KARMA

KARMA
Fitnah


__ADS_3

Bugh ! Tiba-tiba saja ranjangku seperti di hantam sesuatu. Begitu aku menoleh, ternyata Arsya telah tengkurap di belakangku. Sayup-sayup ku dengar isak tangisnya.


"Kamu kenapa, Sya ?" tanyaku heran.


Aku yang sedang memainkan gawai, meletakkannya sejenak dan memutar tubuhku untuk melihat Arsya. Lalu ku usap punggungnya untuk menenangkannya.


"Sya, kenapa ?" tanyaku lagi.


Arsya pun bangkit dan duduk berhadapan denganku. Ia mengusap air matanya dan hendak mengelap ingusnya pada bajunya. Namun, segera aku tepis tangannya.


"Jorok banget, sih. Pakai ini, nih," seruku sembari menyodorkan selembar tisu padanya.


"Makasih."


Aku membiarkan dia membenahi dulu wajahnya yang tidak karuan sehabis menangis tadi.


"Van, sebel banget ih sama si kaleng rombeng itu," ujarnya dengan tangis kembali meleleh dari sudut matanya.


"Siapa si kaleng rombeng ?" tanyaku heran.


"Siapa lagi kalau bukan tukang nyinyir di RT kita," ketusnya.

__ADS_1


"Oh, Bu Rasti ?" jawabku takut salah.


"Iya."


"Bikin ulah apa lagi dia ?" tanyaku penasaran.


"Dia fitnah aku kalau aku hamil duluan, gara-gara aku suka bawa teman-teman kuliah ke rumah. Padahal kan teman cowok cuma dua orang, selebihnya cewek semua. Lagian, kan mereka kesini buat ngerjain tugas kelompok. Bukan kumpul kebo."


Tangis Arsya kembali pecah begitu menceritakan kelakuan tetangga kami yang satu itu.


Arsyana, atau aku selalu memanggilnya dengan panggilan Arsya, sahabatku sedari kecil. Hanya beda satu tahun di bawahku. Dia sering sekali menjadi bahan fitnah Bu Rasti, si tukang gosip di kampung kami.


Entah apa maksud dan tujuannya. Bu Rasti sering sekali memfitnah orang tanpa bukti. Entah mencari sensasi, atau memang dia kurang kerjaan. Yang jelas, sudah banyak korbannya dan sudah sering ribut dengan tetangga yang tidak terima di fitnah olehnya. Bahkan, kami memberi julukan 'Si Nyinyir' pada dirinya. Ada juga yang memberi julukan 'Si Asbun (Asal Bunyi)'. Malah Arsya menyebutnya 'Kaleng Rombeng' karena saking gedegnya sama tuh orang.


Emosiku sedikit memuncak demi mendengar fitnah keji 'Si Nyinyir' itu pada sahabatku. Ada-ada saja ulahnya. Emang benar-benar kurang kerjaan orang satu ini.


"Gak tahu, Van. Pas aku ke warung Bi Inah, ada Bu Rasti. Dia nanya, katanya udah berapa bulan sekarang, Sya ? Aku, kan bingung. Apanya yang berapa bulan kataku. Perutmu, jawabnya. Aku makin gak ngerti. Terus tersebarlah ke semua tetangga kalau aku hamil diluar nikah. Mamaku marah dan minta aku beli testpack," jelasnya sembari sesegukan menahan tangis.


"Udah di tes ?"


"Udah."

__ADS_1


"Lalu ?" tanyaku penasaran.


"Nih," ia pun merogoh saku celananya dan menyerahkan bungkusan kresek putih padaku.


Di dalamnya terdapat benda kecil panjang berwarna biru dan putih. Begitu aku melihat tengahnya, hanya ada garis satu.


"Ya terus, makhluk satu itu dapet gosip darimana kalau kamu hamil ? Lha, orang di testpack aja negatif, kok," gerutuku sebal.


"Tuh, orang nyari masalah mulu hidupnya. Buat apa, coba ? Banyak-banyakin dosa aja," lanjutku lagi.


Arsya malah meraung-raung menumpahkan kekesalannya.


"Lihatin sana, hasil testpacknya. Bilangin, kalau mau fitnah orang itu yang elegan dikit, napa ? Norak, banget nuduh-nuduh anak orang hamil duluan. Gak inget, apa anaknya juga cewek semua. Entar, kalau kejadian sama anaknya, baru tahu rasa, dia. Udah sana lihatin ke dia, biar fitnahnya gak terus menyebar kayak Virus Corona," ujarku.


"Apaan, sih, Vanya. Mentang-mentang Virus Corona lagi viral, juga."


"Justru, dia itu jauh lebih berbahaya dari Virus Corona. Makanya harus segera di bumi hanguskan dari muka bumi ini. Udah sana."


"Ogah, ah. Dia, kan mulutnya kayak naga. Haaahh !!!"


Yaelah, ni anak. Di kiranya Bu Rasti itu keturunan naga, apa ? Tapi emang, sih Bu Rasti itu kalau fitnah suka gak kira-kira. Sepertinya dia di lahirkan tanpa memiliki perasaan, mungkin.

__ADS_1


Pernah waktu itu memfitnah Pak RT selingkuh karena melihat beliau sedang makan bersama wanita muda di sebuah kedai makan. Sampai geger satu kampung. Usut punya usut, ternyata itu adalah adik bungsunya yang baru datang dari Bandung hendak melihat anak Pak RT yang baru lahir sebulan yang lalu. Ia baru bisa menyempatkan waktu untuk menengok keponakannya, karena kesibukannya sebagai dosen di sebuah Universitas di Bandung membuatnya tak memiliki banyak waktu luang. Itu pun ia tidak hapal jalan menuju rumah Pak RT, kakaknya. Sehingga Pak RT menjemputnya di stasiun kereta api.


__ADS_2