
John diam dan masih curiga dengan apa yang telah terjadi di ruangan itu.
“Ya. Ambisi wanita itu bukan sesuatu yang bisa dijual atau dibeli.”
John bergumam dalam hatinya, saat mengingat Agnes yang sangat kekeh dengan pendiriannya.
“Nyalakan mobilnya, dan tunggu aku kembali.”
John membuka pintu mobil dan akan pergi ke gedung tempat ruangan itu berada.
“Kenapa? Hei, tunggu. Kau mau kemana?”
Jack yang sudah malas dengan kelakuan John hanya diam di dalam mobil dan menunggu John kembali.
John mengambil sebuah payung hitam di bagasi, lalu berjalan kaki memasuki kuil.
Saat John memasuki gedung, ia melihat beberapa pengawal dari grup internasional yang sedang berdiri dan menjaga di luar ruangan, tempat keluarga Agnes sedang berkumpul.
John mengendap-endap dan masuk ke ruang security, lalu menekan tombol alarm kebakaran yang membuat sound di seluruh gedung itu berbunyi.
Setelah menyalakan alarm gedung, John kembali menuju ruangan untuk menyusul Agnes.
__ADS_1
Saat John akan berjalan mendekati rungan, beberapa pengawal langsung menghadangnya.
Apa keperluanmu, Tuan?” tanya salah satu pengawal yang berada di depan John.
“Aku datang untuk menjemput Nyonya Agnes.”
“Kau tak boleh masuk. Tak ada yang boleh masuk tanpa izin yang jelas dari keluarga mendiang.”
Saat salah satu pengawal mendorong John dan mengusirnya untuk pergi, John menarik tangan pria itu, lalu melayangkan pukulan yang tepat mengenai rahang yang membuat salah satu pengawal itu terjatuh.
Setelah satu orang tumbang, John berlari ke arah pengawal lain yang juga sedang berjalan ke arahnya.
John berlari dan terbang melayangkan lututnya pada salah satu pengawal yang akan memukulnya.
Bahkan, pengawal dari grup keamanan internasional saja tak sebanding dengan kemampuan John.
Betapa beruntungnya Agnes mendapat pengawal seperti John yang mempunyai kemampuan bertarung dan inisiatif yang luar biasa, diluar dari sikapnya yang sangat sulit untuk diatur.
Setelah menghabisi seluruh pengawal yang menjaga gedung, John mendobrak pintu ruangan tempat berkumpulnya keluarga Agnes.
Saat pintu ruangan itu terbuka, semua orang yang berada di dalam bergegas berlari keluar dari ruangan.
__ADS_1
Terkecuali dengan Agnes, ia masih duduk sendirian dan melamun saat orang lain telah pergi dari ruangan itu karena mendengar alarm kebakaran.
Raut muka Agnes terlihat sangat marah dan kesal, sepertinya, ia selalu dipojokkan untuk menjual warisan yang ia dapat kepada kerabatnya.
John menghampiri Agnes dan mengulurkan tangannya, untuk mengajaknya segera pergi dari sana.
Betapa terkejutnya Agnes saat melihat John yang sudah berdiri di belakangnya dan mengulurkan tangan untuknya.
“Berdirilah. Mari pergi dari sini.”
Agnes tak bisa berkata-kata saat ia melihat John yang datang menyelamatkannya dari keluarga yang selalu memojokkannya.
Agnes masih menatap John dengan tatapannya yang sangat dalam, lalu tersenyum pada John.
John mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan memberikannya pada Agnes yang matanya sudah berkaca-kaca.
“Kau tak boleh keluar dengan keadaan seperti ini.”
Agnes mengambil sapu tangan dari tangan John dan mengusap air matanya yang sudah keluar.
Setelah mengusap air matanya, Agnes berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan keluar dari ruangan dengan John yang berjalan di belakangnya.
__ADS_1
“Padahal aku tidak menekan pena itu dua kali, tapi dia tahu aku sedang membutuhkannya.”
“Dari semua pengawal yang kupunya, tak pernah ada yang bergerak tanpa perintah dariku sebelumnya.”