
“Karena itu, semua tempat di rumah ini bisa terpantau dari ruangan ini.”
John yang berdiri pun malah berjalan-jalan di dalam ruang kerjanya yang baru, dan melihat-lihat apa yang ada disekelilingnya.
John mulai mencoba duduk di kasur yang empuk dan melihat beberapa layar monitor yang berada di ruangan itu.
“Ada pengawasan 24 jam dan rekamannya diarsipkan secara otomatis setiap 24 jam.”
Pengawal itu mulai kesal karena John tak memperhatikan penjelasannya sama sekali.
“Shift malam dimulai pukul sembilan malam hingga pukul enam pagi, sampai ada orang yang kemari untuk menggantikanmu. Ditambah satu jam lagi. Jadi, kau bisa pergi pukul tujuh pagi.”
“Itu saja. Ada pertanyaan?”
“Nggak,” jawab John singkat.
John pun duduk di sofa yang cukup terlihat mewah dan nyaman.
“Baiklah…”
“Apa katamu? Nggak?” tanya Pengawal yang semakin emosi.
“Ya. Nggak,” jawab John.
“Kau memakai bahasa tak formal kepadaku?”
“Ya. Kenapa memangnya?” tanya John.
Pengawal itu masih berdiri dan menatap John yang sedang duduk santai berbicara padanya.
“Dasar tak sopan.”
__ADS_1
Pria itu bergumam lirih.
“Hei! Dasar brengsek! Aku tahu berapa usiamu, kau lebih muda dariku, kenapa kau tak sopan? Aku lebih senior disini daripada kau, Brengsek!”
Pengawal itu berteriak dan memaki John.
“Sttt. Hei! Aku dengar kau dari pasukan khusus dan pernah berada di militer, itu yang kudengar dari Letnan,” ucap John.
“Ya. Itu benar! Kenapa?”
Pria itu membentak John dan melepas jas yang masih dipakai dan melemparnya ke kursi.
Ia seperti terlihat akan mengancam untuk memukuli John, tapi ia masih ragu untuk melakukan itu.
“Aku berada di Divisi 040-151. Bagaimana denganmu?” tanya John.
Pengawal itu langsung menciut dan kembali duduk di kursi, karena mendengar pangkat John yang lebih tinggi darinya.
John berdiri dari sofa dan berjalan mendekat pengawal yang sedang duduk dan menundukkan kepalanya di kursi.
“Tapi, bukankah kita sudah berada di perusahaan keamanan sekarang, Senior.”
Akhirnya pengawal itu memanggil John dengan senior karena ketakutan jika John juga akan menghajarnya.
John kembali duduk di sofa dan menghela nafas panjang, lalu menyuruh pengawal itu untuk membuatkan kopi untuknya.
“Buatkan aku kopi!”
“Ya, Senior. Tapi, kami hanya mempunyai kopi instan,” jawan pengawal yang masih duduk terdiam.
“Ya. Buatkanlah aku itu.”
__ADS_1
“Baiklah, Senior. Apa kau suka pahit?”
“Ya. Buatlah dua,” ucap John.
“Astaga. Aku tak suka kopi, tak perlu.”
“Tidak. Keduanya untukku,” sahut John.
“Oh, begitu. Baiklah.”
Pengawal itu bergegas berdiri dan membuatkan kopi untuk John.
“Hei! Kau bawa rokok? Tinggalkan rokokmu disini.”
John meminta rokok pengawal itu, sebelum dia pergi untuk membuatkan kopi.
“Ada di saku jas milikku, pemantiknya juga.”
“Baiklah. Kau boleh pergi.”
Setelah jam menunjukkan pukul sembilan malam, John duduk di depan layar monitor dan menikmati kopi yang dibuat oleh pengawal yang sudah pulang dari sana.
John mengangkat kakinya dan meletakkannya di meja depan layar monitor.
Ia merasa sangat bosan karena pekerjaannya yang sekarang sama sekali tak membutuhkan tenaga.
Mata John tertuju pada layar monitor yang menunjukkan Anna yang keluar dari kamarnya.
Anna mengenakan kimono dan berjalan keluar dari kamarnya. Ia berjalan dan melangkah perlahan menuruni anak tangga menuju dapur.
Langkah Anna terhenti saat ia tepat berdiri di depan kamera CCTV.
__ADS_1
Saat John menekan tombol zoom dan memperbesar di layar monitornya, Anna menatap ke arah kamera CCTV yang membuat John terkejut, saat melihatnya dari layar monitor.
“Astaga, kau mengagetkanku. Apa? Apa yang kau lakukan? Apa maumu?”