
Roy pun memberikan stopmap yang ia bawa kepada Anna.
Stopmap itu ternyata berisi berkas-berkas yang menunjukkan kematian ibu kandung Anna yang tak wajar.
Ibu kandung Anna dinyatakan telah meninggal dengan bunuh diri di masa itu.
Akan tetapi, berkas itu menunjukkan ada sesuatu yang mengganjal dan membuktikan bahwa ibu Anna tidak meninggal dengan bunuh diri.
“Itu berkas dari polisi, Anna. Di dalamnya tertulis semua kasus mendiang ibu kandungmu yang telah lama meninggal.”
Anna pun mulai membuka berkas itu dan membaca lembarannya satu per satu.
Berkas itu sangat menunjukkan bahwa kematian ibu Anna bukanlah sekedar bunuh diri. Akan tetapi, ada hal lain yang sangat mengganjal dan memperlihatkan bahwa itu suatu pembunuhan.
Mendiang ibu kandung Anna terlihat kesakitan dengan jari yang patah dan luka di beberapa bagian tubuhnya, yang menandakan ia sedang bertarung dan memberontak dengan orang yang akan membunuhnya.
Roy pun mengajak Anna untuk mengadakan pers dan membuka semuanya di depan pers.
***
Semua wartawan dan seluruh media pun heboh seketika saat Anna mulai memberitakan hal itu.
Agnes yang mendengarnya pun sangat amat terkejut dan ketakutan dengan tindakan Anna di depan pers.
Begitu pula dengan John, ia masih bertanya-tanya kenapa Anna melakukan hal itu di depan pers tanpa sepengetahuannya dahulu.
Celakanya adalah apa yang diucapkan oleh Anna, sangat jauh berbeda dengan apa yang diucapkan Agnes saat ia berada di salah satu stasiun TV untuk siaran langsung.
Semua perkataan mereka pun berbeda yang membuat publik dan wartawan bertanya-tanya dan mulai curiga dengan itu semua.
Saat wawancara di stasiun TV, Agnes mengatakan bahwa ibu kandung Anna meninggal dengan cara bunuh diri, sedangkan Anna mengatakan bahwa ibunya mati dengan cara dibunuh dan itu semua telah direkayasa, saat dia berada di depan pers.
Anna juga mengatakan, bahwa ia akan memecahkan sendiri misteri di balik kasus kematian ibu kandungnya yang dianggap hanya bunuh diri.
Anna sangat yakin itu bukan sebuah bunuh diri karena, ibu kandungnya sangat tidak terobsesi dengan ketenaran yang ia miliki saat itu.
Ibu kandung Anna juga tak kesulitan sama sekali secara ekonomi, dan bahkan sempat membuatkan paspor untuk Anna, untuk berlibur bersama ke Korea.
Dan di hari meninggalnya ibu kandung Anna, mendiang sudah memesan tiket pesawat untuk berangkat ke Korea. Dan sebelum kematiannya mendiang juga tak meninggalkan wasiat sama sekali.
Itu lah yang membuat Anna semakin yakin bahwa mendiang ibunya tak meninggal dengan bunuh diri dan ingin memecahkan kembali misteri itu dengan pihak yang berwajib.
Agnes yang sudah berada di rumahnya pun marah dan ketakutan saat melihat apa yang dilakukan Anna di depan pers.
Ia tak tahu apa yang sedang direncanakan oleh Anna dan adiknya sendiri.
Agnes sangat menyesal karena tak menuruti apa kata asistennya untuk membunuh Anna daripada harus menahannya hingga datanglah John yang siap untuk melindunginya saat ini.
John yang melihat berita itu dari mobilnya pun langsung memutar balik mobilnya dan pergi ke gedung tempat Anna dan Roy mengadakan pers.
Sesampainya di gedung, John menuju ruangan tempat Anna beristirahat.
Ia melihat Anna yang sedang duduk dan terlihat ngos-ngosan setelah berbicara di depan pers.
John pun langsung menghampiri Anna dan menanyakan apa yang telah diperbuat olehnya.
“Anna, apa yang sedang kau pikirkan? Kenapa kau malah muncul di depan pers hingga membuat semua orang yang ingin membunuhmu mengetahuinya?”
Anna pun menunduk dan masih diam saat John bertanya padanya.
“Astaga, kau tak perlu cemas, John.”
Roy pun datang dan masuk ke dalam ruangan Anna.
“Apa ini perbuatanmu? Apa kau yang memaksanya untuk ini?” tanya John kepada Roy.
John sangat khawatir dengan apa yang dilakukan oleh Anna, karena itu dapat mengundang Agnes akan berbuat lebih nekat lagi untuk memburu Anna.
“Tidak. Paman tak menyuruhku sama sekali. Aku sendiri yang ingin melakukan ini. Aku hanya ingin membuka topeng yang dipakai Agnes,” ucap Anna.
“Baiklah. Aku akan pergi dulu.”
Roy pun keluar kembali dan pergi dari ruangan itu.
Saat Roy telah pergi, John pun kembali bertanya pada Anna.
“Anna, kenapa kau melakukan ini?”
“Aku hanya ingin balas dendam kepada Agnes, dan Paman Roy akan membantu kita, aku pun juga punya kau yang akan melindungiku.”
Anna pun memberikan berkas tentang kematian ibunya kepada John yang diberi oleh Roy sebelumnya.
__ADS_1
“Lihatlah. Ibuku tidak mati dengan tenang setelah minum obat tidur. Dia menggeliat kesakitan hingga salah satu tulangnya patah sebelum ia benar-benar meninggal.”
John terus melihat isi berkas itu dan terdiam saat melihat kematian mendiang ibu kandung Anna yang tak wajar.
Setelah selesai dengan urusan persnya, Roy mengajak Anna pergi ke studio foto miliknya untuk mengambil foto Anna.
John, Jane dan salah satu pengawal yang berjaga di rumah persembunyian Anna pun mengikuti dan mengawal kemanapun Anna pergi.
Saat Anna sedang di rias, John mengajak Roy untuk berbicara di lobi gedung tempat studio foto berada.
“Kupikir Presdir hanya sibuk mencari uang, ternyata aku salah. Kau bahkan punya banyak waktu untuk melakukan hal lain, seperti ini contohnya,” ucap John.
“Bekerja hanya untuk buruh tani, John.”
Roy pun hanya tersenyum mendengar ucapan John.
“Lantas, bagaimana dengan presdir sepertimu? Apa yang mereka lakukan?”
John pun duduk di sofa yang berada di lobi, begitupun Roy yang juga mengikutinya dan duduk di sebelah John.
“Presdir? Semua orang sepertiku? Kami hanya berperang. Kami membangun istana dan menjarahnya, lalu memperluas wilayah kami. Setelah itu, buruh tani lah yang mengolah tanah yang kami miliki.”
“Lalu kami berperang lagi, membayar buruh tani, dan begitu seterusnya, hingga kami mendapatkan kekayaan dan kekuatan yang tak terbatas. Hahahahaha.”
Roy tertawa dan menjawab dengan santai pertanyaan dari John.
“Hmmmm. Begitukah? Menurutku, Anna hanya bukanlah perisai untuk melindungimu dari Agnes. Akan tetapi, Anna adalah sebuah pedang yang bisa kau gunakan untuk menebas leher kakakmu sendiri. Bukan begitu?” ucap John.
“Wahhh. Itu lebih terdengar seperti perkataan pepatah. Dari mana kau mendengar belajar hal seperti itu, John?”
“Ya, memang. Perkataanmu sangatlah benar. Aku hanya ingin Anna membalas kematian ibunya yang tak wajar. Ia juga sangat yakin bahwa kakakku juga terlibat dalam kematian ibu kandungnya.”
“Dan aku bisa melindungi IP Group tanpa mendapat gangguan atau ancaman dari siapapun itu. Apa itu merupakan hal buruk bagimu, John? Keadilan akan ditegakkan dan aku akan melindungi istanaku.”
Roy terus beralasan dengan mengeluarkan kata-kata yang indah saat menjawab pertanyaan dari John.
“Jadi, itu sebabnya kau menunjukkan kepada gadis yang mempunyai gangguan serangan panik, berkas berisi kasus tentang kematian ibunya dengan sengaja?”
John terus menyudutkan Roy dengan pertanyaan yang terus ia berikan.
“Gadis? Hahahahahaha. Kurasa kau salah, John. Lihatlah sendiri. Wanita yang kau cintai bukan seorang gadis lagi. Apa kau tak melihatnya? Dia sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik.”
John pun hanya diam dan memikirkan perkataan Roy yang ada benarnya, jika Anna bukan seorang gadis kecil lagi. Anna sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang sudah cukup umur untuk mengetahui semua hal.
“Dia bukan seorang gadis lagi, John. Dia hanya membutuhkan seseorang yang akan memberinya sayap lebar untuk memberinya kehangatan.”
“Benar. Kau benar, Anna bukan gadis kecil lagi, dan umurnya pun sudah beranjak 26 di akhir tahun.”
“Akan tetapi, kurasa kau belum banyak tentang kakakmu, walau kau telah mengawasinya sepanjang hidupmu.”
“Karena jika kau mengenalnya dengan baik, kau tak akan pernah melakukan hal beresiko seperti membawa Anna ke pers dan ke studio ini untuk berfoto.”
“Kakakmu bukanlah seorang wanita biasa. Dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia mau. Kau pun akan mengetahui dengan sendirinya maksud ucapanku ini.”
John pun berjalan pergi menuju balkon studio untuk merokok dan meninggalkan Roy.
John duduk di kursi yang berada di balkon dan menunggu Anna yang sedang berfoto.
Saat waktu istirahat tiba, Roy memberikan waktu istirahat kepada Jane dan salah satu partner yang juga bekerja di rumah persembunyian Anna untuk beristirahat dan mencari makan siang.
Roy pun juga pergi dengan mobilnya bersama para anak buah yang mengawalnya. Terkecuali John, ia masih berada di balkon dan menikmati rokok dan kopi yang baru ia pesan.
Dan saat itulah, kejadian buruk harus menimpa John dan Anna kembali.
Sebuah mobil van berukuran besar muncul. Mobil itu berhenti tepat di depan studio foto milik Roy yang hanya dijaga oleh beberapa penjaga saja.
Sepuluh orang berseragam khusus pun keluar dari mobil itu dan menyerang semua anak buah Roy yang menjaga studio foto.
Setelah berhasil melumpuhkan semua penjaga, segerombolan orang itu kembali ke dalam mobilnya dan mengambil sesuatu yang mereka sembunyikan di dalam box berukuran besar.
Mereka pun kembali masuk ke dalam studio dan melancarkan aksi mereka.
Entah siapa yang mengirim orang itu, belum diketahui sama sekali dengan waktu saat ini.
Segerombolan orang itu masuk ke dalam studio dan mengenakan seragam lengkap beserta topeng yang berfungsi untuk melindungi mata mulut dan hidung, seperti apa yang digunakan oleh tukang las.
Setelah memakai semua peralatan yang lengkap, mereka mengeluarkan granat yang mengeluarkan asap yang cukup banyak.
Sepertinya granat itu adalah asap beracun yang sangat berbahaya bila orang biasa menghirupnya dengan waktu yang lama.
Segerombolan orang suruhan itu mulai membuka granat dan melemparnya ke setiap sudut studio yang membuat studio penuh dengan asap berbahaya.
__ADS_1
Kembali pada John yang sudah menghabiskan rokoknya. Saat ia akan membuang puntung rokok, John melihat beberapa orang dengan seragam masuk dan menutup akses pintu masuk studio.
John juga melihat semua anak buah Roy telah tak sadarkan diri dan terkapar di halaman studio.
John bergegas menuju ke ruangan rias Anna dan menyelamatkannya terlebih dahulu.
Saat melihat asap dari lantai bawah, John langsung mencari cara dan berpikir bagaimana cara untuk menyelamatkan Anna dari tempat itu.
John pun telah berada di lantai dua di ruangan rias Anna berada. Anna yang sedang duduk pun terkejut saat John masuk dan terlihat panik.
“Anna. Kemarilah!”
“Kenapa? Ada apa denganmu?” tanya Anna.
“Ada segerombolan orang yang sedang mengincarmu, mereka telah menutup pintu masuk studio.”
“Tak ada cara lain. Kau harus melarikan diri lewat atas. Ayo cepat keluar dari sini.”
John menyusun meja dan kursi untuk Anna agar ia bisa kabur melewati plafon yang terbuka.
“Bagaimana caraku keluar?” tanya Anna saat John menarik lengannya dan menyuruhnya untuk segera naik.
“Tenang saja, Anna. Kau pasti bisa keluar.”
“Lantas, bagaimana denganmu sendiri?”
Anna balik mengkhawatirkan, John.
“Kau tak perlu cemaskan aku. Aku bisa mencari jalan keluar sendiri.”
“Tidak. Tidak bisa. Kalau begitu, aku akan ikut bersamamu. Aku tak mau kabur sendirian.”
“Anna, dengarkan aku. Orang-orang itu menyemprotkan gas beracun. Orang yang tak tahan dengan gas itu, akan mati jika menghirupnya terlalu lama. Apa kau paham?”
John terus membujuk Anna yang masih tak ingin kabur sendirian.
“Gas? Gas beracun?” tanya Anna.
“Ya. Benar. Mereka membawa gas beracun. Kau tak perlu takut. Bukankah kau tahu, aku pandai berkelahi? Aku akan mengurus mereka dahulu, lalu kabur menyusulmu nantinya. Cepatlah keluar dari atas.”
John pun terus mendorong Anna agar ia mau naik ke meja dan keluar melalui salah satu plafon yang terbuka.
“Tidak! Tidak! Aku tak mau! Aku mau ikut denganmu!”
Anna pun masih keras kepala dan tak mau menuruti John, saat John memaksanya untuk kabur dahulu.
“Anna, akan lebih sulit jika kita bersama. Akulah yang harus melindungimu!”
Mereka berdua pun malah beradu mulut karena Anna masih bersikap keras kepala.
“Apa kau hantu? Bagaimana kau akan berkelahi saat semua gedung ini penuh dengan gas? Jangan coba keluarkan aku sendirian. Mari kita keluar bersama, John.”
Saat John menoleh ke belakang, ia melihat asap yang sudah mulai memasuki ke dalam ruang rias Anna.
“Tak ada waktu, Anna kau harus pergi!”
“Tidak! Aku tak mau!!”
“ANNA!!!! KUMOHON!!!!!”
John pun berteriak dengan kencang karena sikap Anna yang keras kepala dan tak mau menuruti apa kata John.
Seketika Anna pun terdiam saat John meneriakinya.
“Dengarkan aku, Anna. Aku mohon padamu, Anna. Jika kita tetap bersama, kita berdua akan mati di tempat ini. Aku akan kesulitan melawan mereka saat kau bersamaku. Cepat, naiklah!!”
Akhirnya, Anna pun menuruti John dan menaiki kursi dan meja yang telah ditumpuk John untuk naik ke plafon yang terbuka.
Saat Anna telah berhasil memasuki plafon, John pun berjalan ke telepon kantor yang tergeletak di ruangan itu.
Ia pun mencoba menghubungi Agnes.
Saat ia menghubungi Agnes, asisten pribadinyalah yang mengangkat telepon dari John.
“Ya. Ada apa?” tanya asisten pribadi Agnes.
“Sambungkan aku dengan majikanmu. Aku ingin bicara dengannya.”
“Dia sedang sibuk. Kau bisa bicara denganku saat ini,” ucap asisten.
“Oh. Jadi ini semua ulahmu?” tanya John.
__ADS_1