JOHN SI TENTARA BAYARAN

JOHN SI TENTARA BAYARAN
BAB 083 - MAKAN MALAM BERSAMA.


__ADS_3

John pun hanya tersenyum dan mengikuti Anna dari belakang yang berlarian kecil.


“Jadi, apa kau berencana tinggal disini?” tanya John.


“Aku masih memikirkan untuk hal itu. Lagi pula, aku juga tak ingin tinggal di rumah itu lagi. Selain itu, aku juga sudah tak punya tempat tujuan lain lagi,” ucap Anna.


“Apa kau sudah percaya sepenuhnya pada pamanmu?”


“Tidak. Aku belum sepenuhnya percaya padanya. Akan tetapi, kurasa aku dan dia sama-sama membenci Agnes,” ucap Anna.


John yang mendengar jawaban Anna pun hanya diam dan menatap Anna dengan tatapan dalam.


“Jangan terlalu cemas. Bukankah kau ada selalu bersamaku?”


Anna pun tersenyum pada John yang terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi Anna.


Sepertinya, Anna pun mulai nyaman dengan kehadiran John yang selalu menjaganya.


***


Malam harinya, terlihat Bibi yang sudah menyiapkan semua makanan dengan meja yang cukup besar di balkon villa.


Balkon villa Roy memiliki ukuran yang cukup luas, sehingga dapat menampung 50 orang di dalamnya.


Di atas meja itu telah dihidangkan dengan beberapa macam banyak masakan dan minuman anggur.


Saat semua makanan telah dihidangkan, Anna dan Roy pun duduk di kursi di meja yang cukup panjang itu.


Bibi dan Jane masih berdiri di belakang kursi menemani mereka di malam itu. Begitupun dengan John yang juga berdiri di belakang Anna yang sedang duduk di kursinya.


“Duduklah! Mengapa kalian hanya berdiri?”


Roy pun menyuruh Bibi dan Jane untuk duduk bersama di kursi dan menikmati makan malam.


“Apa kami boleh bergabung bersama denganmu, Pak?” tanya Bibi yang masih ragu untuk duduk dan bergabung bersama.


“Tak apa! Tentu saja kalian boleh. Ayo, duduklah! Duduk saja!”


Akhirnya, Bibi dan Jane pun duduk bersama dengan mereka di satu meja. Beda dengan John yang masih tetap berdiri di belakang Anna.


“Kau juga, John. Duduklah.”


Roy pun menyuruh John yang masih berdiri di belakang Anna.


“Duduklah disini. Tak apa,” ucap Anna yang juga menyuruh John untuk duduk.


Anna menarik kursi di sebelahnya dan menyuruh John untuk duduk di sampingnya.


John pun langsung duduk saat Anna menarik kursi untuknya.


“Baiklah. Mari kita bersulang. Ambil gelas kalian, semuanya saja.”


Semua orang pun mengambil gelas yang telah berisi anggur di dalamnya, lalu mengangkat gelas itu.


“Baiklah, kalau begitu, mari kita bersulang untuk impian Anna!!”


“BERSULANG!!!”


*TINGGGG!!!!


Semua orang pun bersulang bersama dan meminum gelas yang telah berisi anggur itu.


Setelah itu mereka pun makan bersama menikmati semua hidangan yang telah disiapkan oleh Bibi.


Mereka bersenda gurau bersama dan menikmati malam yang sepi itu., terkecuali John yang hanya diam dan tetap melihat Anna yang sedang tersenyum dan menikmati malam itu.


Sepertinya, John masih belum percaya dengan kebaikan yang dilakukan oleh Roy. John berpikir Roy mempunyai rencana tersendiri, tapi ia belum bisa memastikannya sendiri.


Setelah menghabiskan semua makanan itu, semua orang pun masuk ke dalam villa untuk beristirahat.


John pun pergi ke pinggir pantai sendirian dan berdiri di tepi pantai menatap laut, saat semua orang telah masuk ke dalam villa.


Roy yang melihat John menyendiri pun berjalan menghampirinya.


“Apa yang kau pikirkan disini sendirian?” tanya Roy.


“Aku hanya ingin tahu apa rencanamu di balik semua ini,” jawab John.


“Hahahahahaha. Aku hanyalah pria yang berpikiran sederhana, jadi, apa kau tak bisa menebaknya, John? Itu sangatlah mudah untuk ditebak.”


“Lantas, apa yang kau rencanakan dengan mengambil alih Anna dari Agnes? Kau pasti merencanakan sesuatu dibalik itu semua, bukan?”


John melangkah mendekati Roy yang berdiri di belakangnya.


“Tunggu. Bukankah kau menyaksikannya sendiri, saat berada di pemakaman? Kakakku mencoba mengambil alih IP group dariku, dan aku hanya berusaha merebutnya.”


“Saat itu, Anna pun muncul secara tiba-tiba dan aku mengetahui rahasianya, kalau dia putri kakak iparku, jadi, jika dia bisa bersamaku, kakakku tak akan pernah bisa merebut IP sepenuhnya dariku, walau dialah yang memang mendapatkan warisannya.”


John pun akhirnya tau apa maksud Roy dibalik apa yang sedang ia lakukan sekarang pada Anna.


“Hhhhh. Perhitunganmu sangat bagus ternyata,” ucap John.


“Tentu saja! Aku adalah seorang pengusaha, John. Aku hanya ingin Anna sehat dan bahagia bersamaku, untuk waktu yang sangat lama. Akan kujadikan Anna sebagai malaikat pelindungku.”


“Bagaimana, John? Kau sudah membuat keputusan? Akankah kau bergabung denganku atau tetap bersama Kakakku?”


“Tidak. Aku tak akan bergabung dengan siapapun. Aku akan pergi setelah melakukan semua yang harus kulakukan,” jawab John.”


“Sungguh? Sayang sekali. Menurutku, kau terlihat sangat dengan Anna, John.”


Roy pun hanya tersenyum saat mendengar jawaban John.


“Memangnya, apa yang harus kau lakukan, John?” tanya Roy.


“Kau akan tahu sendiri suatu saat nanti. Baiklah, aku akan kembali ke villa.”


John pun berjalan kembali ke villa dan meninggalkan Roy yang masih berdiri di tepi pantai.


Di villa nya, ia melihat Anna yang sedang berada di tangga dan menuju ke rooftop.


John pun berlari menuju ke tangga dan menghampiri Anna.

__ADS_1


“Mau kemana kau, Anna? Kenapa kau belum tidur?” tanya John.


“Aku tak bisa tidur. Saat makan malam tadi, aku meminum beberapa gelas anggur, dan pipiku menjadi panas tiba-tiba, jadi aku ingin menikmati angin laut dari rooftop.”


“Angin laut? Tidak. Kau tak boleh sendirian berada di atas. Ayo, cepat kembali.”


John pun menarik lengan Anna dan menyuruhnya masuk ke dalam villa.


“Kenapa tak boleh. Sudah kubilang, wajahku terasa panas!”


Anna pun menolak dan masih tak mau pergi dari rooftop.


“Hei, sepanas apa?”


John pun mengulurkan kedua tangannya dan memegang pipi Anna.


“Astaga, dingin sekali. Ini sangat enak.”


Anna menahan tangan John yang yang menyentuh pipinya.


“Hmmmm. Wajahmu memang panas. Cepat, ikut aku!”


John mengajak Anna kembali ke villa, lalu mengambil air dingin dan handuk untuk mengompres pipi Anna.


Mereka berdua duduk di sofa untuk mengompres pipi Anna.


Anna pun mengompres pipinya sendiri menggunakan handuk yang telah dibasahi menggunakan air es.


“Astaga. Jika aku minum segelas lagi, mungkin pipiku akan terbakar.”


“Lain kali jangan pernah minum alkohol. Apa masih terasa panas?” tanya John.


“Tidak.. Ini sudah cukup mendingan.”


Anna masih memegang kompres dan menempelkannya ke pipinya sendiri.


“Baiklah, kalau begitu. Berikan itu padaku. Kau bisa gunakan itu lagi nantinya. Jika kelamaan, itu bisa membuatmu masuk angin. Kembalilah ke kamarmu!”


John pun mengambil handuk Anna, lalu berdiri dan akan keluar untuk kembali berjaga di luar rumah.


“Apa kau akan keluar lagi?” tanya Anna.


“Ya. Aku keluar untuk memeriksa lagi tempat ini. Tempat ini tak senyaman rumah persembunyian.”


“Astaga. Tak ada tempat yang aman bagiku dimanapun itu.”


Anna menunduk dan terlihat sangat menyedihkan.


“Akan tetapi, itu bukan masalah bagiku. Hari ini aku merasa sangat senang telah menghabiskan waktu bersamamu sepanjang hari,” ucap Anna.


“Bawalah ini.”


John pun memberikan HT nya kepada Anna.


“Apa ini? Ini semacam walkie talkie?” tanya Anna yang tak tahu apa fungsi alat itu.


“Ya, semacam itu mungkin. Jika kau mendengar suara aneh, atau merasa kedinginan, atau mendadak butuh sesuatu, tekan tombol merah itu, lalu kau bisa memberitahuku dengan alat itu. Itu lebih cepat daripada ponsel biasa.”


John segera kembali ke untuk berjaga di luar villa.


***


Saat malam mulai larut, Anna yang belum tidur pun mencoba menghubungimu John melalui walkie talkie nya.


“Tes. Tes. Apa kau sudah tidur?”


Dan tak ada jawaban sama sekali saat Anna menghubungi John.


Anna pun beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar.


Anna melihat John yang sedang tidur berbaring di sofa tepat di depan kamarnya berada.


Anna pun kembali ke dalam kamar dan mengambil selimut yang akan ia pakaikan kepada John yang terlihat kedinginan saat tertidur di luar.


Perlahan, Anna melangkahkan kakinya mendekati sofa tempat tidur John.


Ia sangat takut dan menjaga untuk tak mengeluarkan suara apapun yang bisa membangunkan John.


“Kenapa kau tidur disini? Disini tidak nyaman sama sekali,” gumam Anna.


Anna pun mulai mengenakan selimut dan menutupi tubuh John agar tak merasa kedinginan.


Anna terdiam saat melihat wajah John yang mengeluarkan banyak keringat dan nafas yang tak karuan.


Anna mengira sepertinya John sedang mengalami mimpi buruk saat itu.


*KLOTEK!!!


“HUH!” “HUH!” “HUH!”


Tiba-tiba John terbangun dari tidurnya dan menjatuhkan walkie talkie miliknya ke lantai.


John pun langsung duduk dengan nafasnya yang masih tak beraturan. Ia memegangi kepalanya sendiri seakan merasakan pusing dan melihat Anna dengan pandangan yang terkejut.


Anna yang melihatnya pun semakin bingung dan tak tahu harus berbuat apa pada John.


John pun langsung memeluk Anna secara tiba-tiba saat Anna masih duduk berjongkok di depannya saat itu juga.


Saat John menyadarinya, John langsung melepaskan pelukannya dari Anna, karena ia tak mau orang lain melihat atau menjadi bahan omongan.


John pun langsung duduk di pojok sofa dan terlihat sangat malu pada Anna, karena telah memeluknya secara tiba-tiba.


“Apa kau bermimpi?” tanya Anna.


“Ya, mungkin. Kurasa begitu,” jawab John yang masih merasa canggung karena memeluk Anna.


“Hmmmm. Begitukah?”


Anna tiba-tiba berdiri yang membuat John sontak ikut berdiri juga karena itu.


“Tadinya aku mau memberikan selimut kepadamu, karena cuacanya sangat dingin.”

__ADS_1


“Oh. Terimakasih. Akan tetapi, ini tidak dingin sama sekali. Ini sangat panas.”


John pun menyeka keringat yang telah membasahi wajahnya.


“Astaga. Apa ini mimpi panas? Kenapa keringatku banyak sekali.”


John masih tetap berdiri dan terus membual agar Anna tak mengetahuinya jika itu mimpi buruk.


“Kalau begitu, aku akan kembali masuk ke dalam kamar.”


“Baiklah. Silahkan.”


“Aku pergi dulu,” ucap Anna.


“Baiklah. Selamat malam.”


“Baiklah. Sampai nanti,” ucap Anna.


“Baiklah.”


Mereka pun balas beradu mulut karena merasa sangat canggung satu sama lain, hingga Anna berjalan dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


“Sial! Bodohnya aku! Apa yang baru saja aku lakukan!!”


*TAK TAK TAK!!!


John pun memukuli kepalanya sendiri dan masih merasa malu karena telah memeluk Anna secara tiba-tiba.


Berbeda dengan Anna, di dalam kamarnya, Anna senyum-senyum dengan sendirinya karena John memeluknya.


Anna memegangi dadanya sendiri dan merasakan detak jantungnya yang cukup kencang karena merasakan nyaman saat John memeluknya.


Anna pun juga teringat kembali saat John memberinya ciuman dan memberinya nafas buatan saat ia berada di taman.


***


Keesokan harinya terlihat, John yang sudah meninggalkan villa Roy sejak pagi.


Sepertinya John akan pergi dan menemui Sam untuk membicarakan tentang Anna.


*KRIIINGGG!!!!


Ponsel John pun berbunyi saat ia sedang menyetir. Ia pun menyambungkan ponselnya melalui bluetooth agar ia bisa berbicara dengan earphone.


“Ada apa?” tanya John.


Telepon itu berasal dari Anna yang menggunakan ponsel Jane untuk menelpon John.


“JOHN!!!” Anna menyapa John dengan keras.


“Ya, aku mendengarkanmu. Kau tak perlu berteriak. Astaga.”


“Kau milikku sekarang!” ucap Anna.


“Apa?”


John pun kaget mendengar Anna mengucapkan hal itu.


“Jane bilang telah mengizinkan aku untuk memilikimu, jadi, kau milikku sekarang. Apa kau paham maksudku?”


Sepertinya, Anna sedang bersama Jane dan bercerita tentang sikap John yang tiba-tiba memeluknya tadi malam.


Begitupun Jane yang menyuruh Anna yang masih polos untuk mengucapkan hal itu kepada John.


“Baiklah, terserah kau saja, kau bisa melakukan semaumu.”


“Jadi, kau harus berhati-hati hari ini dan jangan sampai terluka, kau mengerti?” ucap Anna.


“Baiklah, Nona Muda.”


John pun mematikan sambungan telepon dan segera menemui Sam untuk membicarakan sesuatu.


***


John menemui Sam di tempat salah satu stasiun televisi berada. Sam berada di tempat itu untuk menemani Agnes yang akan menjadi bintang tamu di sebuah acara TV untuk diwawancarai mengenai Anna, karena Agnes telah menjadi wakil sah nya.


John berbicara dengan Sam di tempat parkiran, saat Agnes dan asistennya telah pergi ke tempat syuting. John mengatakan semua yang dilakukan oleh Roy kepada Anna saat berada di villanya.


“Bukankah Anna masih bersama dengan presdir Roy? Aku sangat penasaran tentang, apa yang akan dilakukan Roy selanjutnya,” ucap Sam.


“Dia bilang akan berusaha memakai Anna sebagai perisai dari serangan kakaknya,” ucap John.


“Mungkin itu benar, tapi akan berakhir hingga pemilu tiba. Lain lagi jika Pejabat Deny berhasil menang di pemilu, akankah Presiden dan istrinya akan membiarkan Anna di tangan Roy?”


“Menurutku itu sangat mustahil, John. Apa menurutmu Presdir Roy tak menyadari hal itu? Ia hanya sedang membual alih-alih menjadikan Anna sebagai perisainya.”


“Anna bukanlah perisainya. Presdir Roy akan menggunakannya sebagai pedang yang bisa ia gunakan untuk menebas leher Nyonya Besar. Dia hanya ingin itu, dan aku sangat meyakini hal itu.”


John pun hanya mengangguk dan percaya kepada Sam.


***


Kembali ke villa Roy, terlihat Anna yang sedang berjalan dan menemukan Roy yang sedang duduk sendirian di balkon.


“Selamat pagi, Paman!”


Anna menyapa Roy dari belakangnya yang membuat Roy terkejut.


Roy duduk menyendiri di balkon dengan membawa stopmap di tangannya.


“Astaga. Kau mengagetkanku saja, Anna. Bagaimana, apa tidurmu nyenyak?”


Roy pun berdiri dan balik bertanya pada Anna.


“Ya. Aku sangat tidur nyenyak tadi malam,” jawab Anna.


“Ada apa, paman? Apa ada masalah? Kenapa wajahmu terlihat berbeda?”


“Tidak Anna. Aku hanya mengkhawatirkan sesuatu. Aku pun belum yakin, apakah aku harus menunjukkan ini padamu atau tidak.”


“Apa itu, Paman?”

__ADS_1


“Baiklah. Sebaiknya, langsung saja ku tunjukkan padamu.”


__ADS_2