
Tanpa banyak berkata, pria itu mengeluarkan pistolnya dari ikat pinggang, lalu membuangnya di rumput yang berada di kaki bukit, tempat mereka berpapasan.
Sepertinya, pria itu memang bukan sembarangan orang biasa. Ia lebih memilih untuk membuang pistolnya, daripada menembak John dengan pistol yang ia miliki dan memilih untuk bertarung dengan tangan kosong.
John yang melihat pria itu pun semakin tertantang dan penasaran dengan kemampuan yang dimiliki olehnya.
Setelah membuang pistolnya, pria itu berlari pada John dan melayangkan sebuah tendangan untuk John.
Dengan lincah, John menghindar ke samping, lalu membalas pria itu dengan sebuah pukulan yang juga berhasil ditepis olehnya.
Kedua pria bertubuh kekar itu saling bertarung layaknya singa yang tak mau mengalah satu sama lain.
Mereka berdua saling melayangkan dan menepis pukulan satu sama lain.
Baru kali ini, John bertemu dan menemukan lawan yang sepadan untuknya. John juga terlihat sangat kewalahan saat menerima pukulan dan tendangan dari pria itu yang terus dilayangkan pada John.
Setelah pria itu terus melayangkan pukulan dan tendangannya secara beruntun, akhirnya John pun terjatuh dan keluar darah dari mulut pelipis matanya.
Sedangkan pria itu, ia sama sekali tak terlihat atau kesulitan sama sekali saat melawan John. Pria itu berdiri di depan John dan menunggunya untuk berdiri.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga yang masih tersisa, John berusaha berdiri dan menyeka darah di mulut dan pelipis matanya.
Sebelum John berdiri, ia memikirkan sebuah cara untuk mengalahkan pria itu.
Karena, tak mungkin bagi John untuk terus melawan pria yang belum terluka sama sekali saat bertarung.
John kembali berdiri, lalu memasang kuda-kuda dan bersiap untuk melawan pria itu.
Saat pria itu berjalan mendekati John, John menunduk, lalu menarik kedua kaki pria itu hingga terjatuh.
John langsung memanfaatkan momen saat pria itu terjatuh.
Ia menggunakan teknik grappling yang pernah ia pelajari, lalu mengunci leher pria itu sekencang-kencangnya.
Pria itu pun berusaha untuk meloloskan diri dari John yang terus menahan lehernya. Ia sudah terlihat sulit untuk bernafas, tapi John tetap tak mau melepaskan lengan dari leher yang mengunci pria itu.
Beberapa saat kemudian, pria itu pun tumbang tak sadarkan diri karena kehabisan nafas.
Dengan nafas yang terengal-engal, John berdiri dari rerumputan dengan tenaganya yang masih tersisa.
__ADS_1
Denyut nadi pria berhenti dan tak berdetak saat John memeriksanya.
Walau pria itu lebih unggul saat bertarung dengan tinju, tapi tetap saja, ia harus tewas saat melawan John yang tak berniat untuk membunuhnya.
John membawa mayat pria itu ke atas bukit, lalu mengumpulkannya bersama anak buahnya yang masih tak sadarkan diri.
Dengan wajah yang sedikit terluka, John kembali ke rumah tempat persembunyian Anna.
Sebelum ia sampai di rumah, ia melihat Anna yang baru keluar dari pintu rumah untuk menemui semua orang yang telah hadir untuk menunggunya.
Dari kejauhan, Anna melihat John yang berjalan dengan sempoyongan kembali ke rumahnya.
John yang menyadarinya, hanya membalasnya dengan senyuman dan menggenggamkan tangannya memberi semangat pada Anna.
Saat itu juga, John melihat Agnes dan asisten pribadinya yang baru tiba di rumah persembunyian Anna.
Agnes yang turun dari mobil pun sudah tak bisa melakukan apapun, karena halaman rumah telah dipenuhi oleh segerombolan orang yang penasaran tentang Anna. Ia hanya bisa melihat Anna dari kejauhan.
Para reporter, wartawan dan semua yang hadir di depan rumah Anna pun semakin bergerombolan mendekat pada Anna yang baru keluar dari pintu rumah.
__ADS_1
“Itu dia!!!”
“YA! ITU DIA!!!”