KARMA

KARMA
Mencari kenangan


__ADS_3

Kini tiga tahun telah berlalu dari perasaan menyakitkan yang di rasakan Mesya. Dia juga sudah merangkai kembali perasannya yang telah hancur meski tak bisa utuh sepenuhnya.


Waktu yang bergulir begitu cepat telah banyak mengubah seorang Mesya. Meski parasnya tak berubah sedikitpun termasuk rambut panjangnya yang menjadi ciri khas wanita cantik itu, tapi dari sikap dan tutur katanya jauh berbeda dari Mesya yang dulu.


Sikap dewasa serta suara lembutnya kini begitu memanjakan telinga siapapun yang mendengarnya. Ternyata sebuah pelajaran yang dia dapat hanya dari sebuah mimpi mampu mengubah segalanya.


"Papa, aku pulang!!" Suasana rumah Mesya masih begitu sepi di pagi hari seperti ini. Memang pesawat Mesya tiba di Jakarta subuh tadi, jadi masih cukup pagi saat Mesya tiba di rumahnya.


"Mesya?? Kamu pulang nggak bilang-bilang??" Sambut wanita yang masih menggunakan gaun tidurnya yang tipis.


"Mau kasih kejutan aja. Tante apa kabar?? Dimana Papa??" Mesya celingukan mencari pria paruh baya itu.


"Papa masih di kamar, sana naik aja. Papa kamu pasti terkejut dengan kepangan mu" Ucap Luna.


"Baiklah Tante. Aku naik dulu" Mesya meninggalkan kopernya di bawah dan menuju kamar yang berada di lantai dua rumahnya.


Hubungan Mesya dan Luna itu sebenarnya persis seperti yang ada di dalam mimpi. Mesya tidak menyukai Luna karena Mesya menganggap wanita itu hanya menginginkan uang Papanya saja. Namun setelah terbangun dari mimpi itu, dan melihat ketulusan Luna kepada Papanya, berlahan Mesya mulai menerima kehadiran Luna.


"Papa, Mesya masuk ya??" Panggil Mesya sebelum masuk ke dalam kamar Papanya.


Papa Mesya yang sedang mengenakan dasinya itu terperangah melihat kedatangan putrinya.


"Mesya??"


"Pagi Papa" Mesya berlari memeluk Papanya. Jika di dalam mimpinya Papanya telah pergi untuk selamanya. Maka Mesya saat ini akan mencurahkan kasih sayang kepada Papanya. Sebelum perpisahan menyakitkan itu kembali terjadi untuk ke dua kalinya.


"Kapan kamu tiba Sya?? Kenapa nggak kasih tau Papa kalau kamu mau pulang?? Papa kan bisa jemput kamu"


"Mesya mau kasih kejutan buat Papa. Soalnya aku juga udah kangen banget sama Papa" Mesya melepaskan pelukannya dari pinggang Papanya yang berlemak.


"Yakin?? Kepulangan kamu ini bukan karena ada orang lain yang kamu rindukan??" Godaan Papanya membuat Mesya terdiam.


Papanya justru mengingatkan ya kepada seseorang saat ini. Padahal sejak menginjakkan kakinya di tanah air, dia sudah berpura-pura tidak mendengarkan suara hatinya.


"Apaan sih Pa, ya Mesya pulang jelas karena pekerjaan Mesya dong. Butik Mesya kan udah lama tutup, jadi rencananya Mesya mau buka lagi secepatnya" Mesya memang tak berbohong. Salah satu alasannya pulang memang karena butiknya itu. Hanya salah satunya, tentu masih ada alasan yang lain tanpa orang lain ketahui.


"Kamu terus saja mengelak kalau Papa tanya tentang pria kamu sukai. Kamu sudah waktunya menikah Mesya. Apa perlu Papa carikan anak teman bisnis Papa?? Masih banyak yang lajang loh"


"Papa ini!! Memangnya anak Papa ini nggak laku apa?? Mesya bisa cari jodoh sendiri nggak perlu Papa jodoh-jodohkan. Lagipula Mesya juga baru pulang. Bukannya di sambut dengan gembira malah di suruh nikah" Gerutu Mesya dengan bibirnya yang mengerucut.


"Bulan begitu maksud Papa Sya. Papa han..."


"Benar kata Mesya Mas. Dia baru pulang tapi kamu sudah bertanya macam-macam sama dia. Biarkan Mesya istirahat dulu" Luna tiba-tiba sudah berada di ambang pintu kamar mewah itu.


"Ayo sarapan dulu Sya. Kamu pasti sudah lapar kan??" Mesya mengangguk menghampiri Luna. Kali ini ibu tirinya itu menyelamatkannya dari pertanyaan Papanya yang belum mampu ia jawab.

__ADS_1


Hari semakin siang, Mesya yang masih merasa lelah karena menempuh perjalanan belasan jam hanya berdiam diri di kamar. Jika dulu Mesya selalu menghabiskan waktu luangnya untuk keluar bersama teman-temannya, sekarang Mesya memilih diam di rumah. Apalagi kedua sahabatnya yang entah pergi kemana. Menghubunginya saja tidak pernah. Padahal sudah tiga tahun lebih mereka tidak bertemu.


Mesya menekan beberapa angka untuk membuka ponselnya. Enam angka yang sudah ibu jarinya hafal dengan cepat.


"Tunggu, angka ini??" Mesya tersenyum miris mengingat kombinasi angka itu.


"Bagaimana bisa aku sangat yakin jika aku telah melupakannya. Sedangkan aku masih mengingat jelas bahkan masih melibatkan bagian dari orang itu di kehidupanku"


Selama ini ternyata Masya tidak pernah mengganti password ponselnya yang memilki kombinasi dari tanggal lahir Bisma.


"Hari ini tanggal..." Mesya melihat tanggal di ponselnya.


Wajah mesya tiba-tiba sendu. Ternyata dia tidak bisa lagi untuk berpura-pura baik-baik saja tanpa pria itu di sisinya. Tiga tahun memang dia habiskan untuk melupakan cintanya. Tapi waktu selama itu hanyalah terbuang sia-sia.


"Mungkin saat ini dia sedang merayakan ulang tahun bersama istri dan anaknya"


Bayangan tentang bagaimana bahagianya keluarga kecil Bisma bersama anak dan buah hati mereka terasa menyakitkan bagi Mesya.


"Kenapa aku semunafik ini?? Bibirku selalu mengatakan jika aku bahagia ketika melihatnya bahagia. Tapi kenyataannya kau benar-benar kesakitan seorang diri. Aku memang hanya wanita jahat yang tak bisa melihat kebahagiaan mereka hiks..hiks.."


Mesya lantas meraih tasnya. Dengan pipi yang basah itu dia berlari keluar. Entah kemana dia akan mengobati hatinya yang kembali terluka saat ini.


-


-


Mobil Mesya mulai memasuki sebuah perkampungan di pinggiran kota yang belum pernah Mesya datangi sebelumnya.


Ralat, belum pernah Mesya datangi di dunia nyata. Sementara di dalam mimpinya, dia ingat betul tempat itu.


Mesya turun dari mobilnya, dia kebingungan berada di jalan yang sama seperti di dalam mimpinya namun rumah serta bangunan yang ia ingat dalam mimpinya sedikit berbeda baik warna rumah atau pohon di sekelilingnya.


"Permisi Bu, boleh numpang tanya?? Kalau rumahnya Bu Wati yang menyewakan rumah kontrakan itu di mana ya Bu??"


"Bu Wati juragan kontrakan yang emasnya gede-gede itu??"


"I-iya betul" Jawab Mesya karena dalam mimpinya Bu Wati memang memakai gelang dan kalung emas yang besar-besar.


"Sekarang Bu Wati udah pindah ke rumah barunya di samping rumah yang kosong di ujung jalan sana. Dari sini lurus aja nanti kalau udah mentok belok kiri, nah rumah paling ujung itu rumahnya" Jelas Ibu tadi.


"Baik Bu terimakasih banyak. Saya permisi dulu"


Mesya kembali mengendarai mobilnya dengan pelan, ia sedikit lupa dengan daerah itu karena benar-benar berubah. Namun dari petunjuk tadi akhirnya dia menemukan rumah yang ia cari.


Mesya masih antara percaya dan tidak percaya. Jika yang di alaminya hanyalah mimpi, kenapa rumah itu benar-benar ada dan berdiri dengan nyata.

__ADS_1


Mungkin rumah di sekitarnya telah berubah, begitupun dengan rumah baru yang berdiri kokoh disampingnya, namun rumah yang menjadi tempat kenangannya tak berubah sama sekali.


"Permisi"


Tok..tok..tok..


Mesya mengetuk pintu rumah baru pemilik rumah kumuh itu.


"Iya??" Mesya ingat betul dengan wanita yang membukakan pintu untuknya itu.


"Dengan Bu Wati ya, Pemilik rumah di sebelah"


"Iya betul, ada perlu apa ya??" Bu Wati melihat Masya dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Sempat terpana dengan kecantikan dan juga penampilan Mesya yang menunjukkan orang dari kalangan atas.


"Begini Bu, kelihatannya rumah di sebelah masih kosong, apa boleh saya melihatnya Bu??"


"Maaf Neng, sebenarnya rumah itu sudah di beli orang tiga tahun yang lalu. Tapi yang punya tidak pernah datang ke sini dan kuncinya masih ada sama saya. Jadi saya nggak berani kalau mau kasih lihat soalnya itu bukan lagi rumah saya" Jawab Bu Wati dengan tak enak hati.


"Saya mohon Bu, saya janji saya hanya sebentar saja kok"


Bu Wati terlihat berpikir sejenak, namun sepertinya dia mengingat sesuai terlihat dari bola matanya yang agak membesar.


"Kalau boleh tau dengan Neng siapa ya??"


"Saya Mesya Bu"


"Neng Mesya??" Tanya Bu Wati seolah-olah terkejut dengan nama itu.


Mesya tidak tau kenapa saat Mesya menyebutkan namanya, Bu Wati langsung memberikan kunci rumah itu kepada Mesya. Dan kini Mesya sudah melangkah masuk ke dalam rumah itu. Rumah yang di dalamnya penuh kenangan yang menyedihkan tentang dirinya.


Semua sama persis seperti yang ada dalam ingatannya. Kursi bambu yang reot serta kamar yang tak beralas kasur yang empuk.


"Jika di dunia nyata, aku belum tentu sanggup menjalani semua ini. Untungnya aku masih di berikan kesempatan untuk menyesali perbuatan ku sebelum aku menuai karma dari kejahatan ku"


Nesya mengusap air mata yang menetes di pipinya saat melihat meja makan yang tak ada apapun di atasnya itu. Waktu itu di atas sana hanya ada nasi dan juga tempe goreng sebagai menunya setiap hari. Semua kepedihan itu kembali ia rasakan saat ini.


Mesya melangkah lagi ke ruang tamu. Ingatannya kembali ke saat Bisma mengisi rumah itu dengan barang-barang yang baru, sofa yang empuk televisi dan yang lainnya.


Hingga Mesya kembali melihat saat Bisma menjadikan kakinya sebagai bantalan kepalanya. Di dalam mimpi itu, Mesya begitu bahagia saat dimana akhirnya pria yang dicintainya membalas cintanya.


"Tapi semua itu hanya mimpi Mesya. Mimpi yang terasa begitu nyata dan tak masuk akal" Gumam mesya menapik perasaannya yang kembali berkelana mencari pemiliknya.


Mesya masih betah berada di dalam rumah itu, memandangi setiap sudut yang meninggalkan kenangan untuknya, hingga suara langkah kaki seperti seseorang yang sedang berlari mendekat ke arahnya.


"Hah..hah..hah..hah..." Suara seseorang yang sedang mengatur nafasnya membuat Mesya membalikkan badannya.

__ADS_1


__ADS_2