
Malam harinya, John melihat kamar Anna melalui CCTV dari layar monitornya.
Ia kembali bekerja seperti hari-hari biasanya ia bekerja.
Beberapa saat John menatap layar monitornya, ia melihat Anna yang kembali beranjak dari kasurnya, lalu keluar melalui jendela kamar.
John sudah yakin dan tahu pasti, jika Anna akan duduk menyendiri lagi di genteng kamarnya.
Ia pun segera keluar dari kamarnya, lalu menyusul untuk mengendap-endap melihat apa yang dilakukan oleh Anna.
Dari balik genteng, John terus menatap Anna yang sedang duduk melamun menatap langit.
Saat menatap Anna, ia kembali teringat pada mantan pacarnya yang telah dibunuh oleh Tom dan anak buahnya.
John terus menatap Anna dengan pandangan yang dalam, seolah-olah Anna dapat membuat John melupakan mendiang mantan pacarnya dengan kehadirannya.
*PRAKKKK!!
“Aduh!!”
John tak sengaja terjatuh yang membuat salah satu genting pecah. Ia pun hanya kesakitan dan mengelus-elus kakinya yang menatap genting.
Akhirnya, Anna pun mengetahui keberadaan John yang mengawasinya dari belakang.
“Sedang apa kau disini?” tanya Anna yang melihat John akan kabur dan berpura-pura tak melihat Anna.
“Tak apa. Aku…”
__ADS_1
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Anna.
“Ya. Aku baik-baik saja.”
“Sepertinya kakimu terluka. Kau yakin kau baik-baik saja?”
Anna terus mendesak John karena melihat bahwa John memang sedang kesakitan dan menahannya.
“Sungguh aku baik-baik saja.”
John terus menahan rasa sakitnya, dengan mengelus kakinya yang terbentur genting.
“Apa yang kau lakukan disini? Kau tahu, ini bisa membahayakanmu? Bagaimana jika kau terjatuh dari sini dan tak ada yang menolongmu? Ini sudah larut.”
John mengalihkan pembicaraan dan memaki Anna di atap genting itu.
“Jangan pergi. Tunggulah disini sebentar.”
Anna pun melarang John saat ia akan pergi.
Sepertinya, Anna akan mengambil peralatan obat yang akan ia gunakan untuk mengobati kaki John yang terluka.
“Hei! Jangan berdiri di situ, kemarilah. Sangat berbahaya jika kau terjatuh atau terpeleset dari sini. Kemarilah, kau bisa duduk di depan jendela kamarku.”
“Lihatlah, kau sudah terpeleset dan memecahkan salah satu genting yang ada.”
Anna menyuruh John untuk tak berdiri dari tempatnya dan menuju ke depan jendela kamarnya, sembari menunggunya mengambilkan sebuah kotak P3K.
__ADS_1
“Hei, itu tidak berbahaya! Tidak sama sekali. Astaga.”
John masih gengsi dan belum mau untuk berpindah dari tempatnya.
“Hmmmm. Apa itu sakit sekali?” tanya Anna.
“Tidak,” jawab John ketus.
Anna pun hanya tersenyum karena melihat raut muka John yang masih menahan sakit dan terus berkata bohong.
Setelah Anna mengobati luka di kaki John, mereka berdua pun duduk berdampingan di atap genting.
Mereka saling menatap langit dan bintang-bintang yang menghiasinya.
“Terimakasih untuk segalanya. Untuk ramen yang telah kau buat, untuk es krim yang telah kau beri, dan telah membawa ayahku kepadaku. Untuk apa yang kau lakukan tadi siang, dan untuk apa yang sedang kau lakukan saat ini.”
Anna pun memulai percakapan dengan berterimakasih pada John di atap genting itu.
“Hhhh. Tentu saja. Sudah seharusnya kau berterima kasih,” ucap John yang masih merasa jaim.
“Hahahahaha. Apa? Apa kau serius?”
Anna malah tertawa dan meledek John yang juga tersenyum..
“Hidupmu akan berubah mulai sekarang. Karena kau sudah menarik perhatian banyak orang.”
“Kau bisa pergi kemanapun dan melakukan apapun yang kau inginkan, dan jika kau ingin sendirian, tak ada lagi yang bisa mengganggumu.”
__ADS_1