinggal baru John berada di sebuah apartemen kecil yang juga terletak di gedung milik Deny.
Gedung itu sangatlah besar dan megah, di belakang gedung terdapat lapangan untuk berlatih dan berlari, bagi siapapun dari keluarga besar Deny yang ingin berolahraga.
Setelah membereskan pakaiannya, John mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga, lalu berlari memutari lapangan untuk memulihkan kondisi tubuhnya kembali.
__ADS_1
John memakai celana training panjang berwarna hitam dan sepatu, serta kaos polos yang menutupi tubuh kekarnya.
John terus berlari walau tangannya masih terbalut dengan gips.
Saat John berlari memutari lapangan, lagi-lagi ia teringat pada mendiang mantan pacarnya yang dibunuh oleh anak buah Tom.
John terus berlari walau tangannya masih terbalut dengan gips dan pikirannya yang sedang kacau.
Setelah mendapat 10 kali putaran dan mendapat keringat yang cukup banyak, John bergegas menuju gedung, menemui dokter khusus yang bekerja di gedung Deny untuk melepas gips di tangannya.
Setibanya John masuk ke dalam gedung, semua mata karyawan dan semua orang yang berada di dalamnya tertuju pada John.
Para karyawan wanita pun juga ikut melihat John, sepertinya, mereka semua terpesona dengan aura John yang memang cukup tampan, apalagi saat masih tersisa keringat yang berada di jidatnya.
John terus berjalan menuju ruangan dokter, mengabaikan semua orang yang melihatnya.
Sesampainya John di ruang dokter, ia duduk di kursi dan menunggu dokter yang akan melepas gipsnya.
“Astaga! Tuan John! Selamat datang! Apa kau mau melepas gips?”
Dokter pun terlihat senang saat menyambut John yang datang. Begitupun John yang membalas dokter dengan senyuman kecil.
__ADS_1
“Ya. Bolehkah aku melepasnya sekarang? Aku merasa tanganku sudah pulih kembali.”
“Ya, tentu saja. Silahkan duduk. Tunggulah sebentar!”
Si Dokter pun mulai mengambil peralatan untuk melepas gips dari tangan John.
Setelah gips dilepas dari tangan, John mulai menggerakkan tangannya dan memijatnya pelan-pelan, untuk meregangkan otot di tangannya.
“Bagaimana? Kau tak apa? Apa masih sakit?” tanya Dokter.
“Ya. Aku baik-baik saja, Dok. Ini semua berkatmu. Terimakasih banyak.”
John tersenyum pada dokter dan pamit untuk langsung pergi dari sana.
Saat John keluar dari ruangan dokter, salah satu pengawal utusan Sam memanggil John untuk menemui Sam di ruangannya.
Sesampainya John di ruangan Sam, terlihat Jack yang juga berada di sana untuk menghadap Sam.
Saat John masuk ke dalam ruangan, Jack langsung melihat John dengan tatapan sinis.
Jack sebagai ketua dari pasukan PASGA, sepertinya masih tak terima pada John yang telah menghajar habis anak buahnya tempo hari.
__ADS_1