
“Dan apa yang kulakukan jika aku menekannya?’ tanya Agnes.
“Entahlah. Mungkin kau akan pingsan jika aku tak menemukanmu.”
John pun pergi dari sana setelah memberikan alat penyadap berbentuk pulpen itu pada Agnes.
Agnes hanya tersenyum pada John saat ia berjalan pergi meninggalkannya, lalu pergi ke sebuah ruangan di dalam gedung untuk berkumpul dengan keluarga besarnya.
Saat John akan masuk ke dalam mobilnya, Jack bertanya,
“Hei, apa yang kau berikan pada, Nyonya?”
“Hanya pena,” jawab John.
“Hei, aku serius.”
“Itu hanya pena. Tipe X Cerdas MC-1308.”
John pun masuk ke dalam mobil.
Jack yang tahu bahwa itu adalah sebuah alat penyadap yang digunakan oleh para militer hanya diam, dan tak terpikirkan olehnya saat John akan memberi itu pada Agnes.
Jack pun menyusul John yang sudah berada di dalam mobil.
“Pena itu sangat bagus untuk menulis dan tahan terhadap semua gangguan sinyal. Sayangnya, jangkauan sinyalnya sangat terbatas.”
John mengeluarkan sebuah radio dari saku jasnya, yang digunakan untuk mendengarkan sesuatu, jika Agnes menekan pulpen yang telah ia berikan.
__ADS_1
“Kuharap aku tak sering menggunakan ini lagi.”
John meletakkan radio itu di dashboard mobil dan menatap Jack yang memalingkan pandangan saat John menatapnya.
John mengubah kursi duduknya dan merebahkan dirinya di dalam mobil.
“Hei. Kenapa kau tak punya rasa hormat kepada atasanmu?” tanya Jack yang melihat John bertingkah seenaknya sendiri.
“Karena aku memang tak menghormatimu,” jawab John ketus.
“Menghormati atasanmu di dalam organisasi adalah hal paling mendasar dari sosialisasi…”
“Ya. Terserah apa katamu. Aku memang tak mempunyai etika dasar.”
John memotong ucapan Jack yang membuat Jack semakin kesal padanya.
Jack terus bertanya pada John yang membuat John semakin muak karena jack terus bertanya.
“Sudah kubilang aku orang yang kasar, ,tak punya etika, jadi, jika kau tanya kenapa aku kasar, ya karena itulah diriku.”
John kembali meluruskan badannya dan menatap Jack.
“Baiklah. Kau benar,” ucap Jack yang sudah mulai malas memberi tahu John karena sifat keras kepalanya.
“Tak masalah bagimu bukan, jika aku tak punya etika?” tanya John.
“Terserah kau saja,” jawab Jack.
__ADS_1
“Kalau begitu, berhentilah. Jangan berbicara padaku lagi.”
John kembali mengubah kursi duduknya dan merebahkan dirinya lagi.
“Astaga. Kau tak bisa berhenti bersikap kasar?”
Jack kembali bertanya yang hanya diabaikan oleh John.
*TUUUUT!!!!
Tiba-tiba radio itu berbunyi dan semua percakapan yang berada di dalam ruangan itu bisa didengar oleh John. Sepertinya, Agnes telah menekan pena itu sekali.
“Wo. Alatnya berbunyi,” ucap Jack yang terkejut.
John mengambil radio itu dan mendengarkan semua apa yang sedang dibicarakan di dalam ruangan.
Semua keluarga Agnes sedang membicarakan pembagian warisan yang ditinggalkan oleh mendiang, terutama yayasan dan perusahaan IP Group yang saat ini dikelola oleh Agnes, sebagai pewarisnya.
Saat semua keluarga Agnes sedang memojokkan Agnes dan memintanya untuk menjual perusahaan, tiba-tiba radio yang dibawa oleh John mati.
Sehingga, John tak bisa mendengar semua percakapannya dengan selesai.
“Ada apa?” tanya Jack.
“Bukankah ini aneh menurutmu?”
John mulai curiga dengan keadaan di dalam ruangan kumpul.
__ADS_1
“Astaga. Kau bicara apa? Kau tak bisa dengar? Mereka semua hanya berebut warisan. Dia sengaja mematikan alat ini, agar kita tak bisa mendengar nya,” ucap Jack.