
Sebenarnya, sangat mudah melakukan itu bagi John. Ia bisa melumpuhkan dan membunuh semua pengawal Tom, saat berada di ruangan sempit, seperti di dalam lift.
Itu merupakan salah satu keahlian John, bertarung di tempat yang sempit. Tapi ia tak mungkin melakukan itu saat ia sedang berada dalam kondisi yang tak sehat.
Saat John akan mengambil pistol milik salah satu pengawal Tom, tiba-tiba ia merasa pusing dan sesak di dadanya, yang membuat pengawal yang menjaga John pun juga ikut panik.
Tangan John bergetar sangat kencang dan ia memegang dadanya yang terlihat sesak.
“Argh!!!”
“Hei, kau baik-baik saja?”
Anak buah Agnes yang menjaga John pun ikut khawatir dengan kondisi John yang terlihat sulit untuk bernafas.
Tom hanya menoleh kebelakang dan mengabaikan John yang kesakitan.
Sepertinya, Tom belum mengingat John sepenuhnya saat itu, karena umur Tom yang sudah sangat tua.
Pengawal yang mengawasi John pun merangkul John agar tak terjatuh, lalu membawanya keluar saat pintu lift telah terbuka.
“Ya ampun. Banyak sekali orang sakit di sini,” gumam Tom yang masih berada di dalam lift dan melihat John sedang dirangkul keluar oleh salah satu anak buah Agnes.
__ADS_1
Pintu lift pun tertutup kembali, saat John sudah berada di luar.
Dengan nafas terengal-engal, John masih terus memegangi dadanya karena merasakan sesak nafas.
Dengan posisi menunduk John masih melihat Tom dengan jelas, saat pintu lift menutup dan membawa Tom turun ke lantai dasar.
Saat sesak nafasnya semakin parah, John jatuh berjongkok sambil menahan rasa sakit yang ia rasakan.
“Kau baik-baik saja? Ada apa denganmu? Kau sesak?”
Pengawal yang menjaga John pun terlihat semakin khawatir dan bingung apa yang harus ia lakukan untuk menolong John.
“Siapa? Maksudmu, pria yang berambut putih tadi? Astaga. Kau tak tahu? Apa kau bercanda?”
“Dia adalah Pejabat Tom. Dia kandidat presiden terkuat sekarang, yang akan bersaing dengan Pejabat Deny di pemilu.”
“Aku juga sangat yakin, dia lah yang mengirimkan pasukan untuk meneror gedung, saat kau membenarkan spanduk waktu itu.”
John pun mulai flashback dan kembali mengingat masa lalu, saat ia melihat mendiang mantan pacarnya yang dibawa oleh anak buah Tom, dan dibunuh di depan matanya.
Pengawal yang menjaga John pun kembali merangkul John dan membawanya kembali ke kamar untuk beristirahat.
__ADS_1
Sesampainya John di kamar dan pengawalnya sudah pergi, John kembali memikirkan hal yang menyakitkan baginya itu.
“TOM, BRENGSEK!!!!!!! KENAPA KAU LAKUKAN ITU? AKU AKAN MEMBUNUHMU!!!”
John berteriak sekencang-kencangnya dan memukuli kasurnya, walau tangannya sedang di perban.
Setelah menenangkan diri, John kembali beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuhnya.
***
Beberapa minggu berlalu, keadaan John pun telah cukup pulih dan dapat segera keluar dari rumah sakit.
Saat John sudah keluar dari rumah sakit, John berencana untuk membuat serangan dadakan pada Tom.
John meminta bantuan kepada Sam, untuk menyediakannya tempat dan peralatan untuk merakit sebuah bom yang akan ia gunakan untuk meneror Tom.
Dengan senang hati, Sam pun membantu John untuk mewujudkan keinginannya.
Walau Sam tak tahu, apa yang sebenarnya terjadi, antara John dan Tom.
John mulai merakit sebuah bom dengan ledakan kecil di ruangan khusus, yang telah disediakan oleh Sam, yang membantunya.
__ADS_1