JOHN SI TENTARA BAYARAN

JOHN SI TENTARA BAYARAN
BAB 021 - PENGAWAL YANG TANGGUH.


__ADS_3

“Omong-omong, bagaimana dengan keadaan pria yang dibawa kemari bersamaku?”


“Pria itu? Apa dia pengawalmu?” tanya Dokter pada Agnes.


Agnes hanya tersenyum saat Dokter mengatakan bahwa John adalah pengawal pribadinya.


“Kami pasang gips pada ibu jari kaki kirinya. Dia juga mengalami sedikit keretakan pada tulang, tapi hasil pemindaiannya sangat normal.”


“Begitukah? Itu sungguh melegakan untukku,” ucap Agnes.


“Fisiknya sangat kuat, jadi dia akan baik-baik saja. Sepertinya pengawal itu dilatih dengan baik.”


Seorang dokter rumah sakit pun juga mengakui, bahwa fisik John sangatlah kuat.


“Jika kau yang terkena benturan seperti yang dialaminya, itu akan sangat buruk untukmu, Nyonya. Betapa beruntungnya dirimu mendapatkan pengawal yang sangat tangguh.”


Dokter itu terus mengatakan bahwa John adalah pengawal pribadi Agnes.


“Menurutmu, dia akan sadar malam ini?” tanya Agnes.


“Ya, tentu saja. Mungkin dia sudah bangun saat ini. Baiklah. Kalau begitu, aku permisi dulu. Jika kau butuh sesuatu, tolong hubungi aku kapan saja, Nyonya.”


“Baiklah, Dok.”


Dokter itu pun pergi meninggalkan kamar Agnes setelah memberi salam pada Agnes dan Deny yang juga berada di kamar itu.

__ADS_1


Deny beranjak dari sodanya, lalu berjalan mendekati Agnes yang berada di kasur.


“Soal pengawal atau tukang spanduk, atau siapapun itu, semua akan menjadi lebih sulit, apalagi jika dia membuka mulutnya, nanti,” ucap Deny pada istrinya.


“Aku akan gunakan dia sebagai pengawal pribadiku.”


Entah apa tujuan Agnes yang berniat untuk menjadikan John sebagai pengawal pribadinya.


“Menurutmu dia akan setuju?” tanya Deny.


“Setuju? Kita belum tahu, jika tak mencobanya. Apa itu penting untukmu?” Agnes bertanya balik pada Deny, yang membuatnya terdiam.


“Aku harus mempertahankan orang yang paling aku waspadai, agar tetap berada di sisiku”


“Seperti, Anna?” sahut Deny.


Deny terus memperingatkan Agnes agar ia tak berbuat macam-macam pada anak kandungnya.


Saat Deny akan pergi dari sana untuk menghadapi para wartawan, seorang pria pun masuk ke dalam kamar, tempat Agnes dirawat.


“Kakak! Siapa yang melakukan ini padamu? Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat sangat kacau sekali.”


Pria itu adalah Roy, adik kandung Agnes yang menjabat sebagai presdir di sebuah perusahaan.


“Lain kali kali ketuk dulu sebelum masuk ke kamarku. Bersikaplah sopan,” ucap Agnes.

__ADS_1


“Astaga. Maafkan aku, Kak.”


“Kau di sini juga, Kakak ipar?”


Roy pun juga menyapa Deny yang sedang duduk di sofa.


“Astaga. Bagaimana kabarmu, Presdir Roy?”


Deny beranjak berdiri dan menyalami Roy.


“Aku masih sama seperti dulu, Kak.”


Roy pun kembali melihat kakaknya yang terbaring di kasur dengan raut muka yang ketus.


“Kau tak apa, Kak? Pasti ini ulah Tom, bukan? Astaga. Aku sudah menduganya.”


Adik Agnes pun juga mengira bahwa ini semua memang ulah Tom, yang juga mencalonkan diri sebagai wali kota dan akan menjadi musuh Deny saat pemilu tiba.


“Entah. Aku tak tahu,” jawab Agnes.


“Tidak. Aku yakin itu pasti ulah Tom. Dia bisa melakukan yang lebih buruk dari itu. Dasar, bajingan!”


“Astaga. Aku keceplosan! Sungguh tidak sopan! Hahahaha. Maafkan aku, Kak.”


Roy menutup mulutnya yang tak sengaja berkata kasar di depan kakak dan kakak iparnya.

__ADS_1


Deny hanya tertawa karena sudah tau dengan kelakuan konyol Roy.


“Presdir Roy. Jika kau tampak ingin sopan di depan orang lain, kau harus bicara formal denganku, bukan begitu?” ucap Agnes.


__ADS_2